
Dengan kesepakatan antara Narla dan juga Leo, keduanya pun akhirnya membentuk kelompok kerjasama yang saling menguntungkan satu sama lain.
Kini, keseharian baru mereka berdua pun dimulai.
'Sreett!'
Di antara pepohonan yang telah mengering itu, Leo dan juga Narla nampak berlari dengan cepat.
Leo menggunakan sebuah pedang yang diberikan oleh Narla di tangan kanannya. Sedangkan Narla sendiri bergerak dengan cepat menggunakan dua buah pedang di kedua tangannya.
'Zraastt! Sraaashh!'
Leo dengan cepat menebas kepala Goblin yang ada di hadapannya dengan mudah. Begitu pula dengan Narla. Dimana gerakannya sangat lah cepat dan hampir tanpa suara.
Memenggal puluhan Goblin dalam hitungan detik bukanlah perkara yang besar baginya.
Sedangkan untuk menaklukkan kemah kecil dari Goblin yang hanya dijaga oleh sekitar 200 Goblin ini? Perkara mudah.
"Leo!" Teriak Narla dengan keras.
Memahami apa yang dimaksudkan olehnya, Leo pun segera berbelok arah dan menjauh dari perkemahan itu. Membuat banyak Goblin mengejarnya.
Setelah beberapa detik mengikutinya, Leo segera berbalik dan memberikan tendangan memutar ke salah satu pohon yang ada di dekatnya.
Pohon yang telah cukup lapuk itu pun tumbang dan segera jatuh tepat di atas puluhan Goblin yang ada di belakangnya.
Sementara itu, Narla yang mengikuti dari belakang menebas mereka semua dengan sangat mudah.
Setelah itu, keduanya kembali berlari ke arah perkemahan mereka. Membantai sisanya dengan sangat mudah dan cepat. Tanpa disadari, perkemahan itu pun telah hancur sepenuhnya tanpa adanya seekor Goblin yang selamat.
Hanya dalam hitungan 30 menit saja.
......***......
"Tak ku sangka Hyume bisa bergerak sebagus itu. Kau bahkan hanya memiliki satu lengan." Ucap Narla yang kini sedang berjalan di sekitar perkemahan Goblin yang baru saja mereka hancurkan itu.
"Kau juga. Jika dalam militer manusia, ku rasa kau berada di tingkat S atau lebih tinggi lagi. Hanya dari kelincahan mu saja." Balas Leo yang juga mengais-ngais benda yang ada di tanah.
"Aku tak tahu apa itu tingkat S, tapi kedengarannya cukup bagus."
Tujuan keduanya menghancurkan perkemahan Iblis ini ada dua. Yang pertama tentu untuk mengurangi sebanyak mungkin Iblis yang ada di perjalanan mereka.
Dan yang kedua....
Adalah untuk mencari perlengkapan atau persenjataan yang lebih baik. Termasuk juga makanan. Karena dengan kondisi hutan yang telah terbakar habis serta sungai yang telah mengering ini, hampir tak ada persediaan makanan atau air bersih.
Sedangkan di perkemahan Iblis?
"Narla, aku sudah menemukannya." Ucap Leo sambil menarik sebuah peti kayu yang besar.
Mendengar hal itu, Narla pun segera berjalan mendekati Leo.
Setelah membuka peti kayu itu....
Isinya adalah berbagai bahan makanan. Peti itu terbagi menjadi 4 bagian. Dimana salah satu memiliki ukuran yang sangat besar.
Pada bagian yang besar itu, terdapat tumpukan gandum yang banyak. Sedangkan pada tiga bagian lainnya, terdapat daging asap, roti keras, dan juga garam yang dibungkus dalam beberapa kotak kayu yang lebih kecil.
"Cukup untuk 2 atau 3 Minggu. Kita memperoleh barang besar kali ini." Ujar Narla.
"Tunggu, aku akan cari yang lain."
Mereka berdua pun segera kembali menggeledah tempat sekitar dan mengambil sebanyak yang bisa mereka bawa. Hanya saja, kemampuan mereka berdua untuk membawa barang sangat lah rendah.
Oleh karena itu....
"Narla. Kemari lah sebentar. Ini adalah sihir baru yang telah lama ku pelajari dan teliti. Coba buat lingkaran sihir seperti ini." Ucap Leo sambil menggambar bentuk lingkaran sihir di tanah.
Dengan cepat, Narla segera menirukan dengan persis apa yang digambar oleh Leo.
"Begini?"
"Sedikit perbesar. Lalu coba masukkan kayu ini ke tengahnya." Ucap Leo.
Setelah menyempurnakan lingkaran sihir itu, cahaya biru tua segera muncul menyelimuti lingkaran sihir yang terbentuk di udara itu.
Dan dengan segera....
"Eh?!" Teriak Narla dengan terkejut.
"Berhasil. Aku telah lama memikirkan apa kekurangan dari sihir ini. Tapi nampaknya imajinasi ku terlalu rendah saat itu." Jelas Leo sambil tersenyum. Ia kemudian melempar sebuah batu ke arah lingkaran sihir itu.
Tanpa ragu, Leo memasukkan tangannya ke dalam lingkaran sihir itu.
