
Mendengar tawaran dari Valkazar, hati Leo cukup goyah untuk sesaat. Tapi Leo kembali teringat atas apa yang terjadi kepada Selene.
Kematian Selene di tangan bawahan Valkazar itu bukanlah suatu kebohongan. Bagaimana mungkin dirinya bisa mempercayai Iblis yang bermaksud untuk membunuh segalanya demi suatu tujuan yang sama sekali tak diketahui itu?
Dengan tegas, Leo segera berteriak.
"Egalathia!"
Bersamaan dengan teriakan itu, sebuah tekanan udara yang sangat kuat muncul di sekitar tubuh Leo. Tekanan yang sangat kuat bahkan hingga menghempaskan Valkazar jauh ke belakang.
"Kuuggh! Sialan! Jadi kau menyimpannya selama ini?!" Teriak Valkazar setelah menyadari kekuatan besar yang ada di tubuh Leo.
'Kekuatan ini.... Bahkan puluhan kali lebih besar dari yang ada di danau suci sekitar pohon Mana?!' Teriak Valkazar dalam hatinya.
Ia bahkan masih kesulitan untuk berusaha tetap berdiri tegak dalam tekanan udara yang sangat kuat ini.
Sedangkan Leo sendiri....
Ia masih berusaha untuk membiasakan diri dengan kekuatan besar ini. Bahkan Ia merasa satu langkah ringan bisa segera menghancurkan kastil ini pada saat itu juga.
Tak lagi memberi kesempatan bagi Leo untuk selalu memimpin alur pertarungan ini, Valkazar segera menggunakan seluruh sihir terkuat nya.
Puluhan bola cahaya merah nampak menyemburkan sinar panas ke arah Leo. Berusaha untuk melelehkannya sama seperti seluruh dinding batu yang segera leleh hanya dalam sekejap itu.
Meski begitu, Leo masih tetap berdiri. Menahan semuanya hanya dengan sihir perisai yang sederhana.
"Luarbiasa.... Dengan ini...."
'Tap! Braaakkkkk!'
Dengan sebuah hentakan kaki dari Leo saja membuat separuh dari kastil ini hancur lebur. Menegaskan seberapa besar kekuatan yang saat ini ada di tubuhnya.
Leo melaju dengan sangat cepat ke arah Valkazar, dan dengan tangan kanannya itu, Leo segera menggunakan sihir Enchantment miliknya. Berusaha untuk melumpuhkannya.
'Sreeett!'
Valkazar yang menyadari bahwa sentuhan tangan dengan Leo itu sangat berbahaya segera menghindarinya. Tapi Leo berhasil mendaratkan sebuah goresan kecil.
Dan hanya dari goresan tipis itu....
'Bruuukk!'
Valkazar segera terjatuh ke tanah. Menghadap ke arah separuh kastil yang telah hancur ini dengan tubuh yang lemas.
'Yang benar saja?! Hanya dengan sentuhan seperti itu?!' Teriak Valkazar dalam hatinya.
Setelah menyadari tubuh manusianya tak lagi berguna, Valkazar segera menggunakan sihir Metamorph untuk merubah wujudnya sendiri.
Tidak....
Lebih tepatnya melepas kulit manusianya dan berubah menjadi sosok Iblis yang sebenarnya.
Kini, Valkazar memiliki penampilan seperti Archdemon. Dengan tubuh yang setinggi 2.2 meter serta badan yang besar dan berotot. Tak lupa sebuah tanduk yang muncul di sisi kiri keningnya.
"Manusia.... Kau benar-benar luarbiasa karena bisa memaksaku sampai ke wujud Valkazar yang sebenarnya." Ucap Valkazar memuji Leo.
Tapi Ia tidak bermaksud untuk melawan Leo. Melainkan untuk kabur sejauh mungkin.
Dengan mengepakkan sayap Iblisnya, Valkazar segera terbang keluar dari kastil ini. Menuju ke kehampaan berwarna merah dengan ribuan Rune yang mengelilingi ruang dimensi ini.
"Kau pikir bisa kabur?"
