
Setelah percobaan singkatnya, Leo menembakkannya beberapa kali lagi untuk mengambil data mengenai daya ledak senjata sihirnya.
“Kurasa sudah cukup. Mana milikku juga sudah hampir habis.” Ucap Leo.
“Tuan Leo, maaf.... Aku belum bisa menggunakan sihir Mana Link untuk membantumu.” Balas Selene dengan wajah yang sedikit murung.
Mana Link.
Adalah sebuah sihir ciptaan Leo sendiri yang masih dalam sebatas teori.
Konsepnya sangat sederhana. Bukannya menggunakan batu Mana untuk menarik Mana tambahan pada diri seseorang, tapi batu Mana itu sendiri diganti dengan makhluk hidup. Dimana dalam kasus ini adalah penyihir yang lain.
“Tenang saja, aku masih perlu menyempurnakan lingkaran sihirnya agar bisa bekerja dengan baik. Terakhir kali kita mencobanya kau langsung pingsan bukan?” Balas Leo sambil mengangkat boneka kayu dengan zirah yang mulai rusak itu.
“Tu-tunggu! Tuan Leo! Biar aku saja!” Teriak Selene berusaha untuk membantu Leo mengangkat boneka kayu itu.
“Tak masalah. Lagipula ini juga tak berat.”
Keduanya pun berjalan kembali ke arah bangunan utama dimana ruang kerja Roselia berada.
Tapi pada saat keduanya tiba di jalan utama, ada sesuatu yang aneh sedang terjadi di jalanan kota. Semua itu terlihat melalui pagar yang mengelilingi akademi ini.
“Hmm? Ada apa ini?” Tanya Leo yang dengan segera menghentikan langkah kakinya.
Tak hanya dirinya, terlihat banyak orang lain sedang memperhatikan apa yang terjadi di luar akademi.
Barisan prajurit dengan zirah yang lengkap nampak berjalan di sepanjang jalanan Kota ini. Tombak, perisai, pedang, panah. Mereka terlihat mengenakan perlengkapan yang lengkap.
Pada saat Leo menengok ke arah kanan, atau di bangunan utama, kejadian yang sama juga terjadi di dalam akademi ini.
Sebuah barisan penyihir nampak berjalan dengan rapi dan sikap yang tegang. Jumlah mereka mungkin mencapai 1.000 orang lebih dengan barisan 4 banjar.
Leo dan juga Selene sontak melangkah mundur untuk memberikan mereka semua jalan. Begitu pula dengan murid-murid yang lain yang sedang berada di luar gedung.
Di saat mereka semua melewati Leo dan juga Selene, wajah tegang mereka tergambar dengan jelas. Bahkan perasaan takut mereka juga dapat dirasakan oleh Leo.
“Tuan?” Tanya Selene yang melihat ekspresi tegang Tuannya.
Tapi Leo sama sekali tak menjawab. Ia hanya berdiri dalam diam sambil memperhatikan mereka semua lewat.
Melihat dari lambang di dada dan juga bahu kiri mereka, semuanya adalah lulusan akademi tingkat bawah. Dengan kata lain kakak tingkat dari Leo dan juga Selene itu sendiri.
Dan semuanya setidaknya mengenakan huruf C di dada sebelah kiri mereka. Dengan sebagian kecil lainnya mengenakan huruf B serta empat orang yang mengenakan huruf A yang berbaris di bagian paling depan.
Setelah mereka semua lewat dan keluar dari akademi ini, Leo baru menjawab pertanyaan Selene.
“Perang. Kemungkinan besar mereka dipanggil ke Eastfort melihat dari wajah dan ketakutan mereka.” Ucap Leo.
“Eh?! Perang? Tapi bukankah Tuan Leo bilang....”
Leo dengan cepat menutup mulut Selene untuk menghentikannya berbicara lebih lanjut.
Lagipula, pemikiran Leo belum tentu benar. Mereka belum tentu berangkat untuk berperang. Tapi melihat dari skala dan jumlah mereka.... Hanya itulah jawaban yang paling logis bagi Leo.
“Kita akan kembali.” Ucap Leo sambil berjalan ke arah gedung utama akademi ini. Bersiap untuk kembali ke ruang kerja Roselia.
Setibanya di sana, mereka berdua masih menemukan sosok Roselia yang tenang seperti biasanya. Dimana Ia terlihat sedang duduk dan menulis sesuatu di sebuah kertas.
“Ah, kalian sudah kembali?” Tanya Roselia singkat.
“Ya, begitu lah. Roselia.... Barisan para penyihir dan prajurit itu....”
Sebelum Leo sempat menyelesaikan pertanyaannya, Roselia sudah tahu apa jawaban yang diinginkan oleh Leo.
“Perang. Ku dengar dari kepala akademi bahwa legiun besar iblis datang ke arah Eastfort. Jumlah mereka dikatakan mencapai 80.000 atau lebih. Sebuah jumlah yang setidaknya 100 kali lipat dibandingkan dengan yang biasanya menyerang setiap hari.” Balas Roselia yang masih sibuk menulis.
