E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Selfish Ending - A Peaceful World



Di hadapkan dengan pilihan yang berat itu, hari Leo mulai goyah. Ia sama sekali tak mampu untuk menahan sebuah godaan terbesar yang dihadapkan padanya.


Apa yang selama ini diinginkannya, hanyalah sebuah kehidupan sederhana yang bahagia dengan orang-orang tercintanya.


Tapi apa yang diperoleh adalah sebuah dunia kejam yang sama sekali tak pernah diharapkannya.


Meski berjuang sekuat tenaganya, Leo tetap saja tak mampu untuk melindungi semua orang terdekatnya. Dan Ia mengutuk langit atas kelemahannya itu.


Leo segera teringat mengenai bagaimana Selene mati dan meninggalkan dunia ini mendahuluinya. Tepat di hadapan matanya.


Rasa sakit di dadanya itu masih terus terasa bahkan hingga saat ini.


Ia tak lagi ingin merasakan perasaan seperti itu dalam hidupnya. Dan mungkin saja, kali ini Leo bisa mengulangnya kembali di Bumi. Mungkin bisa memulai kembali semuanya dengan Reina di sana. Oleh karena itu....


"Kau bersumpah?" Tanya Leo sekali lagi.


Tanpa jawaban, Valkazar hanya mengeluarkan sihir yang sama yang diberikan kepada Feris. Sebuah sihir kontrak yang mengikat sumpah kedua belah pihak atas nama api suci.


Jika ada yang mengingkari kontrak ini, maka seluruh jiwanya akan terbakar habis. Tanpa ada kesempatan lain untuk diselamatkan oleh Dewi yang ada di atas sana.


Tanpa ragu, Leo menerima kontrak itu dan mengajukan sebuah syarat. Syarat untuk tak pernah menyentuh dan melukai semua nama orang-orang terdekatnya.


Di sisi lain, Valkazar bersumpah akan menjaga orang-orang pilihan Leo. Dan meminta agar Leo mengeluarkannya dari penjara dimensi ruang ini. Sekaligus membantunya untuk menghancurkan Egalathia.


Setelah keduanya sepakat, dan rantai api mengikat jiwa mereka berdua, Leo pun segera memenuhi kontraknya.


Ia membaca seluruh huruf Runic yang ada di sihir dimensi ruang ini. Melepaskan mereka berdua dari penjara abadi ini dan kembali ke dunia nyata.


Langkah pertama dari Valkazar cukup sederhana. Yaitu memerintahkan semua iblisnya untuk berhenti bergerak. Dan memberikan semua nama dan ciri orang-orang pilihan Leo. Dimana mereka harus dijaga dan jangan sampai terluka.


Iblis yang berada tepat di hadapan Narla, dan hampir saja memenggal lehernya dengan kapak besar itu, segera berhenti. Mengembalikan senjatanya dan berjalan menjauh.


"Oii, apa maksud kalian?! Cepat bunuh aku!" Teriak Narla kebingungan.


Di sisi lain....


Iblis yang berbaris dengan rapi di Utara Eastfort, segera mundur secara perlahan. Meninggalkan tempat yang seharusnya menjadi pertempuran akhir itu.


Hal itu membuat Feris, Reina, dan juga Alicia kebingungan. Mereka tak tahu lagi harus bertindak seperti apa.


"Feris, bagaimana? Apakah kita akan tetap melanjutkan penyerangan?" Tanya Reina.


"Tunggu dulu.... Ada sesuatu yang tidak beres. Semuanya! Tetap dalam posisi siaga! Kita tak tahu apa yang para Iblis itu rencanakan!" Teriak Feris dengan sangat keras.


Seluruh pasukannya segera menurutinya dan tak mengendurkan penjagaan mereka sedikit pun.


Hanya bisa diam dalam melihat fenomena aneh ini.


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Alicia pada dirinya sendiri.


Kembali ke tanah Elf....


Saat ini, Valkazar sedang berbicara dengan Leo sekali lagi. Kali ini untuk menentukan bagaimana cara yang tepat untuk menghancurkan dunia ini seutuhnya.


