E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 143 - Encounter



"Jangan bergerak." Bisik Leo yang sambil memaksa Narla untuk terus tiarap itu.


Keduanya bersembunyi di salah satu tebing kecil di pegunungan yang ada. Berusaha untuk tidak bergerak atau menimbulkan suara sama sekali.


"Kenapa ada pasukan sebanyak itu?" Tanya Narla dengan bisikan.


"Mana aku tahu? Setahuku, wilayah Crystalcourt telah lama hancur." Balas Leo yang juga dengan bisikan.


Pergerakan pasukan Iblis yang sangat besar ini tentu membuat Leo dan juga Narla kebingungan. Apa tujuan mereka? Untuk apa mengirimkan pasukan sebanyak itu ke wilayah Crystalcourt yang telah mereka taklukkan? Atau setidaknya....


Itu lah yang Leo pikirkan.


"Apa yang kau katakan? Crystalcourt masih belum runtuh." Balas Narla.


Mendengar jawaban itu, Leo pun kebingungan. Ia sama sekali tak paham dengan hal itu.


"Hah? Apa maksudmu?"


"Masih ada banyak Elf di sana. Mereka adalah yang tertinggal dan tak sempat naik ke kapal kalian untuk melarikan diri ke wilayah Manusia. Tapi seharusnya 10.000 Iblis saja sudah cukup." Jelas Narla.


"Jadi begitu ya. Kalau begitu aku bisa paham. Tapi membawa pasukan sebesar ini untuk membantai sisa Elf yang ada...."


Apa yang ada di hadapan mereka berdua, adalah sebuah barisan pasukan yang tak hanya sangat panjang, tapi juga sangat lebar.


Setiap hentakan kaki mereka bisa menggetarkan tanah dan pegunungan. Sedangkan suara drum perang mereka yang sangat keras bisa membuat seluruh makhluk hidup yang tersisa menjauh dari jalan mereka.


Dimana menurut perkiraan Leo, jumlah mereka setidaknya di atas 150.000 atau lebih.


"Lupakan mereka. Kita akan menjauh dari sini." Bisik Leo sambil kembali bergerak. Kini dengan terus merangkak di tanah secara perlahan agar tak ada satu pun Iblis yang menyadari mereka.


Setelah beberapa saat perjalanan, mereka menemukan sebuah goa kecil yang cukup gelap. Sangat cocok untuk bersembunyi.


Keduanya pun memutuskan untuk beristirahat di dalam goa itu selama beberapa saat. Sambil terus membuat rencana baru untuk menghadapi Raja Iblis Valkazar.


Salah satunya adalah dengan terus meningkatkan sihir ruang yang ada.


Termasuk juga, terus mengajari Narla mengenai berbagai sihir yang akan berguna nantinya.


"Narla, aku ingin mencoba membuat Mana Link denganmu. Dimana nantinya aku bisa menggunakan Mana milikmu. Tapi untuk itu, aku butuh energi sihir. Dan seperti yang kau tahu aku tak memilikinya.


Jadi apakah kau mau melakukannya pada dirimu sendiri? Aku akan mengajarinya. Tapi perlu kau tahu, ini akan sangat sakit." Jelas Leo.


Tapi tanpa sedikitpun keraguan, Narla segera menjawab.


"Selama ini berguna untuk meningkatkan sedikit saja peluang mengalahkan Raja Iblis itu, aku tak masalah."


"Terimakasih...."


Di saat mereka berdua baru akan mulai melanjutkan pekerjaannya....


Sebuah cahaya hijau yang indah secara tiba-tiba muncul di hadapan mereka berdua. Secara perlahan, membentuk sosok seorang manusia.... Tidak. Sosok seorang Elf dengan rambut yang panjang dan indah.


Tubuhnya hanyalah sebuah cahaya hijau. Tak memiliki wujud nyata di dunia ini.


Melihat hal itu muncul secara misterius di depan mereka berdua, Leo dan juga Narla pun tak bisa berkata-kata. Hanya terdiam.


Sedangkan Leo....


'Ini buruk. Apakah aku akan mati disini?' Pikirnya dalam hati.


Seakan mampu membaca pikirannya, wanita misterius yang hanya terbentuk dari cahaya itu pun berbicara.


"Tenangkan diri kalian, Leo. Narla. Aku bukanlah musuh." Ucap wanita itu dengan tubuh yang terus mengambang di udara.


"Siapa kau?" Tanya Leo penasaran.


"Orang-orang sering memanggilku pohon Mana. Ada juga yang memanggilku Danau Suci. Atau ada lagi yang memanggilku sebagai Mana itu sendiri." Jelas wanita itu yang melayang mendekati ke arah Leo.


Seakan berusaha untuk menyentuh wajahnya. tapi tak bisa melakukannya. Karena tubuhnya yang terbuat dari cahaya itu, Ia sama sekali tak bisa menyentuh benda lain di dunia ini.


