E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 88 - Promotor



Setelah menyelesaikan ujian tahap kedua, para peserta masih perlu melanjutkan dengan beberapa ujian yang lainnya. Semua itu untuk membuktikan kelayakan mereka berada di akademi ini.


Dari ujian kedua ini, hanya tersisa 23 peserta saja. Sedangkan yang lainnya telah gugur dan terpaksa harus menunggu pendaftaran untuk semester depan.


Ujian ketiga jauh lebih mudah daripada dua ujian sebelumnya. Dimana peserta hanya diminta untuk menguji pengendalian Mana yang mereka miliki.


Jika para peserta itu telah berhasil lolos dalam ujian pertama dan ujian yang kedua, seharusnya ujian ketiga ini sangat mudah bagi mereka.


Meski begitu....


“Gagal!”


Terdapat seorang peserta yang masih gagal dalam tahap ini. Alasannya lolos dalam ujian sebelumnya adalah karena Ia memiliki energi Mana yang tinggi.


Tapi di Akademi Sihir Aselica ini, yang dibutuhkan adalah penguasaan pengendalian sihir. Bukan daya ledak yang besar saja.


Dan terakhir....


Ujian keempat.


Sebenarnya agak kurang tepat jika menyebutnya sebagai ujian. Bagaimana tidak? Apa yang perlu di lakukan oleh peserta pada tahap ini hanyalah untuk meletakkan tangan mereka di atas sebuah bola kristal berwarna biru.


Dengan begitu, para pengajar dapat mengetahui kapasitas Mana yang dimiliki oleh peserta secara akurat.


Meskipun fokus dari akademi ini sebelumnya disebutkan sebagai pengendalian Mana, tapi tetap saja. Terdapat batas Mana minimal yang harus dimiliki oleh seseorang untuk bisa masuk.


Pada saat Selene maju....


“E-enam ribu?!” Teriak salah seorang pengajar.


Atau lebih tepatnya, 6.218 poin. Itu adalah jumlah maksimal Mana yang dimiliki oleh Selene. Jumlah yang sama dengan yang dilihat oleh Clairvoyance milik Leo.


“Benarkah?”


“Enam ribu?!”


“Tak ku sangka kita akan melihat Rank A pertama tahun ini.”


Beberapa pengajar serta murid lain yang melihat ujian ini mulai mengutarakan berbagai komentar mereka.


Sejak awal, Leo memang tahu bahwa Selene sangatlah berbakat. Mungkin penyebabnya adalah karena Ia memiliki setengah darah dari Elf, yang membuatnya memiliki afinitas yang tinggi terhadap sihir.


Bahkan, saat ini Status milik Selene telah mencapai 2x lipat ketika Ia pertama kali dibeli oleh Leo.


Setelah kepanikan yang terjadi sejenak, sang pengajar itu segera membenahi dirinya dan kembali melanjutkan penilaian.


“Ehem! Selene! Kau memiliki jumlah Mana yang sangat besar, oleh karena itu, aku sebagai pengajar akan meluluskanmu dalam ujian terakhir ini dengan predikat A.”


Leo yang melihatnya hanya bisa tersenyum puas. Terlebih lagi melihat senyuman lebar di wajah Selene yang jarang diperlihatkan olehnya itu.


‘Kerja bagus, Selene.’ Pikir Leo dalam hatinya.


Beberapa peserta yang lain terlihat mulai merasa minder dengan penampilan Selene barusan. Tapi mau apapun yang terjadi, penilaian akan tetap dilanjutkan.


“368 poin, predikat E.” Ucap pengajar itu kepada salah seorang peserta.


“874 poin, predikat E.”


“194 poin, gagal. Coba lagi semester depan setelah kau meningkatkan kapasitas Mana mu, mengerti?”


“1.143 poin, predikat D.”


Beberapa saat berlalu. Di kejauhan, terlihat sosok Selene yang memperhatikan Tuannya sambil merapatkan kedua tangannya seakan sedang berdoa.


Dan akhirnya, giliran Leo pun tiba.


Ia mengarahkan tangan kanannya ke sebuah bola kristal dengan warna biru yang indah itu. Setelah beberapa saat pengajar itu memperhatikannya....


“1.026 poin, Predikat D.” Ucap pengajar itu sambil memberikan sebuah lencana bertuliskan huruf D dengan warna putih.


“Kau berhasil, Tuan Leo.” Ucap Selene menyambut Tuannya yang berjalan ke arahnya itu.