"Aku telah memenuhi janjiku. Aku bahkan menarik mundur semua pasukan di dunia ini. Sekarang katakan, apa maksudmu dengan sumber kekuatan besar itu?" Tanya Valkazar.


Leo kemudian menunjuk ke arah dadanya dan mengatakan.


"Dewi terakhir di dunia ini. Dewi dari Elf itu sendiri yang bernama Egalathia berada dalam inti Manaku. Jika kau bisa menariknya, seharusnya kau bisa memperoleh kekuatan yang sangat besar untuk melubangi, bahkan menghancurkan dunia ini sekaligus." Ucap Leo dengan wajah yang sedikit murung.


Ia nampak terus bertanya-tanya apakah pilihannya ini adalah sebuah pilihan yang tepat. Tapi sudah terlambat untuk kembali. Leo sudah melepaskan Valkazar kembali ke dunia ini setelah susah payah menyusun rencana brilian untuk menjebaknya di dimensi lain itu.


"Begitu kah? Kalau begitu, aku akan segera menggunakannya." Ucap Valkazar sambil meletakkan tangan kanannya tepat di dada Leo.


Dengan cepat, Valkazar segera menarik sebuah cahaya hijau yang begitu indah. Yaitu sosok Egalathia yang tak lagi sadarkan diri karena telah menyerahkan dan mempercayakan seluruh nyawanya kepada Leo.


"Jadi ini adalah sumber Mana yang sebenarnya.... Aku telah lama mencarinya. Terimakasih, Leo." Balas Valkazar yang segera menelan seluruh energi Mana itu di dalam dirinya.


Tubuhnya seketika diselimuti oleh cahaya hijau yang terang. Dengan tatapan yang begitu serius, Valkazar terus memandangi kedua telapak tangannya seakan tak bisa percaya atas apa yang baru saja diperolehnya.


"Luarbiasa.... Dengan ini aku yakin pasti bisa menyelesaikannya saat ini juga. Terimakasih banyak karena telah mempercayakannya kepadaku, Leo." Ucap Valkazar.


Tapi Leo masih terdiam. Ia masih terus mempertanyakan mengenai pilihannya ini.


Rasa takut mulai muncul di dalam dirinya. Apakah Valkazar telah menipunya mentah-mentah? Apakah Ia hanya memanfaatkannya?


Berbagai pikiran negatif mulai muncul di dalam pikirannya. Meski begitu, Valkazar sama sekali tak berhenti.


Ia segera memenuhi perkataannya dengan menciptakan formasi lingkaran sihir terbesar yang pernah ada di dunia ini.


Sebuah formasi yang berbentuk 4 buah lingkaran sihir, dengan kutub dunia ini sebagai katalisator nya.


Dan dengan kekuatan Mana yang dimilikinya saat ini, Valkazar berhasil menciptakannya dengan mudah. Yaitu 4 buah lingkaran sihir raksasa yang mengelilingi seluruh dunia ini.


Lingkaran sihir dengan warna biru tua yang indah itu dapat terlihat di seluruh penjuru dunia.


...- Venice -...


"Oii, apa itu?!" Tanya salah seorang pedagang di Venice.


"Entahlah. Apakah pahlawan manusia melakukan sesuatu?"


"Tuan Leo.... Tolong lindungi kami...."


...- Eastfort -...


"Feris! Lihat di langit!" Teriak Reina dengan keras.


Kedua mata Feris segera terbuka lebar setelah melihat apa yang ada di langit. Yaitu penampilan sebuah lingkaran sihir raksasa yang mengelilingi dunia ini. Seperti sebuah cincin di Saturnus.


"Hahaha.... Nampaknya semua sudah berakhir...." Ucap Feris dengan tubuh yang lemas.


Tak hanya kedua wilayah besar itu, seluruh dunia melihat pemandangan yang sama dengan reaksi yang serupa. Yaitu rasa takut karena sama sekali tak mengetahui atas apa yang sebenarnya terjadi.


Dan beberapa saat kemudian....


