
Setelah pertemuan kembali antara Reina dan Dimas, keduanya mengurung diri di dalam ruangan itu selama beberapa saat.
Tak ada satu orang pun yang berani melihat atau membuka pintu itu. Semua bawahan Leo yakin bahwa Tuannya juga membutuhkan waktu sendiri. Dan kali ini, mungkin wanita itu adalah kekasihnya.
Mereka semua masih belum begitu mengenal sosok yang bernama Leo itu sendiri. Bahkan Artemis yang paling pertama bertemu dengannya pun tak tahu menahu mengenai wanita itu.
Tapi semuanya sedikit tercerahkan oleh penjelasan Lucas. Bahwa mungkin saja, Leo mengetahui sesuatu mengenai orang yang sedang dicari-cari oleh Reina. Bahkan lebih dari itu, mungkin Leo itu sendiri adalah orangnya. Mengingat reaksi dan juga sikap Leo setelah mendengar nama Dimas.
"Huwaaa.... Jadi begitu ya? Tak ku sangka Leo memiliki kekasih di tempat lain. Sialan, apakah bonusku akan berkurang kali ini?" Tanya Artemis pada dirinya sendiri.
"Hahaha, Nona Artemis bisa saja."
"Aku serius! Leo biasanya memberikan banyak bonus uang untukku! Jika saja.... Dia.... Uuggh, mungkin aku harus segera mulai menabung...."
Canda dan tawa mengisi lantai satu penginapan ini. Dengan banyak sekali orang yang sedang menikmati suasana yang ceria ini.
Beberapa jam berlalu. Persiapan untuk pesta besar pun segera dimulai.
Para lelaki membantu persiapan dengan memotong dan membersihkan daging dan sayuran. Sedangkan 2 orang wanita yang ada mulai mempersiapkan bumbu dan memasak.
Artemis sendiri hanya duduk di tengah-tengah dapur sambil berdongeng mengenai kisah pertemuannya dengan Leo.
Semua orang sudah terbiasa mengenai Artemis yang jarang bekerja dan justru banyak berbicara itu. Meski begitu, Leo masih memberikan bayaran yang mahal kepadanya.
Alasannya sangatlah sederhana hingga semua orang bisa saja melupakannya.
Yaitu keceriaan Artemis itu sendiri bisa merubah suasana rumah menjadi lebih nyaman dan hangat. Tak hanya itu....
"Aduh!" Teriak salah seorang pekerja wanita yang tak sengaja mengiris jarinya cukup dalam.
"Pengobatan kilat! Perlihatkan jarimu." Ucap Artemis yang segera mendekat ke arah wanita itu lalu menyembuhkannya dengan cepat.
"Terimakasih, Nona Artemis."
"Sudah tugasku! Kemudian! Melanjutkan cerita yang tadi! Kalian tahu, Leo itu...."
Artemis pun memulai kembali dongengnya yang sangat panjang setelah kembali duduk di tengah.
Sementara itu, sosok Leo dan juga Reina masih belum terlihat. Mereka masih belum keluar dari kamar itu. Meskipun sedikit khawatir, tapi Lucas hanya membiarkannya saja.
Perasaannya mengatakan bahwa mungkin Leo memanglah Dimas itu sendiri, yang merubah namanya setelah mengalami kejadian mengerikan itu. Atau setidaknya, itu adalah yang diceritakan oleh Reina kepadanya.
Lucas hanya duduk di lantai satu sambil menikmati minuman dan makanan ringan yang disajikan. Sesekali, Ia terlihat memperhatikan bagaimana sikap para budak Leo.
'Tak mungkin untuk membuat senyuman selebar itu jika berada dalam penindasan. Leo.... Kau sebenarnya adalah orang yang baik bukan?' Pikir Lucas sambil tersenyum melihat suasana dapur yang begitu penuh dengan kebahagiaan itu.
Akan tetapi....
Selene masih mengurung dirinya di kamar. Padahal biasanya Ia suka memamerkan kemampuan memotong dagingnya kepada para pekerja yang lain.
Tapi kali ini....
Tak ada yang tahu apa yang sedang dilakukannya.
......***......
Tepat setelah matahari terbenam, persiapan akan pesta besar itu pun selesai.
Beberapa orang terlihat menata meja yang ada di lantai satu. Menyatukannya agar menjadi meja yang besar ketika dijejerkan. Orang yang lain terlihat membawa berbagai hidangan dari dapur.
Pada akhirnya, meja itu pun penuh dengan makanan dan minuman yang semuanya terlihat begitu menggoda.
Uap panas masih terlihat pada sebagian besar makanan. Sedangkan es yang dingin terlihat begitu menggoda dalam mangkuk besar yang berisi sup buah itu.
Sapi panggang, sate sapi, sup sapi, dan berbagai olahan daging sapi lainnya terlihat berjejer dengan rapi di atas meja itu. Tak lupa 4 buah keranjang yang penuh dengan roti yang masih hangat.
"Seseorang, tolong panggil Leo dan Selene untuk keluar. Kita tak bisa memulai pesta ini tanpa mereka." Ucap Artemis kepada kerumunan bawahan Leo itu.
"Dengan segera, Nona Artemis!"
Lucas yang sebelumnya tak begitu berharap banyak, nampaknya telah salah besar. Ia berpikir bahwa makanan yang dihidangkan hanyalah makanan biasa.
Tapi apa yang ada di hadapannya kini terlihat seperti berasal dari rumah makan terbaik di kota ini.
Ia pun duduk dengan sikap yang tak sabar untuk mencicipi hidangan yang ada. Tapi sayangnya Ia masih perlu menunggu agar Leo datang untuk membuka pesta ini.
'Dok! Dok!'
"Permisi, Tuan Leo. Bisakah Anda segera bersiap untuk memulai pesta ini? Kami tak bisa memulai tanpa kehadiran Anda." Ucap seorang Pria yang merupakan bawahan Leo itu.
'Bruk! Bruukk!'
Suara langkah kaki yang terkesan panik terdengar dari balik pintu itu. Membuat Pria itu sedikit kebingungan. Sesaat setelah itu, suara dari Leo terdengar.
"Tu-tunggu sebentar! Aku akan segera kesana!"
"I-itu benar! Tunggu sebentar ya!" Sahut Reina yang juga berada di dalam ruangan itu.
Perkataan mereka berdua terlihat panik. Tapi tak ingin ambil pusing dengan kejadian ini, Pria itu pun segera mengiyakannya dan kini berjalan ke arah kamar Selene.
'Dok! Dok! Dok!'
"Permisi, Nona Selene. Pesta pertama untuk setiap tanggal 10 akan segera dimulai. Kami harap Nona Selene bisa segera mempersiapkan diri dan turun ke bawah." Ucap Pria itu.
Tanpa adanya balasan, pintu itu terlihat terbuka. Memperlihatkan sosok Selene dengan penampilan yang terlihat acak-acakan. Bahkan rambutnya yang biasanya terlihat begitu indah pun kini terlihat berantakan.
Dengan mata yang sedikit memerah, Selene menjawab permintaan Pria itu.
"Baiklah. Aku akan segera turun." Ucap Selene sebelum menutup kembali pintu kamarnya.
Kali ini juga, Pria itu merasa keheranan dengan apa yang sebenarnya terjadi di tempat ini. Tapi sekali lagi, Ia tak terlalu ingin mengambil pusing dengan urusan atasannya. Jadi Ia hanya mengiyakan dan kembali ke lantai satu.
Sesampainya di bawah, Ia melihat sosok Leo dan juga Reina yang keluar bersamaan dari ruang kerja itu.
Leo sendiri terlihat masih membenahi pakaiannya yang jarang-jarang terlihat kusut. Begitu pula Reina yang masih menyisir rambutnya dengan kedua tangannya.