Dengan kalimat itu, Leo kembali melesat. Menghentakkan kakinya ke tanah dan menghancurkan semua yang ada di belakangnya.
Kecepatan Leo jauh melampaui kecepatan Valkazar, dimana Leo bisa menyusulnya hanya dalam hitungan detik. Sama seperti sebelumnya, dengan tangan kanan yang berusaha untuk menyentuh Valkazar.
'Tap!'
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini Valkazar tak bisa menghindar sepenuhnya. Dan memperoleh tepukan telak dari Leo.
Akibatnya?
'Deg!!!'
Jantungnya sesaat terhenti. Valkazar tak lagi bisa bergerak. Seluruh tubuhnya lumpuh.
Pada kenyataannya, bukan hanya jantungnya saja. Tapi sentuhan tangan Leo memberikan efek untuk menghentikan seluruh gerakan di targetnya. Dengan kata lain, mengubah mereka menjadi benda mati.
Semua itu berkat keberadaan Mana yang hampir tak terbatas bagi Leo.
Tapi bahkan dengan kekuatan seperti itu, Leo menguras hampir 20% kekuatannya hanya dalam satu sentuhan. Memperjelas seberapa kuat dan mengerikannya sosok Valkazar itu karena membutuhkan Mana yang begitu besar agar bisa mengaktifkan sihir Enchantment ini padanya.
Hanya saja....
'Kreettaakk! Krettaakkk!!!'
Tubuh Valkazar yang telah membatu sepenuhnya itu, kini kembali bergerak. Dan kali ini, memiliki wujud yang lebih besar. Dengan ukuran mencapai 3.5 meter lebih dan dua buah tanduk di kepalanya.
Dengan pukulan sekuat tenaga, Valkazar menghempaskan Leo hingga mencapai ujung dari ruang dimensi ini. Menabrak dinding dimensi ini hingga sedikit meretakkannya.
"Tak ada jalan kembali. Ku rasa aku akan memaksa untuk menghancurkannya dengan tubuhmu!" Teriak Valkazar kini dengan tubuh iblis yang sangat besar dan mengerikan itu.
Ia tahu bahwa kekuatannya saja tak mampu untuk meretakkan dinding dimensi ini.
Tapi bagaimana dengan Leo sebagai tombaknya? Dengan tubuh sekuat itu dan dipenuhi oleh energi Mana yang besar, Valkazar tahu bahwa Leo dapat menjadi tombak yang bagus untuk menghancurkan dinding dimensi ini.
'Swuusshhh!'
Dengan cepat, Valkazar melaju ke arah Leo yang masih terbentur di dinding dimensi itu. Menyadarinya, Leo segera menghindar dan berusaha untuk menyentuhnya sekali lagi.
Berbeda dengan sebelumnya....
'Swuusshh! Braaakkk!!'
Valkazar dapat menghindar dengan sangat cepat dan membalasnya dengan sebuah tendangan yang melemparkan Leo sejauh ribuan meter lebih. Hingga mencapai ujung atau dinding dimensi di sisi yang lainnya.
'Braaakkk! Kreettaaakkk!'
Sama seperti sebelumnya, benturan tubuh Leo ke dinding dimensi ini menyebabkan keretakan yang cukup besar. Meski begitu, tubuhnya baik-baik saja karena berkah dari Mana yang melindunginya ini.
'Sialan! Inikah wujud yang sebenarnya dari Valkazar?!' Teriak Leo dalam hatinya sambil memandangi wujud Iblis itu di kejauhan.
Dan hanya dalam sekejap, Valkazar telah berada tepat di hadapan Leo. Berusaha untuk kembali memukulnya.
Sedangkan untuk kali ini, Leo sama sekali tak menghindar. Melainkan menerima pukulan itu dengan telapak tangannya.
'Braaakkkk! Krettaakkk!!'
Tangan kanan Leo remuk sepenuhnya dan tak lagi bisa digerakkan. Tapi setidaknya....
'Degggg!!'
Sekali lagi, seluruh tubuh Valkazar terhenti oleh sentuhan tangan Leo. Termasuk jantungnya.
Valkazar pun terjatuh ke bawah dengan Leo yang masih berusaha untuk menyembuhkan lengannya kembali.