Sihir terbesar yang pernah dilihat di dunia ini pun dilepaskan.


Tepat 4 buah pedang cahaya raksasa muncul dari pusat setiap lingkaran sihir itu. Menembus seluruh tanah di dunia ini hingga ke bagian yang lainnya.


Bersamaan dengan itu, hawa panas yang begitu kuat dari pedang cahaya itu menghanguskan apapun yang ada di jarak ribuan kilometer dari pusat pedang cahaya.


Tak ada satu pun yang selamat.


Termasuk Valkazar itu sendiri yang menerima kematian ini dengan perasaan yang lega.


Dan pada akhirnya....


Dunia Egalathia ini pun terbelah menjadi 4 bongkahan batu raksasa. Yang terus melayang di alam semesta yang tak terbatas ini. Tapi kini....


Tanpa adanya satu pun kehidupan yang bisa bertahan di atasnya.


......***......


Leo, yang sedari tadi masih terus memikirkan mengenai pilihannya, tak menyadari bahwa nyawanya telah melayang untuk kedua kalinya.


Dan kini, di bawah langit yang dihiasi rembulan yang indah itu....


"Mas? Permisi, Mas? Kami mau beli dua Thai Tea. Tolong kalau bekerja yang benar, Mas." Ucap seorang gadis dengan seragam SMA di hadapannya.


"Eh?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.


Ia masih tak bisa memahami apa yang baru saja terjadi. Dan situasi apa saat ini.


"Eh? Jangan Eh! Kami mau beli, kau berniat untuk menjual atau tidak?!" Teriak gadis itu dengan keras.


"Sayang, sabar. Mungkin dia lelah." Ucap pria yang sedari tadi duduk di atas motor gedenya.


Menyadari bahwa dirinya tak lagi berada di dunia itu, Leo mencoba melihat sekujur tubuhnya. Memastikannya sekali lagi.


'Tangan kiriku masih ada. Mata kiriku.... Juga masih ada. Apa yang sebenarnya terjadi?' Tanya Leo pada dirinya sendiri.


"Mas, serius. Ini saya mau beli, masnya niat untuk berjualan atau enggak sih?!" Keluh gadis itu sekali lagi.


"Aaah, ya. Tunggu sebentar!" Balas Leo singkat.


Ia pun segera membuat minuman itu. Entah kenapa, Ia bisa bergerak dengan baik dan seakan masih sangat mengingat mengenai cara untuk melakukan pekerjaan ini.


Di saat Leo masih bekerja, sebuah kendaraan bermotor dengan dua orang di atasnya melaju dengan kencang ke arah dua anak SMA itu.


Dan dengan cepat, mereka menodongkan sebuah golok ke arah mereka.


"Cepat serahkan kunci motor kalian! Dan semua barang kalian! Jika tidak, kalian akan kami bunuh!" Teriak salah satu perampok itu.


"Eeh?! Sayang! Tolong lakukan sesuatu!" Teriak gadis itu.


"Hah?! Sesuatu?! Apa yang kau maksud?! Kau pikir aku bisa melakukan sesuatu di situasi ini?!" Balas sang pacar.


"Berisik! Cepat serahkan barang kalian atau...."


'Aaah.... Nampaknya Valkazar benar-benar mengembalikan ku ke dunia asalku. Atau mungkin.... Lebih baik dari itu. Dia memberikan kesempatan kedua?' Tanya Leo dalam hatinya.


Dengan kata lain, Valkazar, atau siapapun Pria misterius itu, benar-benar memenuhi sumpahnya untuk membalas kebaikan Leo.


Dan itu adalah mengembalikan mereka tepat ke lokasi sebelum kematian mereka. Memberikannya kesempatan kedua untuk memperbaiki kesalahannya di masa lalu.


Leo sangat yakin bahwa semua yang dialaminya di dunia fantasi itu bukanlah sebuah mimpi. Ia bahkan masih mengingat semuanya dengan jelas. Baik itu kenangan yang indah ataupun yang buruk.


Oleh karena itu....


Menghadapi dua orang penjahat seperti ini....


