E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 99 - Pengorbanan



"Tuan Leo, apa maksudmu dengan itu?" Tanya Selene kebingungan.


Leo sedikit merenung sebelum menjawab pertanyaan dari Selene itu. Setelah beberapa saat....


"Sulit menjelaskannya. Ikut saja denganku." Balas Leo sambil segera berjalan ke arah sebuah meja. Di atas meja itu, terdapat sebuah alat penjepit besi yang biasanya digunakan oleh Leo untuk membuat senjata sihirnya. Tapi kali ini....


Leo meletakkan tangan kirinya ke dalam penjepit besi itu, lalu menguncinya secara perlahan. Membuat lengan kirinya sama sekali tak bisa bergerak.


"Tuan! Apa yang kau lakukan?"


Leo sama sekali tak menjawab pertanyaan itu. Akan tetapi, Ia mengambil sebuah tongkat Mithril kecil dengan ujung yang kecil. Ukurannya setara dengan sebuah pena.


"Aku ingin kau memperhatikannya dengan baik. Jika kau merasa ini terlalu berat untukmu, kau boleh menolaknya." Ucap Leo.


Setelah beberapa saat, Leo terlihat mengarahkan tongkat Mithril itu ke lengan kirinya. Dengan aliran Mana yang stabil dan konstan, Leo secara perlahan menuliskan Rune itu sendiri di lengannya.


"Kugghh...."


Meskipun berusaha menahannya, rasa sakit yang dirasakan oleh Leo cukup luarbiasa. Mungkin seperti ketika di tato ketika di dunianya yang sebelumnya. Hanya saja, sensasi tercabik-cabik dan terbakar terasa di sekujur lengan kirinya.


Semua itu adalah akibat menanamkan Rune di dalam dirinya sendiri.


Di sisi lain, Roselia yang melihatnya dari kejauhan masih tetap bersembunyi di balik selimut tebalnya.


"Leo, apa yang kau lakukan?" Tanya Roselia.


Tapi tak ada jawaban.


Leo masih terlalu fokus untuk memikirkan mengenai hal lain.


'Cesss....'


Darah terlihat mulai mengalir dari lengan kirinya. Meski begitu, darah itu dengan cepat mulai menguap karena panas yang ditimbulkan oleh proses pemasangan Rune itu.


Hingga akhirnya, setelah beberapa saat....


"Selesai." Balas Leo yang secara perlahan melepaskan penjepit besi itu dari lengan kirinya.


Kini, di bagian pergelangan tangan kirinya, terdapat 4 buah huruf Rune dengan warna biru menyala yang indah. Keempat huruf itu membentuk setengah lingkaran, hanya memenuhi bagian atas lengan kirinya saja.


Setelah beberapa saat, Selene mulai menanyakan apa yang sebenarnya terjadi.


"Tuan, apa yang kau lakukan barusan? Menanamkan Rune pada dirimu sendiri? Apa yang kau pikirkan?!" Tanya Selene dengan nada yang terlihat begitu khawatir.


"Ini adalah setengah dari Rune yang dibutuhkan untuk membuat Mana Link bekerja. Aku perlu membuat setengahnya lagi di bagian bawah tangan kiriku." Balas Leo.


Seketika, Selene mulai menyadari apa yang dimaksud oleh Leo selama ini.


Dengan kata lain....


"Jadi, Tuan Leo akan membuat Rune yang sama pada tubuhku?"


"Tidak. Aku yang masih pemula dalam sihir belum bisa menemukan cara untuk menghubungkan 2 Mana secara 2 arah. Hal terbaik yang ku ketahui saat ini hanyalah untuk menghubungkan secara 1 arah.


Dengan kata lain, aku akan menjadi penerimanya, sedangkan kau sendiri akan menjadi donornya. Dan untuk Rune nya sendiri akan jauh lebih besar." Jelas Leo dengan cukup panjang lebar.


Kali ini, Roselia yang sebelumnya hanya bersembunyi di balik selimutnya mulai berjalan keluar dengan tubuh yang masih dibalut oleh beberapa lapisan selimut itu.


Ia terlihat sedang memperhatikan apa yang dilakukan oleh Leo dan juga Selene di pojok ruangan itu.


Setelah memahami keseluruhan ceritanya, Roselia segera berkomentar.


"Kau tahu, apa yang baru saja kau lakukan menyalahi kode etik penyihir di kerajaan manusia. Melakukan modifikasi tubuh dengan sihir adalah hal terlarang." Jelas Roselia.