Hanya saja....
'Grroooaaaaaarrr!!!'
Sebuah teriakan yang sangat keras, serta aura kejahatan yang begitu besar segera menghempaskan Leo sejauh ratusan meter.
Dan Valkazar.... Sekali lagi berubah wujud.
Kini....
Mungkin menjadi sosok Raja Iblis yang sangat sesuai dengan bayangan banyak orang.
Tubuhnya mencapai ketinggian lebih dari 9 meter dengan badan raksasa serta 6 pasang sayap. Pada kepalanya, terdapat 4 buah tanduk hitam yang besar.
Sedangkan dirinya sendiri memiliki 4 buah lengan yang sangat besar dan kuat serta 2 buah kaki dan ekor yang berupa ular raksasa.
"Groooaaarrr!!!"
Berbeda dengan sebelumnya, kali ini nampaknya Valkazar telah kehilangan akalnya. Dan sepenuhnya menyerahkan nasibnya kepada instingnya belaka.
Dengan kecepatan yang bahkan jauh melampaui Leo itu sendiri, Valkazar mendekat dan memberikan pukulan telak tepat di badan Leo.
Bersamaan dengan itu....
'Pyaaaarrrr!!!'
Dinding dimensi ini hancur berkeping-keping. Membebaskan Leo bersama dengan Raja Iblis Valkazar yang telah kehilangan akalnya itu.
"Groooaaarrr!!!"
Teriakannya yang begitu keras menggema ke seluruh penjuru dunia. Menanamkan rasa takut yang begitu mengerikan. Bahkan kepada ras Iblis itu sendiri karena mereka semua selalu terhubung kepada Valkazar.
Akan tetapi....
'Tikk.... Tik...."
Darah nampak mengalir cukup banyak dari tangan kanan Leo yang telah sepenuhnya terputus itu. Serta setengah bagian bawah tubuhnya yang telah hancur lebur.
Leo pun terjatuh dari langit dengan kesadaran yang hampir tak bersisa.
Pada saat itu lah....
Ia merasakan suatu sensasi yang membuatnya merasa nostalgia. Seorang Elf dengan rambut perak yang indah serta paras yang begitu menawan menangkapnya di udara.
Dengan pandangannya yang telah begitu kabur dan kesadarannya yang telah hampir menghilang sepenuhnya, Leo hanya bisa mengucapkan satu kata.
"Selene.... Kau masih hidup...." Ucap Leo sambil memejamkan mata kanannya dalam tangisan bahagia. Ia bersyukur bisa melihat Selene sekali lagi, untuk terakhir kalinya.
"Itu benar. Aku masih hidup." Balas Narla yang saat ini menggendong tubuh Leo dengan tangan kirinya. Tangan kanannya telah terpotong saat melawan sosok Orc sebelumnya.
"Terimakasih.... Dewi.... Kau masih berbaik hati kepadaku...." Ucap Leo sambil berusaha untuk meraih wajah Selene dengan kedua tangan yang telah terpotong itu.
Tapi Narla hanya punya satu pertanyaan. Sekalipun itu merusak kebahagiaan yang sedang dirasakan oleh Leo.
"Katakan, apa yang perlu ku lakukan agar kita bisa membunuhnya. Apakah kau masih punya kekuatan?" Tanya Narla sambil melihat sosok Raja Iblis Valkazar yang telah bangkit sepenuhnya itu mengamuk di sekitar.
Valkazar terlihat melepaskan sihir skala besar. Membakar dan menghancurkan apapun yang ada di dekatnya. Sekalipun itu adalah Iblis.
Salah satu lemparan bola sihirnya bahkan meledakkan setengah dari seluruh pasukan yang dipimpin oleh Verthis. Dimana 2 lemparan bola sihir lainnya melubangi benua iblis dengan cukup besar. Membentuk sebuah danau raksasa di bekas serangannya.
Menghancurkan Ibukota Iblis yang sangat padat akan penduduk itu.
Sedangkan satu dari dua bola sihir lagi....
Mendarat tepat di sekitar Utara Eastfort. Tepat di hadapan pasukan umat manusia.