'Hah.... Bahkan Goblin lebih menakutkan dari kalian berdua.' Pikir Leo dalam hatinya sambil berjalan dengan santai ke arah mereka.


"Permisi, pesanannya." Ucap Leo sambil membawa dua buah gelas plastik Thai Tea itu.


"Hah?! Apa yang kau mau dada...."


'Byuurr!!'


Leo dengan cepat menyiramkan Thai Tea dingin itu ke wajah perampok yang terdekat dengannya.


Tak berhenti di sana, Leo segera merendahkan tubuhnya dan menjegal perampok itu dengan tendangan memutar sambil memegang tangan kanan perampok itu.


'Srreett! Bruukk!'


Kini, tak hanya salah satu perampok terjatuh ke tanah. Tapi golok yang ada di tangan perampok itu telah berpindah ke tangan Leo.


"Sekarang, aku akan berbaik hati dan tak membunuh kalian. Jadi bisakah kalian tinggalkan motor itu untukku?" Tanya Leo dengan tatapan yang dingin. Mengarahkan golok itu tepat ke arah leher mereka.


"Si-sialan!!"


"Kau pikir bisa menggertak kami dan...."


'Zraaassshh!'


Leo mengayunkan golok itu dengan cepat, tapi hanya menggores tepat bagian luar leher mereka. Memberikan sebuah luka gores yang ringan.


"Kalian tahu aku bersungguh-sungguh kan?"


Dan dengan itu, mereka berdua kabur. Meninggalkan kendaraan mereka di tempat termasuk kuncinya.


Tentu saja....


"Aaah, bocah SMA sialan itu bahkan meninggalkanku dua kali? Sialan. Untung saja kali ini aku tak mati." Keluh Leo setelah melihat kedua pasangan muda-mudi itu telah lama kabur.


"Sekarang.... Apa yang harus ku lakukan?"


......***......


...[Berita Besar!]...


"Seorang pemuda, berhasil menggagalkan aksi begal di salah satu jalanan yang paling rawan. Pemuda bernama Dimas ini mengatakan bahwa aksi heroiknya hanya didasarkan atas keinginan untuk menyelamatkan pasangan anak SMA yang baru saja membeli di kiosnya. Mari kita dengarkan komentarnya."


Dalam sebuah acara televisi itu, nampak pembawa acara sedang menayangkan mengenai berita aksi seorang pemuda yang tak lain adalah Dimas atau Leo itu sendiri.


Dan kini, sesi berita berubah dengan sebuah acara interview singkat kepada Dimas yang masih bekerja di lapangan.


"Selamat siang, Dimas. Bagaimana komentar anda mengenai pembegalan semalam?" Tanya seorang wartawan itu.


"Yaah.... Pesan saya hanya satu. Tolong, pak polisi agar segera meringkus para pembegal itu agar tak ada lagi korban jiwa.


Kemudian untuk dua anak SMA yang semalam beli Thai Tea, tolong. Kalian belum membayarnya, kenapa malah kabur?" Tanya Dimas dengan wajah yang setengah bercanda itu. .


"Hahaha.... Menarik sekali ya komentar dari saudara Dimas. Kemudian...."


......***......


'Bruukk!'


Satu Minggu lebih telah berlalu semenjak berita mengenai aksi heroiknya viral. Tapi tetap saja, pekerjaan dan hutangnya masih tetap menggunung.


Dimas melempar tubuhnya ke kasur lipat kecil itu dan beristirahat.


Ia masih tak bisa mempercayai bahwa semua ini nyata. Bahwa dirinya dapat kembali ke dunia yang damai dan nyaman ini.


Lengkap dengan semua pengalamannya di dunia itu sebelumnya.


Akan tetapi....


Masih ada beberapa hal yang disesalinya.


"Bagaimana nasib para pahlawan yang lain? Apakah mereka juga memperoleh kembali kesempatan kedua sepertiku?"


Tepat di saat Dimas mempertanyakan hal itu, terdengar sebuah ketukan pintu di kamarnya.