Mendengar hal itu, Leo hanya menatap tajam ke arah wanita berambut hitam yang pendek itu.


"Lalu, kau akan melaporkannya?" Tanya Leo.


Dengan senyuman yang lebar, Roselia menjawab.


"Tidak.... Aku juga tak peduli dengan aturan dari para penyihir tua itu. Terlebih lagi, aku penasaran dengan hasilnya hehehe...."


Leo pun menghembuskan nafas dengan lega. Mengetahui bahwa rahasianya nampaknya akan aman. Ia juga baru tersadar mengenai keberadaan kode etik itu sendiri karena Roselia memang tak pernah membahasnya sebelumnya.


"Jangan hiraukan aku! Lanjutkan saja, yang penting jangan sampai ketahuan para penyihir tua itu." Lanjut Roselia sambil kembali ke tempat persembunyiannya di balik selimut.


Setelah itu, Leo menatap ke arah Selene seakan menanti jawaban darinya. Dan akhirnya....


"Aku akan melakukannya. Apapun untuk membantu Tuan Leo. Akan tetapi.... Bisakah aku menanyakan sesuatu?" Tanya Selene.


"Apa itu?" Balas Leo singkat.


Selene terlihat mendekatkan bibir tipisnya yang berwarna merah muda itu ke arah telinga Leo. Segera setelah itu, Ia membisikkan sesuatu.


"Bisakah Tuan Leo berkata jujur padaku, atas siapa diri Tuan sebenarnya?"


Kedua mata Leo sedikit melebar setelah mendengar pertanyaan itu. Ia sedikit tak menyangka bahwa Selene akan benar-benar menanyakannya.


Tapi Ia sendiri juga sadar. Semua kebohongan yang dibuatnya hingga hari ini, pasti akan berbalik arah dan melawannya. Ini adalah salah satunya.


Mengetahui bahwa Leo tak lagi bisa menghindar, atau lebih tepatnya perlu untuk menghadapi dan meluruskan masalah ini, Leo pun menjawab dengan anggukan sederhana.


"Kalau begitu aku setuju." Balas Selene singkat.


Mereka berdua pun akhirnya berjalan ke arah salah satu ruangan Roselia di tempat ini. Atau lebih tepatnya di gudang berbagai peralatan sihir.


"Roselia, aku pinjam ruangan ini sebentar." Ucap Leo singkat sambil segera berjalan memasukinya.


"Silakan...." Balas Roselia dengan wajah yang terlihat mengantuk sambil menghadap ke arah sebuah sihir penghangat.


Setibanya di dalam, Leo segera menyalakan cahaya dengan batu Mana yang ada dan menutup pintunya.


"Jadi, apa yang perlu ku lakukan, Tuan?" Tanya Selene.


"Tentu saja." Balas Selene singkat.


Leo kemudian meminta Selene untuk melepaskan pakaian atasnya. Ia menjelaskan bahwa Leo perlu membuat Rune di punggung Selene karena Ia adalah donornya.


Tapi sebelum itu, Leo membuat 4 huruf yang tersisa di lengan kirinya dengan bantuan Selene. Membuat pergelangan tangan kirinya kini seakan memiliki tato yang memancarkan cahaya biru yang lembut.


'Srruugg'


"Tuan.... Kau takkan melakukan apapun kan?" Tanya Selene sesaat sebelum menanggalkan pakaian bagian atasnya itu.


"Percaya lah padaku. Aku bukan orang yang seperti itu." Balas Leo singkat dengan wajah yang serius.


Setelah semuanya siap, Leo segera memulai proses pembuatan Rune ini.


Apa yang digambarkan di punggung putih Selene adalah sebuah segienam dengan 6 buah huruf Rune di setiap sisinya. Dari setiap sudut segi tersebut, terdapat garis yang menghubungkan ke sebuah lingkaran kecil di bagian tengah dengan sebuah huruf Rune di dalamnya.


Proses pembuatannya ini sendiri sedikit lebih lama dari perkiraan, karena Leo bekerja sambil menceritakan seluruh masa lalunya, dan bagaimana Ia bisa tiba hingga saat ini.


Kali ini, tanpa ada sedikitpun kebohongan.


Hanya saja, ada suatu hal yang sedikit di luar dugaan Leo.


