
'Klak!'
Leo meletakkan pionnya dengan cepat. Menggeser bidak Raja milik Valkazar. Atau dengan kata lain....
"Kurasa aku menang?" Tanya Leo dengan senyuman di wajahnya.
Berbeda dari harapan awal Valkazar dimana Leo akan menunjukkan kesalahannya dan memainkan permainan catur ini seperti yang seharusnya, Leo justru mengeksploitasi aturan baru yang dibuat oleh Valkazar.
Membuat Leo dapat memenangkan pertandingan ini dengan sangat mudah.
"Luarbiasa.... Kau yakin baru pertama kali memainkan permainan ini?" Tanya Valkazar sekali lagi berusaha untuk menguak identitas Leo yang sebenarnya.
"Bukankah kau lihat sendiri? Aku baru pertama kali melihat papan permainan ini. Meski begitu, ku rasa permainan ini kurang seimbang. Terutama mengenai gerakan dari beberapa bidaknya. Tak seperti Crossboard di Eastfort." Jelas Leo sambil menopang dagunya dengan tangan kanannya.
Rencana awal Valkazar justru runtuh karena dirinya sendiri kebingungan dengan aturan baru permainan catur yang dibuatnya sendiri.
Oleh karena itu, Ia hanya menanggapinya dengan senyuman dan tawa yang ringan.
"Hahaha.... Kau tahu, Leo? Ini adalah pertama kalinya aku merasakan kekalahan."
"Tenang saja. Aku akan mengalahkanmu sekali lagi. Jadi tak perlu takut." Balas Leo sambil menata kembali bidak di papan catur itu.
Entah kenapa, Leo merasa ada sesuatu yang lain setelah berbicara dengan sosok Valkazar ini. Sesuatu yang berbeda dari apa yang sebelumnya dibayangkan olehnya.
Yaitu sosok Raja Iblis yang kejam dan bengis. Dengan kekuatannya yang luarbiasa besar untuk menundukkan semua makhluk.
Itulah yang ada di dalam bayangan Leo. Bukan sosok seorang Pria dengan tinggi badan yang sedikit di atasnya serta tubuh yang benar-benar menyerupai manusia itu.
Di saat Leo telah selesai menata kembali bidaknya, Valkazar masih terlihat menata bidaknya sendiri. Kini Ia memainkan bidak berwarna putih.
Pada saat itu lah Leo bertanya.
"Jadi, apakah kau akan menceritakannya? Mengenai dirimu yang berasal dari dunia lain atau semacamnya itu."
Valkazar terlihat berhenti sejenak. Seluruh tubuhnya seakan kaku selama 1 detik dengan kedua mata merahnya yang sedikit melebar.
Setelah itu, Valkazar segera berbicara. Membalas pertanyaan dari Leo.
"Aah.... Benar juga. Aku menjanjikan hal seperti itu ya?" Tanya Valkazar kembali. Tapi Ia segera memandang tepat ke arah mata kanan Leo sambil melanjutkan perkataannya.
"Percaya atau tidak.... Duniaku dulu jauh lebih berdarah dari dunia ini. Perang di seluruh penjuru dunia. Dimana anak berumur 12 tahun juga mengangkat senjata dan menaiki kapal untuk pergi ke tanah musuh di sisi dunia yang lain." Jelas Valkazar dengan mata yang terlihat sedikit menyipit.
Mendengar penjelasan itu, Leo segera teringat atas seluruh informasi yang diketahuinya hingga saat ini.
Yaitu sebuah kenyataan bahwa Valkazar telah ada puluhan tahun yang lalu. Mungkin hampir mendekati 100 atau 90 tahun.
Dan sepanjang ingatannya di bumi, Leo hanya tahu satu atau dua peristiwa yang sama dengan apa yang di deskripsikan oleh Valkazar.
Perang dunia.
'Apakah dia berasal dari bumi pada saat perang dunia? Bisa saja, mengingat berapa lama Ia telah berada di dunia ini.' Pikir Leo dalam hatinya.
Valkazar sendiri masih melanjutkan ceritanya sambil menata ulang bidak di papan catur nya.
"Pada saat itu, hari yang sama bagi kami semua. Regu ku berisi kumpulan anak-anak tak berdosa yang dipersenjatai dengan peralatan terburuk pada saat itu. Atasan menyebutnya sebagai perisai daging.
