
Setelah semua urusan mengenai pekerjaan para bawahan barunya selesai, kini Leo kembali dalam ruang kerjanya. Menghadapi sebuah pedang suci yang telah dibiarkan sejak kemarin itu.
'Berdasarkan dari daftar kekuatan yang diberikan oleh Feris serta kekuatan dari pedang ini sendiri.... Kurasa aku tahu apa yang harus ditingkatkan. Hanya saja....' Pikir Leo sambil memandangi ke arah tumpukan batu Mana yang ada di sudut ruang kerjanya itu.
Ia telah memahami konsep dan cara kerja dari Mana itu sendiri. Tapi untuk penerapannya, Leo masih membutuhkan pengalaman yang lebih lanjut.
Tapi sebelum itu....
"Selene. Kau bisa beristirahat. Aku akan baik-baik saja sendiri." Ucap Leo kepada Selene sambil memberikan senyuman yang tipis itu.
"Baik, Tuan Leo. Kalau begitu, aku akan berlatih di luar." Balas Selene sambil segera membalikkan badannya itu.
Kini, Leo yang tengah sendirian di ruangan itu sedang menggenggam salah satu batu Mana di tangan kanannya.
Setelah memfokuskan pikirannya sejenak, sebuah cahaya biru yang indah mulai muncul di kepalan tangan kanannya. Semua cahaya itu seakan terserap ke dalam batu Mana itu. Secara perlahan membuat batu yang sebelumnya berwarna sedikit kemerahan itu menjadi biru.
'Bagus, sampai sini berhasil. Sekarang tahan agar jumlahnya tak melebihi batas.'
Jika jumlah Mana yang dimasukkan dalam batu itu melampaui batasnya, maka batu itu akan meledak karena tak mampu menahan semua Mana di dalamnya. Hasilnya adalah senjata utama yang sering digunakan oleh Leo.
Tapi jika jumlahnya tepat di bawah kapasitas maksimalnya....
Batu itu akan mulai sedikit bercahaya. Memiliki warna biru muda yang indah. Mana yang telah dialirkan ke dalamnya pun akan tersimpan dengan baik hingga beberapa bulan.
Ekspresi yang puas terlihat di wajah Leo. Tapi Ia masih jauh dari kata cukup. Dengan jumlah Mana miliknya saat ini, Leo bisa mengisi sekitar 3 buah batu Mana hingga penuh sebelum kehabisan Mana.
Sedangkan targetnya itu sendiri adalah 12 buah batu Mana yang telah penuh.
Setelah beberapa saat berlalu, Leo akhirnya kehabisan Mananya. Dan tiga buah batu Mana yang kini bersinar dengan cahaya biru muda yang indah terlihat tertata dengan rapi di samping kotak penyimpanan pedang suci itu.
'Kurasa ini sudah cukup untuk siang hari ini. Aku akan membuat 3 lagi di malam hari. Sebelum itu....'
Leo segera berjalan ke salah satu meja kerjanya yang memiliki kotak peti kecil. Di dalamnya terdapat puluhan ramuan dengan botol kaca yang cukup tinggi namun kecil. Botol kaca itu mengandung cairan berwarna biru yang tak lain adalah ramuan pemulih Mana.
Dengan cepat, Leo mengambil satu dan meneguknya hingga habis.
Tentu saja, Mana miliknya tak segera pulih pada saat itu juga. Tapi dengan meneguk ramuan tingkat rendah itu, Leo dapat meningkatkan kecepatan pemulihannya yang seharusnya membutuhkan 1 hari menjadi setengah hari.
Atau dengan kata lain, cukup untuk menyelesaikan kuotanya kepada Eastfort bulan ini.
Di saat Leo masih sibuk menata ruang kerjanya, seseorang nampak membuka pintu ruangan itu. Rambut pirangnya yang terurai terlihat begitu indah kali ini.
Dengan senyuman yang lebar, wanita itu pun memanggil Leo dengan suara yang lembut.
"Dim.... Leo. Sedang sibuk?" Tanya wanita berambut pirang itu yang tak lain adalah Reina.
"Masih ada beberapa pekerjaan lain nanti. Ada apa, Reina? Lagipula, kau baru bangun?" Tanya Leo yang terlihat bahagia ketika melihat sosok wanita yang dicintainya.
