
"Sihir adalah kekuatan untuk merealisasikan apa yang ada di dalam pikiran dengan Mana sebagai bahan bakarnya. Atau setidaknya, itu adalah yang ku percayai selama ini." Balas Leo singkat.
Selene yang berdiri di belakangnya terlihat memandangi sosok Tuannya itu dengan perasaan yang kagum.
Sementara itu....
"Sungguh, jawaban yang menarik. Baiklah, aku akan menjawab pertanyaannmu." Balas Petugas itu.
Leo pun mulai memfokuskan seluruh indranya untuk menangkap apa yang akan dikatakan oleh wanita yang ada di hadapannya itu.
"Sama seperti makhluk hidup yang membutuhkan udara untuk bernafas, sihir membutuhkan Mana untuk bekerja. Dan sama seperti tubuh yang selalu menyimpan cadangan makanan, tubuh semua makhluk hidup juga menyimpan cadangan Mana sesuai dengan kemampuan mereka."
Leo menunggu kelanjutan dari jawaban itu. Tapi wanita itu hanya tersenyum dan terdiam.
"Tunggu, apa maksudnya semua itu?" Tanya Leo.
"Entahlah, mungkin kau bisa menemukannya setelah mendalami 6 buah buku mengenai Mana di perpustakaan. Biaya sewa buku hanya sebesar...."
'Srruuugg!'
Leo menarik kantungnya yang berisi beberapa koin platinum itu dan mengarahkannya kepada sang petugas.
"Aku akan membacanya lain kali, beri aku jawabannya saat ini dan kau bisa memiliki 10 koin platinum ini."
'Swuuutt!'
Dengan kilat, wanita itu pun menarik kantung koin Leo dan segera menyimpannya di dalam jubahnya.
"Senang berbisnis dengan Anda. Mari kita ulang dari awal, namaku adalah Roselia, seorang penyihir tingkat atas di akademi ini. Aku telah mempelajari sihir sejak 14 tahun yang lalu, jadi aku sangat percaya diri atas pengetahuanku. Ehem!!!"
Dengan kode itu, sang ksatria yang mengawal Leo dan juga Selene akhirnya menyerahkan beban pengawasan itu kepada Roselia dan kembali menuju gerbang utama.
Wanita yang pada awalnya dianggap sebagai petugas itu, ternyata adalah salah seorang murid di sekolah sihir in.
Ia menjelaskan bahwa dirinya melakukan kerja sampingan dengan membantu mengatasi berbagai pertanyaan yang tiba di sekolah ini. Sama seperti kasus Leo.
Setelah itu, Ia meminta Leo untuk mengikutinya ke dalam sebuah ruangan kecil. Ukurannya mungkin hanya 3 x 4 meter persegi dan didalamnya terdapat 4 buah kursi dan meja kecil murid, serta meja dan kursi guru. Tak lupa sebuah papan tulis berwarna hitam.
Melihat pemandangan ruangan ini yang cukup sederhana, Leo kembali teringat akan masa lalunya di bumi. Ketika Ia masih duduk di bangku sekolah, memperhatikan guru yang menjelaskan pelajaran.
"Silakan duduk, wahai murid kilatku. Mari kita mulai pelajarannya." Ucap Roselia yang segera membersihkan papan tulis itu dari kapur.
Tanpa berpegangan pada satu buku pun, Roselia dengan cepat menggambarkan sesuatu di papan tulis. Lengkap dengan penjelasan yang cukup detail.
"Jadi, pernyataanmu itu tidak salah bahwa Mana adalah bahan bakar dari sihir. Akan tetapi, pemikiran itu akan menyempitkan pikiranmu dan menganggap bahwa Mana hanya bisa ditarik dari dalam dirimu saja.
Pada kenyataannya, Mana juga sama seperti udara. Mereka ada di sekitar kita menanti untuk digunakan, atau masuk ke dalam tubuh. Hanya saja, penggunaannya secara langsung dari udara diperlukan pemahaman dan pengendalian sihir yang sangat tinggi. Dengan kata lain, sangat sulit. Tapi tidak mustahil dilakukan."
Roselia terus menjelaskan mengenai konsep dari Mana itu sendiri dengan detail kepada Leo dan Selene yang duduk di sampingnya. Begitu juga membahas mengenai batasan Mana di dalam tubuh seseorang.
Leo tak mengabaikan kesempatan emas ini dan mencatat semuanya di dalam kertas dengan rapi.
"Kemudian mengenai batasan Mana seseorang. Satu-satunya cara untuk meningkatkannya adalah dengan terus menguras habis Mana itu sendiri. Tapi bagaimana jika tidak cukup? Bagaimana jika kau perlu menggunakan sihir yang penggunaan Mana nya melampaui batasanmu?" Tanya Roselia.
Ia kemudian meraih sesuatu di dalam jubahnya. Sebuah benda dengan bentuk seperti belah ketupat dengan ukuran sepertiga telapak tangannya.
"Batu Mana. Kau bisa menyimpan Mana milikmu di dalamnya, dan menggunakannya secara bersamaan setelah semuanya siap. Katakan, aku ingin menggunakan sebuah sihir yang penggunaan Mana nya 5 kali lipat kapasitasku.
Maka aku hanya perlu mengisi batu Mana sejumlah lima kali batas Mana ku. Dan kemudian kau bisa menariknya di saat yang bersamaan saat ingin menggunakannya. Kemudian untuk cara menariknya sendiri...."
Roselia terus menerus menjelaskan tanpa henti sambil menggambar di papan tulis.
Penjelasannya begitu runtut, rapi dan detail. Tak salah jika Ia menyebut dirinya sebagai murid tingkat atas di akademi sihir ini.
