
“Peserta pertama, silakan maju.” Ucap sang pengajar.
Seorang pemuda dengan pakaian kecoklatan yang rapi itu nampak maju. Ia berdiri dalam posisi yang tegap sambil menanti apa yang perlu dilakukannya berikutnya.
“Apa visimu ke depannya setelah memperoleh pendidikan di Akademi ini?” Tanya salah seorang promotor.
Dengan wajah yang gugup, pemuda itu segera menjawabnya.
“A-aku i-ingin membuat sihir yang bisa membantu pekerja tambang.”
“Pekerja tambang?” Tanya promotor yang lain.
“Se-seperti sihir penguat sederhana, atau alat penerangan yang murah....”
Keenam promotor itu nampak saling memandang satu sama lain. Meski tak mengeluarkan sepatah kata pun, mereka seakan memahami apa yang orang lain maksud.
Setelah beberapa saat, semua promotor terlihat menganggukkan kepalanya. Pengajar yang melihat itu pun segera paham atas apa yang mereka maksud dan melanjutkan acaranya.
“Untuk promotor yang berminat mendidik pemuda ini, tolong angkat tangannya.” Ucap pengajar itu.
Dan hasilnya....
‘Oioi.... Yang benar saja?! Bukankah dia memiliki predikat D sama sepertiku? Tapi....’ Pikir Leo dalam hatinya sambil memasang wajah yang sedikit terkejut.
Ia menyadari bahwa visi kedepan pemuda itu nampak kurang begitu bermanfaat.
Pada kenyataannya, sihir penguatan fisik adalah salah satu jenis sihir yang paling boros Mana. Mempertahankan sihir itu selama lebih dari 8 jam kerja dapat dikatakan hampir mustahil.
Kemudian yang kedua untuk penerangan. Sama seperti yang selalu Leo gunakan saat ini, batu Mana atau batu Cahaya yang telah ditambahi dengan cukup Mana akan dapat menggantikan peran obor di dalam tambang. Harganya juga tak begitu mahal.
Oleh karena itu....
Tak ada satu orang pun promotor yang mengangkat tangan mereka.
“Tidak ada? Kalau begitu, kau akan masuk ke dalam bimbingan Dewan Penyihir.” Ucap Pengajar itu sambil memanggil peserta yang berikutnya.
Jauh dari prasangka Leo, memperoleh dukungan dari seorang Promotor ternyata sangatlah sulit. Bahkan dari 8 peserta yang telah maju, baru ada 1 orang yang diakui oleh satu promotor saja.
Dan itu adalah promotor muda bernama Waine. Seorang pria yang dianggap jenius karena mampu meraih gelar profesor di umur 29 tahun.
Meski begitu, pengalamannya masih jauh dibawah promotor lain. Terutama Profesor Skalld atau Pria yang paling tua di jejeran keenam promotor itu.
Akan tetapi....
Saat Selene dipanggil....
Bahkan sebelum Ia mengatakan sepatah kata pun, keenam promotor segera mengangkat tangan mereka.
Hal itu menunjukkan seberapa besar mereka menilai bakat yang dimiliki oleh Selene. Dan mereka semua tahu, setiap ada sosok pendaftar yang bahkan telah memiliki predikat A sebelum menempuh pendidikan....
Mereka pasti akan menjadi tokoh yang besar dalam waktu dekat ini.
Dan sebagai promotor, mereka akan memperoleh keuntungan besar karena nama mereka akan selalu bersama dengan alumni tersebut. Terlebih lagi jika alumni itu selalu membuat prestasi yang besar.
“Selene ya? Daripada kau ikut dengan kakek-kakek itu, lebih baik kau ikut denganku.” Ucap seorang promotor yang memiliki paras yang cantik. Ia juga termasuk salah satu jenius yang memperoleh gelar profesor pada umur 31 tahun.
“Jangan mau dibodohi. Kau tahu aku memiliki lebih banyak pengalaman dan pengetahuan bukan? Aku akan memenuhi semua kebutuhan pendidikan dan penelitianmu. Jadi kau hanya perlu menuangkan rasa hausmu akan pengetahuan itu.” Ucap sang profesor tua sambil memainkan jenggotnya yang mulai memutih itu.
