E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 140 - Agreement



Cahaya matahari telah terbit.


Wanita Elf berambut perak itu juga telah lama bangun. Membereskan barang-barangnya ke dalam sebuah tas yang cukup besar itu.


Setelah semuanya dimasukkan ke dalam tas, Ia mengangkat tubuh Pria itu dengan kedua tangannya di depan tubuhnya.


Pria itu memiliki rambut kecoklatan dengan sebagian besar kulit yang terbakar. Tapi sebagian besar luka itu telah sembuh berkat sihir roh yang digunakan oleh wanita Elf itu.


Hanya saja....


"Kapan kau akan bangun, Hyume?" Tanya wanita itu kepada Pria yang telah kehilangan tangan kirinya itu. Begitu pula dengan mata kiri yang juga telah tiada.


Pria itu tak lain adalah Leo itu sendiri. Yang ditemukan oleh wanita Elf itu di pusat ledakan api biru yang ada.


Ledakan besar itu tentu memancing perhatian banyak sekali orang. Termasuk wanita Elf ini. Dimana Ia memutuskan untuk melihat dari dekat dan menemukan sosok manusia yang tergeletak di tengahnya.


Setelah yakin bahwa Pria itu bukanlah Iblis, dan yakin bahwa Ia masih hidup, Elf itu segera menyelamatkannya dengan sihir roh dan membawanya menjauh dari lokasi kejadian.


Kini....


'Srruugg!'


Setelah tiba di salah satu bukit dengan pepohonan yang telah hangus terbakar itu, wanita Elf itu kembali meletakkan tubuh Leo ke tanah.


"Tunggu sebentar, aku akan mencari sesuatu yang bisa dimakan." Ucap wanita Elf itu sambil segera pergi. Meninggalkan Leo sendirian di kesunyian hutan yang tak lagi bernyawa ini.


......***......


Beberapa hari terus berlalu dengan keseharian wanita Elf itu yang tak berubah. Terus berjalan menjauhi medan pertempuran sedikit demi sedikit. Menuju ke wilayah paling selatan dari Benua Elf ini.


Ia terus menyuapi Leo makanan seadanya dan memberikannya minuman apa adanya.


Meskipun tak sadarkan diri, tubuh Leo masih merespon dengan cukup baik terhadap makanan dan minuman yang diberikannya.


Hingga suatu hari....


"Ugghh...."


Leo mulai membuka matanya secara perlahan. Pandangannya masih sedikit kabur, dengan kegelapan yang ada di sekelilingnya.


Pada saat pertama kali, Leo menyadari bahwa lengan kirinya telah terputus. Dan hanya meninggalkan sebagian kecil sisa lengan di atas sikunya yang kini dibalut kain yang tebal.


Termasuk juga tubuhnya yang kini dipenuhi dengan berbagai luka. Tapi selain dari semua itu....


Hanya ada satu hal yang mencuri seluruh perhatiannya saat ini.


Yaitu sosok seorang Elf dengan rambut perak yang panjang dan indah, yang sedang duduk menghadap ke sebuah api unggun itu.


Dengan segera, Leo pun berusaha untuk memanggil dan meraihnya.


"Se.... Lene...."


Tapi di saat wanita Elf itu menoleh, Leo tersadar dari mimpinya. Wanita yang ada di hadapannya itu jauh berbeda dari apa yang diharapkannya.


Dengan kulit yang sedikit lebih gelap dan tatapan yang tajam, wanita Elf itu pun menoleh.


"Hyume, akhirnya kau bangun." Ucap Elf itu.


Dengan wajah yang terlihat sedikit kecewa, Leo pun segera berbicara. Menanyakan situasi yang ada di sekitarnya.


"Siapa kau? Dan.... Dimana ini? Apakah aku sudah mati?" Tanya Leo.


Tapi balasan yang diperolehnya seakan menusuk kekecewaan Leo yang sebelumnya.