“Tapi jujur, aku sendiri juga berharap Mana milikku lebih besar daripada ini.” Balas Leo sambil melihat lencana dengan huruf A berwarna jingga di dada sebelah kiri Selene itu.


“Mengingat kerja keras Tuan Leo selama ini, aku juga berharap demikian. Terlebih lagi semua pekerjaan dari Nona Feris itu....”


Peningkatan kapasitas Mana sebenarnya sangatlah mudah. Sama seperti seorang penyelam. Jika ingin bisa menahan nafas lebih lama, maka penyelam itu hanya perlu sering melatih pernafasannya.


Mana juga demikian.


Semakin sering Mana dalam diri seseorang dikuras habis atau digunakan, kapasitasnya akan meningkat dengan sendirinya.


Hanya saja....


‘Ini kah batas dari diriku yang sudah dilabeli sebagai pahlawan tingkat E oleh Dewi Cyrese? Tidak, tapi aku sudah mencapai peringkat D di mata manusia.’ Pikir Leo dalam hatinya.


Beberapa peserta yang tersisa pun maju. Menyelesaikan ujian terakhir yang hanya merupakan pemeriksaan ini. Dengan sisa yaitu 22 peserta.


“Kenakan semua lambang kalian di dada sebelah kiri dan ikuti aku.” Ucap pengajar itu.


Semuanya mengikuti pengajar itu sambil mulai berbicara satu sama lain. Mengenai sebuah kenyataan bahwa mereka telah lulus dan akan diterima di sekolah sihir ini.


Akan tetapi, ada sedikit hal yang mengganjal dalam pikiran Leo. Dan semua itu.... Segera terjawab setelah mereka tiba di ruangan berikutnya.


Dalam ruangan itu, terdapat beberapa penyihir tingkat atas yang duduk di sebuah kursi kayu. Tepatnya yaitu 6 orang penyihir.


2 diantaranya terlihat masih muda, 3 lagi terlihat sudah memasuki usia 40an, sedangkan 1 sisanya terlihat sudah lebih dari 60 tahun. Semuanya memandang 22 sosok murid yang baru saja lulus semua ujian itu. Termasuk lambang di dada kiri mereka.


“Hmm.... Tahun ini nampaknya cukup biasa.” Ucap sang penyihir tua.


“Begitu lah. Aku sebenarnya sedikit berharap untuk....”


“Tunggu! Apakah itu lambang A?”


“Kau serius?”


Semua mata kemudian tertuju pada seorang gadis berambut putih yang indah dengan telinga runcingnya yang sedikit tersembunyi dibaliknya.


“Kau benar. Itu adalah peringkat A. Tak ku sangka tahun ini akan semenarik ini.”


“Apapun yang terjadi aku akan mengangkatnya sebagai muridku.”


“Bodoh, gadis seperti itu mana mau dengan guru tua sepertimu.”


Pembicaraan mereka yang cukup pelan makin lama makin menjadi keras. Membuat beberapa dari peserta itu dapat mendengarnya dan mulai melirik ke arah Selene.


Tapi Leo sendiri....


‘Jadi begitu. Aku berpikir bagaimana dengan mereka yang berbakat tapi tak memiliki uang. Nampaknya ini cara yang mereka pilih ya?’ Pikir Leo sambil tersenyum.


Setiap peserta kemudian diminta untuk berbaris dengan rapi.


“Perhatian, semuanya. Mereka berenam adalah Promotor kalian, dengan kata lain, sosok yang akan membiayai pendidikan kalian di akademi ini sekaligus sebagai mentor utama kalian.


Sebutkan tujuan dan visi masa depan kalian selama menempuh pendidikan di akademi ini dan buat setidaknya satu dari mereka tertarik. Jika tak ada, kalian akan berada di bawah bimbingan Dewan Penyihir Aselica.” Jelas sang pengajar yang sedari awal membimbing semua peserta di jurusan ini.


Semua orang terlihat mulai menelan ludah mereka. Bagaimanapun, keenam orang yang ada di hadapannya setidaknya merupakan seorang penyihir yang hebat.


Dan semua itu sudah dipastikan dengan mata Leo yang mampu melihat kemampuan mereka semua.


Akhirnya, tahap terakhir dari pendaftaran ke akademi sihir Aselica pun dimulai. Semua orang harus membuktikan kelayakan mereka untuk dapat memperoleh dukungan salah satu dari mereka.