E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 43 - Pencatatan



"Leo, apa yang kau lakukan sejak tadi?" Tanya Artemis yang memandangi sosok Pria berambut kecoklatan itu.


Apa yang dilakukan oleh Leo memang mungkin cukup aneh di pandangan Artemis. Yaitu mengunjungi berbagai jenis toko dan mencatat semua harga barang yang ada di dalamnya.


"Tidakkah kau bisa lihat? Aku sedang mencatat harga." Balas Leo singkat bahkan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku tipisnya itu.


Di dunia dengan jaman yang setara dengan abad pertengahan ini, buku memiliki harga yang jauh lebih tinggi dari emas. Tapi untuk tumpukan kertas kosong yang dijadikan sebuah buku catatan, harganya terbilang sedikit lebih murah.


Untuk menjalankan rencana berikutnya, Leo tak segan-segan untuk menggelontorkan uang demi buku dan alat tulis itu.


"Aku tahu kalau kau sedang mencatat, tapi untuk apa? Apa gunanya melakukan semua ini?"


Mendengar pertanyaan dari Artemis untuk kedua kalinya, Leo memutuskan untuk tidak menjawabnya dan fokus pada pekerjaannya.


Setelah semuanya selesai, Leo kembali ke penginapan yang telah disewanya. Atau lebih tepatnya, Ia menyewa habis seluruh kamar yang ada di dalam penginapan itu.


Total kamar yang disewanya adalah 16 kamar, dimana terdapat 3 kamar kosong. Satu akan digunakan untuk pertemuan dengan seluruh bawahannya, sedangkan sisanya akan dijadikan sebagai tempat penyimpanan sementara.


"Aah... Tuan. Selamat datang kembali." Ucap dua orang wanita yang tak lain adalah budak Leo. Mereka berdua terlihat sedang duduk santai di lantai pertama, menikmati sarapan paginya.


"Ya. Apakah semuanya baik-baik saja?" Tanya Leo yang masih terus berjalan.


Di belakangnya, Artemis mengikuti dengan langkah yang cukup lambat.


"Semuanya baik-baik saja, Tuan. Sesuai dengan permintaan Tuan Leo, kami akan mengawasi semua budak Anda." Jawab salah seorang wanita itu.


"Bagus. Dan satu lagi, kalian bukanlah budak tapi pegawaiku. Selama kalian bekerja dengan baik, aku akan menjamin makanan dan pekerjaan yang layak." Balas Leo sesaat sebelum memasuki ruangannya. Begitu pula dengan Artemis.


'Jeglek!'


Suara pintu yang tertutup dan terkunci itu terdengar cukup keras.


Sementara itu....


"Aku masih tak percaya bahwa semua ini adalah kenyataan." Ucap salah seorang wanita itu.


"Aku juga begitu. Kupikir Tuan Leo adalah orang yang kejam dan dingin dari sikapnya, tapi pada kenyataannya...."


Gosip singkat antara dua 'Pegawai' Leo itu pun berlangsung. Membahas mengenai Tuan mereka dan apa yang sebenarnya telah mereka bayangkan selama ini.


Tentu saja, itu adalah hal yang sangat menguntungkan bagi Leo karena bisa memperoleh kepercayaan dengan mudah.


......***......


'Sreeeettt!!'


Leo membuka gulungan peta yang ada di meja kerjanya. Segera setelah itu, Leo mulai membuka buku catatannya dan memperhatikan keduanya dengan seksama.


Setelah beberapa saat....


"Artemis. Kau tanya padaku barusan, apa gunanya mencatat harga bukan? Kemari lah." Ucap Leo singkat.


Artemis yang merasa penasaran pun segera mendekat ke arah meja kerja Leo. Memperhatikan sebuah peta bagian Barat Pegunungan Rustfell dan juga buku catatan harga barang-barang di pasar.



Pada saat ini, mereka berada di salah satu kota pelabuhan terbesar di Kerajaan Manusia yaitu Venice.


Makanan? Mereka memperolehnya dari lahan pertanian yang luas di luar dinding tebal Kota ini. Begitu pula dari hasil peternakan dan juga penangkapan ikan di laut. Membuat Kota besar ini memiliki ketahanan pangan yang kuat.


Tak hanya itu, jalur perdagangan laut yang menghubungkan antara satu pelabuhan dengan pelabuhan yang lainnya di Selatan maupun di Utara. Menjadikan Kota ini sebagai salah satu surga bagi para pedagang.