"Maaf.... Tapi aku terlalu lelah semalam." Balas Reina dengan wajah yang memerah. Jari jemarinya terlihat memainkan rambutnya sendiri. Sedangkan tatapan matanya nampak berusaha menghindari kontak dengan Leo.
"Lucas.... Dia sudah pergi ya?" Tanya Reina sekali lagi.
"Ya, tadi pagi. Dia menitipkan mu padaku seperti adiknya sendiri. Kau benar-benar bertemu dengan orang yang baik ya?" Balas Leo sambil tertawa ringan.
Pertemuan kembali antara mereka berdua tak hanya menyembuhkan luka di hati Reina. Tapi juga menyelamatkan Dimas, atau Leo itu sendiri dari kegelapan.
"Ka-kalau begitu.... A-aku akan berlatih dengan Selene. Sampai nanti...." Ucap Reina yang dengan segera pergi dan berlari ke arah Selene yang terlihat sedang berlatih berbagai gerakan pedang itu.
Meski awalnya Leo sedikit khawatir dengan apa yang terjadi ketika Ia memasukkan orang penting lainnya dalam kelompok ini. Tapi nampaknya, kekhawatirannya berujung sia-sia.
Dari dalam ruang kerjanya itu, Leo dapat melihat sosok Reina dan juga Selene yang sedang berlatih adu pedang bersama-sama.
'Ku harap kedamaian seperti ini bisa berlangsung selamanya....'
Kalimat itulah yang terlintas dalam pikiran Leo ketika memperhatikan sosok dua wanita itu bersama dengan pekerja lain yang terlihat begitu bahagia.
Tapi Ia sadar. Bahwa satu-satunya alasan dirinya tiba di dunia ini adalah untuk menyelamatkannya dari kehancuran. Meskipun Ia sendiri enggan untuk melakukannya, tapi waktu takkan berhenti untuk menunggu.
Leo tahu, bahwa suatu hari nanti dunia ini mungkin akan binasa.
'3.000 pahlawan.... Sekuat apa Raja Iblis itu sehingga membuat pahlawan sebanyak itu gugur?'
Di saat Leo sedang melamun menikmati kedamaian ini....
...'BZZZTTTT!!!'
...
Sebuah sensasi yang mengejutkan pada pandangan dan pendengarannya pun tiba-tiba muncul. Hanya sesaat. Tapi sensasi itu dapat membuatnya langsung merinding dan ketakutan.
Pandangannya menjadi kabur dan buram, seakan melihat ratusan kejadian di saat yang bersamaan. Sedangkan telinganya sendiri mendengar suara yang begitu keras dengan nada yang tinggi.
Meski yang dirasakannya hanya sesaat dan bahkan terlihat tak begitu jelas, Leo seakan bisa memahaminya.
Wajahnya yang sedari tadi tersenyum, seketika berubah drastis dengan ekspresi yang penuh ketakutan.
"Hah.... Hah.... Hah...."
Pernafasannya mulai tak teratur. Jantungnya pun berdegup dengan sangat kencang. Tak lupa, keringatnya langsung mengalir dengan deras.
"Apa-apaan barusan itu?!" Tanya Leo pada dirinya sendiri yang masih dalam keadaan dikuasai oleh rasa takut.
Meski sekilas, Leo dapat melihatnya. Leo dapat mendengarnya.
Sebuah pemandangan dengan langit yang sama seperti yang biasanya dilihatnya. Hanya saja kali ini, bulan terlihat bersinar begitu terang menghiasi langit malam itu.
Tak hanya itu, terdengar suara teriakan yang begitu keras dari banyak orang sekaligus. Serta tumpukan mayat yang seakan menyaingi ketinggian gunung.
Tapi sayangnya, Ia tak mampu memahami apa yang baru saja didengarnya. Seakan-akan memang merupakan bahasa yang sangat jauh berbeda.
Di atas semua itu, terlihat seorang Pria dengan tatapan mata dengan bola mata berwarna merah yang seakan melihat tepat ke arahnya. Wujudnya terlihat seperti manusia. Tubuhnya pun tak terlalu besar, atau terlalu kecil.
Kedua tangannya tampak dilumuri oleh banyak darah, dengan cakar yang tajam di seluruh jarinya.
Dengan rambut berwarna hitam yang sedikit panjang, serta sebuah tanduk yang muncul hanya di sisi kanan kepalanya, makhluk itu seakan berkata.
..."Siapa?"
...