
"Ini buruk. Sangat buruk." Ucap Leo setelah membaca laporan yang diberikan oleh Artemis.
"Benar kan? Siapa yang menyebarkan berita palsu seperti ini? Lalu untuk apa? Ngomong-ngomong, aku sudah lelah. Jadi aku akan segera mandi dan tidur. Sampai jumpa lagi." Ucap Artemis yang segera berdiri dari duduknya lalu pergi.
Meninggalkan hanya Leo dan juga Selene untuk memusingkan hal ini.
Keduanya terus menerus berpikir atas apa yang sebaiknya mereka lakukan dengan informasi ini. Tapi setelah mendiskusikannya sesaat, apa yang perlu mereka lakukan tak jauh berbeda daripada yang sebelumnya.
Yaitu untuk terus melindungi sebagian besar dari wilayah Barat Rustfell ini dengan pasukan reguler dan pasukan khusus, serta mencari penyebab atau sumber dari berita palsu ini.
Di saat keduanya masih sibuk bekerja....
'Brakkk!'
Leo yang melihat sosok Luna yang membuka pintu tanpa mengetuk itu tak lagi punya tenaga ataupun niat untuk menegurnya. Ia telah lelah dengan semua orang yang tak tahu tata Krama itu.
Akan tetapi, kedatangan Luna memiliki makna yang jauh lebih buruk dari itu.
"Tuan Leo! Ini buruk! Utusan dari Eastfort sedang dalam perjalanan ke Kota Venice ini! Mereka terdiri dari 5.000 prajurit dan dipimpin oleh salah seorang pahlawan, yaitu Alicia!" Teriak Luna dengan sikap yang cukup terkejut itu.
Mendengar hal itu, Leo mulai kehilangan akalnya.
Satu demi satu masalah mulai terus menerus bermunculan seakan tak ingin membiarkannya beristirahat.
Utusan bernama Alicia ini saja sudah merupakan kabar yang buruk. Tapi ditambah dengan 5.000 prajurit terlatih dari Eastfort? Kabar buruk tersebut hanya menjadi kabar terburuk yang pernah Leo dengar hingga hari ini.
"Siapkan pasukan khusus. Tempatkan mereka di dalam dinding untuk situasi darurat." Perintah Leo yang segera berdiri dari kursinya itu.
Ia meraih jubahnya yang menggantung di sisi ruangan tersebut, lalu mengenakannya dengan cepat. Bersamaan. dengan jubah itu, Leo juga mengambil sebuah pedang satu tangan yang cukup kecil serta pistol kesukaannya.
"Selene, panggil Reina dan minta dia untuk mempersiapkan diri dalam keadaan darurat. Saat ini, aku tak tahu apakah bisa menahan Alicia sendirian atau tidak." Perintah Leo.
"Dengan segera, Tuan." Balas Selene sambil sedikit menundukkan kepalanya itu.
Leo pun akhirnya bergegas mengikuti arahan langkah kaki dari Luna. Berjalan menuju ke benteng sisi Utara dari Kota Venice ini.
......***......
...Sisi Utara Kota Venice...
Di dalam dinding tersebut, tepatnya di dalam ruangan petinggi, Leo dan para petinggi lainnya nampak sedang memperhatikan barisan pasukan dari Eastfort yang berjalan ke arah Kota ini.
Jika diperhatikan dari cara mereka bergerak dan juga formasinya, Leo sangat yakin bahwa mereka adalah pasukan yang sangat Elit.
Tak mungkin mengalahkan mereka dengan prajurit wanita dadakan yang Leo bentuk di tengah krisis ini.
Di sisi lain, Leo memang cukup berharap pada pasukan divisi khususnya yang menggunakan senjata sihir berupa senapan. Akan tetapi, karena perintahnya beberapa waktu yang lalu, jumlah pasukan khusus yang masih tersisa di Kota Venice sangatlah sedikit.
Bahkan saat ini, hanya ada 50 orang yang bisa menjaga dinding Utara ini. Dengan sisa 50 orang lagi yang tersebar di dinding Timur, dinding Selatan, serta sekeliling kota.
Tentu saja Leo tak bisa membiarkan serangan dadakan dari sisi lain terjadi ketika Ia lengah. Dan dengan pasukan khusus itu, harapannya Leo bisa menahan sesaat pasukan musuh sebelum bala bantuan tiba.
Kini....
"Tuan Leo, apakah Anda yakin dengan strategi ini?" Tanya Selene sekali lagi.
"Tak masalah."
"Tunggu dulu! Kenapa kau bersikap sok seperti itu? Mendatangi utusan hanya dengan kita bertiga? Lalu bagaimana jika...." Teriak Reina yang terlihat cukup kesal itu.
"Itulah kenapa aku meminta agar Balista yang ada di atas dinding bersiaga. Jika kita bertiga diserang, dan akhirnya terbunuh, mereka setidaknya juga bisa memberikan serangan balasan. Tapi aku sangat ragu Alicia akan melakukannya." Jelas Leo.
Reina nampak kebingungan mendengar pernyataan tersebut. Tanpa ragu pun Reina segera menanyakannya.
"Apa maksudmu dengan itu, Leo?"
"Maksudku adalah, aku meningkatkan kekuatan persenjataannya selama ini. Terutama pedangnya yang membuat dirinya jauh lebih kuat daripada sebelumnya karena peningkatan pertahanan itu.