"Maaf jika aku bukanlah orang yang kau harapkan, Hyume. Namaku adalah Narlaik Crogarish, seorang Dark Elf. Kita berada di bukit Vastarishk, dan tidak. Kau belum mati." Jelas wanita yang ternyata adalah seorang Dark Elf itu.


Saat ini, pikiran Leo masih memikirkan banyak hal mengenai situasinya saat ini. Setelah beberapa saat, Leo menyimpulkan bahwa ras Elf telah kalah telak. Begitu juga dengan pasukan Leo.


Dengan kata lain.... Ia tak lagi memiliki peluang untuk kembali ke wilayah Manusia. Tidak dengan kapal yang mungkin telah dibakar habis oleh bangsa Iblis itu. Atau kota yang dijaga ketat oleh bangsa Iblis.


Dan akhirnya, Leo memutuskan untuk melakukan apapun yang Ia bisa lakukan di tempat ini. Mengembalikan pikirannya pada apa yang ada di hadapannya, Leo kembali bertanya.


"Dark Elf? Apa itu? Dan juga, Hyume?"


Bagi Leo yang telah memperoleh akses terhadap banyak sekali buku ilmu pengetahuan di dunia ini, Ia sama sekali belum pernah mendengar istilah mengenai Dark Elf yang nyata.


Beberapa kali, Ia menjumpai literatur yang menjelaskan teori keberadaan mereka. Tapi sama sekali tak pernah ada bukti atas keberadaan Dark Elf di dunia ini.


"Sederhananya.... Kami adalah ras Elf yang diusir oleh Pohon Suci, kehilangan sebagian besar berkah darinya. Sedangkan Hyume, itu hanyalah panggilan yang kami gunakan untuk menyebut Manusia." Jelas Dark Elf itu.


"Diusir oleh Pohon Suci?"


Selama ini, Leo hanya tahu bahwa pohon suci adalah salah satu objek keajaiban di dunia ini. Yang mengalirkan energi Mana dalam jumlah yang sangat besar.


Ia sama sekali tak tahu bahwa pohon suci adalah benda hidup yang bisa berpikir. Bahkan memiliki kemampuan untuk mengusir seseorang.


Leo kemudian tersadar, bahwa dirinya belum memperkenalkan namanya.


"Aah, namaku Leo. Bagaimana sebaiknya aku memanggilmu?"


"Hanya itu? Ku dengar Hyume memiliki aturan nama yang rumit. Untuk diriku, kau bisa memanggilku Narla. Pasti lebih mudah bagi lidah manusia bukan?" Balas Dark Elf itu.


"Narla ya.... Aku ucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya karena telah menolongku. Dan memang benar, nama lengkapku adalah Alexander Leonardo von Rustellia."


Mendengar penjelasan nama lengkap dari Leo, Narla nampak tak lagi bisa menahan tawanya.


"Pfftt! Hahaha! Nama macam apa itu? Kau yakin itu bukanlah nama 4 leluhurmu?" Balas Narla sambil tertawa ringan.


"Te-tentu saja itu adalah namaku!"


Setelah tawa yang meringankan suasana kelam ini, Narla segera kembali ke topik pembahasan utama yang ingin dibicarakannya dengan Leo.


"Hyu.... Leo. Ledakan besar yang sebelumnya terjadi.... Jangan katakan itu adalah perbuatanmu?" Tanya Narla penasaran.


Pada awalnya, Leo sedikit ragu untuk memberikan jawaban yang sebenarnya. Tapi apakah Ia akan berbohong kepada orang yang telah merawatnya selama beberapa hari ini?


Tentu saja tidak. Oleh karena itu, apapun yang terjadi, Ia akan menjelaskan semuanya sejujurnya.


"Kau benar. Itu adalah salah satu sihir tingkat tinggi buatan manusia, Sacrificial Deed. Dengan sihir itu, aku mengorbankan Inti Mana dari tubuhku sendiri untuk menghasilkan ledakan besar itu." Jelas Leo dengan rinci.