'Yang benar saja?! Kenapa aku sama sekali tak memikirkannya? Selama ini aku hanya menggunakan benda itu sebagai bom. Jadi batu Mana juga bisa digunakan seperti itu?' Tanya Leo pada dirinya sendiri.
"Setiap kali kau menggunakan sihir, lingkaran sihir mungkin akan muncul tergantung dari sihir itu sendiri. Orang-orang mungkin berpikir bahwa lingkaran sihir itu adalah bukti bahwa sihirnya telah aktif dan akan segera bekerja.
Tapi pada kenyataannya, lingkaran sihir hanyalah alat bantu yang dibuat oleh penyihir secara tak sadar. Fungsi dari lingkaran sihir yang sebenarnya adalah untuk menarik Mana yang ada di dalam tubuh dan mewujudkannya.
Sama seperti hal itu, kau membutuhkan lingkaran sihir yang baik untuk menarik Mana dari dalam batu ini. Tentu saja hal ini tak perlu jika batu yang ingin kau serap ada tepat di genggaman tanganmu. Tapi jika batu yang kau butuhkan sebanyak 100, kau tak mungkin melakukannya kan?
Oleh karena itulah dibutuhkan bantuan lingkaran sihir. Tapi batu tak memiliki pikiran dan nyawa. Mereka takkan bisa memunculkan lingkaran sihir. Oleh karena itu, kau perlu membuatnya sendiri."
Leo terus menyimak seluruh penjelasan Roselia dan mencatatnya dengan baik.
Setelah itu, Roselia mulai menjelaskan mengenai tipe-tipe lingkaran sihir dan cara pembuatannya.
"Untuk membuat lingkaran sihir, kau bisa menggunakan hampir segalanya. Kapur, darah, air, pasir, apapun itu. Selama kau bisa menjaga bentuknya, lingkaran sihir itu akan bekerja.
Akan tetapi, setiap bahan alam memberikan kontribusi terhadap kualitas penarikannya. Itulah mengapa untuk sihir tingkat tinggi, kami para penyihir biasanya menggunakan merkuri atau air raksa.
Kemudian untuk tipe lingkaran sihir sendiri dibedakan berdasarkan pola gambar dan juga segi dari gambar itu sendiri. Sebagai contoh...."
Tanpa terasa, Roselia telah mengajar selama 2 jam lebih. Dan pelajarannya pun berakhir setelah Ia menjelaskan semua yang dibutuhkan oleh Leo.
"Jadi, apakah ada pertanyaan lagi?" Tanya Roselia di akhir pelajaran itu sambil membersihkan papan tulis.
"Untuk saat ini belum. Tapi jika ada, aku akan kembali kesini lagi." Balas Leo sambil membereskan semua barangnya yang dibantu oleh Selene.
Bahkan hanya dua jam, Leo berhasil menulis sebanyak 24 lembar kertas secara bolak balik. Sebanyak itulah pelajaran yang diberikan oleh Roselia selama 2 jam ini.
"Aku akan menantikan hari itu tiba!" Balas Roselia dengan senyuman yang sangat lebar setelah mengetahui bayarannya itu.
Roselia pun mengantarkan Leo dan juga Selene sampai di gerbang utama. Menyerahkan kembali mereka berdua kepada petugas dan melaporkan bahwa tidak ada masalah apapun.
Selama di perjalanan, Roselia menceritakan mengenai berbagai hal yang terjadi di akademi sihir ini. Secara tidak langsung berusaha untuk menghasut Leo agar mendaftar ke akademi.
"Sampai jumpa lagi, Leo! Aku menantikan pelajaran kita yang berikutnya!" Ucap wanita itu.
Leo hanya membalas dengan lambaian tangan yang ringan.
Sedangkan Selene yang sedari tadi hanya terdiam?
"Tuan.... Roselia nampaknya adalah pengajar yang luarbiasa ya? Bahkan aku sekalipun yang tak begitu memahami sihir, kini bisa menguasainya dengan baik." Ucap Selene sambil membuat api kecil di hari telunjuknya.
"Kau tertarik dengan sihir?" Tanya Leo.
"Mungkin. Mengetahui bahwa kita bisa mewujudkan apa yang ada di dalam pikiran menjadi kenyataan dengan sihir...." Balas Selene sambil tersenyum tipis.
"Aku sedikit melirik biayanya tadi. Sekitar 80 koin platinum untuk setiap semesternya. Jika kau memang mau, aku bisa mendaftarkan mu. Tapi setelah aku menemukan penjaga lain selain dirimu." Balas Leo.
"Ti-tidak Tuan! Aku tidak bermaksud untuk meminta hal seperti...."
"Tapi kau tertarik bukan? Tak masalah bagiku. Kau bisa mengajariku nantinya."
Dengan balasan terakhir itu, Selene pun terlihat sedikit luluh pada Leo. Atau lebih tepatnya, kepada semua kebaikan yang Ia berikan pada orang lain.
Pada akhirnya, Selene hanya bisa mengangguk ringan dengan wajah yang sedikit memerah.
"Kalau begitu, kita akan mampir di pasar budak. Aku juga ingin mencari tenaga tambahan disana."
Selene hanya bisa mengikuti langkah kaki Leo dari belakang. Semakin lama semakin jauh, sebelum akhirnya Ia mempercepat langkahnya untuk menyusul Tuannya itu. Dan sesekali, Ia mencuri pandang untuk melihat sosok Leo yang seakan tak memiliki ekspresi itu.
Apa yang ada di dalam pikiran Selene hanya satu.
'Kenapa Tuan Leo yang bahkan sangat jarang menunjukkan ekspresinya ketika di luar, bisa menangis seperti itu? Apa yang telah terjadi?'