
Leo dan juga Selene kembali ke penginapan.
Sepanjang perjalanan, Leo sama sekali tak mengucapkan sepatah kata pun. Selene yang mulai memahami apa yang sebenarnya terjadi hanya bisa diam. Tak ingin memperburuk keadaan ini.
Setibanya di penginapan, mereka berdua disambut oleh para bawahan Leo. Begitu juga Artemis yang terlihat masih bermain permainan papan dengan salah seorang pekerja.
"Selamat datang kembali, Tuan Leo." Ucap seorang pria sambil sedikit membungkukkan badannya.
Mereka memang paham bahwa Leo cukup dingin. Tapi setidaknya, Leo biasanya membalas salam mereka. Sedangkan kali ini, Leo hanya diam bahkan tanpa melirik ke arah mereka.
Sedangkan dua budak yang baru saja dibeli oleh Leo, hanya masuk ke dalam dan duduk di sudut ruangan. Terdiam dan tak bisa berkata-kata. Jujur saja, mereka sedikit terkejut melihat perlakuan para budaknya yang terlihat begitu baik kepada Leo.
Apakah Leo memang orang yang baik? Apakah mereka membuat keputusan yang benar untuk tidak melarikan diri dalam kesempatan ini? Untuk memastikannya, mereka berdua pun memutuskan untuk memperhatikan kondisi ini dengan lebih lanjut.
"Tuan?"
"Apakah ada sesuatu yang buruk sedang terjadi?"
Beberapa bawahannya mulai bertanya. Mereka selama ini sudah mulai hafal dengan sikap dan kebiasaan Leo. Melihat perubahan ini, mereka pun curiga bahwa sesuatu telah terjadi.
Di belakangnya, Selene hanya mengikuti dalam diam.
"Tinggalkan aku sendiri." Ucap Leo sesaat sebelum membuka pintu ruang kerjanya itu.
"Baik, Tuanku." Balas Selene. Wajahnya sedikit murung, dan matanya hanya mampu melihat lantai. Ia saat ini masih belum berani untuk melihat Tuannya itu.
Berbagai pertanyaan pun muncul di kepala semua orang. Tapi satu-satunya orang yang bisa menjawab hanya diam.
"Selene, apa yang terjadi?" Tanya Artemis dengan wajah khawatir.
"Aku.... Aku tak bisa menjelaskannya." Balas Selene sebelum meninggalkan Artemis.
Dan kini, suasana penginapan yang sebelumnya cukup ramai itu menjadi sunyi. Tak ada satu orang pun yang berbicara. Bahkan Artemis yang biasanya heboh hanya terdiam duduk memandangi papan permainan dengan berbagai bidak yang ada di atasnya itu.
Hingga tiba-tiba....
"Seseorang, belikan aku 40 batu Mana. Ambil uangnya di kamarku." Ucap Leo dari dalam ruang kerjanya.
"Ba-baik Tuan, dengan segera." Balas salah seorang bawahan Leo yang dengan segera berlari itu.
Setelah itu, tak ada lagi sepatah kata pun yang terdengar di rumah itu. Membuatnya seakan menjadi tempat berhantu.
......***......
...- Pasar Budak -...
Lucas dan Reina masih terus mencari keberadaan sosok bernama 'Dimas' itu di dalam pasar. Tapi sebaik apapun mereka berusaha, tak ada sedikitpun petunjuk yang mereka temukan.
"Begitu ya.... Terimakasih banyak, Tuan." Ucap Lucas kepada salah seorang pedagang budak itu.
Mereka kemudian menuju ke sebuah tenda yang paling besar di pasar ini. Pemiliknya sendiri adalah seorang Pria yang terlihat cukup gemuk dengan kumis hitam yang panjang.
"Selamat datang di toko milikku. Kalian akan menemukan koleksi yang paling lengkap di pasar ini." Ucap pedagang itu menyambut kedatangan Reina dan juga Lucas.
Tanpa basa-basi, Reina dengan cepat bertanya.
"Apakah kau memiliki seorang budak laki-laki dengan tubuh yang sedikit lemah tapi cerdas, serta bernama Dimas? Ia mungkin juga mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal." Tanya Reina.
Mendengar pertanyaan itu, sang pedagang terlihat berpikir sejenak sebelum menjawab.
"Hmm.... Aku tak menghafal semua nama mereka. tapi untuk laki-laki yang lemah dan cerdas ada di sekitar sini. Salah satu dari mereka juga sering mengocehkan hal aneh seperti hukuman Dewi atau semacamnya." Jawab Pedagang gemuk itu sambil memainkan kumisnya.
Ekspresi wajah Reina pun berubah drastis. Senyuman yang lebar segera terlihat di wajahnya. Sedangkan kedua matanya mulai terbuka lebar dengan sikap yang penuh dengan semangat.
"Benarkah?! Biarkan aku melihatnya!" Ucap Reina. Jantungnya berdegup kencang. Mungkin saja pada akhirnya mereka akan menemukannya.
"Nampaknya kita sudah dekat, Reina." Balas Lucas sambil tersenyum tipis.
Reina tak menjawab. Ia hanya menganggukkan kepalanya secepat mungkin. Sedangkan pedagang itu....
"Ikut denganku. Akan kuperlihatkan dia."
Mereka berjalan mengikuti pedagang itu secara perlahan. Menuju ke sudut tenda dimana beberapa budak terlihat terkurung dalam sebuah kurungan besi.
Mereka semua memiliki tubuh yang kurus dan badan yang seakan memiliki banyak luka.
Harapan Reina kini telah berada di puncaknya. Akhirnya Ia akan bisa menemukan sosok yang selalu di carinya selama ini.
'Sudah kuduga Dimas pasti masih hidup. Tunggu sebentar, aku akan membebaskanmu....' Pikir Reina dalam hatinya.
Akan tetapi, harapan yang terlalu tinggi terkadang membuat rasa sakit yang dirasakan ketika jatuh semakin tinggi juga.
"Itu dia. Jujur saja saat ini dia seperti orang gila." Ucap Pedagang itu sambil menunjuk ke seorang laki-laki dengan tubuh kurus dan rambut hitam yang telah panjang karena tak terurus itu.
"Dewi! Kenapa kau menelantarkan ku! Ah! Kalian semua! Aku melihat kebaikan dalam diri kalian! Segera lepaskan aku atau Dewi akan menjatuhi hukuman pada kalian! Aaaahhh! Dewi! Kenapa?!" Teriak Pria itu sambil terus menggaruk-garuk kepalanya.
Reina yang melihat pemandangan itu pun hanya bisa menggigit bibirnya dan membalik badannya. Harapannya telah hancur.
Ia mulai takut untuk berpikir bahwa Dimas mungkin telah tiada di dunia ini.
Tapi sesaat sebelum Reina pergi....
"Aku tak tahu apakah ini membantu, tapi salah seorang pedagang terlihat tertarik dengan kriteria yang mirip denganmu. Mungkin dia telah membelinya di sini atau di toko lainnya." Ucap Pedagang itu.
Kedua mata Reina pun kembali terbuka lebar. Sedangkan Lucas sendiri hanya bisa melihat Reina dengan tatapan yang seakan merasa iba padanya.
"Katakan! Siapa dia? Dimana dia berada? Aku ingin mencoba menanyakannya!" Ucap Reina dengan memohon kepada pedagang itu.
"Ini tidak gratis, gadis kecil. Beri aku 10 koin emas atau aku takkan mengataka...."
'Kleetaakk!'
Puluhan koin emas segera dilempar oleh Reina ke arahnya. Dimana semuanya berjatuhan di tanah.
"Ambil saja semua itu, tapi cepat katakan padaku!" Ucap Reina.
Pedagang itu hanya bisa tersenyum setelah memperoleh keuntungan yang besar walaupun hanya dengan menjual informasi yang seharusnya gratis itu.
Ia mulai memunguti koin emas itu satu demi satu sambil membungkukkan badannya. Bersamaan dengan itu, Ia pun mulai berbicara.
"Leo. Dia adalah salah satu pedagang dengan mata yang paling tajam yang pernah ku temui. Jika orang yang kau cari memang secerdas itu, dia mungkin telah membelinya barusan atau mungkin sejak lama." Jelas pedagang itu.
"Dimana dia berada?!" Tanya Reina.
"Aku tak tahu pasti, tapi dia menjual ramuan di alun-alun di bagian Selatan kota. Mungkin kah bisa menanyakan bawahannya secara langsung. Tenang saja, di alun-alun itu hanya dia seorang yang menjualnya."
Reina dengan cepat berlari ke arah tempat yang disebutkan itu. Membawa mungkin adalah harapan terakhirnya.
Sedangkan Lucas sendiri, hanya bisa merasa kasihan terhadap Reina yang menjadi seperti setengah gila itu.