Narla di sisi lain, terlihat mendengarkannya dengan seksama. Tetap dengan tatapan tajam khas yang dimilikinya.


"Jadi begitu. Itu menjelaskan kenapa tubuhmu menolak energi Mana seperti itu." Balas Narla singkat sambil menolehkan pandangannya ke langit.


Setelah terdiam selama beberapa saat, Narla pun kembali berbicara kepada Leo.


"Katakan, Leo. Apakah aku.... Bisa menggunakannya? Sihir ledakan itu." Tanya Narla yang terlihat sedikit terpatah-patah dalam menyampaikannya.


Tanpa mengetahui apa yang akan dilakukan olehnya, Leo hanya bisa memberikan jawaban yang objektif.


"Selama kau bisa membaca Rune, dan memiliki Inti Mana untuk dikorbankan, ku rasa kau juga bisa menggunakannya." Balas Leo.


Senyuman yang tipis menghiasi wajahnya dengan kulit yang sedikit gelap itu. Dan kini, dengan tatapan yang lebih ramah daripada sebelumnya, Narla pun membalas perkataan dari Leo.


"Senang mendengarnya. Jika kau tak keberatan, bisakah kau mengajarkannya padaku? Aku akan membalas kebaikanmu dengan apapun yang kau mau. Katakan saja."


Tentu saja, Leo merasa sedikit curiga dengan permintaan dari Narla ini. Termasuk juga motivasinya.


Sayangnya, Leo yang telah kehilangan seluruh inti Mana miliknya, tak lagi bisa menggunakan sihir apapun. Termasuk sihir [Clairvoyance] yang selalu menjadi andalannya untuk menilai orang lain.


Meski begitu....


"Kau yakin dengan tawaranmu itu?" Tanya Leo dengan senyuman tipis di wajahnya.


Tanpa sedikit pun keraguan, Narla segera membalasnya.


"Tentu saja. Apa yang kau mau? Uangku? Aku akan memberikan semuanya. Kekuatanku? Aku akan membantumu dalam meraih apapun yang kau mau. Tubuhku? Aku akan dengan senang hati memberikannya.


Apapun selama kau mengajarkanku menggunakan sihir ledakan itu. Aku takkan ragu memberikan apapun padamu sebagai balasan, selama aku mampu untuk melakukannya."


Leo kemudian memutuskan untuk menanyakan apa motivasi yang sebenarnya dari Narla. Dan apa yang ingin dilakukannya dengan sihir itu.


"Tawaran yang menarik. Tentu aku akan menerimanya. Tapi sebelum itu, apa yang ingin kau lakukan dengan sihir itu?"


Dengan cepat, Narla pun membalas.


"Membunuh Raja Iblis sialan yang telah merusak tanah kami. Itu saja."


Kini, dengan senyuman yang lebih lebar, Leo pun segera mengulurkan tangan kanannya ke arah Narla.


"Dalam budaya manusia, berjabat tangan menandakan persetujuan kedua belah pihak atas suatu hal. Jika kau menjabat tanganku, berarti kau akan memenuhi perkataanmu tadi soal tawaran itu.


Sedangkan diriku sendiri. Aku akan mengajarkanmu cara untuk menggunakan sihir ledakan itu. Dan mungkin.... Membuatnya jauh lebih kuat dari apa yang ku miliki sebelumnya."


Narla berpikir sejenak sebelum menjabat tangan Pria itu. Tapi Ia sangat yakin bahwa tak ada kebohongan dalam perkataannya. Oleh karena itu....


'Tapp!'


Dark Elf itu segera menjabat tangan kanan Leo dengan senyuman di wajahnya.


"Mohon bantuannya, Leo."


"Aku juga, mohon bantuannya. Narla."


Di kejauhan, di sebuah tempat yang sangat asing dan terpencil ini, tanpa diketahui satu orang pun....


Sebuah perjanjian yang terlihat sederhana ini telah terjadi.


Yang nantinya, akan menjadi salah satu penggerak terbesar dalam peperangan antara dunia melawan iblis.