Dengan punggung yang kini terlihat mulai dibanjiri dengan darah, Selene sedikit menolehkan kepalanya ke arah Leo sambil tersenyum tipis.


"Aku sudah menduga, bahwa Tuan Leo adalah orang yang hebat. Tapi tak ku sangka.... Pahlawan yang sesungguhnya ya? Bahkan Nona Reina juga?" Tanya Selene dengan wajah yang terlihat sekuat tenaga berusaha menahan rasa sakit itu.


"Begitulah. Sama seperti 8 pahlawan yang ada di dunia ini." Balas Leo singkat.


"Dengan kata lain, Tuan Leo juga akan menyelamatkan dunia ini bukan?"


Pertanyaan dari Selene itu, kini sedikit menusuk di hatinya.


Apa yang dilakukannya selama ini hanyalah untuk bertahan hidup dan juga menjaga kehidupan damainya. Akan tetapi....


Apakah cukup dengan itu saja?


Apakah Ia akan benar-benar mengabaikan tugasnya sebagai seorang pahlawan?


Lagipula, apakah Ia memang bisa mempertahankan kedamaian itu sendiri?


Semua hal itu terlintas di dalam pikiran Leo. Sedangkan di hadapannya sendiri, terlihat punggung yang telah dipenuhi dengan darah.


Pada saat itu Ia kembali bertanya pada dirinya sendiri.


Untuk apa pengorbanan yang dilakukan oleh Reina saat ini?


Apakah hanya untuk dirinya sendiri? Untuk melindungi kelompoknya? Bagaimana dengan dunia ini?


Tidak, apakah gadis yang ada di hadapannya ini memang harus terluka untuk memenuhi mimpi konyolnya itu?


Dan pada saat itu lah, Leo secara tak sadar melakukan hal yang tak semestinya dilakukannya.


Perasaannya yang kuat untuk melindungi sesuatu, dan pada saat ini, melindungi sosok gadis yang rela terluka untuk dirinya sendiri, kini terwujud pada tangan kirinya.


Rune yang ada di pergelangan tangannya mulai menyala dengan terang.


Energi sihirnya mulai terserap dengan cepat dan kuat, bahkan Ia merasa akan segera kehabisan energi sihirnya pada saat itu juga.


Untungnya, Mana Link yang dibuatnya telah terhubung dan kini Leo secara tak sadar mulai menarik Mana milik Selene.


"Tuan Leo?" Tanya Selene penasaran karena sedari tadi Leo hanya terdiam.


Sedangkan Leo sendiri....


'Apa yang telah ku lakukan?!' Teriak Leo sambil dengan cepat menarik tangan kirinya dari punggung Selene. Menjauhkannya secepat mungkin.


Seketika, Selene terlihat mulai kehilangan kesadarannya. Tubuhnya mulai lemas. Dan Leo sendiri bisa merasa bahwa badan gadis itu mulai panas.


'Bruk!'


Tanpa ada daya, Selene segera terjatuh ke lantai.


"Selene! Bertahanlah!"


Leo dengan cepat segera berdiri dan berlari keluar ruangan untuk meminta bantuan.


"Roselia! Tolong!" Teriak Leo.


"Ada apa, aku masih malas. Bisakah kau melakukannya sendiri?"


"Aku.... Secara tak sadar.... Intinya cepatlah kemari, Selene tak sadarkan diri!"


Roselia yang mendengar itu dengan cepat berdiri. Seakan semua rasa malasnya selama ini hanyalah sebuah alasan untuk beristirahat.


Ia dengan cepat berlari sambil mengenakan sarung tangan sihirnya.


"Apa yang terjadi?" Tanya Roselia singkat sambil segera memeriksa tubuh Selene yang tergeletak seakan tak bernyawa itu.


"Aku.... Tak sengaja melakukan Enchanting padanya...." Balas Leo sambil terus menatap tanah. Tak sedikitpun berani melihat ke arah Roselia ataupun Selene.


"Sihir penguat milikmu itu ya? Bukankah kau bilang hanya bisa pada benda?" Tanya Roselia kembali sambil mulai menggunakan berbagai sihir yang terlihat rumit itu untuk memeriksa kondisi Selene.


Tapi Leo hanya terdiam. Tak mampu untuk menjawab.


Mungkin....


Ini adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.


Hanya karena Ia melamunkan hal yang tidak perlu untuk dibingungkan selama satu tahun lebih di dunia ini.