E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 68 - Sisi Lain



"Hah.... Hah.... Hah...."


Leo terlihat begitu ketakutan segera setelah melihat hal itu. Sesuatu yang seharusnya tak bisa dilihatnya, tapi entah bagaimana Ia bisa melihatnya.


Dan sosok yang ada di atas tumpukan mayat yang setinggi gunung serta lautan darah itu....


'Raja Iblis Valkazar.... Apakah itu dia? Tapi penampilannya itu....'


Leo tak lagi bisa berpikir jernih saat ini. Satu-satunya hal terbaik yang bisa dilakukannya adalah untuk mengatur nafasnya dan mengendalikan ketakutan dalam dirinya.


Ia tak ingin membuat orang lain khawatir. Itulah mengapa Leo dengan cepat menyembunyikan sosoknya yang seperti ini.


Lagipula, mengatakan bahwa dirinya baru saja melihat sosok yang entah benar atau salah sebagai raja iblis itu hanya akan menimbulkan kepanikan yang besar.


'Aku tak tahu apa yang baru saja terjadi. Tapi kurasa.... Untuk saat ini, lebih baik aku tak memberitahu yang lain.'


Setelah pernafasannya mulai stabil, begitu pula dengan detak jantungnya, Leo akhirnya mulai memikirkan kembali kejadian ini dengan kepala yang dingin.


Sementara itu....


...- Eastfort -...


Di tengah sebuah ruangan dengan meja yang cukup besar dan panjang, puluhan orang dengan berbagai jenis pakaian tampak menghadiri pertemuan ini.


Mulai dari pedagang, guild master, komandan prajurit, bahkan hingga bangsawan.


Seluruh perhatian mereka tertuju ke arah seorang wanita berkacamata dengan rambut hitam keunguan itu. Ia tak lain adalah Feris, salah satu dari 8 pahlawan yang diketahui di dunia ini.


"Berdasarkan laporan dari regu ekspedisi yang dipimpin oleh ketiga pahlawan lain yaitu Alex, Brian dan juga Amelia, peperangan besar sedang terjadi di wilayah kekuasaan Raja Iblis.


Mengenai alasan dari peperangan itu sendiri masih belum diketahui. Tapi satu hal yang jelas, pasukan yang selama ini kita lawan hanyalah sebagian kecil dari kekuatan mereka.


Oleh karena itu, aku meminta kepada kalian semua untuk memberikan sebanyak mungkin sumberdaya material dan manusia untuk meningkatkan kekuatan militer kerajaan ini. Kemudian unt...."


...'BZZTTTTT!!!'...


Dalam sesaat, Feris merasakan rasa sakit kepala yang sangat tajam. Pandangannya kabur dengan ratusan gambar yang seakan dijadikan satu di saat yang bersamaan. Begitu juga dengan suara teriakan yang begitu keras.


Secara refleks, tangan kirinya segera memegangi kepalanya. Berusaha untuk meredakan sakit itu dengan sihir penyembuh tingkat ringan. Sedangkan tatapan matanya sendiri terlihat menjadi tajam.


Tubuhnya yang dalam sesaat dipenuhi dengan sensasi yang penuh oleh emosi negatif dan juga kebencian itu mulai menjadi lemas. Bahkan Feris sampai bertekuk lutut di tanah hanya dengan melihat hal itu.


Melihat kejadian itu, semua orang yang ada di dalam ruangan ini segera berdiri. Berusaha untuk memberikan pertolongan kepada Feris.


"Nona Feris?!"


"Apa yang terjadi?!"


"Heal...."


Tapi Feris segera mengangkat tangan kanannya. Mengisyaratkan kepada semua orang untuk tetap tenang, dan bahwa dirinya baik-baik saja.


Cahaya kehijauan yang muncul dari tangan kirinya itu menyelimuti sebagian kepalanya dengan lembut. Memudarkan rasa sakit yang dirasakannya pada saat ini.


'Pemandangan macam apa itu? Dan siapa dia? Lalu.... Kenapa dia melihat ke arahku? Tidak, apakah dia benar-benar berbicara kepadaku, atau....'


Pikiran Feris saat ini campur aduk. Tapi Ia segera menahannya dan melanjutkan rapat ini untuk membahas mengenai peningkatan jumlah pasukan dengan menyebarkan berbagai doktrin nasionalisme yang kuat. Termasuk juga pendidikan dasar untuk menanamkan kebencian terhadap Iblis sekuat mungkin.


"Hah.... Maafkan aku. Sekarang, untuk langkah berikutnya...."


Sesaat sebelum Feris melanjutkan perkataannya itu, salah seorang bangsawan yang memiliki pengaruh kuat dalam mendukung Feris itu segera memotong perkataannya.


"Nona Feris, beristirahatlah. Kami sudah paham apa yang Anda inginkan. Bukankah begitu?" Tanya bangsawan itu sambil memberikan tatapan yang mengintimidasi kepada semua orang di ruangan ini.


"Te-tentu saja kami sudah paham."


"A-aku rasa bisa dibilang...."


Sambil menatap ke arah mereka yang terlihat ragu-ragu, bangsawan itu pun bertanya sekali lagi.


"Aku tanya, kalian semua sudah paham bukan? Aku berbicara kepada kalian, pedagang-pedagang yang rakus atas kekayaan. Jika kalian bisa menahan hasrat duniawi itu sesaat, manusia akan berada dalam kondisi yang lebih baik dari ini. Kalian mengerti?!"


