
"Fuuuh.... Nampaknya berhasil?" Tanya Leo pada dirinya sendiri sambil memperhatikan pedang suci itu dengan kemampuan Clairvoyance miliknya.
...[Objek : Pedang]
...
...[Pedang Suci - Pelahap Jiwa]
...
...[Rating : S+]
...
...Durabilitas : 29.042 / 29.745
...
...- Atribut -
...
...Physical Damage : + 2682
...
...Magical Damage : + 820
...
...Defense : + 318
...
...- Efek Khusus -
...
...Pelahap Jiwa : Setiap kali menebas musuh, tubuh pengguna akan diperkuat selama beberapa saat. Semakin banyak tebasan, kekuatan yang diperoleh akan semakin besar.
...
...Regenerasi Mistis : Tubuh pengguna pedang akan memperoleh peningkatan regenerasi dalam jumlah yang besar.
...
...- Enchantment -
...
...Peningkatan Pertahanan - B+ Rank
...
...Efek : Meningkatkan Physical Defense pengguna pedang ini sebesar 850 poin dan Magical Defense pengguna sebesar 500 poin. Peningkatan daya tahan pedang sebesar 200 poin.
...
Melihat semua informasi itu di hadapannya, Leo dengan segera membuat senyuman yang cukup lebar. Menandakan betapa puasnya Ia dengan hasil ini.
"Hah.... Jadi begitu kah? Yang ku butuhkan hanyalah meningkatkan jumlah Mana yang ku gunakan ya?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.
Tangan kanannya masih menggenggam pedang satu tangan yang sedikit melengkung di bagian ujungnya itu. Memperhatikannya seakan seperti karya terbaiknya hingga hari ini.
Setelah cukup puas memandanginya, Leo segera memasukkannya kembali ke dalam kotak lalu melanjutkan pekerjaannya dengan perlengkapan yang lain.
Kembali dalam kesehariannya seperti yang dulu.
......***...
...
9 Hari telah berlalu.
Leo telah menyelesaikan semua permintaan Feris dengan miris. Hampir saja Ia akan terlambat untuk menyelesaikannya.
Tapi berkat perencanaannya yang matang serta ratusan botol ramuan Mana, Ia bisa menyelesaikannya.
Saat ini Ia membawa kereta kudanya yang berisi dua peti itu ke arah Guild. Tujuannya adalah untuk mengirimkannya langsung ke Eastfort. Benteng terdepan umat manusia.
Kini, Leo hanya berdua dengan Selene. Sedangkan Reina sendiri bilang Ia akan mulai memburu monster di sekitar Kota ini. Tepatnya di hutan kecil di bagian Timur Kota ini.
Semua itu bertujuan untuk menyembuhkan luka kutukan yang di deritanya di sebagian besar tubuhnya.
Dengan membawa jubah gereja bintang, Reina dapat dengan mudah memperoleh bantuan dan informasi dari banyak orang. Terlebih lagi, saat ini Ia memiliki rumah untuk pulang. Yaitu penginapan tempat Leo dan kelompoknya berada.
Leo mengikat kudanya ke sebuah tiang kayu kecil di bagian depan bangunan Guild itu.
Bersama dengan bantuan 4 orang prajuritnya, mereka mengangkat peti besar itu ke dalam Guild. Menyerahkannya secara langsung kepada pegawai yang sedang berjaga.
"Aah, selamat datang Tuan Leo. Pengiriman seperti biasa?" Tanya seorang gadis berambut kecoklatan yang pendek itu. Ia juga mengenakan kacamata yang nampak membuatnya terkesan bisa diandalkan.
Dengan seragam pegawai Guildnya yang indah dengan warna utama hijau dan putih itu, Ia segera berjalan keluar dari biliknya untuk memeriksa barang Leo.
"Ya, begitu lah. Kali ini cukup banyak." Balas Leo sambil memukul ringan peti besar itu.
"Hmm.... Benar juga. Baiklah, aku akan segera menghitungnya." Ucap Gadis itu sambil menggunakan semacam sihir penglihatan. Apa yang dilihatnya adalah jumlah dan keseluruhan isi dari peti itu, kemudian ukuran dan beratnya.
Setelah semuanya dicatat dengan baik, gadis itu pun segera duduk dan menuliskan sesuatu di kertas yang sedikit kecoklatan itu. Tulisan yang sama diulang sebanyak tiga kali.
Dimana satu akan dibawa oleh Guild sebagai arsip, satu akan diberikan kepada Leo sebagai bukti, dan satu lagi akan ditempelkan pada barang yang akan dikirim.
Leo nampak memperhatikan kertas itu dengan seksama. Dengan Selene yang terlihat mengintip dari arah samping.
"Hmm.... 371 koin emas untuk pengiriman kali ini? Bukankah terlalu mahal?" Tanya Leo penasaran.
