E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 25 - Danau Aegis



Setelah memikirkannya sesaat, Dimas memilih untuk berjalan ke arah kiri. Apapun yang terjadi, Ia akan terus menyusuri sungai itu.


'Sreeett!'


Dimas menyarungkan pedangnya kembali. Meskipun kini, pedang itu telah patah dan hanya tersisa setengahnya saja.


Langkah demi langkah terus Ia tempuh.


Berbeda dengan apa yang terjadi ketika berada pada pegunungan, salju yang ada di sekitar hutan dan sungai ini tak terlalu lebat. Bahkan bisa dikatakan cukup tenang.


Pandangan pun menjadi jauh lebih jelas jika dibandingkan dengan sebelumnya.


Pemandangan sungai yang membeku terlihat begitu indah di mata Dimas. Sesekali, Ia melihat banyak ikan yang ikut membeku di dalamnya.


Meski sangat ingin memakannya karena kelaparan, Dimas memilih untuk tidak melakukannya.


"Aku lebih baik memakan tulang daripada ikan yang mentah dan amis itu."


Itulah alasannya untuk tak berusaha mengambil ikan di balik es yang tebal itu. Meskipun, rasa laparnya saat ini masih bisa ditahan dengan baik.


Pada kehidupannya sebelumnya yaitu ketika di bumi, Dimas pernah merasakan rasa lapar yang tak kalah buruknya. Setidaknya 3 hari Ia sama sekali tak makan apapun karena uangnya baru saja dirampas oleh para penagih hutang.


"Hahaha.... Jika diingat-ingat kembali, kehidupanku sudah busuk sejak dahulu kala ya?" Ucap Dimas pada dirinya sendiri.


Beberapa jam telah berlalu. Akan tetapi Dimas masih belum menemukan tanda-tanda peradaban.


Meski begitu, Ia sama sekali tak merasa patah semangat. Itu karena sungai yang diikuti olehnya saat ini selalu ada di sebelahnya.


Jika dilihat dari datarannya, kemungkinan Dimas menjauhi pegunungan dan itu adalah hal yang bagus.


Rasa lelah di kedua kakinya tertutupi oleh hawa dingin yang cukup menusuk ini. Dimas menepis semua pemikirannya untuk beristirahat hingga menemukan tempat yang layak.


Atau setidaknya, sebuah Desa.


Tepat setelah 3 jam berjalan kaki....


"Hahaha.... Aku memperoleh jackpot." Ucap Dimas sambil tersenyum puas.


Bagaimana tidak, di kejauhan, Ia melihat sebuah danau yang cukup besar. Bahkan dapat dikatakan sangat besar.


Dan pada beberapa sisi danau tersebut, terlihat pemukiman penduduk yang cukup padat. Belum sebesar ukuran kota, tapi jauh lebih besar daripada ukuran sebuah desa.


Danau Aegis.


Itulah nama danau yang memiliki ukuran yang sangat besar ini.


4 buah kota kecil berdiri di samping danau tersebut pada tiap sisinya, dan semuanya terhubung dengan sangat baik.


Tapi sama seperti sungai yang mengalir ke arahnya, danau itu juga terlihat membeku. Meskipun, mungkin hanya sebagian lapisan atasnya saja.


Dengan langkah yang mantap, Dimas segera menuju ke arah Kota kecil tersebut.


'Tap! Tap! Tap!'


Sebuah dinding kayu dengan tinggi mencapai 8 meter lebih itu berdiri dengan kokoh. Melindungi seluruh pemukiman warga dari bahaya apapun.


Sedangkan bagian belakang dari kota itu terlindungi secara alami oleh keberadaan danau Aegis itu sendiri.


Di kejauhan, terlihat sebuah menara yang cukup tinggi di pusat kota. Dimas sendiri saat ini belum tahu bangunan apa itu, tapi Ia bisa memanfaatkannya untuk menentukan lokasi di tengah kota yang padat.


'Sreett!'


Di saat Dimas mendekati arah gerbang itu, dua orang penjaga menghalanginya dengan tombak.


"Tunggu. Siapa kau? Apa maumu kemari?"


Dimas tak menjawabnya. Melainkan memperhatikan wilayah sekitarnya selama beberapa saat.


'Hanya ada 6 penjaga.... Aku bisa meledakkan mereka dengan sisa belerang yang kumiliki tapi, itu adalah ide terburuk yang ada. Sekarang....'


Memutuskan untuk bersikap damai, Dimas membuka mulutnya untuk mengatakan namanya.


Tapi lidahnya terhenti sesaat ketika ingin mengucapkannya.


Untuk membuang masa lalu yang buruk itu, Dimas berusaha untuk melupakan namanya sendiri. Berusaha untuk menjadi orang yang baru, yang sama sekali tak terikat oleh kenangan buruknya.


Hanya dalam 3 detik....


"Tharde. Seorang pengelana." Ucap Dimas yang meraih sesuatu di balik kantungnya.


Dengan cepat, kedua tangannya memberikan sesuatu kepada kedua penjaga gerbang itu.


Apa yang diberikannya tak lain dan tak bukan adalah beberapa butir emas yang tersisa selama penambangan itu..


"Ooohh.... Tharde ya. Baiklah, kau boleh masuk."


