
Sudah satu hari semenjak kejadian tak terduga itu.
Tapi pikiran semua orang masih belum bisa menerima kenyataan ini. Terutama dua pemikir terbaik yang dimiliki oleh manusia di garis terdepan.
"Kenapa kau bersumpah seperti itu di hadapan sihir Oath?" Tanya Leo dengan kantung mata yang sangat tebal.
Feris yang berada tepat di hadapannya dalam ruangan kecil ini, nampak menyingkirkan kertas yang ada di atas mejanya. Ia juga nampak meletakkan penanya sebelum membalas.
Sama seperti Leo, dengan tatapan mata yang memiliki kantung mata yang tebal, Feris pun membalas.
"Itu hanyalah nyawaku. Jika sudah waktunya tiba, bahkan jika aku harus mati sekalipun, kita akan melewati perbatasan ini.
Tapi yang paling penting adalah sebuah kenyataan bahwa Iblis, dan Valkazar takkan menginjakkan kakinya ke wilayah manusia sekali lagi. Setidaknya, selama aku masih hidup." Jelas Feris dengan rinci.
Baik Leo maupun Feris kini sudah sepaham. Dalam kontrak yang disebutkan oleh Valkazar, terdapat banyak sekali celah yang bisa dilewati.
Di satu sisi, pengorbanan nyawa Feris mungkin tak seberapa mengingat kekuatannya sebagai seorang pahlawan tidak begitu tinggi.
Sedangkan di sisi lain, Valkazar hanya menyebutkan Iblis. Atau dengan kata lain, Ia bisa saja mengirim ras lain untuk menyerang wilayah manusia.
Tapi semua itu sama sekali tidak penting.
Apa yang paling penting saat ini....
Adalah untuk mengembalikan kejayaan Kerajaan umat manusia. Kembali kepada zaman keemasannya dahulu kala ketika menguasai dua benua sekaligus.
Dan untuk itulah, kini Feris dan juga Leo meletakkan seluruh perbedaan cara pandang mereka, dan menyatukannya dalam sebuah meja kerja yang tak terlalu besar ini.
Termasuk juga, memberitahukan seluruh rahasia dan pengetahuan mereka. Semuanya atas nama umat manusia.
"Aku sudah menduganya, tapi tak ku sangka kau benar-benar orang yang dikirim Cyrese. Bahkan Reina itu juga?" Balas Feris singkat tetap dengan sikap yang sibuk bekerja dengan berkas yang ada di hadapannya.
"Aku juga baru tahu mengenai pedang itu. Bukankah sebaiknya kau menyingkirkannya?" Tanya Leo yang juga sedang sibuk bekerja di hadapan Feris.
"Tidak. Aku harus menjaga pedang ini. Sebagai usaha terakhir, aku akan membuka seluruh kekuatannya dan meminta Alicia untuk menggunakannya. Tapi sebelum itu, aku ingin kau memperkuatnya."
"Sekarang? Asal kau tahu saat ini aku...."
"Aku tahu. Kau masih belum cukup kuat untuk memberikan Enchantment tingkat S bukan? Katakan saja apa yang kau butuhkan, aku akan mengurusnya."
Beberapa jam berlalu sejak pembicaraan terakhir mereka. Hingga akhirnya, Feris nampak mulai sedikit kehilangan kesadaran dirinya karena dikuasai rasa kantuk.
"Sialan, aku masih belum menyelesaikannya. Leo, apakah kau bisa membantuku?" Tanya Feris.
"Maaf saja tapi aku juga sudah sampai batas."
Feris nampak merenung terdiam selama beberapa saat sebelum membalas perkataan Leo.
Tanpa sedikitpun ekspresi di wajahnya selain rasa kantuk, Ia tiba-tiba berbicara.
"Kau tahu? Biasanya aku melempar sebagian pekerjaan ini kepada Elias karena dia sering menganggur."
Leo hanya diam.
Ia tahu bahwa apa yang baru saja terjadi kemarin sangatlah buruk.
