
Setelah pertempuran.... Pembantaian satu pihak itu, kini hanya tersisa satu orang saja dari kelompok Red Skull.
Ia tak lain adalah ketua dari kelompok itu sendiri yang bernama Brunt.
Leo berjalan secara perlahan ke arah Pria botak itu. Tentunya sambil mengarahkan pistolnya itu ke arah badannya.
"Aku yakin kau tahu apa yang akan terjadi ketika aku menekan pelatuk ini kan?" Tanya Leo dengan tatapan yang penuh dengan kebencian.
Mata kirinya yang diperban dan telah lama hilang itu seakan masih bisa memelototinya.
Dengan perasaan yang cukup ketakutan, Brunt pun menganggukkan kepalanya. Sedangkan di sisi lain, Reina nampak melangkah mundur setelah mengetahui tugasnya telah selesai.
"Bagus. Kalau begitu katakan, masih ada berapa dari kalian?" Tanya Leo dengan nada yang dingin itu.
"Sekitar 50 orang.... Mungkin mereka akan kembali beberapa hari lagi setelah merampok di jalan antar kota." Balas Brunt.
Leo yang tak menyangka bahwa Pria itu akan menjawabnya dengan jujur terlihat cukup terkejut.
"Tak ku sangka kau akan sejujur itu." Balas Leo singkat.
"Hah, lagipula kau juga akan membunuhku kan? Dan juga, mereka pasti akan berakhir entah aku mengatakannya padamu atau tidak." Balas Pria itu seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Leo.
"Yah, kau benar. Aku berencana untuk meninggalkan 150 pasukanku di sini selama beberapa Minggu untuk memburu sisa dari kelompok kalian. Jadi informasimu itu hanya sedikit membantu." Balas Leo.
Setelah mendengar jawaban itu, Brunt hanya tersenyum tipis. Ia meletakkan kedua tangannya di belakang kepalanya sambil menatap tanah.
"Apa yang kau tunggu? Cepat bunuh aku." Ucap Brunt.
Tak seperti sebelumnya, kali ini Leo melihat ke arah sekelilingnya. Lebih tepatnya ke arah Reina dan juga ke arah Luna.
Di satu sisi, Reina nampak sedikit menaikkan bahunya sambil menggelengkan kepalanya. Menandakan bahwa Ia tak layak untuk memberikan pendapatnya.
Tapi di sisi lain....
Luna nampak berjalan ke arah Leo secara perlahan. Menyilakkan rambut panjangnya ke belakang telinganya sebelum membisikkan sesuatu kepada Leo.
"Tuan Leo.... Nampaknya kita masih bisa memanfaatkan Pria ini untuk mengorek lebih banyak informasi mengenai kelompok bandit yang lainnya." Bisik Luna.
"Begitu kah? Yah, aku sependapat denganmu." Balas Leo dengan suara yang sama lirihnya.
Setelah itu, Leo nampak menurunkan senjatanya. Sebelum akhirnya kembali berbicara ke arah Pria bernama Brunt itu.
"Untuk saat ini, kami akan mengampuni nyawamu. Sebagai gantinya...."
"Lupakan saja. Aku takkan mau bekerjasama dengan kalian. Bahkan jika...." Ucap Brunt memotong perkataan Leo.
Tapi Leo juga kembali memotongnya. Hanya saja, Leo kini sedikit membungkukkan tubuhnya untuk membisikkan sesuatu ke arah telinga Brunt.
"Bagaimana dengan wanita? Kau suka? Jika kau mau bekerjasama dengan kami untuk meringkus kelompok bandit yang lain, aku takkan keberatan untuk memenuhi keinginanmu.
Baik itu wanita, uang, ataupun yang lainnya. Yang perlu kau lakukan hanyalah dengan menunjukkan kejujuran dan hasil kerjamu. Bagaimana?" Tanya Leo dengan wajah yang datar.
Mendengar tawaran itu, perasaan Brunt saat ini sedikit goyah. Ia bahkan mulai mempertimbangkan mengenai perkataan dari Leo.
Hanya saja....
Apakah Ia mau menerimanya? Bekerja di bawah kelompok yang selalu dimusuhinya?
Apakah Ia rela menerima penghinaan seperti itu?
Tentu saja jawaban dari tawaran itu....
"Berapa banyak wanita yang bisa kau berikan? Tidak.... Apakah kau bisa mencarikan barang yang bagus?" Tanya Brunt dengan wajah yang serius.
Senyuman nampak menghiasi wajah Leo sebelum Ia akhirnya kembali berbicara.
"Tentu saja. Sedangkan jumlahnya sendiri, aku menyerahkannya pada hasil kerjamu. Semakin banyak kami memburuk kelompok bandit yang lain, maka akan semakin banyak juga bayaranmu." Balas Leo.
Mendengar jawaban itu, Brunt pun mengurungkan niat bodohnya sebelumnya.
Mati? Hal membosankan macam apa itu. Jika Ia masih bisa hidup seperti sebelumnya....
"Aku paham. Kalau begitu...."
......***......
...- Kota Venice, Balai Kota -...
