E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 47 - Pembicaraan



"Bagaimana kau tahu mengenai hal itu?" Tanya Leo dengan tatapan yang tajam ke arah wanita itu. Ia sama sekali tak ingat pernah menyebutkan nama itu kepada orang lain selain warga desa Canary dan juga Reina.


'Jangan katakan padaku bahwa dia....'


Segera setelah itu, Feris menutup bukunya dan bangkit dari duduknya. Langkahnya secara perlahan mulai mendekati Leo, dengan tangan kirinya yang berada tepat di atas gagang pedangnya.


Untuk menghadapi situasi terburuk, Leo telah siap untuk meledakkan sekitar 12 batu Mana yang ada di tasnya.


Dengan tangan kirinya yang telah siap untuk meledakkan seluruh penginapan ini....


"Tenang lah. Sudah ku katakan berkali-kali aku bukanlah musuhmu. Bisakah kita berbicara empat mata sekarang?" Tanya Feris yang menepuk pundak Leo.


Leo memikirkannya sejenak mengenai tawaran yang dikatakan oleh wanita itu. Setelah beberapa saat....


"Baiklah. Semuanya, tolong tinggalkan kami berdua disini." Ucap Leo dengan tangan kiri yang masih berada di dalam tasnya yang berisi 12 batu Mana itu.


Mendengar perkataan dari Leo, semua budaknya termasuk Selene segera keluar dari penginapan ini. Begitu pula Artemis yang keluar paling terakhir.


"Leo, maafkan aku...." Bisik Artemis sesaat sebelum berlari keluar dari penginapan ini. Menyusul seluruh budak Leo.


'Kreeek!'


Leo menarik sebuah kursi dan meletakkannya di sebelah meja tempat wanita itu duduk. Dengan sikap yang masih tetap tegang, Leo sama sekali tak menurunkan kewaspadaannya.


"Sebelum membahas mengenai tawaranmu, katakan terlebih dahulu siapa kau. Atau lebih tepatnya.... Kau itu sebenarnya apa?" Ucap Leo sambil melirik ke arah wanita itu.


Setelah duduk kembali dan membenahi kacamatanya, wanita itu mulai berbicara.


"Felicia Viartis, seorang pahlawan yang dipanggil ke dunia ini 12 tahun yang lalu." Ucap wanita yang kerap dipanggil Feris itu. Ia terlihat meletakkan bukunya di atas meja.


"Felicia? Jadi kau adalah pahlawan? Lalu kenapa kau ada disini ketika dunia dalam bahaya?" Tanya Leo kembali.


Akan tetapi, jawaban yang diperolehnya justru cukup mengejutkan.


"Aku memiliki kekuatan yang sama sepertimu. Clairvoyance.... Tapi tak ku sangka akan benar-benar bertemu dengan seorang penduduk asli dunia ini yang memiliki kekuatan tingkat S dan tingkat A sekaligus. Kau benar-benar diberkati oleh Dewi, Leo." Jelas Feris.


Mendengar pernyataan itu, Leo sendiri cukup terkejut. Bagaimana tidak?


'Dia tidak tahu bahwa aku adalah pahlawan? Apakah Dewi Cyrese tak memberitahunya? Lalu, apakah memang ada penduduk asli dunia ini yang benar-benar memperoleh kekuatan tingkat S?' Pikir Leo dalam hatinya.


Untuk memastikan keraguannya, Leo pun meletakkan pertanyaan yang sedikit menjebak.


"Dewi? Apakah mereka benar-benar ada? Aku tak mempercayai hal-hal seperti itu, hanya sebatas tahu saja." Ucap Leo.


"Wajar saja. Dunia ini menyembah Pohon Suci sebagai dewa mereka. Sedangkan satu-satunya ras yang melakukan hal itu adalah Elf. Manusia sendiri menyembah sosok Dewa yang tak berwujud, berdasarkan hanya dari keyakinannya.


Tapi aku bisa mengatakannya, Dewi itu benar-benar ada dan memiliki kekuatan yang besar. Tujuannya mengirimku dan banyak pahlawan lainnya ke dunia ini adalah untuk menyelamatkan dunia ini. Yah, meskipun... aku telah lama tak melihat sosoknya lagi." Jelas Feris dengan cukup panjang lebar.


Ia sama sekali tak menahan sedikitpun informasi. Bagi Leo, itu adalah yang yang bagus karena Ia bisa mengorek banyak informasi.


Tapi bagi Feris sendiri, Ia melakukannya murni untuk memperoleh kepercayaan dari Leo. Dan hal itu sudah mulai menunjukkan efeknya.


Leo mulai menarik tangan kirinya dari tas berisi batu Mana itu. Meletakkannya di atas meja untuk fokus pada pembicaraan ini.


"Jadi begitu.... Jadi kau bisa bertemu dengan Dewi ya? Itu luarbiasa. Kuharap aku juga bisa melakukannya." Balas Leo sambil memberikan sedikit senyuman.