"Tu-tunggu dulu! Apa yang kau...."
Tanpa di duga, setelah Leo menarik kembali lengannya, batu yang dilemparnya itu kini telah berada di genggaman tangan kanannya.
"Menarik. Sekarang perbesar ukurannya."
"Seperti ini? Tunggu dulu! Jangan katakan ini adalah sihir ruang?!" Tanya Narla dengan terkejut.
Tapi Leo hanya diam dan terus mendorong kotak kayu besar yang berisi berbagai bahan makanan itu untuk melewati lingkaran sihir itu.
"Kau benar. Aku sudah berusaha mengembangkannya sejak lama." Balas Leo.
Dan setelah kotak kayu itu melewati lingkaran sihir itu, semuanya seakan lenyap begitu saja. Tapi Leo masih bisa mengambil sebuah roti dari dalam lingkaran sihir itu.
"Hahaha! Menarik! Tapi ingat, jangan tutup lingkaran sihir ini sebelum kau keluar. Atau mungkin tanganmu akan terpo...."
Seketika, Leo terpikirkan atas suatu hal yang sama sekali tak pernah dipikirkannya selama ini. Sebuah penggunaan sihir ruang yang jauh di luar tujuan penggunaannya.
"Kedengarannya cukup berbahaya. Tapi melihat kegunaannya, aku kagum Hyume bisa membuat sihir rumit seperti ini dalam umur mereka yang pendek. Sekali lagi aku kagum padamu, Leo."
Tapi Leo hanya terdiam. Terus memikirkan potensi penggunaan sihir ini dengan cepat. Dan segera setelah itu....
Sesaat setelah Narla menutup lingkaran sihirnya, Leo memintanya untuk kembali membukanya.
"Coba buka kembali."
"Seperti ini?"
Sebelumnya, Leo mencoba memastikan bahwa barang yang sebelumnya di simpan masih utuh atau tidak. Dan setelah Ia yakin barang di dalam sihir ruang itu masih utuh, Ia segera memasukkan sebuah batang kayu dengan tangan kanannya.
Tapi hanya setengahnya saja.
"Sekarang coba tutup." Ucap Leo.
"Aku tak paham apa maumu tapi...."
'Swuush!'
Narla menghempaskan tangan kanannya sambil menutup lingkaran sihir itu. Dan apa yang terjadi di hadapan mereka, bisa dikatakan adalah sebuah hasil dari pedang yang paling tajam yang pernah ada di dunia ini.
Kayu itu segera terpotong seiring dengan menutupnya lingkaran sihir itu. Meskipun sedikit lambat, tapi kayu itu terpotong dengan sangat rapi. Memisahkan apa yang ada di dunia ini dan yang ada di dalam sihir ruang.
"Tunggu dulu.... Jangan katakan dengan ini...." Ujar Narla yang segera menyadarinya.
"Kau paham kan? Sekarang kita coba hal yang lainnya."
Masih di tengah perkemahan yang telah hancur itu, Leo dan juga Narla mencoba berbagai hal yang dimungkinkan oleh sihir ruang itu.
Pada akhirnya diperoleh beberapa kesimpulan dari percobaan mereka.
Pertama adalah kecepatan menutupnya sekitar 1 detik. Dan akan menjadi lebih lama seiring dengan meningkatnya ukuran lingkaran sihir itu.
Kemudian kedua, lingkaran sihir itu tak bisa bergerak. Lingkaran itu hanya bisa terdiam di tempat mereka dibuat. meskipun ukurannya bisa diubah.
Dan yang terakhir....
"Lingkaran sihir ini.... Bisa memotong apapun?" Tanya Narla dengan terkejut setelah mencoba memotong batu, besi dan pohon dengannya.
Senyuman yang lebar mulai menghiasi wajah Leo. Dan dengan cepat Ia pun menyadarinya.
"Narla, saat ini aku memang tak lagi bisa menggunakan sihir. Tapi dengan pengetahuanku dan kemampuan sihirmu.... Ku rasa membunuh Raja Iblis itu bukanlah suatu angan kosong lagi."
Perkataan Leo itu memang ada benarnya. Dengan seluruh pengetahuan Leo akan sihir, Ia justru jauh lebih berharga daripada ratusan atau bahkan ribuan penyihir sekaligus.
Dan sementara itu, Narla yang akan melakukan pekerjaan kasar.
"Kau benar. Ku rasa dengan ini kita bisa...."
"Tidak. Itu saja tak cukup. Aku pernah melihat sosok Raja Iblis itu dengan mataku sendiri. Dan dia bukanlah iblis yang bodoh untuk memasukkan tangannya ke dalam lingkaran sihir ini. Jadi untuk itu...."
Keduanya pun segera memulai perjalanan mereka kembali menuju ke Pohon Mana setelah mengangkut semua bahan makanan dan senjata yang ada di perkemahan ini. Termasuk minuman.
Tujuannya?
Tentu saja, menghabisi Raja Iblis Valkazar yang menurut Narla....
Sedang menguasai Pohon Mana untuk kembali menggunakan sihir penghancur yang sangat besar. Sebelum itu terulang kembali, atau Valkazar yang telah pergi meninggalkan tempat ini.