E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 78 - Kota Venice, 17 Hari Kemudian



“Tuan Leo, Apakah Anda yakin dengan ini?” Tanya Selene yang mengintip dari atas kereta itu.


“Apanya?” Tanya Leo kembali.


Reina dan juga Artemis terlihat telah tidur lelap setelah perjalanan itu. Meninggalkan hanya Leo dan juga Selene beserta para prajurit yang menjaga mereka.


“Maksudku.... Mengenai Tuan Igor. Ku pikir kalau itu adalah Tuan Leo maka Tuan akan berusaha untuk mengajaknya bergabung.” Balas Selene dengan nada yang terlihat sedikit sedih.


“Kau kecewa padaku?” Tanya Leo kembali.


“Ti-tidak sama sekali, Tuan! Bukan seperti itu maksudku! Tapi....”


Leo hanya tersenyum tipis mendengar perkataan dari Selene. Mengetahui bahwa wanita yang awalnya dia pungut sebagai budak itu kini telah berubah menjadi sosok yang bahkan bisa memahaminya.


Tentu saja, Leo sangat ingin merekrut Igor untuk bergabung dengannya. Dengan kekuatan sebesar itu, takkan ada lagi bahaya yang mengancam dirinya. Akan tetapi....


Di bagian dalam hati Leo sendiri, Ia terus bertanya-tanya. Apakah itu adalah pilihan yang tepat? Apakah itu adalah apa yang diinginkan oleh Dewi Cyrese?


Jika Dewi mengirim Igor untuk bertarung bersamanya, maka kejadiannya seharusnya sama dengan pertemuannya dengan Reina. Dimana Dewi akan mengarahkannya untuk menemui dan mengajak berpetualang bersama.


Tapi kali ini?


Dewi Cyrese hanya berkata untuk menemui Igor Sikorsky di Desa Rarth. Itu saja. Tak lebih dan juga tak kurang.


Dengan kata lain, Dewi hanya ingin Leo untuk menemuinya. Mengetahui bahwa Dewi bisa mengirimkan pesan melalui Igor. Dan mengetahui bahwa sosok kuat bernama Igor itu akan tetap berada di dalam desa itu.


Hidup dengan damai. Melindungi apa yang terdekat baginya.


Mungkin Leo hanya merasa iba atas apa yang diceritakan oleh Igor sebelumnya. Dan mungkin saja, rasa iba itu meningkat ketika Leo melihat sosok Igor yang begitu bahagia ketika sedang bermain dengan gadis kecil itu di atas lahan gandum yang luas.


Apakah Igor mungkin sudah menjalin hubungan dengan Ibu dari gadis kecil itu?


Atau tidak?


Leo sama sekali tak mengetahuinya.


Tapi yang jelas....


‘Mereka terlihat begitu bahagia. Aku tak bisa untuk merebut kebahagiaan itu secara paksa hanya untuk memenuhi ego ku saja. Jika aku melakukannya....’


Leo terus berpikir sambil kali ini memandangi sosok wanita berambut pirang yang sedang tertidur pulas di dalam kereta itu.


‘Reina.... Mungkin Igor akan merasakan apa yang kita rasakan sebelumnya, jika aku memutuskan untuk menariknya secara paksa. Yah meskipun.... Bagaimana caranya?’ Pikir Leo sambil tertawa ringan.


Selene yang sedari tadi masih menunggu jawaban dari Tuannya hanya bisa diam.


Setelah beberapa saat....


“Hahaha.... Selene. Kau pikir, bagaimana caranya mengajak Pria sebesar dan sekuat itu? Kita bertiga bahkan tak berdaya di hadapannya bukan?” Tanya Leo kembali sambil tertawa.


Mendengar hal itu, wajah Selene nampak membuat ekspresi yang seakan mulai memahami sesuatu.


“Hmm.... Benar juga. Tapi.... Bagaimana bisa Tuan Igor sekuat itu?” Tanya Selene penasaran.


Saat ini, Leo sudah mulai semakin terbuka dengan semua orang. Kecuali hal-hal yang paling sensitif dan berbahaya seperti identitas aslinya sebagai pahlawan, Leo dapat membagikannya kepada orang terdekatnya.


“Aku akan mengatakannya padamu tapi, tolong rahasiakan dengan yang lain. Dengan mata ku ini, aku bisa melihat kemampuan dari seseorang. Sama seperti dirimu.” Jelas Leo.


“Aah.... Jadi itulah kenapa Tuan bisa memilih sosok yang berbakat ketika membeli budak?” Tanya Selene kembali.


Leo hanya menganggukkan kepalanya secara ringan sebelum melanjutkan penjelasannya.


“Dan dengan mata ini, satu-satunya kekuatan yang dimiliki oleh Igor hanyalah sebuah skill tingkat A, Iron Skin.”


“Iron Skin? Skill?” Tanya Selene kebingungan. Tentu saja Ia tak bisa memahami konsep seperti itu karena bagi mereka itu adalah bakat yang di berikan oleh langit. Tapi bagi pahlawan dari dunia lain seperti dirinya, konsep itu sangat mudah untuk dipahami.


