
"Leo, coba minum ini." Ucap Narla sambil membawa semangkuk air di kedua lengannya.
Ia meminumkannya kepada Leo yang berdiri di sampingnya itu. Dan Leo segera meneguknya tanpa keraguan sedikitpun.
Setelah beberapa saat....
"Eh?"
Beberapa bagian tubuhnya yang sakit mulai sembuh dengan sangat cepat. Bahkan luka bakar yang seakan permanen di sebagian besar tubuhnya itu segera menghilang.
Cahaya biru yang indah juga muncul di sekujur tubuhnya. Membalut tubuh Leo dengan lembut.
"Apa ini? Aku merasa.... Begitu segar?" Tanya Leo penasaran.
"Air dari Pohon Mana. Meskipun sungai yang mengalir telah lama mengering, aku masih bisa menemukan sedikit air ini. Ku harap bisa sedikit meredakan luka di tubuhmu." Jelas Narla sambil tersenyum.
Mendengar penjelasan itu, Leo kemudian bertanya atas apa yang sebenarnya terjadi dengan air Mana di benua Elf ini.
"Apa yang terjadi sehingga sungai ini mengering?"
Dengan wajah yang terlihat begitu sedih dan juga marah pada saat yang bersamaan, Narla pun membalasnya.
"Aku mendengarnya dari salah satu korban yang sekarat. Pada saat itu, Valkazar menggunakan hampir seluruh Air Mana di wilayah Silverhide untuk menggunakan sihir penghancur tingkat tinggi.
Sama sekali tak diketahui kemana sihir itu diarahkan. Tapi bekas dari sihir itu sama seperti yang bisa kita lihat." Jelas Narla sambil menunjuk ke sebuah kawah yang sangat panjang dan dalam itu.
Kawah yang memiliki penampilan yang serupa dengan apa yang dilihat Leo di dekat pelabuhan Crystalcourt.
"Jadi begitu? Jika kita mengikuti kawah ini, mungkin kita bisa bertemu dengan Valkazar?"
"Mungkin saja. Di wilayah Silverhide, terdapat seorang utusan Pohon Mana, yang ku yakin sangat sulit untuk dikalahkan. Bahkan oleh Valkazar sekalipun."
Setelah menyelesaikan percakapan singkat itu, Leo dan juga Narla kembali melanjutkan perjalanan panjang mereka. Untuk segera pergi ke tempat dimana Valkazar mungkin berada.
......***......
...- Silverhide -...
Di wilayah Danau Suci, tepat di dekat Pohon Mana itu sendiri....
Seorang gadis dengan rambut pirang yang indah nampak tergeletak tak berdaya. Dengan tubuh yang dipenuhi darah, dan beberapa bagian tubuh yang telah menghilang.
Di sekitarnya, air Mana suci yang ada telah lama mengering. Hanya menyisakan pohon tua yang tak lagi memiliki daun itu.
"Utusan Mana atau apa, kau bahkan tak bisa menyentuh ku. Menggelikan sekali. Sekarang katakan, dimana lokasi pohon Mana yang sebenarnya." Ucap Valkazar sambil mengangkat tubuh gadis itu dengan cengkeraman tangan yang kuat di lehernya.
"Kuhghaakk! Kuggghh!"
Gadis itu nampak batuk darah. Kedua tangannya telah lama hilang. Sedangkan kaki kanannya juga telah terpotong. Meski kehilangan begitu banyak darah, Ia masih mampu bertahan hidup dengan baik.
Semuanya karena berkah yang diberikan oleh pohon Mana kepada dirinya. Meskipun....
"Aku tahu kau abadi. Tapi bukan berarti tahan terhadap rasa sakit. Jika kau tak cepat mengatakannya, aku mungkin akan membuatmu merasakan sedikit dari neraka." Ucap Valkazar dengan tatapan yang sangat tajam.
"Juuuhh!!"
Balasan yang diberikan oleh gadis itu hanya satu. Yaitu meludahi Valkazar tepat di wajahnya.
"Begitu kah. Baiklah. Damos." Ucap Valkazar dengan cukup keras.
Dengan segera, seorang Archdemon muncul di belakangnya. Ia memiliki wujud seperti seorang Iblis yang sebenarnya.
Sepasang tanduk berwarna merah, sayap yang besar, tubuh yang sedikit bersisik, serta kulit merah gelap. Dengan tubuh yang setinggi sekitar 2 meter itu, Ia segera berlutut di hadapan Tuannya.
"Yang Mulia, apa yang bisa ku bantu?" Tanya Damos dengan sangat sopan.
"Dengan segera. Tapi.... Apakah yang ada di sini bukan merupakan Pohon Mana?" Tanya Damos sambil mengangkat tubuh Elf yang tak lagi berdaya itu.
"Seharusnya ini adalah pohon Mana. Tapi pada kenyataannya ini adalah pohon yang palsu. Atau lebih tepatnya, adalah sebagian kecil dari yang sebenarnya."
Mendengar percakapan kedua Iblis itu, wanita Elf yang hanya bisa terus terdiam itu berpikir.