Tapi aku sendiri masih mengingatnya. Aku masih mengingatnya dengan sangat jelas saat itu. Seorang bocah laki-laki berumur 15 tahun. Meninggalkan ibunya di rumah karena ditarik secara paksa oleh pasukan untuk berperang.
Bayangannya terkadang masih terlintas di pikiranku. Ketika besi panas itu menembus dadanya. Dan darah terus mengalir, serta tubuhnya yang kejang. Ia bertanya padaku.
'Kapten.... Apakah.... Ibuku akan selamat dari tangan orang-orang fasis itu? Apakah aku sudah berjuang dengan cukup baik?' Tanya bocah itu padaku."
Air mata nampak mulai mengalir membasahi pipi dari Valkazar. Leo sama sekali tak menduganya bahwa Raja Iblis Agung seperti Valkazar akan benar-benar meneteskan air mata.
'Akting? Tidak.... Ini tidak mungkin. Reaksinya terlalu nyata. Terlebih lagi fasis yang dimaksud itu....'
Leo teringat atas salah satu kubu pasukan yang dikenal paling kejam di masa itu. Dan menyimpulkan bahwa Valkazar mengatakan yang sebenarnya.
Kini, Valkazar berhenti sepenuhnya dalam menata ulang bidak di papan catur nya. Meskipun satu-satunya bidak yang tersisa adalah bidak Raja.
"Itu adalah hal terakhir yang ku ingat. Aku bahkan belum sempat membalas pertanyaan bocah itu karena sebuah peluru segera menembus kepalaku. Dan tanpa ku sadari, aku berpindah ke sebuah ruangan aneh.
Menyebutnya ruangan juga agak salah. Karena apa yang ada di sana adalah sebuah lautan tanpa ujung dan langit berhiaskan bintang yang indah." Jelas Valkazar yang segera menenangkan dirinya kembali.
Sedangkan Leo sendiri, kali ini tak lagi mampu untuk menahan rasa terkejutnya.
Bagaimana tidak?
Itu adalah pemandangan yang sama ketika Ia bertemu dengan Dewi Cyrese di beberapa kesempatan.
Ia tak bisa ingat pada pertemuannya yang ke berapa. Tapi Leo merasa bahwa pemandangan itu sangat familiar dan terasa nostalgia baginya.
Tanpa Ia sadari, Leo melebarkan kedua matanya dengan sikap terkejut.
Tentu saja, Valkazar segera menyadari perubahan sesaat dalam sikap Leo itu. Meski begitu, Ia masih tetap melanjutkan ceritanya.
Mungkin....
"Dan kau tahu apa yang ada di sana, Leo? Seorang wanita dengan rambut hitam panjang yang mengaku sebagai seorang Dewi. Ia mengatakan bahwa dirinya akan mengabulkan apapun permintaanku dalam satu syarat.
Yaitu untuk menghancurkan dunia ini sepenuhnya. Setelah itu, untuk mempermudah perjalananku, jiwaku dimasukkan ke dalam salah satu Iblis yang paling kuat saat itu. Valkazar ini sendiri." Ucap Valkazar kini dengan tatapan yang sangat tajam ke arah Leo.
Melihat reaksi tipis Leo barusan, Valkazar tahu. Bahwa setidaknya, Leo mengenali tempat yang sama seperti yang disebutkan olehnya.
'Sreeett!'
Dengan cepat dan tanpa sedikitpun kesempatan bagi Leo untuk bereaksi, tangan kanan Valkazar kini telah mencekik leher Leo.
'Braakkk!!'
Gerakannya yang sangat tiba-tiba itu membuat meja dan papan catur yang telah ditata dengan rapi terjatuh tak karuan.
"Katakan, Leo. Apakah kau mengetahui sesuatu tentang Dewi itu? Jika kau mau bekerjasama denganku, aku bersumpah atas segalanya akan mengampunimu dan beberapa orang yang kau pilih.
Aku akan membiarkan kalian hidup sebagai iblis semu di pasukanku. Bahkan memberikan kalian posisi penting. Tapi sebagai gantinya.... Katakan. Katakan semua yang kau ketahui. Termasuk jiwa lain yang berada dalam tubuhmu itu." Ucap Valkazar dengan sangat tegas.
