
"Berapa harganya?" Tanya Leo singkat sambil jongkok di hadapan kurungan itu. Membalas tatapan tajam dari Halfling itu juga dengan tatapan yang sama.
"Hmm.... Jika kau benar-benar akan membelinya, aku akan melepaskannya seharga 5 koin Platinum." Ucap Pedagang itu.
Mendengar hal itu, Leo tentu saja cukup terkejut. Sebuah harga yang sangat tinggi, tapi masih bukanlah harga yang tak mampu ditanggung olehnya.
Oleh karena itu, Ia masih tetap menatap wanita berambut putih salju itu dihadapannya.
"Tiga atau tidak sama sekali." Balas Leo singkat.
"Uuggh.... Tuan, tiga itu terlalu rendah. Anda sendiri melihat keindahannya kan? Banyak bangsawan yang akan menawarnya lebih tinggi dari itu...." Ucap Pedagang itu sambil menggosok-gosokkan kedua tangannya. Ia terlihat memasang wajah yang sedikit khawatir.
Tapi jawaban Leo cukup sederhana.
"Banyak bangsawan yang akan menawarnya? Bukankah kau bilang dia tak laku selama 2 bulan ini?"
Menyadari kesalahannya sendiri, Pedagang itu pun mulai mengeluarkan kartu andalannya.
"Kumohon Tuan! A-aku bisa menjamin bahwa dia masih bersih! Tak ada seorang pun yang telah menyentuhnya! Itulah mengapa aku memasang harga itu! Anda paham bukan?!" Ucap Pedagang itu sambil terus berusaha merayu.
"Hah.... Nampaknya kau salah sangka. Aku sudah bilang bukan? Tiga atau tidak sama sekali. Jika aku tak bisa membelinya seharga 3 koin platinum, maka aku akan segera pergi dari sini." Ucap Leo yang sama sekali tak melepaskan pandangannya dari Half Elf itu.
Kali ini, tatapan tajam dari Half Elf itu mulai memudar dan berubah. Berubah menjadi sebuah tatapan yang terlihat lega.
"Kalau begitu lupakan saja, aku takkan melepaskannya untuk tiga koin platinum." Balas Pedagang itu sambil membenahi kumisnya.
Tanpa ragu, Leo segera berdiri dan membalikkan badannya untuk melihat-lihat budak yang lain.
Tapi sebelum itu....
"Ah, benar juga. Kau bilang akan ada banyak bangsawan yang tertarik padanya bukan? Apa yang mereka cari darinya? Dia terlihat sangat berbahaya dan bisa membunuhku kapan saja." Ucap Leo.
"Tentu saja kecantikannya, apalagi? Mengenai itu, sebenarnya mereka bisa melatihnya. Tapi biayanya cukup mahal dan kemungkinan akan merusak barangnya." Jawab Pedagang itu sambil menarik sebuah kursi kayu lalu duduk.
"Melatih? Rusak? Apa maksudmu?"
Tanpa menjawab, Pedagang itu hanya menunjuk ke arah luar tenda. Diluar, terlihat sosok seorang budak yang diikat pada sebuah tiang kayu lalu dicambuk berkali-kali tanpa henti.
Leo pun dengan segera memahami apa yang dimaksudnya.
"Aah, kalau seperti itu tentu saja barangnya akan rusak."
"Tidak, itu hanyalah hukuman singkat saja. Apa yang ku maksud latihan adalah melakukan hal semacam itu setidaknya selama 100 hari atau hingga barangnya mulai mau bekerjasama. Kemudian untuk...."
Leo mendengarkan semuanya dengan baik karena itu adalah pengetahuan yang sulit untuk didapatkan meskipun tidak terlalu berguna baginya.
Bahkan, Leo menambahkan bumbu-bumbu palsu mengenai temannya yang juga merupakan seorang pedagang. Dimana Ia mengoleksi banyak budak dan hanya menyiksanya sambil terus menjaga mereka untuk tetap hidup selama mungkin.
Leo mengatakan bahwa rekannya bahkan punya seorang budak yang masih bertahan selama hampir 8 tahun, dimana selama itu Ia selalu memperoleh perlakuan yang kejam.
Tentu saja semua cerita itu hanyalah sebuah kebohongan belaka.
Tapi pedagang yang ada di hadapannya saat ini terlihat percaya. Itu karena Leo memasang wajah yang meyakinkan dan merangkai ceritanya dengan baik.
Tak hanya pedagang itu....
Half Elf bernama Selene itu juga terlihat merasa ngeri setelah mendengar cerita dari Leo. Tubuhnya mulai kedinginan, bahkan gemetar tanpa bisa berhenti. Sedangkan pikirannya sendiri hanya bisa membayangkan hal terburuk yang mungkin akan terjadi.
Terlebih lagi....
"Dia pasti akan suka dengan half Elf itu. Setelah aku menemukan beberapa budak yang cocok, aku akan memanggilnya kemari."
'Klaaaangg!!!'
Suara tubrukan antar besi yang cukup kuat terdengar memenuhi tenda besar ini. Asal dari suara itu tak lain adalah dari kurungan besi Selene.
Tapi apa daya, kedua tangannya terkekang oleh plat besi yang menguncinya. Mencegahnya membuat gerakan yang rumit atau mengeluarkan kekuatannya. Begitu pula dengan kakinya yang dirantai.
Ekspresi wajahnya sendiri terlihat penuh dengan rasa takut, dimana kedua matanya terbuka lebar.
Melihat hal itu, Leo hanya diam. Bahkan sedikit tersenyum. Sedangkan pedagang budak itu segera berdiri dan berjalan ke arah Selene.
"Hmm? Aku tak ingat mengizinkanmu untuk berbicara. Tapi beruntung lah bagimu karena aku tak ada niat untuk melukaimu. Berterimakasih lah pada tubuhmu itu. Jika tidak...."
"Tolong! Tuan! Jangan panggil dia kemari! A-aku mohon!" Teriak Selene mengabaikan perkataan pemiliknya.
Tentu saja ekspresi yang dibuatnya seperti itu setelah mendengar cerita yang begitu realistis dari Leo. Tapi ini saja masih belum cukup.
"Kenapa? Aku hanya membantu kawanku untuk memperoleh barang kesukaannya." Balas Leo yang segera bersiap untuk melangkah pergi meninggalkan tenda ini.
Sementara itu, sang pemilik tempat ini hanya bisa terus menekan Selene agar tenang dan duduk diam di dalam.
"Diamlah kau! Jangan halangi aku untuk menghasilkan uang!"
Tapi Selene masih terus merengek mencoba memanggil Leo yang telah semakin menjauh. Bayangan kehidupan barunya telah tergambar dengan jelas di dalam kepalanya.
Sebuah kehidupan bahwa Ia akan disiksa untuk selamanya, dan dipertahankan untuk tetap hidup demi memenuhi tugasnya itu.
Alasan kenapa sebagian besar budak dari 'teman' Leo itu mati adalah karena usia dan tubuh mereka yang lemah sebagai seorang manusia.
Tapi sebagai seorang Half Elf, yang memiliki sedikit berkah dari pohon suci, tubuhnya setidaknya 2 hingga 3 kali lipat lebih kuat dari manusia. Dan juga memiliki umur yang setidaknya 5 kali lebih panjang.
Dengan itu, bisa dipastikan bahwa dirinya akan berada dalam neraka selama pemiliknya tetap hidup.
Sebagai langkah terakhir bagi Selene untuk menyelamatkan dirinya sendiri....
"Kumohon.... Jangan lakukan itu.... Beli saja aku! Kumohon!"
Bersamaan dengan teriakan itu, senyuman yang cukup lebar terbentuk di wajah Leo.
Sesaat sebelum membalikkan badannya, Leo menghapus senyuman itu dan kembali dalam wajah datarnya.
"Kenapa aku harus membuang uangku untukmu? Aku sangat yakin barusan kau sangat ingin membunuhku." Ucap Leo sambil berjalan mendekat.
"A-aku...."
Tanpa Leo sangka, pedagang budak itu memasang senyuman tipis setelah memahami apa maksud dari Leo. Setelah itu, Ia melangkah mundur secara perlahan, memberikan waktu dan tempat sepenuhnya kepada Leo.
"Membelimu sama halnya dengan membayar untuk bunuh diri." Setelah mengatakan hal itu, Leo segera membalikkan badannya kembali. Kali ini dengan niat yang terlihat takkan kembali lagi.
Jujur saja, semua hingga saat ini hanyalah taruhan belaka. Jika tak berhasil, Leo berencana untuk tetap membelinya dan melatihnya sendiri. Tapi menyadarkannya tentang betapa kejamnya dunia pada saat ini, juga tidak masalah.
Dan sesuai dengan harapannya....
Leo memenangkan taruhan itu.
"A-aku.... Aku berjanji akan menurut. Ta-tapi... tolong, jangan lakukan hal yang kejam padaku. Kau berjanji?" Ucap Selene dengan tatapan yang seakan menjadikan Leo sebagai satu-satunya harapan terakhir.
Ia meletakkan semua harapannya kepada Leo. Setidaknya sebagai seseorang yang mungkin takkan melakukan hal yang buruk padanya jika Ia menurut.
Pada saat itulah, Leo telah memenangkan semua taruhan ini.
Leo membalikkan badannya, lalu meraih 5 koin platinum dari tasnya dan segera memberikannya kepada sang pedagang.
"Aku berjanji. Jadi sebaiknya kau menepati janjimu, atau aku akan segera mengirimmu ke neraka." Balas Leo sambil menatap mata Selene dengan tajam.
Sementara itu, sang pedagang hanya tertawa ringan setelah paham atas semua yang dilakukan oleh Leo selama ini.
"Kukuku.... Terimakasih atas pembeliannya, Tuan. Aku akan segera mempersiapkan barangnya jadi tunggu sebentar."