'Bagaimana mungkin....Seorang Iblis.... Mengetahui sebanyak itu? Bahkan seluruh ras Elf sekalipun tak ada yang mengetahui kebenarannya. Bagaimana bisa?'
Di saat Valkazar baru saja akan pergi, salah satu petinggi Iblis lainnya segera muncul di hadapannya.
Ia memiliki wujud seperti seorang wanita yang begitu anggun. Wanita itu memiliki rambut keunguan yang indah, dengan 3 buah ular besar yang seakan muncul dari bagian belakang tubuhnya. Ular itu memiliki warna ungu dan selalu mengelilingi dirinya.
"Hisss! Yang Mulia. Kabar buruk. Aku telah memastikan kematian Thorax. Termasuk kematian seluruh pasukan Iblis di sana! Hisss! Ucap wanita itu sambil berdesis seperti seekor ular. Tentu saja dengan lidah panjang yang terbelah dua dan selalu menjulur keluar setiap beberapa saat Ia berbicara.
Mendengar kabar yang cukup buruk itu, Valkazar mulai menyipitkan matanya. Ia sama sekali tak bisa percaya bahwa Thorax benar-benar bisa dikalahkan.
"Mengesampingkan kebodohannya, tubuhnya setidaknya lebih kuat dariku. Bagaimana mungkin dia bisa mati? Dan bagaimana bisa pasukan ku kalah begitu saja?" Tanya Valkazar dengan tatapan yang sangat tajam. Seakan menusuk tepat ke jiwa lawan bicaranya.
Damos, yang baru saja hampir pergi, mini terlihat kembali berlutut untuk menunggu perintah dari Tuannya.
"Hiss! Sebuah ledakan besar membakarnya hingga hangus. Termasuk seluruh pasukan yang ada. Hisss!" Jelas wanita ular itu.
"Ledakan.... Besar? Verthis. Kau paham apa yang ku katakan kan? Ledakan sihir beberapa waktu yang lalu itu bahkan takkan menggores tubuhku. Apalagi tubuh Thorax." Balas Valkazar yang kini mulai kesal dan mulai marah.
"Hisss! Aku hanya menyampaikan apa yang ku lihat. Hisss! Dan kenyataannya, Thorax mati dengan tubuh yang hangus terbakar. Hisss!"
Valkazar segera memutar kepalanya. Berpikir atas penjelasan yang mungkin bisa terjadi.
Mengingat bahwa Elf di Crystalcourt sedikit terbuka kepada dunia, ada kemungkinan besar bahwa mereka memiliki pengetahuan akan sihir yang lebih luas.
Jika digabungkan dengan jumlah Mana mereka yang sangat besar, mungkin saja.
"Seratus.... Tidak. Mungkin dua ratus penyihir Elf memang bisa membakar habis Thorax. Tapi kenapa dia tak melawan? Sedangkan untuk pasukan lainnya...."
Sesaat sebelum Valkazar menyelesaikan pemikirannya, Verthis memberikan sesuatu yang berada di dalam perut salah satu ularnya.
"Yang mulia, di daerah pertempuran aku menemukan banyak benda seperti ini. Hisss!" Ucap Verthis sambil menyerahkan apa yang tersisa dari senjata sihir pasukan Leo.
Sebuah tongkat kayu yang telah hangus terbakar, serta laras besi yang telah hancur sebagian. Benda itu hampir tak bisa dikenali, kecuali adanya pelatuk aneh dan juga pisau di ujung senjata itu.
"Tombak yang aneh. Tunggu. Ini seperti senjata manusia yang ku lihat di Eastfort 6 tahun yang lalu. Apakah kau bilang, manusia datang ke sana?" Tanya Valkazar penasaran.
"Hiss! Mungkin saja."
Merasa kesal bahwa manusia juga ikut ambil bagian dalam peperangan di tanah Elf ini, Valkazar nampak tersenyum tipis sambil segera memerintahkan.
"Jika ada yang bisa membersihkan pasukan iblisku dan juga Thorax. Peluang besarnya dia adalah pahlawan manusia. Dan jika 100.000 tak cukup, kirim 200.000 kesana. Termasuk dirimu." Tegas Valkazar.
"Hiss! 200.000 itu hampir seluruh pasukan kita di tanah Elf ini. Hisss! Apakah Yang Mulia yakin?"
"Tentu saja. Aku dan Damos masih perlu melakukan sesuatu di sini, jadi takkan ada masalah. Sedangkan untuk para Succubus itu, mereka masih bekerja keras di wilayah utama kita."
"Hiss! Jika memang itu perintah yang Mulia, aku tak bisa menolaknya. Aku akan segera berangkat. Hisss!"
Dengan segera, Verthis segera menghilang. Meninggalkan Valkazar dan Damos di sini.
Sedangkan Elf yang hanya bisa mendengarkan semua percakapan mereka itu....
'Ini buruk.... Jika ini terus berlanjut.... Ku mohon. Siapapun.... Tolong selamatkan kami.'
Ia menyadari. Bahwa akhir dari bangsa Elf sudah dekat. Dan satu-satunya hal yang bisa dilakukannya saat ini, hanyalah dengan berdoa.