
"Kami memiliki beberapa jenis kereta. Yang satu ini seharga 400 koin emas, ukurannya cukup besar sedangkan desainnya juga cukup indah.
Terlebih lagi, kereta ini terbuat dari bahan yang ringan sehingga kau hanya akan membutuhkan satu ekor kuda untuk menariknya. Lalu untuk kereta yang lain...."
Saat ini, Leo dan juga Artemis telah tiba di sebuah tempat yang memperjualbelikan kereta kuda. Pedagang itu menjelaskan semuanya dengan baik. Harganya pun cukup masuk akal.
Mereka berdua hanya berjalan mengikuti pedagang itu sambil mendengarkan seluruh penjelasannya.
"Kemudian untuk kudanya, aku merekomendasikan Trey. Dia adalah kuda yang penurut dan masih muda. Tapi jangan paksakan dia berkelana terlalu jauh. Aku akan menjualnya untuk 180 koin emas."
Beberapa saat berlalu dan pedagang itu terus mengajak Artemis dan Leo berkeliling. Tepat setelah setengah jam berlalu....
"Jadi bagaimana menurut Anda, Tuan dan Nyonya?" Tanya Pedagang itu setelah memperlihatkan seluruh barang kepemilikannya.
Akan tetapi....
"Nona! Bukan Nyonya! Aku masih belum memiliki anwaaaa!" Teriak Artemis yang dengan segera dibungkam oleh Leo.
"Maafkan rekanku, dia terkadang memang cukup berisik. Hmm.... Sejujurnya aku tertarik dengan kereta itu, tapi nampaknya kantong kami takkan mencukupi.
Jadi aku akan memilih yang ini. Kemudian untuk kudanya, aku rasa Trey yang penurut lebih cocok untuk kami. Apakah kau setuju, Artemis?" Tanya Leo memastikan kembali. Meskipun, tangan kanan Leo masih membungkam mulut gadis itu.
Satu-satunya cara bagi Artemis untuk menjawabnya hanyalah dengan menganggukkan atau menggelengkan kepalanya.
"Hmmpppfffhh!!!" Teriak Artemis sambil menggelengkan kepalanya dengan sekuat tenaga. Tangan kirinya kemudian menunjuk ke arah sebuah kereta kuda yang sedikit lebih besar dan indah, tapi juga sedikit lebih mahal.
Setelah memikirkannya sejenak....
"Baiklah. Aku akan memilih yang itu."
Sebelumnya, Leo berpikir untuk menyimpan sebagian uangnya untuk membeli barang yang lain. Tapi Ia bisa mengatur hal itu di lain waktu. Sedangkan kereta, Ia hanya berencana untuk membelinya satu kali sebagai investasi jangka panjang.
Jadi takkan menjadi masalah bagi dirinya untuk menghabiskan sedikit lebih banyak uang untuk kereta itu.
"Mhehwimwamwamwih mwenwo! mwamwmwu mwawang mwamwamwu!" Teriak Artemis yang entah apa yang dikatakannya karena tangan kanan Leo masih membungkamnya. Tapi dari wajahnya, Artemis terlihat begitu senang dengan tindakan Leo.
"Ooh, jadi yang itu? Baiklah, aku akan segera menyiapkannya. Tuan dan Nona silakan duduk terlebih dahulu.
Kemudian untuk total biayanya yaitu 710 koin emas, atau Anda bisa membayarnya dengan 7 koin platinum saja sebagai bonus dari kami." Jelas Pedagang itu sambil tersenyum puas.
Leo kemudian melepaskan Artemis dan meminta 5 koin platinum yang ada di tasnya, lalu menambahkan 2 koin lagi dari uang pribadinya.
Setelah menyerahkan 7 koin platinum itu, Leo dan Artemis duduk dengan santai sambil menanti kereta kuda itu dipersiapkan.