Hanya sedikit saja. Jarak mereka dengan ledakan itu hanyalah 100 meter. Meski begitu, ratusan ribu pasukan terlempar jauh ke belakang. Termasuk Feris, Reina, dan pahlawan yang lainnya.
"Demi para dewa.... Apa-apaan ini?!" Teriak salah seorang Ksatria yang melihat bekas kehancuran itu. Dimana kedalamannya seakan lebih tinggi daripada sebuah gunung.
Sebagian besar dari benteng Eastfort pun runtuh tak karuan karena serangan bola sihir ini.
Tak puas sampai di situ, Valkazar memfokuskan energi sihirnya di hadapan keempat tangannya dan mengarahkannya tepat ke Astraknol. Tempat para Dwarf itu tinggal.
Sebuah bola sihir raksasa pun melesat ke arah Astraknol dan menghancurkan setengah dari pulau besar yang ditinggali oleh Dwarf itu. Membunuh setidaknya 5 juta lebih penduduk.
Sisa dari ledakan bola sihir itu menciptakan sebuah hujan bola api dalam jumlah yang mencapai jutaan lebih. Setiap bola api memiliki ukuran mencapai 3 meter lebih dan menghantam apapun yang ada di sekitarnya. Tanpa memandang ras.
Hanya dalam amukan singkat Valkazar itu, yang bahkan tak sampai 1 menit, dunia mengalami krisis terbesar sepanjang sejarah. Bahkan sejak lahirnya dunia ini.
Total korban jiwa mencapai lebih dari 50 juta jiwa. Atau sekitar 40% lebih populasi dari dunia ini. Dimana efek lain dari serangan skala besar sihirnya masih berlangsung untuk ratusan tahun kedepan.
Yaitu kelaparan karena hancurnya sebagian besar lahan pertanian dan juga hutan di dunia ini. Termasuk lautan, sungai, dan juga danau.
"Antarkan.... Aku padanya.... Selama tubuhku bisa menyentuhnya.... Aku bisa membunuhnya...." Ucap Leo kepada Selene. Atau setidaknya, itulah yang ada di pikiran Leo karena menganggap Narla yang ada di hadapannya adalah Selene.
Mendengar permintaan yang bisa dikatakan mustahil itu, Narla segera mengiyakannya.
"Dengan segera." Balas Narla singkat.
Ia bergegas berlari sambil memeluk tubuh Leo yang terus mengucurkan darah itu dengan tangan kirinya. Mendekati sosok Raja Iblis Valkazar yang masih terus menembakkan bola sihir lainnya ke dunia ini.
Menyadari kehadiran Leo dan juga Narla, Valkazar menciptakan 10 buah lingkaran sihir yang menembakkan ratusan panah sihir berbagai elemen ke arah mereka.
'Syyuttt! Blaakkk! Kraakk!'
Narla berusaha sekuat tenaga untuk menghindarinya. Tapi Ia sama sekali tak mampu ketika dihadapkan oleh ratusan panah secara bersamaan. Terlebih lagi....
"Sedikit lagi.... Hanya sedikit lagi." Ucap Narla sambil terus melindungi sosok Leo di pelukannya itu.
Hingga akhirnya....
'Jlebbb!!!'
3 buah panah menancap tepat di leher Narla. Dimana Ia segera melempar Leo sejauh mungkin.
"Aku akan mengantarmu.... Apapun yang terjadi...." Ucap Narla yang segera menggunakan sihir angin untuk mendorong tubuh Leo yang telah penuh dengan luka itu ke arah Valkazar yang sedang mengamuk.
Tapi tak lagi.
Narla tak lagi mampu untuk menahan kesadarannya yang telah mulai menghilang.
Oleh karena itu.....
Ia akhirnya menggunakan sihir bunuh diri yang diajarkan oleh Leo.
Narla meletakkan tangan kirinya tepat di depan dadanya sambil meneriakkan mantra sihirnya. Segera setelah itu, sebuah ledakan api biru pun tercipta.
Bukan untuk membunuh Raja Iblis Valkazar yang kini terlihat begitu mustahil untuk dikalahkan itu.
