E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 135 - Phyrric Victory



"Ggrr.... Aku yang menang.... Manusia." Ucap Minotaur itu sambil menggenggam tubuh Selene di tangan kanannya yang besar itu.


Selene nampak berusaha sekuat tenaga untuk melepaskan diri. Tapi semua itu sia-sia. Tak ada gunanya sama sekali. Karena perbedaan kekuatan mereka bagaikan langit dan bumi.


Leo yang melihat pemandangan itu hanya bisa lemas.


Selama ini, Ia sangat yakin bahwa Selene adalah salah satu orang terkuat yang pernah diketahuinya. Bahkan bisa sedikit mengimbangi Reina yang tidak menggunakan kekuatan kelas S [Sword Saint] miliknya.


Tapi tak di sangka....


Bahwa kekuatan yang dianggap begitu besar di kalangan manusia itu, hanyalah sebuah semut yang tak berarti bagi seorang Iblis.


Atau lebih tepatnya....


Di hadapan satu dari 4 petinggi utama bangsa Iblis. Thorax. Seorang Minotaur terkuat yang ada dari seluruh ras Minotaur yang ada.


'Bruukk!'


Leo dengan segera menjatuhkan pistolnya ke tanah. Sekalipun Ia berjuang sekali lagi, Leo masih perlu melakukan isi ulang pistol itu dan mengincar yang setidaknya butuh 3 detik atau lebih.


Dengan tatapan yang penuh keputusasaan, Leo hanya bisa bertanya kepada Minotaur itu.


"Apa yang kau mau untuk melepaskannya?" Tanya Leo dengan suara yang gemetar.


Ia tak ingin melihatnya. Sekalipun memang akan mati, Leo tak ingin bahwa itu adalah karenanya.


Minotaur itu nampak memperlebar senyumannya dan bahkan nampak tertawa ringan. Terlebih lagi melihat seluruh pasukan Leo yang telah dibantai, dan juga ribuan Elf yang kabur meninggalkan tempat ini tanpa sedikit pun menoleh ke arah belakang.


Kemenangan telak sudah berada di tangan Iblis. Itulah salah satu alasan kenapa Minotaur bernama Thorax itu tertawa cukup keras.


"Hahaha! Manusia! Kau pikir bisa memberikanku tawaran untuk melepaskan kesempatanku membunuh Elf ini?!" Tanya Thorax dengan keras.


"Aku akan melakukan apapun." Ucap Leo sambil berjalan mendekat. Ia telah meninggalkan satu-satunya senjata yang bisa menandingi Minotaur itu.


Leo bahkan melepaskan pedang yang menggantung di sisi samping pinggangnya. Membuangnya ke atas rerumputan yang menjadi saksi atas peperangan ini.


Mendengar perkataan Leo sekaligus melihat sikapnya, Thorax kembali tersenyum sambil bertanya.


"Apakah kau yakin dengan perkataanmu itu?"


"Ya. Aku akan melakukan apapun. Jadi ku mohon...." Ucap Leo yang terus berusaha mendekati Thorax dengan tangan kosongnya.


Tanpa di sangka, Thorax mengarahkan tangan kanannya ke depan. Mendekatkannya kepada Leo bahwa Selene masih hidup.


"Tuan Leo! Jangan pikirkan aku dan cepat lari!" Teriak Selene berusaha untuk meyakinkan Leo.


"Hahaha! Kau dengar, manusia? Ia ingin kau selamat! Jika kau membiarkanku membunuhnya, aku akan melepaskanmu. Bagaimana?" Tanya Thorax kembali.


"Bagaimana jika kau membunuhku dan kau melepaskannya?"


Mendengar tawaran itu, Thorax nampak tertarik dan mulai mengendurkan genggaman tangan kanannya.


"Menarik.... Tapi kau tahu yang lebih menarik?" Tanya Thorax sekali lagi.


Leo masih terus berjalan mendekat ke arah Minotaur itu. Dan kini, jarak mereka hanyalah sepanjang lengan kanan Leo.


Setelah berhenti mendekat, Leo pun bertanya.


