
"Jadi, apakah kau ada kalimat terakhir?" Tanya Reina yang nampak segera menarik pedang yang disarungkan di pinggang kirinya.
Sementara itu, Selene terlihat menggigil ketakutan. Tidak, apakah dia memang ketakutan?
"Tuan Leo.... Kenapa.... Padahal aku selalu di sisimu...." Ucap Selene yang seakan jiwanya telah terbang tinggi itu.
"Su-sudah ku duga, sebaiknya aku pergi kan?" Tanya Luna yang mulai beranjak dari tempat duduknya dengan ketakutan itu.
Meski dengan kondisi yang mengerikan seperti ini, Roselia masih terus memeluk lengan kiri Leo dengan erat.
"Kenapa kau tidak menceritakannya kepada mereka atas kebenaran ini?" Tanya Roselia dengan wajah sedihnya.
Dan saat ini, Leo akhirnya paham.
Mungkin....
Mungkin saja....
Status lajangnya selama 20 tahun lebih itu....
Mungkin jauh lebih baik daripada situasi mencekam saat ini. Dan ini adalah pertama kalinya Leo berharap.
'Jika saja aku tetap tidak populer di kalangan wanita.... Hidupku mungkin akan sedikit lebih panjang. Selamat tinggal dunia, dan maafkan aku, Dewi Cyrese. Nampaknya.... Aku akan mati di sini.' Pikir Leo dalam hatinya sambil memejamkan mata kanannya.
......***......
Beberapa saat telah berlalu semenjak kejadian itu. Dan kini, posisi telah berbalik 180 derajat. Dimana Reina nampak berusaha meminta maaf kepada Leo. Termasuk juga Selene.
Semua itu terjadi setelah mereka melihat surat bukti pernikahan yang dibawa oleh Leo itu. Termasuk juga kesaksian Roselia bahwa sebelumnya hanya bercanda. Dan bahwa semua ini demi keberlangsungan rencana Leo dalam menjaga kota ini.
Hanya Roselia seorang. Yang masih berdiri di samping bangku Leo sambil mengarahkan lengan kanannya.
Untuk apa?
"Kwawian swemwua kwejwam. Bwagwaimwanwa bwiswa kwawian mwewakwukwan hwal wuinwui." Ucap Leo dengan wajah yang cukup bengkak.
Bahkan mata kanannya yang tersisa sebagai organ penglihatan terakhir Leo itu nampak membengkak. Membuat Leo yang saat ini tak bisa melihat apa yang ada di depannya.
Tak hanya itu, pipi dan juga bibirnya terlihat membengkak cukup parah dengan warna yang mulai membiru.
Semua itu berkat pukulan kedua tangan Reina yang diarahkan ke wajah Leo sekuat tenaga. Dimana Selene juga ikut bertanggungjawab karena Ia menahan tubuh Leo agar tak bisa kabur.
Di atas semua itu, mungkin yang paling bersalah adalah Roselia itu sendiri.
Meski Leo sedang menjadi bulan-bulanan, Ia justru berdiri di samping pintu sambil tertawa terbahak-bahak.
"Sudah ku bilang aku minta maaf bukan? Itu hanyalah candaan ringan saja." Ucap Roselia sambil terus menyembuhkan wajah Leo.
Sedikit demi sedikit, cahaya kehijauan yang indah itu mulai menyembuhkan semua memar di wajah Leo.
"Ywah.... Bwagwaimwanwa lwagwui. Wuinwui swudwah twerjwadwui." Balas Leo dengan suara yang seakan pasrah atas semua ini.
"Dim.... Maafkan aku. Karena aku tak berpikir dengan tenang, semuanya jadi seperti ini." Ucap Reina sambil terus menatap tanah.
"Aku juga, maafkan diriku, Tuan."
Roselia yang mendengar perkataan Reina, kini mulai menaikkan sebuah pertanyaan baru.
"Dim? Siapa itu?" Tanya Roselia penasaran.
Reina pun segera terkejut setelah mendengar perkataan Roselia. Ia sadar, bahwa Leo sudah sering memperingatkannya atas nama aslinya itu.
Sebuah nama yang sangat asing di dunia ini. Hampir dikatakan tak ada orang yang menggunakan nama seperti itu.
Itulah kenapa Roselia dengan cepat menyadari kejanggalan tersebut.
"Aaah, soal itu...."
Reina pun segera menoleh ke arah Leo. Berusaha untuk menanyakan saran darinya. Dan Leo dengan cepat membalas.
Meskipun hanya dengan sebuah anggukan sederhana. Menandakan bahwa Ia setuju untuk memberitahukan yang sebenarnya kepada Roselia.
Tapi Leo meminta agar menunggu wajahnya itu sembuh agar Ia bisa menjelaskannya sendiri.
Hingga akhirnya, tepat setelah setengah jam penyembuhan wajahnya itu akhirnya selesai. Mengembalikan Leo setidaknya dalam kondisi sebelum dihajar oleh Reina.
Dan kali ini....