Melainkan untuk mendorong tubuh Leo sejauh mungkin mendekati Raja Iblis itu.
"Sisanya.... Ku serahkan padamu, Leo." Ucap Narla sambil menghembuskan nafas terakhirnya.
...'DUAAARRRRR!!!...
Sebuah ledakan besar dengan api biru pun muncul, bersamaan dengan itu mendorong tubuh Leo terlempar jauh. Mendekati sosok Raja Iblis itu.
Tapi kurang sedikit lagi. Ia hanya kurang 1 meter lagi untuk bisa menyentuhnya dengan bagian tubuhnya di kaki Valkazar.
Hanya saja....
Bagaimana caranya bergerak tanpa adanya anggota tubuh sama sekali?
Kedua lengannya telah menghilang. Bagian bawah tubuhnya telah dihancurkan sepenuhnya. Tak ada lagi yang tersisa.
Leo dengan kesadarannya yang telah hampir menghilang, serta kekuatan Egalathia yang mulai memudar, merasa bahwa semua ini telah berakhir. Ia merasa bahwa dirinya telah mengacaukan semuanya.
Lagipula, peluang satu banding limapuluh.
Siapa yang bisa memenangkannya?
Di saat Leo hampir saja menutup matanya dalam keputusasaan....
"Tuanku.... Berjuanglah."
Bisikan suara yang begitu lembut dan merdu seakan memasuki telinganya. Suara yang sangat Ia kenali dan sangat Ia rindukan. Termasuk juga panggilan itu.
"Selene.... Aku akan segera menemuimu...." Ucap Leo yang segera memperoleh kembali kesadarannya.
Kini, dengan seluruh kekuatan Leo yang melemah, Valkazar mulai mengalihkan pandangannya. Dengan Valkazar yang hanya mengandalkan instingnya itu, Ia tak lagi memperhatikan Leo yang baru saja terkena ledakan besar itu.
Dan kini....
Leo merangkak dengan dagunya. Bergerak secara perlahan berusaha untuk mendekati Valkazar.
Setiap gerakannya, suara Selene yang begitu indah terus terdengar di telinganya. Berusaha untuk menyemangatinya.
Hingga akhirnya....
'Tap!'
Leo berhasil menyentuh kaki Valkazar dengan keningnya. Dan bersamaan dengan itu juga, Leo berteriak sekeras mungkin.
"Enchantment!!!"
...'DEGGGG!!!'...
Dengan menggunakan seluruh sisa kekuatan Egalathia, Leo melepaskan sihir terakhirnya di dunia ini.
Menghentikan seluruh gerakan dari Valkazar. Mulai dari pernafasannya, sihir penghancurnya, tangannya, hingga jantungnya. Hanya dalam satu sentuhan sederhana.
Dan pada akhirnya....
Kali ini untuk terakhir kalinya....
Valkazar terus mematung. Secara perlahan, tubuhnya mulai remuk dan hancur. Dan pada akhirnya, berubah menjadi abu. Terbang bersama angin yang bergerak seiring dengan keinginan dunia ini.
Termasuk juga....
Leo yang telah menghembuskan nafas terakhirnya sesaat setelah melepaskan sihirnya.
Menyelamatkan dunia ini dengan banyak pengorbanan di dalamnya.
Apakah ini adalah sebuah pilihan yang tepat? Leo sama sekali tak mengetahui jawabannya. Apa yang Ia tahu....
Hanyalah sebuah kenyataan. Bahwa Selene telah menantinya di sana.
Sedangkan untuk sisa permasalahan di dunia ini?
Leo berharap orang lain dapat membereskannya untuknya. Setidaknya....
Setelah dirinya menyelesaikan sumber masalah terbesar di dunia ini. Yaitu Valkazar. Dan memenuhi tugasnya sebagai seorang pahlawan yang dikirim oleh Dewi Cyrese.
..._________________________...
...[Author's Note]...
...Saya ucapkan selamat bagi yang memilih Ending ini untuk pertama kalinya, tanpa memilih Ending [Selfish] sebelumnya....
...Karena ini adalah True Ending yang saya harapkan dalam cerita ini. Apakah bahagia? Entahlah. Hanya pembaca yang bisa memutuskan....
