E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 139 - New Dawn



'Krettakk!'


Suara ranting kayu yang patah dalam api unggun itu terdengar memeriahkan suasana yang dingin dan kelam ini beberapa kali.


Di dalam sebuah hutan yang telah habis terbakar, dengan pepohonan yang kering dan mati, terlihat seorang wanita sedang duduk di hadapan api unggun itu.


Ia memiliki penampilan seperti seorang Elf pada umumnya. Dengan rambut perak terurai yang panjang dan telinga yang runcing dan cukup panjang.


Wanita itu nampak mengaduk-aduk sesuatu di dalam panci besi yang kecil itu. Yang nampaknya berisi cairan kaldu yang cukup kental dengan banyak kentang dan sayuran lainnya di dalamnya.


Sesekali, wanita itu melirik ke arah sosok seseorang yang tergeletak tak berdaya di sebelahnya.


Setelah memastikan bahwa sosok Pria itu masih terdiam, wanita itu pun kembali menaikkan panci berisi sup kentang itu ke atas api unggun. Memanaskannya kembali.


Di sebelahnya, terdapat sebuah gelas kayu dan panci yang berisi air hangat.


'Sluurrpp!'


Sambil meneguk air hangat itu, Ia menghembuskan nafas yang menciptakan embun.


Sebuah fenomena yang aneh. Dimana seharusnya saat ini sudah berada di pertengahan musim semi. Tapi pada kenyataannya, suhu di sekitar tempat ini masih sedingin pada saat musim dingin.


Setelah beberapa saat berlalu dan sup kentang itu mulai panas, wanita itu pun mengambil sebuah mangkuk kayu dan sebuah sendok kecil.


Ia mengambil sedikit sup itu setelah mengaduknya beberapa kali. Menikmati hangatnya sup dan air putih di malam berbintang yang cukup dingin ini.


Ketika Ia telah menyelesaikan makanannya, wanita itu segera meletakkan mangkuk kayu itu di samping. Dengan kedua tangan yang saling menempel satu sama lain, Ia mengucapkan sesuatu yang sama sekali tak bisa dipahami oleh orang lain.


"Virya vas durr Zhen kaltakh."


Setelah mengucapkan kalimat itu, beberapa bola cahaya dengan warna kehijauan yang indah muncul di sekitarnya. Secara perlahan, bola cahaya itu bergerak ke arah tubuh Pria yang tergeletak tak berdaya itu.


Mengelilingi tubuhnya secara perlahan dengan cahaya hijau yang lembut dan indah itu.


Ia telah melakukan rutinitas ini selama kurang lebih dua hari. Dan tak ada hal istimewa yang terjadi pada Pria itu.


Jantungnya masih berdetak. Ia bahkan masih bernafas. Tapi itu hanyalah ciri makhluk hidup biasa.


Bagi ras Elf yang memiliki ikatan yang sangat erat dengan Mana, wanita itu sangat yakin. Bahwa ada sesuatu yang sangat salah dengan Pria yang tertidur di sebelahnya.


Yaitu sebuah kenyataan, bahwa Pria itu sama sekali tak memiliki Mana sedikit pun di dalam tubuhnya.


Bahkan, seberapa kerasnya Ia berusaha untuk memberikan Mana kepadanya, tubuhnya seakan menolak. Seperti sebuah minyak yang disiram oleh air.


Dan bagi makhluk hidup tingkat tinggi, hal itu seharusnya tak ada di dunia ini.


Bahkan hewan kecil seperti tikus sekalipun masih memiliki afinitas kepada Mana. Tapi ini?


Menyingkirkan pikirannya yang rumit, wanita itu nampak menggeledah tas besarnya dan mencari sesuatu. Setelah menemukan apa yang dicarinya, Ia segera meletakkannya di atas tubuh Pria itu.


Yaitu sebuah selimut yang telah compang-camping akibat peperangan ini.


Dengan suara yang begitu indah, Ia pun berkata.


"Selamat malam, Hyume."


Dan setelah itu, Ia juga segera memutuskan untuk tidur dengan tenang di hutan yang telah hangus terbakar ini.


Setidaknya....