"Tidak, lebih tepatnya Dewi memutuskan untuk bertemu denganku. Tapi aku tak tahu kenapa Ia tak lagi menemuiku atau 7 pahlawan yang lainnya. Bagi diriku, pertemuan terakhir adalah sekitar 10 tahun lalu."


Sebelumnya, Dewi Cyrese pernah memanggilnya 2 kali untuk memberikan kekuatan tambahan. Lalu setelah itu, sosok Dewi itu sendiri seakan menghilang dan tak lagi dapat terlihat.


Apakah itu ada hubungannya dengan poin yang digunakannya itu telah menyentuh batas maksimum? Leo takkan pernah tahu selain bertemu dengan Dewi itu sendiri secara langsung.


Setelah memahami kondisi ini, Leo dapat memastikan bahwa Pahlawan ini tak mengenalinya. Dengan kenyataan itu saja, Leo merasa bahwa dirinya sudah diatas angin.


Membebaskannya dari tugas berbahaya seperti melawan Raja Iblis.


Oleh karena itu....


"Kurasa Dewi masih mengawasi kalian dari langit. Meletakkan harapan yang besar pada para pahlawan untuk menyelamatkan dunia ini. Dan aku, sebagai pedagang biasa, hanya bisa berterimakasih pada kalian yang selalu mengorbankan diri setiap hari." Balas Leo sambil terus memuji sosok pahlawan yang ada di hadapannya.


Tanpa di sangka, perkataan murahan seperti itu mampu memberikan sedikit pengaruh pada wajah Feris. Matanya sedikit melebar, menunjukkan bahwa Ia cukup terkejut.


"Rasanya aneh juga memperoleh pujian seperti itu. Apakah ini karena aku bekerja di balik layar jadi cukup jarang memperoleh pujian seperti itu?" Ucap Feris yang segera memejamkan kedua matanya sambil membuat senyuman yang tipis.


Setelah beberapa saat saling menakar sosok lawan bicara mereka, Feris pun akhirnya memasuki inti dari pembicaraan.


"Leo, aku tak tahu alasanmu menyembunyikan namamu. Tapi aku ingin kau sedikit membantu pertarungan kami di garis depan. Tenang saja, aku takkan meminta mu bertarung di sana. Hanya saja....


Kami meminta hak khusus untuk memonopoli barang buatanmu. Jujur saja, aku tak menyangka kekuatan Enchantment sebesar ini. Aah... tenang saja. Kami akan membayar setidaknya 3 kali lipat dari harga yang biasa kau pasang di pasar." Jelas Feris panjang lebar.


Leo membutuhkan sedikit waktu untuk memikirkan balasan yang tepat.


Ia paham betul bahwa lawan bicaranya bukanlah orang dengan otak yang kosong seperti kebanyakan orang yang ditemuinya hingga hari ini.


Tidak.... Feris bahkan jauh melampaui dirinya dalam hal kecerdasan. Apakah itu karena Ia telah bertahan hidup selama 12 tahun di dunia ini? Atau memang dari sebelumnya Ia sudah diberkahi dengan kecerdasan dan pendidikan?


Akhirnya, Leo pun menjawab setelah beberapa detik berpikir dengan kedok meletakkan tasnya di meja.


Tanpa di sangka oleh Feris, Leo justru melepaskan pakaian bagian atasnya. Feris sendiri sama sekali tak memiliki masalah melihat tubuh seorang Pria. Hanya saja, Ia bingung dengan tindakan dari sosok di hadapannya.


Akan tetapi....


Leo memperlihatkan bahu kanannya kepada Feris. Pada bahu kanan Leo, terdapat sebuah lambang 4 buah mata rantai yang membentuk belah ketupat dan sebuah bentuk menyerupai kristal kecil di tengahnya.


Semua itu adalah bekas luka karena ditempelkan pada besi panas dengan wujud seperti itu. Memberikan efek luka seperti tato.


Tak hanya itu, Feris melihat tubuh bagian atas Leo yang penuh dengan bekas luka cambuk, tebasan, dan lain sebagainya. Yang bahkan masih membekas dengan jelas hingga hari ini.


Melihat hal itu....


"Aku mengerti. Jadi itu alasanmu merubah namamu? Maafkan aku karena tak lagi memiliki pikiran maupun waktu untuk mengurus masalah perbudakan di dunia ini." Ucap Feris sambil sedikit menundukkan kepalanya.


"Kau tahu, Felicia? Kurasa aku akan menerima tawaranmu, selama kau berjanji aku takkan merasakan mimpi buruk seperti ini lagi." Balas Leo sambil mengenakan kembali bajunya.


Mendengar hal itu, Feris nampak tersenyum tipis. Dengan cepat, Ia mengeluarkan selembar kertas yang memiliki lambang kerajaan serta sebuah pena bulu hitam.


"Sekarang, bisakah kita segera kembali ke bisnis? Aku ingin segera membuat surat perjanjian perdagangan denganmu." Ucap Feris yang kini memperlihatkan wajah yang sedikit lebih lembut.


Dengan itulah....


Leo membuka bab baru pada hidupnya.