...Untuk kalian yang penasaran dengan Alternative Endingnya, silakan baca Chapter sebelumnya [Selfish Ending]. Di sana akan dijelaskan apa yang akan terjadi ketika Leo bertindak Egois....
...Dan selamat! Telah menyelesaikan cerita ini!...
...Eits! Masih ada Epilog singkat!...
..._______________________...
......***......
...- Epilog Bagian 1 -...
"Uuh.... Dimana aku?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.
Apa yang ada di sekitarnya adalah sebuah pemandangan yang pernah Ia lihat sebelumnya. Yaitu sebuah lautan yang luas tanpa ujung. Tapi kini, dengan cahaya matahari yang cerah dan langit biru yang indah.
Di ujung pandangannya, terlihat sosok Dewi Cyrese yang sedang berlari ke arah Leo. Ia dengan cepat memeluk sosok Leo yang masih duduk di kursi kayu itu sambil berteriak.
"Dimas! Kau berhasil! Sejak awal aku selalu percaya padamu! Kau benar-benar berhasil!" Teriak Dewi Cyrese dengan begitu bahagia.
Di sampingnya, sosok Dewi Silvie nampak melambaikan tangannya sambil tersenyum ramah ke arah Leo.
"Aku.... Berhasil?" Tanya Leo.
"Tentu saja! Kau berhasil membunuh Valkazar! Kini, dunia itu telah selamat dari ancaman terbesarnya! Peringkat dunia itu pun turun dari SS ke tingkat B. Dimana sisa Pahlawan yang ada dapat menanganinya dengan mudah!
Tapi untuk berjaga-jaga, aku telah mengirim 10 pahlawan baru! Tentu saja! Aku sudah memperoleh hadiah poin yang sangat besar karenamu!" Teriak Dewi Cyrese dengan begitu histeris.
Leo yang mendengarnya seketika teringat. Bahwa semua ini, hanyalah rencana Dewi Cyrese untuk memperoleh poin besar dalam menyelamatkan dunia SS Egalathia ini.
"Hahaha.... Syukurlah untukmu. Sekarang biarkan aku mati dengan tenang." Balas Leo singkat.
Respon dari kedua Dewi itu tentu saja terkejut. Bagaimana tidak?
"Mati? Kenapa begitu?" Tanya Dewi Cyrese.
"Tentu saja, karena aku sudah mati kan?"
Dewi Cyrese kemudian menengok ke arah Dewi Silvie sesaat sebelum kembali berbicara.
"Kami berdua telah memutuskannya. Kau bisa memiliki 99% dari poin itu. Tapi tidak dalam jumlah yang sebenarnya. Melainkan...."
Menghentikan perkataannya, Dewi Cyrese kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga kanan Leo. Berusaha untuk membisikkan sesuatu kepadanya.
"Mengangkatmu sebagai salah seorang Dewa di dunia ini. Kau tertarik? Kau bisa membangkitkan Selene yang kau cintai itu dengan jumlah poin tertentu dan membawanya ke dunia surgawi ini, kau tahu?"
Mendengar hal itu, Leo segera berdiri dari kursinya dengan sikap yang terkejut.
Tanpa ragu, Leo pun segera bertanya kembali.
"Apakah.... Kau serius? Berapa banyak?" Tanya Leo.
"Tentu saja. Kau bahkan bisa membawa orang lain kemari dengan jumlah poin yang cukup. Meskipun, mereka hanya akan menjadi penduduk biasa dan tak memiliki kewenangan sebagai Dewa. Tapi bukankah itu cukup menarik? Sedangkan untuk harganya...."
Dewi Cyrese kemudian membuka 3 jarinya sambil tersenyum lebar.
"Tak begitu mahal kan? Bagaimana?" Tanya Dewi Cyrese sekali lagi.
Kini, dengan tubuh yang kembali lengkap, dan jiwa yang kembali utuh, Leo untuk pertama kalinya, menatap sosok Dewi Cyrese dengan penuh rasa hormat.
Sambil menundukkan kepalanya, Leo pun membalas.
"Mohon bimbingannya."