E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 129 - Perkembangan



"Dengan seluruh saksi yang ada, maka kami merestui pernikahan Alexander Leonardo dengan Selene dan juga Reina. Dimana keduanya akan masuk dalam keluarga Rustellia." Ucap seorang pendeta dari Gereja Bintang itu.


Ia nampak memberkati Leo dan kedua istri barunya dengan sebuah pedang putih yang tipis dan indah.


Sorakan dan tepuk tangan yang meriah dari para saksi dapat didengar hingga menggema di seluruh gereja ini.


Memberikan seluruh berkat dan doa mereka untuk pasangan baru Duke di wilayah Rustfell. Seseorang, yang telah mengemban tugas untuk mensejahterakan wilayah ini.


......***......


"Hah, sialan. Aku lelah sekali dengan semua ini." Keluh Leo setelah tiba kembali di kantornya itu. Setelah melepas pakaian pengantinnya, Ia mengganti dengan pakaian biasa dan kembali bekerja.


Seperti biasa, Ia selalu mengurus banyak dokumen yang ada. Tapi kali ini....


"Hmm?"


Leo melihat sebuah surat yang diletakkan di sisi mejanya. Sebuah segel biru dari kerajaan nampak menghiasi surat itu.


Setelah membukanya, apa yang ada di dalamnya adalah sebuah pesan dari Feris itu sendiri.


..."Ku dengar kau akan menikah. Sebelumnya aku ucapkan selamat. Tapi cukup basa basinya, aku ingin kau segera membantuku dalam membuat persenjataan untuk umat manusia....


...Senjata senapan sihir itu benar-benar luarbiasa. Jika manusia memilikinya, mungkin beberapa tahun kedepan kita bisa setara dengan kekuatan militer iblis. Aku mohon kerjasamanya."...


Feris memang merupakan orang yang selalu langsung berbicara pada intinya. Tapi tetap saja....


"Merepotkan sekali. Ku rasa aku akan meminta Roselia mencari beberapa penyihir yang berbakat untuk membantuku menulis Rune."


Setelah meletakkan surat itu di sisi samping mejanya, Leo segera kembali bekerja seperti biasa.


Dan keseharian umat manusia pun, tak mengalami banyak peristiwa yang signifikan.


......***......


...- Wilayah Iblis -...


Di dalam sebuah istana yang sedang dibangun ulang ini, Valkazar terlihat sedang duduk sambil memperhatikan peta dengan tangan kanannya.


Sementara itu, seorang petinggi Iblis dari bangsa minotaur nampak berjalan dan berlutut padanya.


"Tuan Valkazar, persiapan untuk menyerang negeri Dwarf sudah dapat dilakukan kapan saja. Perintah Anda." Ucap Iblis itu sambil terus menatap tanah.


Dengan tatapan ringan yang terkesan dingin, Valkazar segera membalasnya.


"Batalkan." Balas Valkazar singkat.


Mendengar jawaban itu, tentu saja Ia terkejut. Bagaimana tidak? Sebelumnya Valkazar memerintahkan pasukan mereka untuk bersiap menyerang bangsa Dwarf setelah memasuki musim panas. Tapi ini?


"Siap laksanakan. Tapi kenapa, Tuan Valkazar?" Tanya Minotaur itu.


"Algoth sedang bergerak di wilayah Dwarf. Sekuat apapun diriku, menandingi salah satu ancaman kuno saat ini adalah hal yang bodoh." Balas Valkazar.


"Algoth sang naga penghancur?! Bukankah dia seharusnya tertidur di pegunungan Utara?!" Tanya Minotaur itu.


Valkazar segera mengangguk sambil memberikan arahan lainnya.


"Sementara ini, lupakan Dwarf. Kita akan fokus meningkatkan ketahanan pangan tahun ini. Buka lahan selebar mungkin. Pekerjakan petani sebanyak mungkin. Kau bisa melakukannya kan?" Tanya Valkazar dengan tatapan yang tajam.


"Tentu saja, Tuan."


Setelah memberikan hormat, Minotaur itu pun berdiri dan pergi meninggalkan istana ini. Sedangkan Valkazar hanya bisa kesal dengan situasi yang kelam ini.


Ia sama sekali tak menyangka bahwa rencananya harus terhalang oleh Algoth. Satu-satunya naga kuno yang tersisa di dunia ini, yang dikisahkan memiliki kekuatan seperti dewa.


Meskipun Algoth memiliki sikap yang damai dan tak pernah mencampuri urusan ras lainnya, tapi lain halnya jika makhluk ras lain itu mencampuri urusannya.