"Yaa, kau benar. Kurasa kau boleh masuk. Selama kau menjaga sikapmu, kami takkan memiliki masalah denganmu."


Senyuman yang tipis terlihat di wajah Dimas, mengetahui betapa mudahnya melakukan penyuapan di jaman ini.


"Terimakasih banyak, aku akan menjaga sikapku."


......***......


Hal pertama yang terpikirkan olehnya adalah memperoleh tempat tinggal. Untuk itu, Ia membutuhkan uang. Dan untuk memperoleh uang....


'Hmm.... Kurasa aku bisa menjual helm ini. Lagipula aku tak terlalu nyaman menggunakannya.' Pikir Dimas dalam hatinya sambil melepas helm besi di kepalanya itu.


Ia pun mencari sebuah toko senjata atau semacamnya untuk menjual perlengkapannya.


Tapi di balik salju yang tebal dan dingin ini....


Hampir tak ada orang yang berjalan diluar rumah mereka. Mungkin hanya segelintir orang yang memang sedang memiliki suatu keperluan penting.


Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan ketika Ia bertemu dengan seseorang, Dimas pun tanpa ragu segera bertanya.


"Permisi, dimanakah aku bisa menjual beberapa perlengkapan ku ini?" Tanya Dimas sambil menunjukkan helm besinya.


Pria berjenggot tebal itu segera berhenti dan memperhatikan sosok pemuda yang ada di hadapannya.


"Menjual perlengkapan? Saat ini banyak toko besi yang tutup, tapi kau bisa mencobanya di toko Hendrik. Pak tua itu masih buka meskipun kondisi seperti ini. Untuk lokasinya...."


Pria berjenggot itu pun segera menunjukkan arahnya kepada Dimas. Tak ada sedikitpun detail yang dilewatkannya. Dan setelah urusan mereka selesai....


"Terimakasih banyak atas bantuannya."


Dengan kalimat itu, Dimas pun segera berpisah dan pergi ke toko yang baru saja di sebutkan nya.


Tapi sebelum itu....


'Enchant.' Ucap Dimas dalam hatinya sambil meletakkan kedua tangannya pada helm besi itu.


Ia berpikir untuk meningkatkan ketahanan atau semacamnya pada helm ini sebelum dijual. Mungkin saja, nilainya akan meningkat dan memberikan uang yang lebih banyak.


'Mana ku hanya tersisa sepertiga, jadi kurasa hanya ini batasnya hari ini.'


Cahaya merah mulai menyelimuti kedua tangan Dimas. Begitu pula dengan lingkaran sihir kecil berwarna merah di atas tangannya.


Semua cahaya merah itu terserap ke dalam helm besi yang dipegangnya.


Secara fisik, tak terlihat adanya perubahan apapun pada helm itu. Tapi ketika Dimas mencoba melihatnya dengan kekuatan Clairvoyance miliknya....


...[Helm Besi]...


...Daya Tahan : 25...


...- Enchantment -...


...Peningkatan ketahanan - D Rank...


...Meningkatkan ketahanan sebesar 30 poin untuk barang yang memperoleh Enchantment...


'Cukup bagus, dengan kata lain helm ini 2 kali lipat lebih bagus daripada aslinya bukan? Semoga saja aku bisa menghasilkan 2 kali lipat uang dengan ini.'


Setelah siap, Dimas segera memasuki toko itu.


'Kliiingg!'


Bunyi lonceng terdengar ketika Dimas membuka pintu toko besi itu.


Di baliknya, adalah sebuah toko yang cukup rapi. Dindingnya dipenuhi dengan berbagai jenis senjata yang dipajang. Sedangkan pada beberapa sudut ruangan terlihat zirah yang dikenakan pada manekin kayu.


Tak berselang lama, pemilik yang bernama Hendrik itu pun muncul. Ia memang tua sama seperti yang dikatakan pejalan kaki sebelumnya.


Dengan jenggot putih yang cukup panjang, serta tubuh yang besar dan tinggi, Pria tua itu jelas memberikan aura intimidasi yang cukup kuat.


"Ya? Ada apa?"


"Aku ingin menjual ini." Ucap Dimas sambil meletakkan helmnya.


"Hmm? Helm bekas pakai ya? Aku tak tahu apakah aku mau membelinya atau tidak, tapi ku yakin kualitasnya takkan sebaik helm baru." Ucap Pria tua itu.


Meski berkata seperti itu, Hendrik masih menyempatkan dirinya untuk memeriksa barang dagangan itu.


Ia mengambil sebuah kacamata berlensa tumpuk yang unik. Menggunakan benda itu, Ia memperhatikan helm milik Dimas dengan seksama.


Tapi beberapa saat kemudian....


"Ini.... Apa-apaan ini?! Bagaimana bisa kau memiliki benda sebagus ini?!" Teriak Hendrik dengan wajah yang kini telah berubah drastis.


Ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.


Dimas di sisi lain terlihat tersenyum puas dengan wajah yang tenang. Akan tetapi, tak ada satu orang pun yang akan menyadarinya.


Bahwa jauh di lubuk hatinya....


'Hah?! Kau bercanda kan?! Itu hanya peningkatan tingkat D bukan?! Kenapa reaksinya seperti itu?!'


Dimas sendiri cukup terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya.