
"Tunggu dulu! Jangan bala...." Teriak Alicia sekuat tenaga, berusaha untuk menghentikan balasan dari pasukannya.
Tapi semua itu sia-sia. Pasukannya yang telah menerima hujan panah dari Kota Venice, kini telah melepaskan tembakan mereka.
Dengan balasan sebanyak ratusan panah itu, puluhan prajurit yang berada di atas dinding Kota Venice gugur.
Leo yang melihat kengerian hal ini pun segera memikirkan cara untuk meredakannya. Ia sama sekali tak menduga bahwa negosiasi yang seharusnya damai ini, justru berakhir menjadi seperti ini.
"Selene! Kembali ke dinding dan perintahkan semuanya untuk segera berhenti!" Teriak Leo.
"Dengan segera!"
Selene segera memperkuat dirinya dengan sihir angin. Membuat gerakannya menjadi jauh lebih cepat dengan tubuh yang juga jauh lebih ringan.
Di sisi lain, Reina nampak terus bersiaga. Jika saja....
'Syuuutt!!'
Sebuah anak panah melesat dengan sangat cepat ke arah kepala Leo. Tapi sesaat sebelum mengenai dirinya, panah itu segera membelok hingga meleset.
Leo yang menyadari itu hanya diam. Memperhatikan asal dari serangan anak panah itu dengan seksama.
Tak seperti sebelumnya, sejak kejadian di hutan itu Leo selalu melapisi tubuhnya dengan sihir angin tingkat rendah. Meskipun tak sempurna, sihir angin itu dapat membelokkan sebagian serangan jarak jauh yang mengarah padanya.
"Jadi begitu." Ucap Leo setelah mengetahui pelaku penembakan itu.
Ia berjalan secara perlahan melewati sosok Alicia yang masih terlihat begitu sibuk berusaha untuk meredam serangan balasan dari pasukannya.
"Apakah Feris tahu sesuatu tentang ini?" Tanya Leo.
"Apa maksudmu?" Tanya Alicia yang kebingungan dengan maksud dari pertanyaan ambigu Leo itu.
Tapi Ia tak membalasnya. Ia hanya mengangkat senjata sihirnya lalu mengarahkannya kepada pelaku penembakan itu.
Tanpa ragu....
'Duaaarr!'
Tembakan dari pistol itu segera mengenai tepat di kaki prajurit itu.
"Gaaaahhh!" Teriaknya kesakitan setelah menerima serangan itu.
"Tunggu dulu! Leo! Apa yang kau...."
"Siapa yang memerintahkanmu?" Tanya Leo sambil berjalan secara perlahan ke arahnya.
Melihat sosok Reina yang ada di samping Leo dengan pedang di tangan kanannya itu, beberapa prajurit mulai mundur.
Sebagian dari mereka telah melihatnya bahwa Pria yang baru saja ditembak oleh Leo, adalah Pria yang juga menembakkan anak panah itu ke Leo.
Oleh karena itu, mereka seakan membiarkan Leo untuk lewat.
"Aku tanya sekali lagi, siapa yang memintamu untuk membunuhku?" Tanya Leo yang kini berdiri tepat di hadapannya.
Alicia hanya terus berusaha untuk meminta pasukannya tetap tenang. Terlebih lagi, Selene terlihat telah berhasil menghentikan serangan balasan dari dinding Venice.
Oleh karena itu, tak perlu lagi untuk melanjutkan kesalahpahaman ini.
Di hadapan Leo, hanya terlihat wajah ketakutan dari seorang Prajurit. Ia sudah menduga bahwa dirinya mungkin saja akan segera mati.
Pada saat situasi kali ini begitu tegang, beberapa prajurit nampak berjalan menerobos barisan prajurit lainnya sambil melempar seseorang dengan wajah yang sudah babak belur.
"Nona Alicia. Kami telah menangkap pelaku dari penembakan bola api barusan." Ucap salah seorang prajurit itu.
Sosok dari pelaku penembakan bola sihir itu sama seperti prajurit lainnya. Mengenakan zirah seperti ksatria, tapi dapat menggunakan sihir.
Setelah situasi mereda, kini semua orang fokus pada dua orang itu. Sosok yang dengan sengaja berusaha untuk mencegah perdamaian.
Dengan tangan kirinya, Ia memegang wajah Pria itu secara perlahan. Bahkan setelah ditutup oleh sarung tangan kulit berwarna hitam itu, cahaya Rune yang terpasang di tangan Leo masih terlihat dengan jelas.
Dan kini, dengan kekuatannya yang sekarang....
"Enchant." Ucap Leo dengan suara yang lirih.