"Haruskah aku memburunya? Mungkin dua tahun lagi? Hmm...."


Tentu saja dirinya sangat yakin bahwa Ia akan menang. Hanya saja....


"Apakah kehancuran seluruh dunia sepadan dengan kematian naga itu? Ku rasa aku lebih memilih menguasai dunia ini sambil menjaganya tetap bisa ditinggali."


Dengan pemikiran itu, kini Valkazar mengalihkan pandangannya ke arah benua Elf.


Sebuah benua yang diberkati oleh pohon suci Mana yang membuat semua makhluk hidup yang tinggal di sekitarnya memperoleh keabadian.


"Elf.... Kurasa jika menggunakan pohon suci, aku bisa membunuh Algoth sekali serang."


Ketika bangsa Elf masih hidup dengan tenang, mereka tak menyadari bahwa Valkazar, atau bangsa Iblis sedang mengincar mereka.


......***......


"Kau yakin dengan itu?" Tanya Roselia setelah mendengar permintaan dari Leo.


Kini, tangan kirinya telah diganti oleh sebuah batang besi dengan dua buah jari besi. Pergerakannya sangat sederhana, tapi setidaknya bisa sedikit membantu kehidupannya sehari-hari.


"Begitu lah. Aku pernah mendengar bahwa perdamaian adalah persiapan untuk sebuah perang. Aku sama sekali tak percaya pada Iblis itu bahwa mereka akan berdamai." Balas Leo.


Roselia nampak diam memikirkannya sejenak, lalu kembali melihat ke arah wajah Leo yang begitu kelelahan itu.


"Katakan, apa kau yakin bisa menanganinya? Bukankah kau sudah terlalu banyak memikul tanggungjawab?" Tanya Roselia.


"Aku akan berusaha melakukannya."


Mendengar jawaban dari Leo, Roselia sendiri merasa sangat tidak yakin. Dan akhirnya Ia mengajukan dirinya sendiri.


"Lupakan saja. Jelaskan padaku bagaimana cara membuatnya. Aku sendiri yang akan mengajari penyihir baru tentang ini." Ucap Roselia sambil meneguk teh hangatnya.


"Kau serius?" Tanya Leo.


"Duarius. Lagipula, kau sudah bekerja cukup banyak akhir-akhir ini. Nikmati lah hidup selagi kau mampu. Dan juga, bukankah kau baru saja menikah? Luangkan waktumu untuk mereka berdua." Jelas Roselia dengan sikap yang begitu hangat.


Leo tak pernah menyangka bahwa dirinya akan memiliki kenalan sebaik ini. Jika itu adalah dirinya yang dulu, apakah mereka akan bersikap sama?


Tidak.


Itu tidak penting.


Saat ini yang terpenting hanya satu hal.


"Roselia, terimakasih banyak. Jika kau membutuhkan sesuatu, katakan saja." Ucap Leo sambil menundukkan kepalanya.


"Tenang saja. Bukan berarti aku melakukan ini untuk memperoleh sesuatu. Tapi kau tahu kan? Setidaknya aku ingin melakukan sesuatu untuk membantumu."


Suasana hangat nampak menyelimuti mereka berdua. Bahkan Leo tak lagi mampu untuk menjawab. Ia tak tahu kata apa yang harus digunakannya untuk mengekspresikan rasa terimakasihnya ini.


Pada saat itu....


'Brakkk!'


"Penyembuh terhebat di kota telah tiba! Dimana pasienku! Eh, Leo? Lama tak jumpa. Apa yang kau lakukan di sini?" Tanya Artemis tetap dengan nada cerianya yang khas.


"Artemis? Kau sendiri kenapa berada di sini?" Tanya Leo kebingungan.


"Aku yang memanggilnya. Aku meminta tolong padanya untuk melakukan sedikit percobaan kecil dengan tangan kiri ku ini." Balas Roselia yang segera berdiri dari kursinya.


"Aah.... Jadi begitu. Kalau begitu apakah aku mengganggu?" Tanya Leo.


"Tidak sama sekali. Kau bisa ikut jika kau mau."


Mereka bertiga pun pergi ke ruang sebelah untuk melakukan percobaan operasi pada tangan kiri Roselia.


Dan Leo, untuk pertama kalinya, bisa mulai meluangkan waktu untuk menikmati hidup di dunia ini. Semua atas kerja kerasnya sendiri mempertahankan kota ini ketika berada dalam krisis di musim dingin.