
Segera setelah menyingkirkan tubuh nomor 52 yang tak lagi bernyawa itu, para Prajurit itu mendekat ke arah nomor 30 yang terbaring lemas.
Tak ada daya untuk melawan balik.
Mereka membalikkan tubuh Nomor 30 dengan mudah.
Apa yang mereka lihat adalah sebuah kantung kain yang berisi sesuatu yang besar.
Senyuman yang lebar pun menghiasi wajah seluruh prajurit itu.
"Emas sebesar ini.... Bukankah Baron Gilbert akan mengangkat kita menjadi Ksatria dengan ini?!"
"Hahaha! Kau benar!"
"Bagaimana dengan orang ini?"
"Bunuh saja dia!"
Salah seorang prajurit segera mengambil bungkusan kain itu. Dari beratnya saja, mereka sangat yakin bahwa bongkahan emas itu sangatlah mahal.
Sedangkan prajurit yang lain menarik pedangnya dan menusukkannya beberapa kali ke dada nomor 30 itu tanpa ampun.
'Jleb! Jleb! Jelb!'
Tak ada perlawanan dari Nomor 30. Ia hanya terdiam dengan mulut yang terbuka lebar. Darah pun secara perlahan mengalir di tubuhnya.
"Buahahaha! Akhirnya! Kita akan mendapat promosi!"
"Ayo segera kembali. Aku merasa ngeri dengan situasi tambang ini."
"Kau benar...."
Akan tetapi....
Tanpa mereka sangka....
"Yoo. Sudah puas merampas batu dan membunuh mayat?" Ucap seorang Pria yang tiba-tiba muncul di pintu lorong tambang itu.
Pria itu memiliki rambut kecoklatan dengan warna mata yang juga coklat. Pakaiannya hanyalah selembar kain coklat tapi Ia terlihat sama sekali tak kedinginan.
Sedangkan di tangan kanannya, Ia membawa sebuah kantung yang terbuat dari potongan pakaian orang yang telah mati.
"Hah? Siapa kau? Apa maumu?" Tanya salah seorang prajurit itu dengan nada yang sombong.
Akan tetapi, mendengar kalimat Pria itu, prajurit yang membawa bongkahan itu segera membuka bungkusannya untuk memastikan.
Dan pada kenyataannya, apa yang baru saja Ia ambil hanyalah bongkahan batu biasa.
Merasa kesal, kelima Prajurit itu pun segera menarik pedangnya dan berlari ke arah Pria misterius itu.
Keunggulan mereka sangat besar.
Dalam hal jumlah.
Dalam hal kekuatan.
Dalam hal perlengkapan.
Bahkan mereka menghapus satu-satunya kelemahan mereka yaitu kegelapan dengan obor.
Tapi pada kenyataannya, hal itulah yang akan menjadi akhir bagi mereka.
Pria misterius berambut coklat itu segera melemparkan kantung kain yang berisi sesuatu itu ke arah para Prajurit itu. Tanpa ragu, Ia segera berlari menjauh dari sana.
Mungkin karena ketakutan atas kekuatan para prajurit itu.
Kantung yang tak tertutup rapat itu pun terbuka dan mengeluarkan banyak bubuk dan bongkahan berwarna kekuningan.
Semuanya menyebar ke berbagai arah.
Dan ketika benda itu mengenai obor salah seorang prajurit itu....
'BLAAAAARRRRRRR!!!'
Sebuah ledakan yang cukup besar terjadi.
Menghancurkan apapun yang ada di sekitarnya. Bahkan api dan ledakan itu sempat melemparkan sosok Pria misterius berambut coklat itu sejauh beberapa meter.
Hasilnya?
'Tap! Tap!'
Pria berambut coklat itu pun kembali ke arah ledakan, mendekati sosok kelima Prajurit yang kini tubuh mereka telah hancur lebur.
Semua kecuali satu, yang terlihat masih hidup hanya dengan setengah bagian atas tubuhnya.
Akan tetapi, dengan suhu yang sedingin ini, Ia tak lagi mampu untuk melakukan apapun.
Pada saat itulah....
'Bruuukk!'
"Bagaimana rasanya, ketika nyawamu sendiri terancam?" Ucap Pria berambut coklat itu sambil menginjak kepala Prajurit itu.
Tatapan matanya sangatlah dingin, seakan sama sekali tak ada perasaan takut ataupun penyesalan setelah melakukan hal barusan.
Sedangkan ekspresi wajahnya sendiri terlihat cukup datar. Tak ada kebencian di dalamnya. Tak ada kemarahan di dalamnya.
Atau setidaknya.... Itulah yang terlihat.
"Ka-kau.... Siapa kau...."
"Aku? Namaku Dimas, tapi mungkin kalian lebih mengenalku sebagai nomor 30."
Mendengar hal itu, wajah Prajurit yang telah sekarat itu terlihat begitu terkejut seakan tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.
Dan benar saja, Pria yang ada di hadapannya itu sama sekali tak mengenakan papan nomor.
Sebuah pedang....
Yang biasa mereka gunakan untuk membunuh para 'pekerja' sesuka hati mereka.
......***......
Kembali beberapa puluh menit yang lalu....
Sesaat setelah Dimas meminta nomor 52 untuk mengambilkan makanan dengan butiran emasnya, Dimas sendiri sudah sangat yakin bahwa nomor 52 tidak akan melakukannya.
