E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 38 - Akhir dari Pelarian



"Hah... hah... hah..."


Reina dengan nafas yang terengah-engah, terlihat berjalan ke arah hutan yang gelap ini. Langkah kakinya terpatah-patah, sedangkan tubuhnya sendiri kembali penuh dengan luka.


Mungkin saat ini ada puluhan panah yang menancap pada tubuhnya.


Sebagian besar berada di tangan kirinya karena Ia mengorbankannya demi melindungi kepalanya. Sedangkan yang lain berada di punggung dan kakinya.


'Bruuukk!'


"Hah.... Entah bagaimana aku bisa selamat." Ucap Reina yang duduk di balik pohon besar itu.


Setelah mengatur nafasnya selama beberapa saat, Reina memperhatikan luka yang ada di sekujur tubuhnya.


Reina saat ini bingung atas apa yang sebaiknya dilakukannya. Di satu sisi, mencabut anak panah itu akan membuat darah mengalir dengan cukup deras.


Tapi di sisi lain, jika Ia tidak mencabutnya, rasa sakit yang saat ini dirasakannya takkan kunjung hilang.


Setelah memikirkannya sejenak, Reina memutuskan untuk mencabut beberapa anak panah yang ada di lengan kirinya dan mengikatnya dengan robekan jubahnya sebagai perban.


Akan tetapi....


"Sialan.... Kenapa darahnya terus mengalir?" Tanya Reina sambil menggigit potongan kain itu, berusaha untuk mengikatnya sekencang mungkin sambil menahan rasa sakit.


Sebaik apapun Ia berusaha, Reina tak mampu untuk menutup lukanya dengan sempurna. Dan setelah sekitar 5 menit berlalu, pandangannya pun mulai kabur. Tubuhnya mulai terasa dingin dan lemas.


'Jangan katakan.... Aku akan mati lagi disini? Bukankah Dewi Silvie telah membantuku? Untuk apa Dewi membantu jika aku hanya akan mati lagi?' Pikir Reina dalam hatinya dengan perasaan yang sangat kesal.


Berbeda dengan pikirannya yang masih sekuat baja, tubuhnya tak lagi mampu bertahan dari seluruh luka ini.


Pada saat itulah....


'Sruuugg!'


Seorang Pria berambut perak dengan mata yang berwarna abu-abu tiba-tiba berdiri di hadapan Reina.


Tangan kanannya memegang sebuah pedang. Sedangkan pakaiannya sendiri terlihat cukup sederhana, baju berwarna putih dengan mantel kulit berwarna kecoklatan. Pria itu mengenakan celana panjang berwarna kecoklatan.


Kedua tangannya mengenakan sarung tangan kulit berwarna coklat. Sedangkan sepatunya merupakan sepatu kulit yang setinggi di bawah lututnya.



Dengan tatapan yang cukup tajam, Pria itu pun bertanya.


"Siapa kau? Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Pria itu dengan suara yang cukup datar.


Reina yang tak lagi memiliki tenaga hanya bisa membalas dengan satu kata.


"Kabur...."


Kata itulah yang keluar dari bibir Reina yang saat ini sedikit dilumuri dengan darahnya sendiri. Matanya mulai menutup secara perlahan, Ia sadar bahwa dirinya mungkin akan segera mati di tangan Pria itu.


'Dewi.... Maafkan aku karena tak bisa memenuhi harapanmu....' Pikir Reina di saat-saat terakhirnya.


Pada saat itulah, Pria misterius berambut perak yang ada di hadapannya mulai tersadar. Kedua matanya sedikit melebar, dengan alis yang mulai mengerut.


"Tunggu dulu.... Kau.... Bukankah kau Reina, sang penyelamat? Kenapa kau ada disini? Tidak, kenapa kau memiliki luka sebanyak itu?!"


Teriakan terakhir dari Pria itu yang memberikan ekspresi panik dan penuh kebingungan itu, menjadi pemandangan sekaligus hal terakhir yang Reina dengar. Sebelum kesadarannya telah sepenuhnya menghilang.


......***......


...- Di suatu rumah yang tidak di ketahui -...


Rumah kayu yang terlihat telah cukup tua ini terlihat memiliki banyak sekali barang yang tertata dengan rapi. 8 buah rak kayu yang setinggi 2 meter itu berdiri dengan rapi di beberapa sudut rumah ini.


Semuanya dipenuhi oleh botol kaca yang berisi berbagai jenis bahan. Beberapa diantaranya menyimpan dedaunan, sedangkan yang lain lagi menyimpan batang dan akar tanaman yang berbeda.


Tak hanya itu, beberapa dari bahan itu terlihat terendam dalam sebuah cairan yang memiliki warna yang berbeda-beda.


Beberapa meja kerja yang penuh dengan kertas dan kompor sederhana itu terlihat cukup berserakan. Termasuk juga beberapa peralatan kerja lainnya.