Tapi selain hal itu, ada sesuatu yang jauh lebih mengejutkan semua orang yang ada di penginapan ini. Bahkan sampai membuat mereka ternganga karena hal itu.
"Semuanya, kita akan berpesta habis-habisan malam ini! Makan dan minum lah sepuasnya! Jika kurang, aku akan membawakan yang lain! Katakan saja apa mau kalian karena hari ini aku akan mentraktir kalian sepenuhnya!" Teriak Leo sambil mengangkat tangan kanannya.
Wajahnya pun berubah total. Ia terlihat memberikan tatapan yang penuh dengan semangat serta senyuman yang begitu lebar.
Meski begitu....
Mereka hanya bisa semakin terbakar oleh api semangat yang baru oleh Tuannya.
Dan sebuah ketidaksopanan jika mereka tak menjawab teriakan itu.
"Wuoooooohh!!!"
"Tuan Leo yang terbaik!"
"Terimakasih banyak, Tuan Leo!"
"Tuan Leo! Aku menyayangimu!"
"Terimakasih banyak, Dewi! Telah mempertemukan ku dengan Tuan Leo!"
Berbagai jenis teriakan dan sorakan mulai terdengar di penginapan ini. Reina yang kini berdiri di samping Leo hanya bisa memandanginya dengan tatapan yang jauh berbeda dari sebelumnya.
Kedua tangannya yang telah selesai merapikan rambutnya itu, kini memeluk tangan kiri Leo dengan lembut.
Di sisi lain, Selene yang saat ini masih berdiri di lantai dua, melihat kemeriahan semua orang di lantai pertama dari depan kamarnya.
Senyuman yang tipis mulai terlihat kembali di wajahnya yang sedari tadi terlihat begitu murung.
'Apa yang barusan ku pikirkan.... Bukankah sudah sewajarnya orang sehebat Tuan Leo dicintai oleh banyak orang? Bahkan aku sekalipun.... Tak masalah bukan?' Pikir Selene dalam hatinya sambil memandangi sosok Leo dari kejauhan.
Setelah memantapkan pikirannya, Selene pun segera berlari untuk turun ke lantai satu. Langkah kakinya yang ringan namun cepat itu seakan hampir tak menimbulkan suara.
"Tuan Leo, maafkan aku terlambat." Ucap Selene sambil sedikit menundukkan kepalanya kepada Leo.
Leo hanya tersenyum kepada Selene. Sedangkan tangan kanannya terlihat membelai rambut putihnya yang indah dan panjang itu.
"Tak perlu bersikap seperti itu padaku mulai sekarang." Ucap Leo.
Perkataan itu pun membuat Selene cukup terkejut. Bahkan Ia tak bisa menahan diri terhadap belaian Tuannya itu. Membuat wajahnya memerah secara spontan.
"Tu-Tuan?! Apa maksudmu dengan itu?"
"Selain Artemis, kau adalah orang yang paling bisa ku percaya. Dan sebagai tangan kananku, kau tak perlu bersikap seperti sedang berbicara dengan orang yang penting. Bersikap santai saja denganku." Jawab Leo tetap sambil tersenyum.
Reina yang sedari tadi masih merangkul tangan kiri Leo pun ikut menimbrung dalam percakapan ini.
"Itu benar, Selene. Mulai sekarang kita akan berteman dekat."
Perkataan dan senyuman Reina itu pun akhirnya membebaskan keraguan terakhir di dalam hati Selene. Ia yang sebelumnya bingung atas bagaimana bersikap terhadap Leo, kini telah tercerahkan.
"Terimakasih banyak, Tuan Leo. Tapi izinkan aku untuk tetap memanggilmu Tuan."
"Begitu kah? Tak masalah bagiku. Ah benar juga, jika ada sesuatu yang kau inginkan katakan saja."
Kehangatan mulai kembali mengisi hati gadis berambut putih itu. Tak berselang lama, Leo berjalan ke arah meja dan meneguk minuman pertama kalinya.
'Glek! Glek! Glek!'