Selagi menunggu, seorang pegawai di tempat itu menjelaskan kepada Artemis dan juga Leo mengenai cara singkat mengendarai kuda. Termasuk cara perawatan serta apa yang sebaiknya dilakukan dan tidak dilakukan.
Dan setelah beberapa puluh menit....
"Tuan, kereta kuda Anda telah siap." Ucap pedagang itu sambil tersenyum lebar.
"Terimakasih banyak."
Leo dan Artemis pun segera menaiki kereta kuda itu. Sebuah kereta dengan warna hitam dan coklat serta beberapa ornamen yang membuatnya indah.
Kereta itu memiliki lebar sekitar 1.4 meter dan panjang 2.3 meter. 4 buah roda kayu yang cukup besar menopang kereta ini dengan baik.
Sedangkan tenaga yang menariknya adalah seekor kuda berwarna coklat yang bertubuh cukup besar. Kuda itu terikat kepada kereta yang akan membuat kereta bergerak ketika Ia berjalan.
Sebuah tempat duduk kecil terdapat di bagian depan kereta kuda itu untuk sang kusir.
'Tap!'
Dimas dengan segera naik dan duduk di bagian depan untuk mengendalikan kuda itu. Sementara itu, Artemis duduk dengan nyaman di dalam kereta.
"Kalau begitu, kami permisi dulu." Ucap Leo untuk berpamitan kepada pedagang itu.
'Syaatt!'
Leo menarik tali kemudi pada kuda itu. Dengan segera, kuda itu mulai berjalan.
Pada awalnya, Leo merasa sedikit kesulitan dalam mengendalikannya karena sangat berbeda dengan berbagai kendaraan yang pernah Ia kendarai sebelumnya di bumi.
Tapi setelah beberapa saat saja, Leo mulai terbiasa dan mampu mengendalikannya dengan baik.
"Leo, apakah kita akan langsung meninggalkan kota ini?" Tanya Artemis yang setengah bagian tubuh atasnya keluar melalui jendela di bagian depan kereta itu.
Leo yang mendengar itu hanya sedikit menolehkan kepalanya lalu membalas.
"Kita akan membeli beberapa senjata terlebih dahulu lalu menjualnya di kota sebelah. Untuk saat ini, kita dalam krisis moneter dan perlu mengurus kondisi keuangan kita." Balas Leo dengan cukup panjang lebar.
"Tidak.... Penjualan seperti ini memang mudah untuk menghasilkan uang tapi juga terlalu lama. Aku telah memikirkan sesuatu yang menarik, tapi untuk itu kita butuh uang. Kau akan tetap menemaniku bukan?" Tanya Leo.
"Tentu saja. Bukankah kita adalah rekan sehidup semati?!" Teriak Artemis secara tiba-tiba. Bahkan Leo sendiri sama sekali tak menyangka hal itu.
"Hahaha.... Baguslah jika begitu. Sekarang.... Mari kita mulai dengan kota di sisi sebelah."
Dengan begitulah, Leo dan juga Artemis mulai kembali menjalankan bisnis mereka.
Sebuah bisnis sederhana dengan membeli senjata kualitas terbaik yang bisa mereka temukan, lalu menambahkan Enchantment agar menaikkan nilai dari senjata tersebut.
Setelah itu, mereka akan menjualnya dengan harga yang tinggi. Menghasilkan uang dengan cukup mudah.
Tapi kali ini, mereka akan melakukannya sambil menjelajahi dunia ini. Mencari peluang lain untuk menghasilkan uang dengan lebih cepat dan mudah.
......***......
...- Wilayah Maelfall -...
...- Di Suatu Kota -...
Seorang wanita terlihat berjalan dengan penampilan yang cukup memukau. Ia mengenakan zirah baja tempa di balik jubah dengan warna putih dan biru itu.
Sementara itu di punggungnya, sebuah pedang besar dua tangan yang memiliki panjang mencapai 1.2 meter itu terikat dengan baik di bagian belakang jubahnya.