“Tidak-tidak.... Pengetahuanku dalam sihir angin jauh lebih besar daripada kakek itu.”
Semua promotor terlihat berusaha untuk memperebutkan Selene agar menjadi muridnya. Dan tentunya, hal ini membuat Leo tersenyum.
‘Apa yang ku pikirkan?’ Keluh Leo dalam hatinya.
Pada akhirnya, setelah perdebatan selama beberapa menit itu, seluruh promotor mulai tenang dan segera menanyakan tujuannya.
“Jadi, apa tujuanmu untuk belajar di Akademi ini dan bukannya Enfartice di Ibukota.” Tanya salah seorang promotor.
Selene terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab pertanyaan itu. Ia bahkan nampak mengalihkan pandangannya ke arah Leo yang ada di belakangnya seakan sedang meminta persetujuan.
Melihat tatapan mata itu, Leo segera mengangguk untuk mengiyakan apapun yang diragukan oleh Selene.
“Aku ingin menguasai sihir yang bisa mendukung ku dalam berpedang serta memanah. Karena sebenarnya.... Itulah cara bertarung ku.” Balas Selene.
Balasan itu tentu membuat semua orang terkejut. Bagaimana tidak? Sosok yang sebelumnya dinilai sangat berbakat dalam sihir dan bahkan memiliki predikat A, ternyata adalah seorang pendekar pedang dan pemanah?
Terlebih lagi, tujuannya belajar sihir hanya untuk mempertajam kemampuan berpedang dan memanahnya?
Seluruh promotor nampak terdiam mendengar jawaban itu. Lalu salah seorang memberanikan dirinya untuk bertanya.
“Selene, bisakah aku melihat sesuatu di balik rambut putihmu itu? Tepatnya, telingamu?” Tanya Promotor yang tua itu.
Selene pun dengan segera menyilakkan rambutnya ke belakang. Memperlihatkan telinganya yang runcing ke atas dan sedikit lebih panjang daripada telinga manusia pada umumnya.
“Begitu ya. Half-Elf ya? Yah, bukan masalah untuk kami. Tapi itu menjelaskan mengenai kemampuan sihir dan keterampilanmu yang tinggi.” Balas Promotor tua itu sambil kembali duduk santai.
Setelah beberapa saat berlalu, sang pengajar kembali menanyakan hal kepada para promotor.
“Jadi.... Siapa yang akan....”
Kali ini, bahkan tak ada satu orang promotor pun yang mau melihat ke arah wanita berambut putih itu. Membuat Leo sedikit menyipitkan matanya.
“Apa yang terjadi? Bukankah kalian semua sebelumnya mau merekrutnya?” Tanya Leo dengan tatapan yang tajam.
“Dan siapa kau? Berani menanyakan hal itu pada kami?” Balas Promotor termuda itu.
Tatapan Leo kini menjadi semakin tajam dan mungkin dipenuhi dengan kebencian. Bagaimanapun, tujuannya kemari salah satunya adalah memenuhi keinginan Selene agar dapat menempuh pendidikan yang dia inginkan.
Tapi melihat kejadian ini, Leo sangat yakin. Tidak.... Dia akhirnya paham kenapa Selene selalu menutupi telinganya itu dengan rambut putihnya.
“Gadis itu benar-benar berbakat. Kami mengakui itu dan sangat ingin menerimanya. Tapi sayangnya, kami tak ingin mengotori tangan kami dengan seorang Halfling.”
“Dimana kau hidup selama ini? Halfling adalah salah satu aib terbesar di kerajaan ini.”
“Kami tak mengatakan Ia tak bisa belajar di sini. Tapi kami hanya tak ingin terlibat dengan makhluk itu.”
“Mengingat betapa sombongnya ras Elf selama ini kepada Manusia, kurasa perlakuan kami masih terlalu baik untuk keturunan tercela mereka.”
Berbagai cacian nampak dilemparkan tepat ke arah Leo. Sebagai satu-satunya orang yang tak memahami hal itu. Tidak.... Leo bukannya tak memahami. Tapi Ia hanya tak ingin mengakuinya saja.
Selama seseorang itu memiliki nilai yang tinggi, bahkan iblis sekalipun juga akan diperkerjakan olehnya. Itulah Leo.