“Sederhananya, kulit dan tubuhnya sangat kuat dan keras seperti besi. Membuat tak hanya pertahanannya, tapi juga pukulannya jauh lebih kuat. Sedangkan kau sendiri memiliki lebih banyak Skill daripada Igor.”


“Ja-jadi.... Tuan Igor bisa sekuat itu bahkan hanya dengan satu skill?!”


“Itulah yang membuatku tak mampu untuk merekrutnya. Mungkin.... Pengalamannya memang jauh berbeda dengan kita semua.”


Dengan obrolan ringan yang terus berlanjut itu, mereka tetap melanjutkan perjalanan dengan tempo yang ringan. Sambil membahas banyak hal yang terjadi selama di Desa itu.


Dalam perjalanan kali ini, rintangan yang dihadapi tak begitu banyak. Hanya beberapa serigala liar dan juga beruang. Tapi karena kerjasama dan pengalaman mereka yang telah meningkat, semua hewan buas yang muncul dapat ditangani dengan mudah.


......***...


...


Sekitar tujuh hari telah berlalu. Dan akhirnya, mereka kembali tiba di Kota Venice. Sebuah kota dagang yang terbesar di wilayah Rustfell.


Dinding batu yang tinggi terlihat begitu jelas meskipun masih jauh. Begitu pula dengan lahan pertanian yang sangat luas di luar dinding itu.


Perbedaannya dengan Desa Rarth adalah sebuah kenyataan dimana petani di kota ini tak terlalu memperdulikan orang yang lewat. Mungkin karena terlalu banyak orang yang lewat sehingga merepotkan bagi mereka jika harus memberi salam kepada semua orang.


Setibanya Leo dan rombongannya di depan gerbang, petugas pun mulai memeriksa identitas dan barang bawaan mereka.


Semua berjalan lancar berkat identitas Leo dari Guild dan juga segel dari Feris. Termasuk juga jubah gereja bintang dari Reina.


Nampaknya di Kerajaan ini, Prajurit Gereja sangatlah dihormati. Bahkan mereka bisa lewat dengan mudah di berbagai kota.


Tak terlalu banyak yang berubah di kota ini. Jalanan masih ramai seperti biasanya, dan banyak orang yang berjualan di pinggir jalan dengan berbagai barang yang menarik.


Hanya saja....


Setibanya mereka di Penginapan...


Terlihat perubahan yang cukup besar.


Penginapan yang sebelumnya terlihat cukup bobrok itu kini seakan baru saja direnovasi.


Teras depan penginapan yang dulunya kosong, saat ini terlihat terisi 4 buah meja bundar dan 2 buah kursi di samping setiap meja. Begitu pula dengan taman kecil di bagian depan penginapan itu. Memperindah suasana di tempat ini.


Leo yang merasa kebingungan segera meminta para prajurit itu untuk memarkirkan kereta kudanya. Sedangkan dirinya sendiri berusaha untuk mencari tahu apa yang sebenarnya telah terjadi.


Di saat Ia sedang bingung, sosok Ferry, salah satu bawahannya yang diberi tanggung jawab mengenai penginapn ini terlihat keluar.


“Ferry! Apa yang sebenarnya terjadi disini?!” Teriak Leo sedikit panik.


“Aaah.... Tuan Leo. Selamat datang kembali.”


“Bukan itu! Apa yang telah terjadi?!”


“Tenang lah, aku akan menjelaskannya, Tuan.”


Sambil duduk di teras depan penginapan itu, Ferry dan juga Leo terlihat membicarakan segala hal yang terjadi selama 17 hari ini.


Pada kenyataannya, kedai makan yang dibeli oleh Leo berhasil menghasilkan keuntungan yang sangat fantastis. Yaitu sekitar 112 koin platinum hanya dalam 17 hari ini.


Penyebabnya adalah salah seorang koki yang dibeli oleh Leo di pasar budak memiliki kemampuan yang luarbiasa.


Leo sendiri memang tahu mengenai bakat memasak mereka dengan skill Clairvoyance dimana salah satu dari mereka memiliki skill tingkat C [Chef] sedangkan satu lagi memiliki skill tingkat D.


Akan tetapi, Ia sama sekali tak menduga hal ini.


Terlebih lagi, Ferry mampu melakukan negosiasi dengan pemilik penginapan ini untuk membelinya seharga 87 koin platinum. Sedangkan sisanya digunakan untuk melakukan renovasi ulang dan kebutuhan lainnya.


Mendengar semua penjelasan itu....


Leo hanya bisa menganga karena tak percaya. Bahwa semua ini telah terjadi hanya dalam waktu singkat ketika dirinya pergi.


Tapi dalam hati kecilnya, Ia merasa sangat puas. Bagaimana tidak? Kedai makan itu.... Mungkin adalah langkah pertama bagi Leo untuk bisa mandiri dari pengaruh Feris.