Rambutnya yang berwarna pirang dan panjang itu dikepang mulai dari punggungnya. Membuat penampilannya bisa terbilang cukup berbeda dengan sebagian besar orang.
Saat ini, reputasinya benar-benar melambung di wilayah Maelfall. Bahkan hanya dengan berjalan di tengah kota saja, semua orang akan segera mengenalinya.
"Nona Reina! Lihat kemari!"
"Nona Reina! Aku penggemar beratmu!"
"Berpetualang lah denganku, wahai Dewi!"
"Monster apalagi yang baru saja kau buru, Nona Reina?"
Berbagai teriakan dan sahutan dari semua orang mulai terdengar hingga memeriahkan jalanan ini.
Di sisi lain, mendengar hal itu Reina merasa cukup senang karena semua usahanya mulai dihargai dengan baik.
Senyuman tipis di wajahnya tak pernah menghilang. Dengan tangan kanan yang selalu membantai banyak monster itu, Reina melambaikan tangannya ke arah para penduduk Kota ini.
"Aaaah! Nona Reina kau cantik sekali hari ini!"
"Kumohon bergabung lah dalam Party ku!"
Meski begitu, tujuannya pergi ke kota ini hanya satu. Yaitu menerima panggilan dari penguasa di wilayah ini.
"Selamat datang, Earl Barlor telah menanti kedatangan Anda, Nona Reina. Tolong senjata Anda." Ucap dua orang penjaga yang ada di depan kastil ini. Setelah mengamankan senjata Reina, mereka dengan segera membukakan pintu masuk untuknya.
Sesampainya di dalam, puluhan prajurit telah berbaris dengan rapi untuk menyambut kedatangannya. Mereka menggenggam pedang dengan erat dan menancapkan nya ke lantai.
Sesaat setelah Reina berjalan, mereka semua membungkukkan badan mereka untuk memberi hormat.
Dan di ujung dari ruangan ini....
"Hohoho.... Kau jauh lebih menawan daripada rumor yang beredar. Mendekat lah kemari, Reina." Ucap seorang Pria dengan badan yang cukup gemuk itu. Pakaiannya sangatlah luarbiasa yaitu setelan bangsawan dengan warna ungu yang indah dan banyak sekali perhiasan.
"Aku, Reina, telah datang memenuhi panggilan Anda, Earl Barlor." Ucap Reina yang segera berlutut di hadapan bangsawan itu.
Setelah hidup beberapa bulan di wilayah Maelfall ini, Reina telah belajar banyak mengenai budaya yang ada di dunia ini. Termasuk bagaimana caranya bersikap kepada bangsawan.
Akan tetapi....
"Muehehe.... Cukup basa-basinya, ikut denganku, Reina. Ada monster yang menyeramkan di kamarku. Aku ingin kau membasminya. Jika kau berhasil, aku akan memberikan hadiah yang besar untukmu." Ucap bangsawan itu sambil membuat senyuman yang terkesan begitu menjijikkan.
"Monster? Di kamar? Apakah Anda serius?" Tanya Reina dengan tatapan yang penuh dengan keraguan.
Pada saat itulah, terdengar suara yang cukup keras dari belakang tubuh Reina. Sumber dari suara itu tak lain dan tak bukan adalah pintu besar yang kini terkunci dengan sangat rapat.
Tak hanya itu, puluhan prajurit yang sebelumnya berbaris, kini mulai mengangkat senjata mereka dan mengarahkannya kepada Reina sambil tertawa ringan.
"Reina.... Kau masih belum paham situasi ini? Aku bilang ikutlah denganku." Ucap bangsawan itu sambil berdiri dari singgasananya dan tertawa.
Hanya ada satu kalimat yang terlontar dari mulut Reina.
"Jadi begitu.... Aku mengerti." Ucap Reina sambil mengarahkan pandangannya ke tanah. Tatapan matanya pun terlihat cukup putus asa dengan situasi ini.