"Roselia. Jika aku bilang bahwa aku adalah seorang pahlawan yang dikirim oleh Dewi untuk menyelamatkan dunia ini, apakah kau akan percaya?" Tanya Leo.
Dimana hanya Roselia seorang yang belum mengetahui identitas sebenarnya dari Leo. Sedangkan Luna? Ia telah lama meninggalkan ruangan ini semenjak baku hantam dimulai.
Sementara itu, jawaban dari Roselia cukup singkat dan terkesan tak begitu terkejut.
"Tidak. Lagipula kau lemah."
"Ughh.... Begitu kah?" Balas Leo yang justru merasa sakit hati karena tak dipercaya.
Meski begitu, Roselia pun melanjutkan perkataannya.
"Tapi.... Jika itu memang benar.... Berjuang lah, Leo. Aah, tapi mungkin ke delapan pahlawan akan menggantungmu karena berusaha untuk memalsukan diri sebagai pahlawan." Lanjut Roselia sambil tertawa ringan.
Setelah mendengar perkataan Roselia mengenai hal itu, Leo sendiri merasa sedikit aneh dengan 8 pahlawan ini.
Terlebih lagi, apakah Dewi Cyrese dan juga Silvie hanya mengirim mereka berdua, dan juga Igor akhir-akhir ini? Tanpa orang lain diantara mereka?
Memangnya, sejak kapan 8 pahlawan ini terbentuk?
Dengan rasa penasaran itu, Leo pun bertanya.
"Hei, Roselia. Ke delapan pahlawan ini.... Sejak kapan mereka ada?" Tanya Leo dengan wajah yang terlihat cukup serius.
Roselia pun memandang mata kanan Leo sebelum menjawab.
"Setahuku, sejak sekitar 6 tahun yang lalu mungkin. Setelah itu, setiap orang yang mengaku sebagai pahlawan dan terbukti palsu segera di bunuh. Dan sejak saat itu juga, hampir tak ada pahlawan baru yang muncul.
Entah karena mereka takut dibunuh, atau memang tak pernah dikirim lagi oleh para Dewa. Lagipula, memangnya siapa yang mengirim kalian?" Tanya Roselia kembali kepada Leo.
Leo pun melirik ke arah Reina selama beberapa saat sebelum membalas perkataan Roselia.
Tapi Roselia telah mendahuluinya.
"Jangan katakan.... Gadis itu juga?"
"Begitu lah." Balas Leo singkat.
Pada akhirnya, Leo pun menjelaskan semuanya kepada Roselia tanpa sedikit pun hal yang dilewatkan. Termasuk juga ramalan mengenai kehancuran yang akan dibawa oleh Raja Iblis Valkazar itu.
Setelah mendengar semuanya, Roselia nampak merenungkan semua perkataan Leo.
Ia nampak menyilang kan lengan kanannya ke bahu kirinya sambil berpikir.
"Jadi begitu ya, aku mulai paham sekarang atas ambisimu terhadap kekuatan. Tapi sayang sekali bahkan langit sekalipun menakdirkan dirimu menjadi lemah. Reina di sisi lain cukup kuat bukan? Lalu apa-apaan perban di tubuhnya itu?" Tanya Roselia.
"Kutukan, karena Dewi Silvie membantunya secara langsung di dunia ini. Bahkan Dewi Silvie juga menerima akibatnya ku dengar." Balas Leo.
Dengan jawaban itu, Roselia pun semakin ragu terhadap sosok yang disebut sebagai Dewi itu.
"Hah? Bahkan Dewi itu sendiri memperoleh kutukan? Dewi macam apa itu? Bukankah mereka tak terlalu berguna? Jika memang ingin membantu dunia ini, kenapa tidak melakukannya sendiri? Kenapa harus mengirim orang lain?" Tanya Roselia.
"Entahlah, aku tak tahu jawaban dari itu."
Tentu saja tak ada yang tahu.
Bahkan konsep dari Dewi itu sendiri mulai kabur semakin lama mereka hidup di dunia ini.
Jika mereka memang sosok Dewi yang memiliki kekuatan untuk mengendalikan jiwa seseorang untuk melintasi dunia, kenapa mereka tak membunuh Raja Iblis itu secara langsung?
Kenapa harus melalui perantara orang lain?
Tapi memikirkan hal itu....
Sama sekali tak berguna bagi mereka saat ini. Dan yang terpenting saat ini, tak lain adalah membangkitkan kembali kekuatan di kota Venice.
Kali ini....
"Leo, aku sama sekali tak percaya bahwa kalian berdua adalah pahlawan atau apalah itu. Tapi jika kalian memang ingin membunuh raja Iblis itu...."
Roselia menjeda perkataannya sambil mengarahkan tinjunya ke dada Leo. Ia secara perlahan mendekatkannya dan melanjutkan perkataannya.
"Aku akan mendukung kalian." Ucap Roselia sambil tersenyum.
Kini, salah satu manusia paling jenius yang pernah ditemui oleh mereka, telah resmi berada dalam pihak Leo.
Memperkuat faksinya sedikit demi sedikit.