"Apa itu?" Tanya Leo dengan tatapan mata yang tajam.


"Jika aku membunuh kalian berdua...."


Segera setelah mengatakan kalimat itu dengan senyuman yang lebar, Thorax segera mendekatkan tangan kanannya di depan wajah Leo sambil menggenggam sekuat tenaga Selene yang ada di tangannya.


Hanya dalam sekejap, tubuh Selene remuk dan memuntahkan darah dalam jumlah yang sangat banyak.


"Buahahaha! Kau pikir aku akan menyelamatkan kalian?! Jangan bercanda!" Teriak Thorax sambil tertawa lepas.


Ia kemudian membuang tubuh Selene ke tanah. Tepatnya di hadapan Leo itu sendiri.


Apa yang ada dalam pandangannya, adalah sosok Selene dengan tubuh yang hancur tak karuan. Berbagai tulangnya telah patah. Sendinya telah terkilir. Membuat penampilannya saat ini begitu mengerikan untuk dilihat.


Termasuk juga, darah yang keluar dari seluruh bagian tubuhnya.


Bahkan banyak Iblis yang mulai berkerumun di sekitar mereka bertiga nampak tertawa setelah melihat kematian Selene.


Akan tetapi....


Reaksi yang diberikan Leo sama sekali diluar harapan Thorax.


Leo hanya tersenyum tipis, dengan tangan kanan yang menyentuh bagian lutut Thorax yang besar itu. Sebuah sentuhan lembut yang sama sekali tak terdapat ancaman atau bahaya di dalamnya.


Kebingungan dengan reaksi itu, Thorax pun bertanya.


"Manusia.... Kau tak takut kematian?"


Dengan senyuman yang lebar serta mata yang memerah, Leo pun membalas.


"Kenapa tak tanya pada dirimu sendiri?"


Seiring dengan balasan itu, tetesan air mata mulai mengalir dari mata kanan Leo. Termasuk juga....


Sebuah cahaya merah yang berasal tepat di tangan kanannya.


'Swwuusshh!!!'


Butuh waktu lama bagi Leo untuk mengaktifkannya. Terlebih lagi, Ia harus menyentuh targetnya secara langsung untuk bisa membuatnya bekerja.


"Enchant...."


Dengan tatapan yang tajam ke arahnya, Thorax tahu. Bahwa ada sesuatu yang tak beres sedang terjadi.


Secara refleks pun Thorax melangkah mundur.


Tapi semua itu sudah terlambat. Sihir yang digunakan Leo telah berhasil. Dan merubah sifat dari tubuh Thorax itu sendiri.


'Brruuukkk!!!'


Thorax terjatuh ke tanah dengan tumpuan kedua lututnya. Tak mampu untuk berdiri, ataupun untuk bergerak. Dengan wajah yang kebingungan, Ia bertanya-tanya pada dirinya sendiri.


"Apa.... Yang terjadi?"


Kerumunan Iblis yang ada di sekitar Leo dan juga Thorax mulai ikut kebingungan. Mereka tak tahu apa yang harus mereka lakukan.


Haruskah mereka mengganggu komandan mereka dan melakukan sesuatu kepada manusia itu? Atau lebih baik mereka diam dan menunggu perintah?


Mengingat sikap komandan Thorax yang begitu kejam dan bengis, mereka sendiri takut bahwa nyawanya akan menjadi bayaran untuk tindakan mereka. Karena itu lah, mereka semua memutuskan untuk diam.


Leo berjalan mendekat. Membelai wajah Thorax dengan kulit hitam itu secara perlahan. Ia menatap wajahnya yang terlihat kebingungan itu lalu bertanya.


"Apakah kau takut akan kematian?" Tanya Leo yang telah berhasil mengendalikan emosinya barusan.


Apa yang terjadi pada Selene memang tak bisa diulang kembali. Sekalipun Leo dapat mengulangi hal itu, Ia tak tahu apakah dirinya dapat menyelamatkannya.


Tapi kali ini....


Berkat Selene....