Hanya menembus melewati mereka saja.


Dengan senyuman yang lebar, wanita itu terus memandangi sosok Leo dengan perasaan yang kagum.


Narla yang segera menyadarinya, kemudian langsung bersujud ke arahnya.


"Maafkan hamba yang tak menyadari keagungan Anda. Wahai Dewiku." Ucap Narla sambil terus merendahkan tubuhnya ke tanah batuan ini.


"Maafkan juga diriku karena harus memutus berkah ku padamu, Narla. Tapi aku harus tetap menjaga hukum yang telah ku buat."


Sementara itu, Leo terus terdiam dalam ekspresinya yang terlihat begitu terkejut itu.


'Dewi? Mana? Bintang? Tak pernah melihat jiwaku? Apakah orang ini.... Sadar bahwa aku berasal dari dunia lain?!' Pikir Leo dalam hatinya.


Dan tentu saja, wanita Elf itu segera membalas pikiran Leo.


"Ya, aku menyadarinya barusan. Bahwa kau bukanlah seseorang yang dari dunia ini."


"Apa maumu?" Tanya Leo singkat dengan tatapan yang tajam.


Sambil berusaha membelai lembut wajah Leo, wanita Elf itu pun segera menjelaskan apa yang Ia mau dari semua ini.


"Aku hanya ingin ras ku selamat."


"Jika kau berbicara seperti itu, apakah ada dewa lainnya di dunia ini?" Tanya Leo kembali.


Wanita Elf itu hanya mengangguk ringan ke arah Leo. Kemudian segera menjelaskannya.


"Astroth, dewa penempa. Ia menciptakan dan menjaga ras Dwarf selama 4.582 tahun sebelum kematiannya karena kelalaian rasnya sendiri dalam menyembahnya.


Aeos, dewa kemanusiaan. Menciptakan dan menjaga ras manusia selama 6.814 tahun sebelum kematiannya karena manusia justru menyembah bintang daripada dirinya.


Calmathia, dewa iblis. Menciptakan dan menjaga ras Iblis selama 218 tahun sebelum kematiannya karena rasnya tak pernah menganggapnya ada.


Dan diriku sendiri, Egalathia. Menciptakan dan menjaga ras Elf selama 56.249 tahun hingga hari ini. Terlupakan oleh seluruh dunia, kecuali anak-anakku sendiri para Elf yang selalu mengingatku."


Leo sama sekali tak menyangka.


Bahwa nama dunia yang selalu diketahui oleh semua orang ini.


Bahkan yang Ia ketahui sejak sebelum dirinya dikirim ke dunia ini....


Adalah nama dari salah satu Dewi yang ada dan yang paling tua. Menamai dunia ini dengan namanya sendiri.


Meski begitu....


"Tapi kami bukanlah Dewa yang sebenarnya. Kami hanya lahir karena akumulasi Mana yang sangat kuat di dunia ini. Dan secara kebetulan aku lahir paling awal. Jadi jangan sembah diriku seperti itu, Narla." Ucap Egalathia sambil berusaha untuk mengangkat dagu Narla itu.


Ia memandanginya dengan lembut. Membiarkan Leo untuk berpikir selama beberapa saat.


Narla pun mengangkat wajahnya, memandang keindahan Dewinya sendiri di hadapannya.


Hingga akhirnya....


"Aku akan dengan senang hati membantumu. Lagipula, tanpa kau minta sekalipun, aku berencana untuk menghajar para Iblis itu. Dan mungkin menyelamatkan tanah ini sebagai bonusnya.


Tapi seperti yang kau tahu, Valkazar itu sangat kuat. Dengan keadaan kami berdua.... Kau seperti berharap seekor semut untuk mengalahkan seekor gajah. Kau tahu itu kan?" Tanya Leo dengan tatapan yang tajam.


Tetap dalam senyumannya, Egalathia mengangguk dan membalas perkataan Leo.


"Tentu saja aku tahu. Oleh karena itu, aku akan meminjamkan mu kekuatanku."


"Eh? Aku tak salah dengar?" Tanya Leo yang tak bisa mempercayai apa yang baru saja didengarnya.


"Aku serius. Tapi kemungkinan besar, tidak.... Aku sudah siap pergi selama anak-anakku bisa tetap hidup di dunia ini. Dengan kekuatan mereka aku yakin mereka akan baik-baik saja.


Sedangkan aku sendiri akan mengikuti langkah rekan-rekanku yang lainnya meninggalkan dunia ini. Tapi sebelum itu, aku ingin menyampaikan sesuatu padamu, Leo."


Untuk pertama kalinya, Egalathia menunjukkan wajah serius yang sama sekali tak terdapat senyuman.


Sambil berusaha untuk memeluk tubuh Leo itu, Egalathia berbisik kepadanya.


"Aku juga sama sekali tak bisa melihat keberadaan jiwa Valkazar hingga beberapa saat ini."