Alasannya sangat sederhana.
Semua orang kelaparan. Mereka takkan membagi makanan untuk orang lain.
Terlebih lagi Dimas yang memberikan emas melalui nomor 52, tentunya akan memperoleh jatah makanan yang lebih besar.
Tapi itu saja tak cukup.
Untuk membuat lawannya bergerak sesuai dengan keinginannya, Dimas melakukan sedikit sandiwara.
Hal yang pertama dilakukannya adalah berpura-pura untuk merasa lemas setelah menghancurkan rantai besi itu. Membuat lawannya merasa jauh lebih yakin bahwa mereka akan menang jika keadaan menjadi genting.
Lebih dari itu, Dimas menambahkan sandiwara lain bahwa Ia memegang sesuatu yang berharga dalam kantung kainnya.
Sebuah bongkahan yang cukup besar.
Jika diselaraskan dengan dirinya yang selalu menyerahkan emas selama ini, tentu saja seseorang akan merasa curiga bahwa mungkin saja Dimas memang memiliki persediaan emas untuk bersantai.
Dan itulah, bongkahan yang sosok sebenarnya hanyalah batu biasa itu bisa berubah menjadi emas.
Pada saat ini, Dimas mempertimbangkan 2 buah kemungkinan.
Kemungkinan pertama yaitu bahwa nomor 52 akan merebutnya saat itu juga.
Sedangkan kemungkinan kedua yaitu nomor 52 akan memanggil bantuan untuk merebutnya, atau menukarnya dengan sesuatu yang lebih berharga. Sebagai contoh kebebasan atau makanan dalam jumlah yang besar.
Untuk menyingkirkan peluang pertama, Dimas dengan sengaja memamerkan kekuatannya untuk menghancurkan rantai itu.
Satu yaitu untuk membuktikan kekuatannya. Sedangkan dua yaitu memperjelas bahwa Ia akan bisa bergerak lebih bebas jika pertarungan berlangsung karena tak lagi memiliki rantai yang mengekangnya.
Semuanya pun sesuai dengan rencananya.
Nomor 52 mengkhianatinya dan menjual emasnya untuk kebebasan.
Oleh karena itu, Dimas mempersiapkan rencana berikutnya.
Apapun yang terjadi, Ia takkan selamat melewati badai salju yang sangat dingin itu hanya dengan selembar kain tipis meskipun sudah menjadi lebih hangat.
Ia membutuhkan sesuatu yang lebih bisa diandalkan.
Dan perlengkapan para prajurit itu adalah hal yang sempurna. Itulah mengapa Ia harus mendapatkannya.
Untungnya, Dimas selama ini tak hanya menambang seperti budak yang tak memiliki pilihan. Ia menjelajahi tambang ini ke wilayah yang bahkan tak diketahui oleh pekerja lainnya.
Dan di tempat itulah, Ia menemukan sesuatu yang saat itu jauh lebih berharga daripada emas.
Yaitu sebuah bongkahan belerang.
Benda itu cukup mudah terbakar dan meledak. Tapi itu saja tak cukup. Dimas segera menggunakan skill Enchanting miliknya untuk meningkatkan atribut itu ke tingkat yang lebih tinggi.
Hasilnya?
Sebuah bongkahan yang sangat mudah meledak, dan akan menghasilkan ledakan yang besar ketika terkena api.
Dimas sedikit menghancurkannya agar bisa menyebar ketika dilemparkan.
Tapi permasalahannya ada satu.
Ia membutuhkan panggung untuk semua ini.
Tapi untungnya, seluruh properti panggung sudah tersedia. Pemeran? Dimas bisa menggunakan jasad siapapun untuk menggantikan dirinya.
Penggunaan nomor sebagai nama juga merupakan sebuah kelemahan besar. Dengan itu, identitas seseorang sepenuhnya ditentukan oleh nomor itu.
Jika Dimas meletakkan nomornya pada orang lain, tanpa memperlihatkan wajahnya, maka semua orang akan percaya bahwa orang itu adalah dirinya.
Dan itulah yang dilakukannya.
Dimas menyeret jasad seseorang dan mengenakan nomornya padanya lalu membuang nomor orang itu jauh-jauh. Termasuk memberikannya kain berisi bongkahan batu itu.
Dengan begitu, Ia telah memperoleh pemeran pengganti yang sempurna.
Kini yang diperlukan olehnya....
Hanyalah menunggu saat yang tepat.
Panggung telah disiapkan. Cerita telah dikisahkan.
Dan yang terakhir....Aktor telah bergerak sesuai dengan perkiraannya.
Hasilnya adalah saat ini.
Dimas merampas seluruh perlengkapan yang masih utuh setelah menerima ledakan itu. Pakaian kulit tebal yang dikenakan diatas pakaian kain tipisnya.
Kemudian zirah besi yang dikenakan diatasnya lagi. Mulai dari kaki hingga kepala. Dimas menutupi dirinya dengan besi.
Tak hanya itu, Dimas juga merampas sebuah pedang yang masih dalam kondisi baik.
Dan dengan begitulah, persiapannya telah selesai.
Bersama dengan satu kantung tulang sebagai makanan cadangannya, Dimas telah siap untuk meninggalkan tambang ini selamanya.
Sesuai dengan rencananya.