Serta kelemahannya di hadapan satu dari 4 Iblis terkuat di bawah pimpinan Valkazar itu....


Leo bisa mendekat. Leo bisa menyentuh Iblis itu tanpa adanya rasa curiga darinya. Karena Thorax menganggap, apa yang bisa dilakukan oleh sentuhan tangan seorang manusia.


Dan kini....


Tepat di hadapannya adalah tangan kanan yang membuat seluruh tubuhnya lumpuh begitu saja. Tak mampu untuk bergerak sedikitpun.


"Tenang saja. Tubuhmu akan kembali normal kembali setelah sekitar 1 menit. Bersyukurlah pada tubuh kuatmu itu, inilah batas dari kemampuanku di hadapan kekuatanmu." Jelas Leo secara perlahan sambil terus membelai wajah Minotaur itu.


Merasa ada sesuatu yang tak beres, para Iblis yang mengelilingi mereka berdua pun mulai bergerak. Secara perlahan mereka berjalan mendekat ke arah mereka berdua.


Satu demi satu....


Beberapa nampak mulai berlari. Dimana yang lainnya mengikuti.


Tapi jarak antar mereka cukup jauh. Leo sudah mempertimbangkannya. Dan waktunya sudah cukup baginya untuk menyelesaikan semua ini.


"Apa.... Apa yang...."


Seberapa kuat pun Thorax berusaha, Ia bahkan kesulitan untuk berbicara. Apalagi untuk bergerak. Kedua matanya nampak mulai bergetar melihat sosok manusia yang ada di hadapannya.


Dan kini, setelah persiapan Leo selesai....


"Aaah.... Benar juga. Selene telah tiada." Ucap Leo yang menyadari bahwa Mana miliknya kurang untuk mengaktifkan sihir itu.


'Sreeettt!! Krettaakkk!!'


Puluhan batu Mana dan beberapa kristal Mana kecil nampak berjatuhan dari tas yang ada di samping pinggang Leo. Dan dengan menggunakan semua itu, Leo memiliki energi sihir yang cukup.


Cukup untuk menghapus kehidupan itu sendiri.


Bukan dengan membakar jiwa atau hal-hal rumit lainnya yang terkesan begitu hebat. Bukan juga dengan persenjataan yang canggih atau sihir yang kuat.


Pedang takkan mampu menembus kulit keras milik Thorax. Tombak akan segera patah setelah mengenai kulitnya. Bahkan sihir tingkat B yang bisa menembus sebuah dinding kastil sekalipun hanya mampu memberikan luka gores pada tubuh Minotaur ini.


Lalu apa yang bisa dilakukan oleh Leo? Apa yang bisa diperbuatnya untuk menjadi sepercaya diri ini?


Hanya satu hal sederhana.


"Ucapkan selamat tinggal pada jantungmu, Thorax. Enchant...."


Dan dengan kalimat itu, Leo mengerahkan seluruh energi sihirnya fokus untuk membuat jantung dari Iblis itu berhenti.


Ia tak punya cukup kekuatan untuk melakukan hal lainnya karena perbedaan kekuatan mereka yang terlalu besar.


Dan hanya ini lah....


Taruhan Leo.


'Aku tak peduli lagi jika aku mati. Tapi setidaknya.... Ini layak dicoba. Selene.... Mungkin aku akan segera menyusul.'


'Swuuusshhh!!!'


Sebuah tekanan udara yang cukup kuat serta cahaya merah yang begitu terang nampak menyinari sekitar tempat Leo dan Thorax berada.


Tapi itu hanya berlangsung sesaat. Apa yang terjadi berikutnya, hanyalah Thorax yang segera tersungkur ke tanah. Tak lagi bisa bergerak, tak lagi bernafas.


Bisa dikatakan....


Manusia, atau dunia, telah memperoleh kemenangan yang sangat pahit di tanah Elf itu sendiri.


Sebuah kemenangan, dengan harga yang sangat mahal. Hanya untuk membunuh salah satu dari 4 Iblis tingkat tertinggi yang ada di dunia ini selain Valkazar.