"Baiklah.... Kalau begitu, ku rasa rapat ini sudah cukup sampai di sini. Kalian semua bisa bubar." Ucap Feris dengan penampilan yang saat ini terlihat begitu dipaksakan.


Kakinya gemetar, nafasnya tak beraturan, sedangkan keringat dingin terus menerus mengucur di seluruh tubuhnya.


Ia pun duduk kembali di kursinya dan meletakkan kepalanya di meja itu.


'Perasaan apa ini.... Entah kenapa.... Aku merasakan sesuatu yang sangat buruk dengan tatapan itu.... Manusia? Tapi tumpukan mayat itu.... Bukankah mereka semua Iblis? Dan sebuah tanduk di kening bagian kirinya....'


Feris berusaha untuk merangkai semua yang baru saja dilihatnya. Ia sama sekali tak memahami alasan atas kemunculan pandangan dan suara teriakan itu pada dirinya.


Tapi satu hal yang dapat dipastikan olehnya.


Yaitu pandangan itu terlihat begitu nyata, seakan dirinya berada tepat di sana. Jadi tak mungkin bahwa itu hanyalah halusinasi.


Di saat semua orang mulai membubarkan diri, Feris melirik ke arah bangsawan yang baru saja mendukungnya tadi.


"Duke Theodore, bisakah kau kemari sebentar?" Pinta Feris dengan suara yang lemas serta wajah yang pucat.


"Tentu saja, Nona Feris. Adakah yang bisa ku bantu? Seluruh rakyatku di Provinsi Eastfort ini selalu mendukung Anda." Ucap bangsawan tingkat Duke atau Adipati itu dengan begitu sopan sambil membungkukkan badannya.


"Apakah.... Kau melihat sesuatu barusan?" Tanya Feris.


"Sesuatu? Apa yang Anda maksud?" Tanya Theodore kebingungan.


Ia sama sekali tak memahami atas apa yang dimaksud oleh Feris dengan 'melihat' sesuatu itu. Tapi tanpa mengurangi sedikitpun rasa hormat, Ia menanyakannya kembali dengan sopan.


"Pemandangan di langit malam, di bawah bulan sabit.... Lautan darah dan tumpukan mayat yang setinggi gunung.... Serta teriakan ribuan jiwa yang begitu menderita.... Kau tak melihatnya?" Tanya Feris hanya dengan milirik ke arah Theodore.


Setelah memikirkan dan mengingatnya sejenak, Duke Theodore itu sampai pada satu kesimpulan.


"Maafkan aku, Nona Feris. Tapi aku benar-benar tak melihat apapun. Tapi.... Pemandangan itu.... Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah itu berhubungan dengan sikap Anda sebelumnya?" Tanya Theodore kembali.


Feris yang masih sedikit lemas itu hanya mampu melirik ke arah wajah Pria berambut kebiruan itu dengan setelan zirah yang juga memiliki corak biru.


"Begitu kah? Kalau begitu.... Tolong minta seseorang untuk memanggil Alicia kemari. Ada sesuatu yang ingin ku pastikan." Ucap Feris.


"Dengan segera, Nona Feris."


Duke Theodore yang sedari tadi membungkukkan badannya dengan tangan kanan yang menyilang di dadanya segera bangkit dan berjalan ke arah pintu keluar.


Sikapnya yang begitu sopan barusan seketika berubah drastis menjadi sosok yang keras dan tegas sama seperti sebelumnya.


"Perintah dari Nona Feris! Temukan Nona Alicia dan katakan bahwa Nona Feris memanggilnya di sini! Aku juga akan ikut mencarinya!" Teriak Theodore kepada beberapa prajurit yang berjaga di sekitar bangunan di dalam benteng Eastfort ini.


"Siap, laksanakan!"


Beberapa saat berlalu dalam keheningan, sedangkan Feris saat ini merasakan hal yang paling dibencinya. Yaitu sebuah perasaan ketidakberdayaan.


Di saat Ia masih merenungkan atas apa yang baru saja dilihatnya....


"Feris, kau memanggilku? Ada apa?" Tanya Alicia yang telah datang ke ruangan ini. Wajahnya terlihat begitu kebingungan dengan sikap Feris yang tak biasa itu.


"Kau.... Apakah kau melihat sesuatu barusan? Seperti tumpukan mayat dan teriakan yang keras?" Tanya Feris yang masih lemas itu.


Tapi ekspresi dari wajah Alicia hanya dapat digambarkan dengan satu kata. Yaitu kebingungan.


"Hmm? Aku tak melihat atau mendengar apapun. Lagipula, apa yang kau maksud dengan itu?" Tanya Alicia kembali.


"Begitu kah...."


Saat ini, Feris tersadar. Mungkin penglihatan itu tidak terbatas pada pahlawan saja. Itu karena Alicia yang juga merupakan seorang pahlawan dari Dewi Cyrese seperti dirinya juga tak melihat pemandangan itu.


Lalu.... Sebenarnya apa yang baru saja dilihatnya? Dan kenapa dia melihatnya?


Saat ini, untuk mencegah kepanikan massal atas perkataannya yang tak berdasar itu, Feris memutuskan untuk memecahkan misteri itu sendirian.


Tanpa Ia sadari, Leo juga melihat pemandangan yang sama persis. Begitu juga sebaliknya.