
“Pagi....” Ucap Leo yang memasuki ruang kerja Roselia itu dengan sikap santai seperti biasanya.
Di belakangnya, terlihat sosok Selene yang membawa beberapa buku di kedua tangannya.
“Pagi. Ah, Selene. Buku apa yang kau bawa?” Tanya Roselia penasaran. Meskipun dirinya sendiri sedang sibuk menulis sesuatu sambil tetap terpaku dengan mikroskopnya.
“Bahan dan pengaruhnya terhadap kekuatan dan aliran Mana.” Balas Selene dengan senyuman yang tipis.
Roselia nampak memberikan lirikan yang singkat sebelum kembali dalam pekerjaannya.
“Begitu kah? Padahal kau bisa menggunakan udara seperti biasa. Meskipun kekuatannya akan menurun sekitar 80% atau lebih. Lagipula kau juga takkan bisa menuang air raksa di tengah pertarungan sengit.” Balas Roselia dengan sikap yang terlihat sedikit acuh.
“Itu memang benar tapi....”
Sementara itu, Leo sendiri terlihat segera kembali di tempat kerjanya.
Beberapa Minggu telah berlalu semenjak keberangkatan penyihir dari akademi ini. Meski begitu, mereka juga belum kembali. Meninggalkan akademi ini dalam kondisi yang cukup sepi.
“Hari ini kau ingin belajar apa?” Tanya Roselia kepada Leo.
“Rune buatanmu. Aku masih perlu memahami dalam beberapa bagian.”
“Bisa ku lihat?” Balas Roselia yang segera berdiri dari kursinya. Keduanya nampak berdiskusi mengenai arti dan penerapan Rune dalam beda padat.
Sedangkan Selene sendiri fokus untuk belajar di mejanya.
Keduanya sebenarnya telah menyelesaikan seluruh pelajaran yang dibutuhkan untuk lulus di akademi ini. Sebuah pelajaran yang pada umumnya membutuhkan setidaknya 2 tahun atau lebih.
Dan di bawah bimbingan Roselia, keduanya berhasil mempelajari semuanya dalam waktu sekitar 4 bulan. Tapi keduanya belum berencana untuk lulus.
Leo sendiri masih butuh akademi ini untuk mempelajari banyak hal lainnya. Begitu pula dengan Selene.
“Aaah, pengulangan Rune ya? Kalau begitu kau bisa menggunakan huruf ini di tengah bagian akhir, lalu menyambungkannya dengan awal kalimat. Gunakan tanda ini untuk menghubungkan keduanya.” Jelas Roselia sambil menunjuk di senjata sihir buatan Leo.
“Hanya seperti itu?”
“Memang seperti itu. Tapi aku tak menyarankannya karena akan sangat menghabiskan Mana.” Balas Roselia.
Leo nampak berpikir sejenak mengenai saran dari Roselia. Tapi sebelum Ia mengatakan sesuatu, Roselia telah kembali berbicara.
“Meskipun, aku tak paham kenapa kau membuat senjata sihir ini. Melihat dari proses pembuatannya sudah terlalu rumit. Belum lagi pengaturan dan juga penyesuaian untuk pengguna.”
“Aku membuatnya untuk diriku sendiri. Kau tahu aku tak begitu kuat kan?”
Roselia terlihat terdiam sejenak memperhatikan Leo. Ia sedikit menaikkan salah satu alisnya seakan ragu atas apa yang dikatakan oleh Leo. Tapi setelah beberapa saat....
“Yah, bukan masalah juga bagiku. Ngomong-ngomong, aku mulai menemukan sesuatu yang menarik. Nanti datang lah ke meja ku jika kau sudah senggang.” Balas Roselia sambil tersenyum lebar sebelum kembali ke meja kerjanya.
Keseharian mereka berdua pun berlanjut. Tanpa mengetahui apa yang sedang terjadi di garis terdepan umat manusia.
......***...
...
...- Eastfort -
...
Di sisi lain, tepatnya di benteng Eastfort, keadaan berbeda 180 derajat dibandingkan dengan kedamaian yang ada di wilayah lain.
“Cepat tembak panahnya!”
“Sudah habis! Kenapa belum ada yang membawakan panah baru?!”
“Kau bertanya padaku!”
“Cepat lakukan sesuatu! Barisan depan mulai runtuh!”
Puluhan ribu Iblis dari berbagai ras, semuanya berusaha sekuat tenaga untuk menembus pertahanan dari barisan prajurit yang ada di luar dinding.