Akan tetapi....
“Begitu kah? Kalau begitu sayang sekali nama kalian takkan masuk dalam sejarah.”
Kali ini, para promotor nampak memberikan tatapan yang terlihat cukup marah kepada Leo.
“Memangnya kau siapa bisa mengatakan hal itu? Kami telah melihat jatuh bangunnya para calon pendaftar setiap tahunnya. Bahkan Waine sendiri adalah pendaftar peringkat A pada saat itu. Bukankah nama kami sudah cukup terukir dalam sejarah?”
Di saat situasi sedang memanas antara Leo dan juga para Promotor, Selene nampak hanya terdiam di tempat. Memandangi tanah sambil terus berharap agar Tuannya berhenti membelanya.
Karena memang itulah kenyataannya.
Sebagian besar manusia memang memandang rendah para Halfling, ras apapun itu.
Akan tetapi....
Secara tiba-tiba....
‘Swuuushh! Tapp!!’
Seseorang nampak melompat dari ruangan sebelah secepat mungkin.
Ia memiliki penampilan yang cukup sederhana dengan rambut hitam pendeknya yang sepanjang bahunya itu. Kacamata bulat yang tipis nampak menghiasi wajahnya.
Dengan jubah berwarna biru dan hitam, gadis itu nampak segera mengangkat wajahnya dan memandang ke arah Leo.
‘O-orang ini?!’
“Maaf tapi aku mendengar sesuatu yang menarik dari ruang sebelah. Hanya Karena dia terlahir berbeda, kalian memberikan perlakuan seperti itu.... Itulah kenapa kalian semua tak pernah maju dan hanya bisa terus mengeluh karena tak mendapat posisi penting di Eastfort.” Ucap Gadis itu sambil menatap remeh ke arah enam promotor itu.
Mereka berenam dengan segera menatap tajam ke arah gadis itu.
“Datang juga, orang gila yang diangkat sebagai profesor. Aku sendiri tak tahu apa yang dipikirkan oleh Kepala Akademi mengenai pilihan itu.” Keluh sang promotor tua.
“Jika kau tak gila, mungkin namamu telah dikenal di seluruh akademi, Roselia.” Balas sinis promotor wanita itu.
Dengan senyuman yang lebar, wanita yang tak lain adalah Roselia itu segera mengalihkan pandangannya kepada Leo dan juga Selene. Dan seakan tak mengenal batasan....
“Bagaimana jika Half-Elf itu dan juga Pria ini masuk dalam bimbinganku?” Tanya Roselia kembali ke arah keenam promotor itu.
“Lakukan saja sesukamu sama seperti biasanya. Lagipula Kepala Akademi juga pasti akan melindungimu.”
“Jika kau mengerti, maka cepat bawa mereka dan pergi dari sini.”
Roselia segera melambaikan tangannya ke arah Selene dan juga Leo, meminta agar mereka berdua ikut dengannya.
Sedangkan sang Pengajar yang tak menduga kejadian ini hanya bisa menganga kebingungan.
“A-apakah ini tak apa?” Tanya Pengajar itu.
“Tak masalah. Dia memang selalu seperti itu dan Kepala Akademi selalu melindunginya. Apanya yang jenius? Daripada jenius, dia lebih seperti anak kecil yang setengah gila.”
“Hahaha.... Jangan berkata seperti itu. Bagaimanapun, dia baru saja memperoleh gelarnya dan menjadi profesor termuda dalam sejarah Akademi Aselica bukan?”
“23 tahun ya? Jika saja sikapnya sedikit lebih baik....”
“Aaah, maaf. Tolong lanjutkan dengan peserta berikutnya. Kita anggap saja dua peserta itu telah masuk dalam bimbingan Roselia.
Tanpa Leo banyak sadari....
Ia telah masuk dalam sebuah lingkungan yang menarik. Sebuah lingkungan yang akan menjadikannya sebagai salah satu tokoh terpenting di dunia ini.
Dengan begitulah, Leo dan juga Selene mengikuti langkah kaki Roselia yang seakan sedang bermain-main itu dengan kedua tangan yang disilangkan di belakang lehernya.
“Jadi kalian sudah memutuskan untuk mencintai sihir?” Tanya Roselia dengan nada yang ceria.