"Fuaaaahhhh!!! Minuman ini segar sekali! Kalian semua! Bersenang-senang lah untuk malam ini sepuasnya! Karena besok, aku memerintahkan kalian semua untuk libur!" Teriak Leo sambil membanting gelas kayu itu ke meja.
"Libur!!!"
"Tuan Leo! Terimakasih banyak!"
Semua orang pun segera berpesta dengan memakan berbagai jenis hidangan yang ada. Jika ditarik kembali dari kehidupan masing-masing bawahan Leo itu....
Mungkin saja hari ini....
Adalah titik yang paling membahagiakan dalam kehidupan mereka.
Sedangkan bagi Leo sendiri....
Hari ini adalah titik dimana Ia telah menebus kesalahannya dulu. Kesalahan di saat Ia berpikir telah menyelamatkan seorang gadis bernama Reina.
Sebuah tindakan yang justru membuat Reina jauh lebih menderita daripada apa yang dibayangkannya.
Begitu pula bagi Reina.
Hari ini adalah hari yang terbaik dalam hidupnya. Karena Ia berhasil untuk membuktikan bahwa sosok bernama 'Dimas' itu masih hidup dengan nama dan kehidupan yang baru bernama 'Leo'.
Sosok yang jauh lebih kuat dan jauh lebih dapat diandalkan.
Dan terlebih lagi....
Sosok yang menjadi cinta pertamanya. Baik untuk Leo, maupun Reina itu sendiri.
......***......
...- End of Arc 1 : Redemption -...
...- Penebusan -...
...Bagi yang bingung atas inti dari cerita ini, kenapa judulnya kok beda dengan isi cerita, sabar. ...
...Ini adalah novel yang panjang dimana saya akan mengajak pembaca untuk menikmati perjalanan setiap tokohnya. Bagi yang hanya suka MC bantai-bantai sana sini trus kumpulin cewek kayak pookeemoon, Anda datang ke tempat yang salah. ...
...Lalu, kenapa ceritanya malah kayak gini? Jawaban singkatnya adalah pada Arc pertama ini cerita fokus kepada MC kita Dimas dan Reina dalam perjalanannya untuk menebus dosa mereka masing-masing. ...
...Sampai saat ini, Dimas hanya terpaku untuk membenahi kesalahannya karena tak bisa melindungi sosok pertama yang dicintainya. Dan terus berada dalam delusi bahwa wanita itu sendiri hidup aman dan damai di suatu desa. Dan mungkin bersama dengan orang lain. Tapi dia hanya ingin Reina untuk bahagia. Itulah yang membuatnya memiliki perasaan inferiority dengan menyembunyikan identitasnya. ...
...Kebalikannya, Reina hanya terpaku untuk mencari dan menyelamatkan Dimas yang dulunya tak bisa dia lindungi. Mungkin malah karena keberadaannya jadi seperti itu. Dan selama itu pula, Reina juga selalu berada dalam delusi bahwa Dimas itu selalu hidup sengsara dan penuh dengan penyiksaan di suatu tempat perbudakan. Membutakan matanya atas apa yang ada tepat di hadapannya. ...
...Setelah keduanya saling memahami, dan kini berhasil menebus dosa mereka masing-masing dengan melepaskan diri dari delusi itu, akhirnya mereka terbebas dari rantai yang membelenggu aksi mereka selama ini. ...
......Untuk yang masih membaca sampai bab ini saya ucapkan terimakasih. ......
...Untuk Planning Arc berikutnya yaitu Nobility atau Kaum bangsawan. Untuk pengartiannya kalian bisa berimajinasi sendiri. ...
...Sedangkan untuk plot utamanya yaitu masih mengikuti MC kita Dimas yang kini telah tercerahkan dan bisa hidup dan bekerja maksimal. Kali ini, dia hanya ingin satu hal. Yaitu kekuatan sebanyak mungkin untuk menjaga kedamaian yang saat ini dimilikinya dan yang ada di sekitarnya. ...
...Sekian...
...Terimakasih...