Tak hanya sebuah kenyataan dimana sekitar 1.000 prajurit kehilangan nyawanya dalam kejadian itu, tapi juga salah seorang pahlawan. Bahkan bisa dikatakan, salah satu yang memiliki peranan paling penting di pertarungan akhir nantinya.
Begitu pula dengan dua orang Duke. Achibald dari wilayah Rustfell, dan juga Theodore dari wilayah Eastfort.
Kejadian ini adalah pukulan yang sangat telak bagi umat manusia, bahkan jika hanya menghitung apa yang terjadi di wilayah Eastfort saja.
Di wilayah Maelfall, perang saudara antara kubu bangsawan dan kubu rakyat mulai terjadi. Begitu pula di wilayah Mulderberg dimana bangsawan mulai dilengserkan oleh serikat dagang.
Dan untuk mengurus semua itu lah, Leo dan juga Feris harus bekerja lembur selama dua hari ini. Tanpa sedikit pun waktu untuk melakukan hal seperti upacara pemakaman atau semacamnya.
Dimana jasad dari Elias, Achibald, dan juga Theodore hanya dimakamkan secara sederhana di sisi Selatan benteng Eastfort. Sedangkan sisa 1.000 prajurit yang ada dimakamkan secara masal.
Tak ada waktu untuk itu.
Tapi mengingat perkataan dari Valkazar, keduanya sepakat bahwa tak ada lagi Iblis yang bersembunyi di wilayah manusia.
Yang tersisa hanyalah bekas dari seluruh tindakan mereka saja.
"Leo...." Ucap Feris dengan suara yang lemas.
"Apa? Katakan dengan jelas." Balas Leo yang merasa bahwa suara Feris terlalu pelan. Meski begitu, Ia tetap melanjutkan pekerjaannya.
"Bisakah kau membantuku sedikit lebih banyak lagi?" Tanya Feris singkat.
Seketika, tangan Leo berhenti untuk bekerja. Ia hanya diam untuk menunggu perkataan selanjutnya dari Feris.
"Katakan saja." Balas Leo.
"Jadi lah Duke dari wilayah Rustfell. Lakukan sesukamu, tapi bantu aku untuk mengembangkan kerajaan ini secepat mungkin." Jelas Feris dengan tubuh yang sempoyongan itu.
Tawaran itu tentu saja terdengar begitu luarbiasa. Tapi Leo tahu, bahwa apa yang ada di hadapannya hanyalah sebuah kesibukan yang semakin menumpuk.
Jika saja....
Jika saja....
Ia tak pernah mengenali sosok Selene dan juga seluruh pengorbanannya.
Jika saja....
Dunia tak sebaik ini kepadanya.
Mungkin Leo akan segera menolaknya dan mengatakan bahwa dirinya hanya ingin hidup dengan tenang di dunia ini. Menikmati sisa masa hidup tambahannya yang diberikan oleh Dewi Cyrese.
Bersama dengan kekuatan yang dimilikinya, Ia mungkin akan mengumpulkan kekayaan dan juga hidup dengan penuh kesenangan. Tanpa memperdulikan nasib orang lain sedikitpun.
Mungkin, Ia juga akan membalas semua yang tak pernah dirasakannya di dunia nyata.
Kekuatan, kekayaan, wanita. Apapun itu, Ia bisa mendapatkannya dengan mudah di dunia ini dengan kekuatannya. Termasuk juga hidup tenang hingga perang besar tiba.
Tapi Ia bukanlah orang yang sama seperti dirinya yang dulu. Itulah kenapa Ia membuang seluruh identitasnya yang dulu.
Bukan lagi karena itu mengingatkan dirinya atas kelemahan dan trauma yang pernah terjadi padanya.
Lebih buruk lagi....
Identitas itu mengingatkan dirinya atas keegoisan dan juga ketidakpeduliannya kepada orang lain. Salah satu sikap terburuk yang bisa dimilikinya setelah mendapat kesempatan kedua di dunia ini.
Oleh karena itu....
"Aku mau saja melakukannya. Tapi untuk itu aku butuh...."
Sesaat sebelum Leo menyelesaikan perkataannya, jari telunjuk Feris telah berada tepat di depan bibir Leo.