Tapi yang ingin ditunjukkan oleh Leo bukanlah pelajaran Geografi. Melainkan sebuah pelajaran ekonomi yang dipersingkat.


"Perhatikan, Kota ini merupakan salah satu sumber penghasil pangan yang besar di wilayah ini. Dengan kata lain, persediaan makanan mereka besar.


Hal itu pun menyebabkan harga bahan makanan mentah di Kota ini cukup murah jika dibandingkan dengan Kota Daeta yang hanya fokus pada kerajinan dan pengolahan logam." Jelas Leo sambil menunjuk lokasi di peta dengan tangan kirinya, dan harga di buku catatan dengan tangan kanannya.


Artemis membutuhkan waktu beberapa saat untuk menyadarinya.


"Tu-tunggu dulu?! Kenapa harga gandum di Kota Daeta 1.5 kali lebih mahal daripada di sini?!" Teriak Artemis dengan wajah yang terkejut.


Mendengar hal itu, Leo hanya membalasnya dengan sebuah senyuman yang terlihat begitu puas.


Sebenarnya, Leo telah mulai mencatat harga semenjak tiba di Wilayah Barat Pegunungan Rustfell ini. Tapi alasannya melakukan hal itu adalah untuk menambah pengetahuannya mengenai harga rata-rata suatu barang. Sehingga Ia tak mudah ditipu dan bisa membeli dengan harga terbaik.


Sebagai seseorang yang berasal dari dunia modern, dimana transportasi antar kota, bahkan antar provinsi maupun negara pun begitu mudah.


Itulah mengapa Leo sama sekali tak menyangka bahwa jarak antar kota yang tak begitu jauh di dunia ini, akan membuat selisih harga yang sebesar itu.


Tapi memang benar.


Meskipun jaraknya tak terlalu jauh, bahkan dengan kereta kuda sekalipun Leo membutuhkan sekitar 2 hari dan satu malam perjalanan untuk sampai ke Kota lain.


Belum lagi mengingat bahaya dari para bandit yang mungkin akan mengancam di sepanjang perjalanan.


Dengan memperhatikan aspek itu, tentu saja perbedaan harganya akan sangat besar. Itu karena persediaan barang yang melimpah di satu tempat, tak bisa di distribusikan dengan mudah.


"Leo! Kau luarbiasa! Bagaimana kau menyadari hal ini?!" Teriak Artemis yang kini terlihat begitu kegirangan.


"Aku juga baru saja menyadarinya. Dan ini, adalah bisnis baru kita setelah ini. Menjual perlengkapan Enchantment memang menguntungkan, tapi Mana milikku ada batasnya. Membuat penghasilan kita sepenuhnya ditentukan oleh Mana milikku.


Tapi kali ini berbeda. Penghasilan kita akan ditentukan oleh kerja keras kita sendiri." Balas Leo yang pada saat ini memasang wajah yang terlihat cukup serius, tapi tetap dengan senyumannya.


'Bruk! Bruk! Bruk!'


Suara kaki Artemis yang terus menghantam lantai tiap kali Ia melompat sangatlah berisik. Nampaknya, peluang penghasil uang baru ini membuatnya sangat bersemangat.


"Leo! Ayo tunggu apalagi! Kita akan segera berangkat! Aku akan membeli banyak gan...."


"Tunggu dulu! Lagipula, rencana ini masih memiliki banyak kekurangan. Satu, kita tak memiliki kereta kuda yang cukup untuk membawa gandum dalam jumlah yang menguntungkan. Sedangkan uangku baru saja habis untuk membeli budak.


Kemudian kedua, aku masih perlu mengajarkan mereka tata Krama dan kemampuan yang dibutuhkan untuk bekerja dengan baik. Dengan kondisi saat ini, mereka masih merupakan beban. Dan terakhir yang ketiga, uang kita telah menipis." Jelas Leo panjang lebar.


Mendengar semua itu, Artemis terlihat putus asa dan patah semangat. Bahkan Ia segera menjatuhkan dirinya di ranjang Leo di kamar itu.


Tubuhnya mulai lemas, pandangannya mulai buram karena air mata yang mulai membasahi matanya. Dengan sisa kekuatan terakhirnya....


"Uangku...."


Hanya satu kalimat itu lah yang keluar dari mulut Artemis.