E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 127 - Kekacauan



Semua yang bisa melihat sosok dari Filya, dengan segera kehilangan akalnya. Memihaknya tanpa satu pun pertanyaan atau pun keraguan.


Dalam kondisi itu, hanya ada beberapa orang saja yang bisa menahannya.


'Klaangg!!!'


Di satu sisi, Leo nampak sedang menghadapi 4 orang prajurit sekaligus. Tapi Ia hanya bisa bertahan. Ia tak tahu apakah sebaiknya Ia membunuh mereka.


Dalam pikirannya hanya satu.


'Sihir macam apa ini? Pencucian otak? Jika seperti itu....'


Setelah membuat keputusan singkat itu, Leo segera berteriak.


"Feris! Beri aku 10 menit! Aku akan membereskannya!" Teriak Leo sambil segera lari dan kabur ke tempat yang lebih tinggi.


"Kau gila?! 5 menit!" Balas Feris yang saat ini sedang beradu pedang dengan Duke Achibald dan beberapa ksatria yang lain.


Ia pun dengan segera memberikan perintah kepada seluruh pasukannya yang masih tersadar.


"Siapapun yang masih sadar! Bantu lindungi Leo apapun yang tejadi! Sisanya pertahankan diri kalian! Jika terpaksa, bunuh mereka!" Teriak Feris dengan keras.


Beberapa saat kemudian, kelima pahlawan yang lainnya pun datang.


Alex di satu sisi datang dari Barat dengan beberapa bawahannya yang masih sadarkan diri. Ia dengan cepat memutuskan untuk membuat semua orang tidak sadarkan diri dengan pukulan atau senjata tumpul.


Di sisi lain, Brian nampak bersama dengan Amelia. Mereka berdua terlihat cukup kesulitan dalam kondisi ini karena harus bertahan tanpa membunuh mereka.


Tapi berkat sihir yang dimiliki oleh Amelia, mereka berdua berhasil menjaga diri sekaligus puluhan prajurit lainnya yang masih memiliki kesadarannya.


Alicia di tempat lain, yang tak mendengar perintah ataupun arahan dari Feris, hanya bisa berada dalam kebingungan.


Ia yang sebelumnya berjalan bersama puluhan prajurit untuk melakukan patroli, kini harus berhadapan dengan mereka sebagai lawan. Hasilnya Ia menarik pedang tanpa melepas sarungnya.


Menebas mereka semua sekuat tenaga hingga terpental jauh dan tak sadarkan diri. Meski hanya sendirian, Alicia berhasil melumpuhkan puluhan prajurit dalam waktu yang singkat.


Tapi permasalahannya ada satu.


Elias yang berada di dalam dinding pertahanan, kini harus menghadapi puluhan prajurit sendirian.


Dirinya tak hanya lemah dalam hal fisik, tapi juga tak memiliki banyak sihir penyerangan. Semua itu karena Ia memfokuskan dan mendedikasikan dirinya sebagai pendukung dengan sihir penyembuhannya yang luarbiasa kuat.


"Tu-tunggu dulu! Apa yang terjadi disini?!" Teriak Elias dengan wajah ketakutan.


Puluhan prajurit yang seharusnya menjadi pedang dan perisainya, kini berbalik arah dan menyerangnya. Tanpa satu orang pun yang berada di sisinya, Elias terpojokkan dalam ruangan ini.


Tak ada kesempatan untuk kabur.


Tak ada pula kesempatan untuk meminta pertolongan.


Yang ada baginya, hanyalah sebuah jendela kaca yang mengarah ke bagian tengah dari benteng ini. Memperlihatkan sosok Feris yang sedang bertarung dengan puluhan Ksatria sendirian. Tak mampu untuk lepas dari mereka semua tanpa melukainya.


Tapi di saat situasi sedang dalam kondisi kritis, seseorang nampak membuka pintu ruangan itu secara paksa.


'Braakkk!!!'


"Tuan Elias!" Teriak seorang Pria dengan zirah perak yang indah. Ia tak lain adalah Duke Theodore itu sendiri.


Setelah mengetahui situasi yang mengerikan ini, Theodore bersyukur bahwa dirinya memutuskan untuk menemui Elias. Tanpa ragu, Ia segera menarik pedangnya untuk menjaga Elias apapun yang terjadi.


Itu karena peran Elias sangat lah penting dalam peperangan umat manusia kedepannya. Sebagai satu-satunya penyembuh dengan kekuatan yang mahadahsyat. Dimana dirinya bisa menyembuhkan luka fatal sekalipun dalam sekejap mata.


Di sisi lain....


Leo saat ini telah berdiri di tempat paling tinggi di benteng ini. Di sebelahnya terlihat sosok Selene yang sibuk melumpuhkan banyak prajurit di sekitar Reina, tanpa membunuh mereka.