Alasan mereka harus bertarung di luar dinding sangatlah sederhana. Itu karena mereka harus melindungi regu penyerang terkuat yang saat ini berada di atas dinding.
Mereka adalah para penyihir dari Enfartice. Sebuah akademi yang khusus mendidik seluruh muridnya sihir tipe penyerangan.
‘Blaaaarrrr!!!’
Puluhan bola api nampak dilemparkan dari atas dinding itu oleh para penyihir. Dan semuanya meledak ketika telah mengenai barisan para Iblis itu.
Hasil dari ledakan itu membuat semburan darah dan daging ke segala arah. Mengotori medan perang yang sejak awal memang telah penuh dengan darah itu.
Di sisi lain, tepatnya di bagian dalam dinding, ratusan penyihir dari akademi Aselica terlihat terus menerus menggunakan sihir penyembuh dan pelindung mereka tanpa henti.
Berusaha untuk mengurangi luka yang diderita oleh para prajurit di barisan depan itu.
Meskipun perbandingan jumlah pasukan antara umat manusia dan iblis sebesar 1 banding 4, tapi Eastfort masih mampu bertahan dengan memanfaatkan medan yang cukup sempit.
Hal itu membuat jumlah tak begitu berarti. Meskipun....
‘Braaaaakkk!!!’
Salah satu Ogre dengan tinggi mencapai 2.4 meter itu menghantam tanah dengan pemukul batunya. Menghempaskan 5 orang prajurit sekaligus.
Perbedaan kekuatan dan fisik inilah yang membuat manusia saat ini dalam keadaan krisis, meskipun dipenuhi dengan keuntungan medan dan posisi bertahan.
Bagian dalam benteng....
“Nona Feris. Jika terus seperti ini, kita takkan bertahan hingga 3 hari.” Ucap Duke Theodore yang duduk di hadapan meja kotak yang besar itu.
Di sisi lain, Feris hanya menggigit jarinya. Tak mampu banyak berkata-kata.
“Aku mendengar jumlah mereka hanya 80.000, tapi tak ku sangka mereka berjalan sambil mengumpulkan pasukan di sepanjang perjalanan. Bahkan mencapai 120.000 saat ini....” Ucap Feris kesal sambil terus menggigit jarinya.
“Maafkan aku soal itu....” Ucap Alex yang merupakan salah satu orang pertama yang melaporkan mengenai serangan ini.
Mendengar perkataan Alex, Feris hanya meliriknya sesaat sebelum membalas.
“Aku tak menyalahkanmu. Tapi aku menyalahkan 2 Duke yang belum juga mengirimkan pasukannya. Apa yang wilayah Mulderberg dan Maelfall lakukan di tengah krisis ini?” Tanya Feris dengan nada kesal.
Bagaimana tidak, meskipun terlambat, pasukan mereka seharusnya tetap datang kemari.
Bahkan Feris dan seluruh petinggi di wilayah Eastfort telah menerima surat dari kedua Duke tersebut yang menyatakan bahwa mereka akan mengirim setidaknya 10.000 pasukan.
Tapi semua ini nampaknya takkan pernah terjadi.
Dari berbagai informasi yang mereka peroleh, kedua wilayah itu sama sekali tidak pernah mengirimkan pasukan.
“Tenang saja, Nona Feris. Wilayah Rustfell telah mengirimkan cukup pasukan untuk menahan serangan ini. Jika kurang, kami masih bisa mengirim yang baru.” Ucap seorang Pria dengan badan yang cukup tinggi dan penampilan yang menawan.
Ia tak lain adalah Duke dari wilayah Rustfell. Yang menguasai seluruh Kota dan juga Pedesaan yang ada di dalamnya.
“Terimakasih atas kerjasamanya, Tuan Achibald. Kami sangat menghargai itu.” Balas Feris singkat.
“Sungguh kehormatan untuk menerima ucapan terimakasih dari Anda, Nona Feris.”
Setelah sedikit keluhan dari Feris, rapat untuk membahas mengenai kondisi darurat di benteng Eastfort ini pun berlangsung.
Sebuah rapat untuk menentukan strategi berikutnya yang bisa digunakan untuk melemahkan lawan mereka sebanyak mungkin. Setidaknya....
Hingga bantuan lain tiba.
Meski begitu, Leo dan sebagian besar penduduk lainnya tak begitu mengetahui mengenai hal ini. Itu karena Feris berusaha menahan informasi ini hingga mereka memang memperoleh kemenangan.
Membuat kisah yang terkesan heroik sehingga menarik minat banyak orang untuk bergabung dalam pasukan kerajaan.