"Hah?!" Teriak Reina yang dengan segera bangun dari tidurnya.


Reina berusaha mengumpulkan sebanyak mungkin kesadarannya. Memperhatikan sekelilingnya dengan baik.


Setelah memastikan bahwa tak ada seorang pun dalam ruangan ini, atau dengan kata lain tak ada bahaya, Reina kemudian mulai memperhatikan dirinya sendiri.


Tangan kirinya penuh dengan perban putih mulai dari telapak tangannya hingga pundaknya. Begitu pula bagian perut dan juga dadanya yang diperban bersamaan dengan punggungnya.


Sedangkan kakinya, Ia hanya diperban pada bagian paha kanan dan juga betis di kaki kirinya.


Pada awalnya, Reina masih belum menyadarinya.


Tapi setelah Ia memperhatikannya sekali lagi, terutama perban di bagian perut dan dadanya....


"Tunggu dulu.... Dimana pakaianku?! Apakah aku...." Teriak Reina pada dirinya sendiri setelah menyadari bahwa dirinya hanya mengenakan celana pendek berwarna hitam itu.


Wajahnya mulai terlihat panik. Tapi sesaat setelah Reina berteriak....


'Tap! Tap! Tap!'


Suara langkah kaki yang menuruni tangga terdengar dengan cukup keras.


Reina yang mendengar hal itu segera mencari senjata, tapi tak ada apapun yang terlihat berguna untuk membantunya bertarung. Oleh karena itu, Ia mencoba untuk berdiri. Akan tetapi....


"Uuggh...."


Rasa sakit di punggung, perut dan kakinya mulai terasa. Bercak darah merah mulai membasahi perbannya sedikit demi sedikit.


Ia ingin memaksakannya. Ia tak ingin berakhir dalam kondisi seperti ini. Oleh karena itu....


"Tunggu. Jangan banyak bergerak atau luka mu akan kembali terbuka." Ucap Pria berambut perak yang sebelumnya ditemuinya di tengah hutan itu.


"Kau.... Kau?! Apa yang telah kau lakukan padaku!" Teriak Reina dengan keras.


"Apa yang telah ku lakukan padamu? Apakah kau tak bisa melihatnya? Aku merawat lukamu. Oleh karena itu kembalilah beristirahat. Aku akan membuatkan bubur untukmu." Ucap Pria itu yang dengan segera membalik badannya dan berjalan kembali ke atas.


Reina masih cukup kebingungan dengan situasi ini dan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tunggu! Kau.... Siapa kau sebenarnya?" Tanya Reina dengan tatapan tajam.


Pria itu pun menghentikan langkah kakinya setelah menaiki 2 buah anak tangga. Dengan sedikit menolehkan pandangannya, Ia menjawab pertanyaan Reina.


"Lucas, seorang peramu obat-obatan. Sekarang kembali lah beristirahat."


Hanya dengan kalimat itu saja, Reina akhirnya paham setelah memperhatikan kembali apa yang ada di sekelilingnya.


Sebuah ruangan yang dipenuhi dengan rak yang berisi berbagai macam tanaman. Kemudian meja kerja yang terlihat sedang memanaskan sesuatu. Terlebih lagi perawatan yang diterimanya.


"Peramu obat? Jadi kau semacam dokter?" Tanya Reina sekali lagi.


Pria berambut putih yang bernama Lucas itu menyilang kan kedua lengannya di pinggiran pembatas tangga sebelum menjawab pertanyaannya.


"Dokter ya? Sedikit berbeda, karena tugasku bukanlah untuk mengobati orang. Melainkan untuk membuat obat agar bisa digunakan oleh orang lain, termasuk dokter, untuk menyembuhkan orang.


Meskipun, aku juga memiliki sedikit pengetahuan untuk merawat orang terluka. Jadi, kau sudah cukup tenang sekarang? Tenang saja, aku tak berminat pada tubuh seorang wanita yang penuh dengan luka seperti yang kau alami sebelumnya." Jelas Lucas dengan cukup panjang lebar.


Reina membutuhkan sedikit kesulitan untuk memahami apa yang dimaksudkan oleh Lucas pada kalimat terakhirnya.


Wajahnya pun mulai memerah segera setelah Ia tersadar apa yang dimaksud.


"Tunggu.... Dengan kata lain.... Kau telah.... Melihat...." Ucap Reina dengan wajah yang memerah.


"Tentu saja. Bagaimana caraku menjahit semua luka itu tanpa melihatnya?" Balas Lucas sambil tersenyum.


Pada saat itulah, Reina pertama kali merasakan kekalahan besar kepada orang lain bahkan tanpa bertarung sekalipun. Tubuhnya mulai terasa panas dan lemas.


Hingga akhirnya, Reina hanya mampu untuk kembali berbaring sambil menutupi seluruh wajahnya.