Berkat informasi dari Dewi Cyrese dimana ras iblis sedang dalam kekacauan, seharusnya manusia memperoleh masa damai untuk beberapa saat. Bahkan Dewi dan Feris sendiri juga memprediksi hal yang sama.
Tapi apa-apaan ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Leo sama sekali tak bisa memahaminya.
Jika penglihatannya dulu itu benar, maka ras Iblis seharusnya memang sedang dalam perang saudara terbesar.
Lalu apa ini?
Semua ekspresi kebingungannya itu tergambar jelas di wajah Leo. Ia sama sekali tak bisa berkata-kata. Terlebih lagi jumlah itu....
“Lalu bagaimana dengan umat manusia? Berapa jumlah pasukan yang ada?” Tanya Selene menggantikan Leo.
“Aah soal itu? Kalian suka dengan perang ya?” Tanya Roselia kembali.
“Bu-bukan begitu.... Tapi....”
“Aku tak tahu jumlah pastinya. Tapi Venice sendiri mengirim 7.500 prajurit dan 1.000 penyihir dari akademi Aselica.
Enfartice sebagai akademi sihir yang benar-benar fokus untuk peperangan mengirim 2.500 penyihir. Kemudian akademi sihir terakhir yaitu Falacia yang fokus terhadap pertahanan mengirim 2.000 penyihir. Sisanya aku tak tahu.” Jelas Roselia yang masih melanjutkan pekerjaannya.
Leo yang mendengar itu pun merasa sedikit lega. Bahkan kota dagang seperti Venice sekalipun memiliki pasukan sebanyak itu untuk dikirim. Dengan kata lain, masih banyak pasukan dari kota lain.
“Daripada membahas hal itu, sekarang bantu aku untuk mencoba memahami Rune kuno ini. Kalian bisa memperoleh pengetahuan atau serpihan kekuatan dari Rune kuno ini jika memang berhasil.” Lanjut Roselia kini dengan wajah yang terlihat bahagia.
......***......
...- Eastfort -...
“Bukankah kau bilang bahwa mereka dalam perang saudara? Lalu apa ini?” Tanya Feris yang berjalan secara buru-buru di kastil itu.
“Mereka memang sedang dalam perang saudara! Tapi ini adalah tindakan dari para tetua Iblis yang menentang pilihan Raja Iblis.” Jelas Alex dengan wajah yang sedikit kesal.
“Berapa perbandingan kekuatan mereka?” Tanya Feris.
“Banyak iblis yang muda mengikuti pilihan Raja Iblis. Sedangkan sisanya, termasuk yang tua segera memilih untuk mendukung 6 tetua iblis. Mungkin saat ini Raja Iblis hanya memiliki sekitar 30% dukungan.” Jelas Alex.
“Lalu perbedaan pendapat mereka?” Tanya Feris kembali.
“Dari apa yang kami dengar, Raja Iblis menginginkan perdamaian untuk menata ulang dan mempersiapkan pasukan demi langkah berikutnya. Sedangkan keenam tetua iblis itu menginginkan agar segera menaklukkan dunia saat ini juga.”
Penjelasan Alex itu sudah cukup untuk membuat Feris memahami sebagian besar yang sedang terjadi di wilayah kekuasaan Iblis.
Di satu sisi, pilihan Raja Iblis yang sangat tenang dan memandang jauh ke depan membuat Feris sedikit takut dengan tingkat kecerdasan yang dimiliki Raja Iblis itu.
Tapi di sisi lain, pilihan keenam tetua iblis itu juga tak salah karena saat ini lawan mereka hanyalah manusia.
Elf masih mengurung diri mereka di dalam benua mereka sendiri. Sedangkan Dwarf hanya fokus untuk memperkaya diri mereka sendiri dan menimbun sebanyak mungkin harta kekayaan.
Dengan kata lain, melawan umat manusia saat ini mungkin adalah kesempatan emas terakhir mereka.
Hanya saja....
“Merepotkan sekali.” Keluh Feris sambil berdiri di bagian atas dinding Eastfort itu. Ia melihat ke arah kejauhan dengan kemampuan penglihatan jarak jauhnya. Dimana legiun iblis terlihat berbaris dan bersiap untuk meruntuhkan dinding terakhir umat manusia ini.
“Feris?” Tanya Alex.
“Dengan jarak itu, mereka akan tiba sekitar 2 Minggu lagi. Sedangkan pasukan yang paling jauh yaitu dari Mulderberg akan tiba dalam 3 Minggu lebih. Sedikit mengesalkan tapi sudahlah.
Alex, persiapkan jebakan di seluruh tempat ini. Kau bisa membawa 5.000 prajurit bersama denganmu. Aku akan membawa 3.000 untuk menyergap mereka di sungai.” Jelas Feris yang segera kembali melangkah pergi.
Kali ini, untuk mempersiapkan diri terhadap serangan terbesar yang pernah dihadapi oleh manusia.