"Hahaha.... Maafkan kami, Tuan. Tapi kedua barang ini tak bisa dikirim dengan cara biasa lagi. Guild Master mengatakan untuk memperlakukan mereka sama seperti harta Karun. Itulah kenapa kami butuh menyewa sekitar 40 pengawal dalam pengiriman benda ini bersama dengan harta lainnya." Jelas Gadis itu.
Memang benar, bahwa apa yang dikirimkan oleh Leo tak boleh sampai jatuh di tangan yang salah. Apalagi di tangan bandit.
Tak hanya itu....
Leo memperhatikan kotak kecil yang berisi pedang suci milik Alicia itu dengan tatapan yang tajam.
Jika senjata sekuat itu jatuh di tangan yang salah, jangankan raja Iblis. Kemungkinan kerajaan manusia akan menghadapi raja perampok dalam waktu dekat setelah itu.
'Kllingg!!'
Suara dari gesekan antar koin yang dijatuhkan di atas meja itu terdengar begitu indah. Menenangkan siapapun pendengarnya.
"7 koin platinum, setara dengan 700 koin emas. Sebagai gantinya, tingkatkan pengawalan untuk barangku. Ingat, jangan sampai terjadi apapun atau kalian akan berurusan dengan orang-orang dari Eastfort." Ucap Leo sambil menjatuhkan 7 koin itu di atas meja.
"Wawawawawa.... Tuan?! Anda yakin?!" Tanya gadis itu.
Pada saat itulah, Guild Master yang mendengar mengenai pembicaraan ini segera keluar. Ia merupakan seorang Pria tua dengan rambut yang mulai memutih.
Tapi tubuhnya masih terlihat cukup terlatih dengan seragam yang rapi. Jika diperhatikan, Guild Master itu memiliki tubuh yang seukuran dengan Leo.
"Hohoho.... Sungguh baik sekali dari Tuan Leo. Kami dari Guild tentu akan menjaga barang itu sebaik mungkin. Tenang saja." Ucap Guild Master itu sambil mendekat ke arah Leo.
Ia terlihat akan membisikkan sesuatu kepadanya. Dan apa yang dibisikkan olehnya itu hanya bisa membuat Leo semakin merinding.
"Tenang saja, Tuan Leo. Pemimpin dari seluruh organisasi Guild Petualang adalah klien Anda sendiri." Bisik Pria itu sebelum segera kembali melangkah mundur dan membuat senyuman yang lebar dengan kedua mata yang tertutup.
Mendengar hal itu, Leo hanya bisa membelalakkan kedua matanya. Merasa tak percaya atas hal itu.
'Feris? Jadi kau benar-benar menguasai seluruh Guild Petualang ini?! Kupikir semua perkataanmu.... Hah.... Jadi itulah kenapa....'
Leo dengan cepat membenahi dirinya sendiri dan memasang senyuman yang tak kalah lebar.
"Terimakasih, Guild Master. Kalau begitu anggap saja itu sebagai sumbangan dariku kepada Guild ini. Tolong, jaga barang itu dengan baik." Balas Leo.
"Tentu saja, Tuan Leo. Bahkan dengan nyawa kami sendiri."
Setelah semuanya beres, Leo pun segera meninggalkan Guild itu. Bersama dengan Selene dan juga keempat prajuritnya yang sedari tadi masih duduk santai sambil meminum susu sapi dingin.
Melihat ekspresi yang sedikit rumit dari Leo, Selene pun dengan cepat menyadarinya.
"Tuan Leo.... Apakah ada sesuatu yang salah?" Tanya Selene dengan suara yang begitu lembut.
"Yah.... Ini mengenai Feris. Mungkin kau perlu untuk tahu."
Leo pun segera menjelaskan semuanya secara perlahan mengenai sosok dari Feris itu. Tentu saja, semuanya berdasarkan pendapat Leo pribadi dan Selene dapat memilih mana yang ingin Ia percaya.
Tapi setidaknya....
Leo ingin agar ada orang lain selain dirinya yang juga memahami rasa curiganya itu.
"Ini hanya pemikiran liarku saja, Selene. Tapi mungkin...." Ucap Leo dengan suara yang cukup lirih itu.
Ia terlihat sedikit menahan perkataannya sebelum melanjutkannya. Hingga akhirnya, Ia mendekatkan wajahnya ke arah telinga runcing dan agak panjang milik Selene itu. Membisikkan apa yang paling mengganggu pikirannya.
"Mungkin.... Feris memiliki kekuasaan yang bahkan melampaui Raja di Kerajaan manusia ini."
Tentu saja Selene tahu.
Bahwa semua itu, hanyalah buah pemikiran dari Leo sendiri. Sebuah pendapat yang subjektif yang belum bisa dipastikan kebenarannya.