Dengan tatapan mata yang mulai menghitam itu, Feris menyela perkataannya.
"Tenang saja. Aku juga akan mendukungmu sekuat tenaga. Apa yang perlu kau lakukan hanyalah mengatakannya saja padaku. Aku akan segera menyiapkannya."
Segera setelah mengatakan kalimat itu, kepala Feris pun terjatuh di atas meja. Tanpa adanya sedikitpun kekuatan untuk menahannya.
Ia telah tertidur dengan lelap karena terlalu kelelahan atas semua yang baru saja terjadi. Dan juga.... atas semua yang akan terjadi.
Leo segera berdiri dari kursinya, lalu menyelimuti tubuh Feris yang tertidur di meja itu sebelum pergi meninggalkan ruang kerja ini.
"Maaf, aku telah salah menilaimu. Pada kenyataannya, bukankah kau orang yang selalu memikul semuanya?" Ucap Leo sambil menatap ke arah seorang wanita yang tertidur tak berdaya di mejanya.
Dan secara perlahan....
Ia pun menutup pintu ruangan itu.
Sebuah langkah sederhana, yang menandai berakhirnya era kegelapan di kerajaan manusia ini. Setidaknya untuk sesaat, manusia bisa kembali lagi untuk melihat cahaya harapan yang telah lama menghilang.
"Beristirahat lah, Feris."
......***......
...- Arc 2 : Nobility -...
...- Ended -...
..._________________________________...
...Arc kedua dari novel ini akhirnya telah selesai. ...
...Inti dari Arc kedua ini mengisahkan mengenai geopolitik dan kebangsawanan di kerajaan umat manusia. Dan juga bagaimana sistem kompleks seperti itu bisa runtuh dengan mudahnya. ...
...Bagi pembaca yang masih bertahan sampai bab ini, saya ucapkan terimakasih. Terimakasih banyak atas dukungan kalian. Jujur saya kagum kalian masih bisa lanjut baca cerita yang "MCnya ga OP, bodoh, lemah, ga berani sama wanita, dewinya ga guna, MC ga pernah di buff dan lain sebagainya. ...
...Heran, kok kalian masih bisa bertahan dengan cerita yang sama sekali tidak mengikuti trend seperti ini. Meski begitu, saya salut sama kalian. Terimakasih atas dukungannya. ...
......Sedikit dari Author, saya sebenarnya sedikit kebingungan. Apa yang saya tuliskan dalam cerita ini bukanlah kisah mengenai seorang MC yang ke dunia lain, mendapat kekuatan OP, kumpulkan cewek kayak pokemoon, trus bantai semua musuhnya kayak ga ada harga diri. ......
...Tapi cerita ini sendiri mengisahkan mengenai dunia Egalathia dan semua yang ada di dalamnya. Jadi bakal terdapat perubahan sudut pandang setiap beberapa saat. ...
...Seluruh dunia cerita yang saya buat bukanlah dunia yang terpaku pada MC. Melainkan MC yang berada di sebuah dunia yang dinamis, dimana setiap tindakan tokoh yang ada, akan mempengaruhi hal yang akan terjadi berikutnya. ...
...Atau mungkin.... Dunia yang dinamis justru jelek bagi pembaca? ...
...Entahlah, saya mendapat cukup banyak kebencian soal ini. Mungkin jika kebencian yang saya peroleh terus bertambah, mungkin saya akan mulai menulis novel sampah saja. ...
...Sebuah novel dimana saya ga butuh mikir dan merancang sebuah dunia, sistem politik, kondisi geografis, budaya, sejarah, dan lain sebagainya. ...
...Sebuah novel, dimana dunia hanya bergerak di sekitar MC saja. Tipikal novel Sistem dan juga Fantasi Timur gtu. ...
...Dimana MC selalu jadi yang terkuat dan tak terkalahkan lalu dapat kekuatan ga logis untuk lawan musuh yang sama sekali ga ada latar belakangnya dengan seluruh tokoh yang terkejut dan kagum sama kehebatan MCnya. ...