Hanya dengan kata sederhana itu, serta cahaya kemerahan di tangan Leo, Ia bisa menjadi seorang penginterogasi yang mungkin... terbaik di dunia ini.
"Bagaimana? Kau suka dengan itu?" Tanya Leo kepada Pria itu.
Pada saat itu juga, Pria itu kehilangan penglihatan di salah satu matanya. Semua itu berkat Leo yang menggunakan Enchantment, tapi dalam artian yang negatif.
Setelah melakukan cukup banyak percobaan pada dirinya dan juga tahanan kriminal yang ada, kemampuan penggunaan Enchantment oleh Leo telah meningkat drastis. Hingga di tingkat dimana Ia bisa memperkuat, atau melemahkan salah satu organ tubuh targetnya.
Dan kali ini, targetnya tak lain adalah mata dari Pria itu.
"A-apa yang kau lakukan?!" Teriak Pria itu ketakutan. Ia nampak berusaha memastikan bahwa mata kanannya itu tak buta. Tapi berapa kali pun Ia mencoba, Ia tahu. Bahwa Ia telah kehilangan salah satu penglihatannya hanya dengan sentuhan tangan Leo.
Alicia yang melihat hal itu sangat terkejut. Karena berdasarkan apa yang dikatakan oleh Feris, Leo hanya bisa melakukannya pada benda mati seperti zirah dan juga senjata.
Tapi ini?!
'Bukankah kekuatannya itu terlalu kuat?!'
Semua orang yang melihat reaksinya segera melangkah mundur. Menjauhi Leo secara perlahan.
"Itu benar. Tanganku ini adalah tangan terkutuk. Siapapun yang ku sentuh akan memperoleh kutukan sesuai dengan apa yang ku inginkan." Tegas Leo sambil memberikan tatapan dingin kepada semua orang di sekitarnya.
Terutama dua orang yang melakukan kejahatan perang di hadapannya itu.
"Sekarang, katakan padaku yang sebenarnya. Jika tidak, aku akan benar-benar membuatmu buta. Dan jika kau masih tak ingin mengatakannya, aku akan membuatmu tuli.
Begitu seterusnya sampai seluruh inderamu tak lagi bekerja. Tapi tenang, aku akan membiarkanmu tetap hidup. Lagipula, aku bukanlah Pria yang jahat." Jelas Leo kepada dua orang di hadapannya itu.
Tangan kirinya mendekat secara perlahan. Bagi lawannya, tangan kiri Leo itu bagaikan hitung mundur. Dan mereka berdua tahu, bahwa Leo bersungguh-sungguh dan benar-benar bisa melakukannya.
"Tiga.... Dua.... Satu.... Waktu habis."
'Sreett!'
Leo segera memegang wajah Pria itu kembali. Dan kali ini, membutakan mata terakhirnya. Membuatnya sama sekali tak bisa melihat apapun.
"Aaarrggg! Aaarrrgghhh!!!" Teriak Pria itu seperti orang gila. Kedua tangannya berusaha untuk meraba-raba yang ada di sekitarnya. Sebagai bentuk usaha terakhir untuk mengetahui sekeliling tanpa bantuan mata.
Tapi bukanlah rasa iba, ataupun ampunan yang diterimanya. Melainkan sebuah ancaman yang lain.
"Katakan, siapa yang memberi kalian perintah? Kali ini, aku akan mengambil pendengaran di telinga kirimu."
Sesaat sebelum Leo melakukan hitung mundur, Pria itu pun berteriak.
"Bangsawan! Seorang bangsawan dari wilayah Rustfell memintaku untuk melakukan ini! Wanita itu bilang bahwa kau adalah seorang tiran yang menindas para wanita yang tersisa di wilayah ini! Itulah kenapa...."
Leo, Reina, dan juga Alicia yang mendengar hal itu terlihat cukup terkejut. Terutama Leo, karena jawabannya sedikit di luar perkiraannya.
'Bangsawan? Kenapa? Apa mau mereka? Tidak.... Bukan itu....'
Setelah itu, dengan cara yang sama, Leo menguak seluruh informasi dari Pria yang satunya. Tapi hasilnya sama sekali tak memuaskan.
Ia mengatakan bahwa seorang bangsawan memerintahkannya untuk menyerang Kota Venice karena kota itu telah dikuasai oleh Iblis. Dan semuanya hanyalah tipuan belaka untuk mengelabuhi umat manusia.
Meskipun sedikit rancu, tapi kini semuanya tersadar.
Bahwa ada seseorang, atau pihak. Yang memanfaatkan kekacauan dalam musim dingin ini untuk memecah belah umat manusia.