Jadi harapanku.... Semoga saja Ia merasa sedikit berterimakasih dan membalas kebaikanku. Aah, tentu saja. Selain itu, aku yakin mereka akan memainkan peran 'Utusan' dengan baik." Jelas Leo.
Salah satu dari hukum tertinggi yang ada adalah untuk menjamin keselamatan dari utusan itu sendiri. Jika saja utusan menerima sedikit saja luka, maka hal itu bisa menjadi pertimbangan untuk memberikan salah satu hukum yang paling berat kepada pelakunya.
Tentu saja, hal yang sama juga berlaku untuk utusan, atau dalam hal ini penyambut utusan dari pihak lawannya.
Dan mereka tak lain adalah Leo, Selene dan juga Reina. Itulah mengapa Leo merasa sedikit yakin bahwa keamanan dan keselamatannya dapat terjaga.
"Mereka sudah hampir sampai. Saatnya untuk bersiap." Perintah Leo yang segera keluar dari ruangan ini menuju ke bagian luar dinding Kota Venice.
Di samping kanannya terlihat sosok Selene yang telah bersiaga dengan dua buah pedang di samping pinggangnya, serta sebuah busur besi yang indah di punggungnya. Lengkap dengan 50 lebih anak panah.
Sementara itu, di sisi kiri Leo terlihat sosok Reina yang hanya membawa pedang satu tangan yang terlihat cukup pendek.
Meskipun belum sepenuhnya sembuh dari kutukan itu, Reina telah memperoleh kembali sebagian besar kekuatannya yang dulu. Mungkin saat ini masih dalam masa pemulihan sebesar 70%.
Kemudian di hadapan mereka, terlihat Alicia yang berjalan bersama dengan dua orang Ksatria dengan zirah perak yang indah. Meninggalkan barisan 5.000 prajuritnya di bagian belakang.
Kedua kubu ini terus berjalan mendekati satu sama lain. Hingga akhirnya, setelah beberapa saat, kedua kubu itu pun bertemu.
Leo dengan segera menggunakan kemampuan [Clairvoyance] miliknya untuk menakar kekuatan dari Alicia.
'Seperti yang ku duga, dia adalah monster diantara para monster. Bagaimana caranya seseorang memiliki kekuatan fisik sebesar itu dengan tubuh yang tetap ramping ini?!' Keluh Leo dalam hatinya.
Saat itu, Alicia adalah orang pertama yang membuka pembicaraan.
"Kau pasti Pria yang bernama Leo itu bukan. Dengarkan aku, Leo. Aku dengan berat hati melakukan ini karena permintaan Feris. Tapi sebelumnya aku ingin memastikan satu hal." Ucap Alicia.
"Apa itu?" Tanya Leo sambil memberikan tatapan yang cukup tajam.
"Apakah kau yang melakukan, atau memerintahkan penyerangan di beberapa desa di wilayah Rustfell?" Tanya Alicia.
Tak perlu berpikir untuk menjawab pertanyaan sederhana seperti itu.
"Tentu saja tidak. Untuk apa aku melakukannya?" Tanya Leo.
Di hadapannya, Alicia nampak memperhatikan pasukan pemanah yang berdiri di atas dinding Kota Venice itu. Hampir semuanya adalah wanita. Bahkan sebagian nampak terlalu muda, atau terlalu tua.
Menyadari hal itu, Leo pun segera berkata.
"Kau menyadarinya kan? Wilayah ini hampir saja runtuh karena perintah gila dari Duke Achibald. Apa yang tersisa hanyalah wanita, anak kecil, dan orang tua.
Kau pikir kami punya tenaga dan waktu untuk menyerang wilayah lain, sementara kami sendiri masih bertarung dalam melawan kelaparan dan kemiskinan?"
Alicia nampak mendengarkan semua perkataan Leo dengan baik. Bahkan bukti juga ada di depan matanya.
Meski begitu....
"Leo, mengingat bahwa Feris cukup mewaspadai dirimu, aku juga perlu melakukan hal yang sama. Tapi untuk sementara ini.... Mungkin aku bisa...."
'Swuuushh!!! Blaarrr!!!'
Secara tiba-tiba, seorang penyihir dari barisan pasukan Alicia nampak menembakkan bola api ke arah dinding Kota Venice.
Leo yang segera mengalihkan pandangannya pun melihat sosok beberapa prajuritnya yang terluka. Dengan wajah kesalnya, kini Ia memelototi wajah Alicia dengan cukup banyak kemarahan dan kekecewaan.
Seakan-akan bertanya, kenapa Alicia melakukan hal itu.
"Oooi! Apa yang kau lakukan?! Apakah kalian tahu apa tujuan kita kemari?!" Teriak Alicia dengan nada yang marah.
Di saat yang bersamaan, pasukan Leo yang tak terima dengan serangan dadakan dari mereka pun menganggap bahwa diskusi perdamaian itu gagal. Oleh karena itu....
"Tembak!" Teriak salah seorang komandan wanita di tempat ledakan itu terjadi.
Ratusan anak panah nampak melesat ke udara.
Bersamaan dengan itu, Leo sudah tahu.
Bahwa kata perdamaian.... Mungkin sudah terlambat.