Jauh dari konflik di kota-kota besar.


......***......


...- Kota Venice -...


Dengan kematian Leo, tatanan kekuasaan di Kota ini, termasuk juga di wilayah Rustfell, mengalami goncangan yang sangat parah.


Sebagai istri pertamanya, Roselia pun memutuskan untuk mengambil alih kuasa Kota dan wilayah Rustfell ini untuk sementara waktu hingga kandidat pemimpin yang lebih baik ditemukan.


Perubahan besar-besaran terjadi di wilayah ini.


Dalam kepemimpinan Leo yang hampir selama 7 tahun itu, wilayah Rustfell memperoleh kemajuan dan ledakan ekonomi yang begitu luarbiasa.


Lapangan pekerjaan terbuka sangat lebar. Bahkan terlalu lebar hingga Leo pernah mengusulkan sebuah hukum untuk memiliki setidaknya 5 anak dalam setiap keluarga demi memenuhi semua lapangan pekerjaan ini di masa depan.


Tapi sayangnya, hukum itu ditolak oleh cukup banyak bangsawan dan petinggi lain karena akan menimbulkan ketidakstabilan di 20 tahun mendatang.


Tak ada lagi orang miskin.


Tak ada lagi orang yang tak bisa makan.


Semuanya dapat hidup dengan layak. Dan bagi siapapun yang merasa seakan tak lagi memiliki tempat tujuan atau ketrampilan khusus, mereka tetap bisa masuk ke militer kapan saja.


Dimana militer akan menjamin kehidupan yang layak untuk dirinya dan keluarganya sendiri.


Hasilnya?


Sebuah wilayah yang bisa dikatakan hampir mendekati kata Utopia itu sendiri.


Tapi sayangnya, kini orang yang bertanggungjawab dalam membawa mereka semua ke Utopia, telah tiada.


Termasuk juga 10.000 prajurit yang ikut bersamanya pada saat itu.


Tak tanggung-tanggung, ucapara pemakaman simbolis ini dihadiri oleh hampir seluruh penduduk di Kota Venice. Bahkan sebagian dari penduduk di Kota dan desa lainnya nampak berbondong-bondong untuk datang menghadirinya.


Setidaknya....


Untuk memberikan setangkai bunga pada makamnya.


Tak ada satu kata pun yang terdengar selama upacara pemakaman itu. Semuanya terdiam, memandang makam simbolis yang ada di hadapan mereka dengan sikap yang tenang.


Berusaha untuk mendoakan yang terbaik bagi Leo, Selene, dan seluruh pasukan yang ikut bersamanya.


Segera setelah Reina, Stella, dan Marcus melangkah pergi, semua orang mulai mengikuti mereka.


Dimulai dari Artemis, kemudian Roselia. Bahkan Lucas dan istri serta anaknya pun ikut hadir dalam upacara pemakaman ini.


Hingga akhirnya, upacara pun dibubarkan tanpa adanya perintah sepatah kata pun. Semuanya segera kembali ke rumah mereka masing-masing sambil terus membisu.


Tak bisa mempercayai bahwa orang sehebat Leo akan pergi meninggalkan mereka di usia yang masih semuda itu.


Bahkan meninggalkan Istri keduanya, Reina dan kedua anaknya yaitu Stella dan Marcus.


Di kejauhan, sosok seorang wanita dengan rambut hitam keunguan yang panjang ampak bersandar di sebuah pohon. Pakaiannya adalah sebuah seragam militer seorang Pria dengan sebuah pedang dengan sarung hitam yang menggantung di sisi samping pinggangnya.


Reina dengan segera meminta Stella dan Marcus untuk pulang terlebih dahulu. Meninggalkannya sendirian untuk berbicara empat mata dengan Feris.


"Aku turut berduka cita atas kepergian Leo, Reina." Ucap wanita itu yang tak lain adalah Feris.


"Nona Feris, terimakasih telah repot-repot sampai datang kemari." Balas Reina dengan senyuman tipis dan mata yang memerah.


Setelah beberapa saat terdiam, Feris nampak memberikan selembar surat dengan lambang kerajaan di atasnya.