'Dok! Dok! Dok!'


Ketukan itu cukup keras sehingga mengganggu waktu istirahatnya.


"Ibu kos! Tunggu dulu! Aku sudah bilang aku tak punya uang kan?! Aku akan membayarnya Minggu depan!" Teriak Dimas yang segera berdiri dari kasurnya.


Tapi balasan yang diperolehnya sangat lah mengejutkan.


Bagaimana tidak?


"Dim.... Or should i call you Leo? Sorry if i'm bothering you but...."


Sebuah suara yang cukup merdu terdengar dari balik pintu itu. Dan terlebih lagi, suara itu sangatlah familiar di telinga Leo. Karena suara itu....


'Ckleekk!'


Apa yang ada di balik pintunya, adalah sosok seorang wanita dengan rambut pirang yang panjang dan indah.


Dengan kulit putih mulus serta bibir tipis berwarna merah muda yang menawan. Di atas semua itu, adalah sebuah kemeja hitam dan rok biru tua yang indah.


"Re.... Reina?" Tanya Leo dengan wajah yang sangat terkejut.


"Sorry.... I cannot speak Indonesian...." Balas Reina sambil menyilakkan rambut ke belakang telinganya.


Hanya dengan itu saja, Leo sudah sangat yakin.


Bahwa apa yang dipilihnya pada saat itu, adalah sebuah pilihan yang paling tepat untuk hatinya sendiri. Untuk memenuhi keinginannya hidup sederhana dalam kedamaian.


Sekalipun....


Harus menghancurkan dunia sebagai bayarannya.


Tapi apa salahnya?


Lagipula....


Tak ada satu orang pun yang tahu.


Di saat Leo baru saja tersenyum lebar atas pertemuannya kembali dengan Reina, wajah lain yang cukup familiar muncul di samping Reina.


"Leo. Apa kabar hari ini. Aku belajar masih Indonesia. Felicia. Senang bertemu dengan Anda?" Ucap Feris dengan paras tomboynya yang sama seperti di dalam ingatannya dulu.


"Hah?! Apa-apaan itu? Hahahaha! Feris, bukankah kau bisa bersikap lucu?" Balas Dimas sambil tertawa ringan.


"Huh! Aku berusaha dengan sangat keras sekali mempelajari bahasa Asia. Jika kau meremehkan, coba pelajari bahasa Jerman dan berbicara kepada diriku!" Balas Feris sambil setengah marah.


Tapi beberapa saat kemudian, Feris juga ikut tertawa ringan.


Dan ketiganya, akhirnya berbincang cukup dalam di sebuah restoran terdekat. Membahas mengenai apa saja yang telah terjadi selama di dunia itu dan setelahnya.


Feris, yang tiba 10 tahun lebih awal ke dunia ini, juga memperoleh kesempatan keduanya. Dimana Ia dapat menyelamatkan nyawanya sendiri dan fokus untuk mengungkap identitas dan sosok pahlawan lainnnya.


Kini, Feris memutuskan untuk menemani Reina untuk menemui Leo atau Dimas di Indonesia.


Dimana pada akhirnya....


Reina memutuskan untuk tinggal dan menemani Leo. Memindahkan studinya ke salah satu universitas terdekat di Indonesia hanya untuk bisa bersama dengan kekasihnya.


Sedangkan Feris sendiri kembali ke Eropa untuk menemui pahlawan yang lainnya. Dan mencaritahu kabar mereka yang sebenarnya.


Sementara itu....


Valkazar sendiri....


Tak ada yang tahu apa yang terjadi padanya. Dimas bahkan tak tahu nama aslinya. Meski begitu....


'Valkazar, terimakasih. Apapun keinginanmu, ku harap kau berhasil memenuhinya dan bahagia di sana.' Ucap Dimas dalam hatinya sebelum kembali tidur.


Kini, tak lagi memeluk sebuah guling yang dingin. Melainkan sosok seorang wanita yang selalu memikat hatinya sejak pertama kali tiba di dunia itu.


Sebuah dunia fantasi yang merubah seluruh kehidupannya.