"Tuan, apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Selene.


"Sihir pencucian otak. Aku tak tahu bahwa sihir sekuat ini akan benar-benar ada di dunia ini. Selene, aku pinjam Mana milikmu. Tapi mungkin kau akan pingsan." Ucap Leo yang segera mengiris lengan kirinya sendiri.


Ia kemudian nampak meneteskan darah secara perlahan.


"Tentu saja, Tuan. Selama itu bisa membantumu...."


Tujuannya adalah untuk mengelilingi benteng ini secepat mungkin, sambil menggambar lingkaran sihir dengan tetesan darahnya.


Dengan sihir angin, Leo memperingan tubuh dan juga langkahnya.


Dengan sihir petir, Leo mempercepat langkahnya.


Dan dengan darahnya sendiri, Ia menggambarkan titik demi titik untuk menyusun lingkaran sihir terbesar yang pernah dibuatnya.


Sebuah lingkaran sihir yang sebesar benteng ini sendiri.


Gerakannya sangat lah cepat dan efisien. Tak ada satu detik pun yang terbuang sia-sia dalam gerakannya.


Sambil melihat pemandangan yang mengerikan di tengah benteng ini, Ia hanya bisa terus berlari. Hanya ini lah yang bisa dilakukannya untuk memberikan bantuan kepada benteng ini.


Feris di sisi lain yang harus menghadapi banyak Ksatria sekaligus, termasuk juga Filya itu sendiri, nampak mulai kelelahan.


Tangan kanannya mulai gemetar.


Ia mulai kehilangan ketenangan dirinya.


'Aku tak lagi bisa terus menerus seperti ini.' Pikir Feris dalam hatinya dengan tatapan yang tegang.


Apa yang dimaksudnya adalah untuk terus menerus bertahan dari serangan lawan. Tanpa memberikan balasan yang berarti karena takut untuk melukai mereka.


'Apakah masih belum, Leo? Lagipula, apa yang kau lakukan?' Tanya Feris sekali lagi dalam hatinya.


'Zraaaassshhh!!'


Sebuah tebasan pedang yang sangat cepat dan juga kuat mengarah tepat untuk memenggal leher Feris. Serangan itu dilancarkan oleh Duke Achibald.


Tak sebanding dengan penampilannya yang terkesan sedikit gemuk, dan juga tak begitu kuat, Duke Achibald sendiri setara dengan 10 orang Ksatria sekaligus. Membuat Feris sangat kesulitan dalam bertahan.


Ditambah lagi....


'Sraaasshhh!'


Filya menyerang dari jarak jauh dengan cambuk sihirnya. Memberikan luka yang cukup besar kepada Feris dalam jarak yang aman, sekaligus dengan perisai yang takkan dirusak oleh Feris.


"Buahahaha! Lihat sekarang! Nampaknya posisi kita telah berbalik arah! Aaaah, kasihan sekali. Jika saja kau mau mati untukku, mungkin aku akan membiarkanmu merasakan kesenangan sebelum mati." Ucap Filya dengan suara yang begitu indah itu.


Ekspresi wajahnya nampak begitu bahagia dan dipenuhi dengan kesenangan. Seakan-akan Ia telah sangat yakin bahwa dirinya telah menang.


Tapi pada kenyataannya memang seperti itu.


Feris, sekuat apapun dirinya, takkan bisa membunuh Ksatria dan juga Duke yang ada di hadapannya.


Duke Achibald adalah tokoh penting untuk mengendalikan wilayah Rustfell demi keberlangsungan Kerajaan Manusia.


Di sisi lain, jika dirinya hanya terus menerus seperti ini, maka Ia lah yang akan mati.


Oleh karena itu....


"Baiklah." Balas Feris singkat.


Pada saat itu lah, Feris segera meninggalkan kemanusiaannya. Menebas Duke Achibald tepat di bagian dadanya, membunuhnya secara langsung tanpa sedikitpun keraguan.


Segera setelah itu, Feris juga mengayunkan pedang hitamnya beberapa kali ke segala arah.


Dengan ayunan itu, Feris membunuh semua Ksatria yang sedari tadi terus mengelilinginya.


Kini, dengan tatapan yang tajam, kedua matanya fokus ke arah Filya.


"Tenang saja. Pengorbanan kalian takkan berakhir sia-sia." Ucap Feris.


Perkataan itu dimaksudkan kepada para Ksatria dan juga Duke Achibald yang baru saja dibunuhnya. Dan kali ini, Feris takkan melepaskan Filya begitu saja.


"Eh?! Tu-tunggu dulu! A-aku hanya...." Teriak Filya berusaha untuk memahami situasi ini. Ia sama sekali tak menyangka bahwa Feris akan benar-benar melakukannya.


Dan dengan hilangnya sandera itu, kini Filya harus menghadapi monster yang sesungguhnya.