Tetap dengan tatapan khasnya yang tajam, Feris pun kembali berbicara.


"Berdasarkan seluruh informasi yang telah ku kumpulkan dari para Elf yang mengungsi di kota ini, serta sumber informasi dari Alex, Brian, dan juga Amelia, aku telah tahu siapa yang menjadi lawan dari Leo dan juga Selene pada saat itu.


Termasuk juga informasi dari Roselia mengenai ledakan api biru yang besar itu. Kau tertarik?" Jelas Feris panjang lebar sambil menyodorkan surat itu kepada Reina.


Reina hanya terdiam sesaat, menatap ke arah amplop itu dengan seksama.


Setelah beberapa detik, pandangannya kembali ke arah Feris.


"Katakan padaku." Balas Reina singkat.


"Aku menjelaskan detailnya di surat ini. Tapi pada intinya, dua orang itu telah melawan salah satu dari 4 petinggi utama dari Valkazar. Sedangkan ledakan itu adalah sihir bunuh diri. Aku sangat yakin Iblis Minotaur itu mati pada saat itu juga bersama dengan ledakannya."


Kedua mata Reina nampak mulai terkejut atas kenyataan yang didengarnya itu. Ia sama sekali tak menyangka bahwa apa yang dilawan oleh Leo dan juga Selene adalah sesuatu yang sebesar itu.


Setelah berhenti sesaat, Feris kemudian melanjutkan perkataannya.


"Reina. Apa yang ingin ku katakan adalah, pengorbanan Leo benar-benar luarbiasa. Dan sebuah kemajuan besar dalam perjuangan kita sebagai pahlawan.


Tak ada satu pahlawan pun yang bisa menang terhadap satu dari 4 petinggi Valkazar, bahkan dari 3.000 pahlawan sebelumnya. Tapi Leo dan Selene berhasil melakukannya. Itu adalah sebuah pencapaian besar yang takkan kita sia-siakan."


Penjelasan Feris yang panjang lebar itu hanya membuat Reina semakin teringat atas sosok kedua orang itu.


Terutama sosok Leo yang selalu bersikap baik padanya, dana Selene yang selalu menghormati Reina apapun yang terjadi.


Tanpa Reina sadari, air mata kembali mengalir membasahi pipinya. Ia masih tak bisa meninggalkan semua kenangannya bersama dengan Leo dan juga Selene setelah selama ini bersama mereka berdua.


Terlebih lagi....


Tapi di saat Reina sedang berusaha untuk menahan tangisannya, kedua tangan Feris segera menepuk pundaknya. Berusaha untuk membuatnya tenang.


Bukan dengan sebuah omong kosong.


Akan tetapi....


"Reina. Kali ini, kita akan mengakhiri penindasan Iblis di dunia ini untuk selamanya. Dan dengan ras Elf Crystalcourt yang kini bersama dengan kita, serta ras Dwarf yang saat ini masih dalam proses negosiasi, kita bisa melakukannya.


Dengan rencana baru yang telah ku susun ini, peluang kemenangan kita sangat besar. Tentu saja, aku akan langsung mati sesaat setelah rencana ini di jalankan.


Tapi Reina, umat manusia saat ini membutuhkan kekuatanmu. Apakah kau rela mati untuk umat manusia?" Tanya Feris dengan tatapan yang sama sekali tak menunjukkan adanya keraguan di dalamnya.


Setelah berhasil menenangkan dirinya kembali, Reina pun membalas dengan tegas.


"Selama pengorbanan Leo tak sia-sia.... Aku akan melakukan apapun. Katakan, apa yang harus ku lakukan?"


"Telah ku jelaskan semuanya dalam surat itu. Kalau begitu, sampai jumpa lagi. Salam untuk Stella dan juga Marcus kecil."


Dengan balasan itu, Feris segera melangkah pergi. Kembali dalam kereta kudanya yang telah menanti sedari tadi.


Bab baru dalam kisah umat manusia....


Tidak. Dalam kisah dunia Egalathia ini pun terbuka. Sebuah bab dengan beragam konflik di berbagai belahan dunia hanya untuk satu tujuan.


Yaitu membebaskan diri dari penindasan ras Iblis.