Tanpa Leo sadari, Valkazar telah mengetahui bahwa di dalam tubuh Leo terdapat jiwa yang lain. Jiwa yang berbeda dari apa yang pernah dilihatnya selama ini.
Itu adalah jiwa dari Egalathia itu sendiri. Sebuah energi Mana yang sangat besar dan kuat, dan jika berada di tangan Valkazar....
Sangat mungkin untuk digunakan sebagai kekuatan penghancur dunia ini.
"Kuggghh!"
Leo berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan cengkeraman tangan kanan Valkazar dengan tangan kanannya. Tapi seberapa kuat pun Leo berusaha, Ia bahkan tak mampu untuk menggerakkan satu jarinya.
'Bruukk!'
Setelah melihat Leo begitu sengsara dan sesak nafas, Valkazar segera melempar Leo ke tanah.
"Katakan, Leo. Apakah kau mau bekerjasama denganku untuk menghancurkan dunia ini dan seluruh isinya? Menghancurkan Egalathia ini?" Tanya Valkazar dengan suara yang begitu keras.
"Memangnya.... Apa untungnya? Bukankah semuanya akan hancur? Bukankah tak ada untungnya bagiku?" Balas Leo sambil terbatuk-batuk.
Dengan tatapan yang begitu dingin, Valkazar membalasnya.
"Tentu saja ada. Apakah kau lupa Dewi ku yang bernama Seraphile berjanji akan mengabulkan semua keinginanku? Aku bahkan melihat pusaka sihirnya. Dan dengan pengetahuanku saat ini, aku tahu dengan pasti pusaka sihir itu takkan berbohong.
Jika kau melepaskan sihir ruang ini, atau membantuku keluar dari tempat ini. Aku bersumpah akan membalas bantuanmu. Dan membiarkanmu ikut bersamaku." Tegas Valkazar.
"Memangnya apa? Apa yang kau mau setelah menghancurkan dunia ini? Bukankah aku bahkan takkan memiliki tempat lagi untuk hidup?!" Teriak Leo yang kini telah siap untuk melepaskan kekuatan Egalathia di dalam tubuhnya.
Akan tetapi....
Balasan terakhir dari Valkazar berhasil menggoyahkan hati Leo dengan sangat kuat.
"Sederhana saja. Aku akan meminta pusaka sihir dan Dewi sialan itu untuk mengembalikan diriku ke bumi. Termasuk juga dirimu jika kau memang berasal dari dunia lain, dan juga semua pahlawan manusia lainnya untuk kembali ke dunia mereka masing-masing. Bagaimana?"
Valkazar memang belum tahu pasti jika Leo adalah manusia yang juga berasal dari bumi. Dunia yang sama dengannya.
Dan pertanyaan ini mungkin saja adalah sebuah jebakan. Jebakan untuk mengetahui identitas yang sebenarnya dari Leo.
Haruskah Ia mengatakannya yang sebenarnya?
Apakah Ia bisa mempercayai Valkazar?
Apakah Ia....
Bisa merelakan seluruh dunia ini beserta isinya....
Untuk keinginan egoisnya kembali ke dunia yang damai dan indah seperti bumi?
Dengan hatinya yang sangat bimbang, Leo hanya memiliki dua buah pilihan yang sangat berat di hadapannya.
Antara keegoisan, atau sebuah pertaruhan untuk membunuh Valkazar dan mengakhiri penderitaan di dunia ini?
...______________________...
...[Author's Note]...
...Akhirnya kita telah sampai di penghujung Novel ini...
...Kali ini saya akan mengakhiri Novel ini dengan cara yang cukup berbeda. Dimana Pembaca bisa memilih Ending dari cerita ini sendiri....
...Yap. Itu benar. Nantinya, akan ada 2 chapter akhir yang dirilis bersamaan. Dimana berdasarkan pilihan kalian saat ini, akan menentukan akhir yang ditempuh oleh Leo selama perjalanannya di sini....
...Haruskah Ia bersikap Egois dan meninggalkan semuanya untuk menerima tawaran dari Valkazar?...
...Atau kah Ia harus menolaknya dan menerima seluruh dunia ini dengan segala keburukannya? Serta peluang besar dirinya akan gagal?...
...Tentukan pilihan kalian, dan sampai berjumpa kembali di akhir cerita....
...- Cordius Satya -...