"Apakah ini keputusan yang baik, Tuan Leo?" Tanya Luna yang berjalan di sampingnya.
"Memberikan rumah mewah kepada penjahat, lalu.... Aku tak paham apa yang kau pikirkan." Ujar Reina di samping kanannya.
Leo yang mendengarnya hanya tertawa ringan.
"Tenang saja. Lagipula itu hanyalah rumah bangsawan yang telah ditinggalkan. Aku juga meletakkan setidaknya 20 prajurit untuk menjaga gerak-geriknya. Jadi seharusnya itu aman bukan? Terlebih lagi...."
Dimana semuanya, akan digunakan untuk mempersenjatai lebih banyak pasukan di kota ini.
Ia juga tak berniat berhenti untuk membuat senapan yang baru. Dengan target divisi khusus mencapai setidaknya 2.000 orang.
Kini, dengan kondisi kota yang menjadi lebih stabil, Leo bisa memikirkan lebih banyak hal dengan pikiran yang tenang.
Terlebih lagi....
"Kau tak perlu terus menerus murung seperti itu, Selene." Ucap Leo ke arah wanita berambut perak itu di belakangnya.
"Maafkan aku.... Karena kegagalanku...."
Selene terlihat sedikit melirik ke arah wajah Leo, yang kini menggunakan sebuah penutup mata yang berwarna putih bersih itu, menutupi mata kirinya yang telah tiada.
Ia menganggap bahwa luka yang diderita oleh Leo adalah kesalahan dan kegagalannya.
Akan tetapi....
"Tenang saja. Ini salahku sendiri. Tapi bisa ku katakan, jika kalian tidak tertangkap maka pasukan kita mungkin akan disergap. Jadi aku berterimakasih atas pengorbanan kalian?
Bagaimanapun, kita telah berhasil membuktikan kekuatan dari senjata itu. Dan semua orang juga selamat. Jadi tak ada yg perlu dikhawatirkan." Balas Leo.
Mendengar hal itu sekalipun, Selene hanya terdiam. Terus terpaku menatap tanah tanpa sedikitpun keberanian untuk menatap wajah Leo.
Setelah beberapa saat....
"Hei, Selene. Bukankah kau pikir ini sudah cukup? Untuk membiarkan Roselia menunggu?" Tanya Leo.
"Eh?"
"Kita akan mengunjunginya kembali. Semoga saja dia masih mau menerima kita berdua. Aku.... Kau tahu aku masih perlu banyak belajar bukan?"
Sikap Selene pun seketika berubah. Kegelisahannya yang selama ini menghantui pikirannya, seketika menghilang.
Dan apa yang tersisa, hanyalah sikap tak sabar untuk menemui gurunya sekali lagi.
"Reina, kau mau ikut? Mungkin kita hanya akan menyapanya saja. Mungkin sambil menjelaskan situasi kota saat ini. Kau juga, Luna." Ujar Leo.
"Baiklah jika begitu...." Balas Reina dengan senyuman yang manis.
Sedangkan Luna sendiri....
"Eh?! Roselia.... Roselia yang itu kan? Tidak-tidak! Orang sepertiku mana bisa...."
"Kalau begitu kita berangkat sekarang." Ucap Leo memotong penolakan Luna dengan cepat.
Dan akhirnya, mereka berempat pun berjalan ke arah Akademi Aselica, untuk sekali lagi....
......***......
...- Eastfort -...
'Dok! Dok!'
"Masuk." Balas Feris dengan singkat. Wajahnya saat ini terlihat begitu buruk, dengan kantung mata yang mulai menebal.
Dari balik itu, terlihat sosok seorang Ksatria yang membawa sebuah gulungan kecil dan seekor burung di lengan kirinya.
"Nona Feris, Venice mengirimkan kabar." Ucap Ksatria berzirah itu sambil menyerahkan gulungan dan juga burung merpati itu.
"Hmm? Bukankah sedikit terlalu cepat untuk mengirim kabar baru?" Tanya Feris sambil membuka gulungan yang masih disegel itu.
Tapi Ksatria itu tak tahu jawabannya, dan hanya bisa membalas....
"Saya sendiri juga tak tahu alasannya. Terlebih lagi cara seperti ini...." Ujar Ksatria Itu.
"Aku mengerti. Ada sesuatu yang tak beres di sana. Kalau begitu, kau boleh kembali." Balas Feris.
Setelah memberikan hormat, Ksatria itu pun berjalan keluar dari ruangan ini.
Tapi di saat Feris telah melihat isi dari surat itu, seketika kantung matanya yang menghitam mulai semakin menebal.
Tatapan matanya yang selalu terlihat cukup sinis, kini juga menjadi semakin tajam. Terlebih lagi....
"Cih! Ini buruk!"
Apa yang tertuliskan dalam surat itu sangat sederhana. Yaitu sebuah kalimat dengan tulisan kecil yang muat di dalam gulungan yang hanya sepanjang setengah jari kelingking Feris itu.
Yaitu sebuah kalimat....
..."Venice telah jatuh di tangan orang lain."...