
Dengan semua permasalahan mengenai gelar Leo yang telah diselesaikan, kini Leo kembali ke dalam kantor di balai kota.
Menyelesaikan ratusan masalah yang tersisa di kota ini sebagai penguasa Kota Venice.
Di sebelahnya, sosok Selene terlihat sedang duduk di mejanya sendiri. Menghadapi tumpukan kertas yang mulai menggunung.
"Oi, Selene. Jangan tidur dulu. Permasalahan kita belum selesai." Ucap Leo dengan kantung matanya yang mulai menghitam.
Saat ini Ia mulai mengutuk atas mata kirinya yang telah tiada. Membuatnya sedikit kesulitan dalam bekerja ketika hanya memiliki satu mata saja.
Meski begitu, Leo tetap berjuang dengan keras demi keselamatan semua orang di kota ini.
Dan tiba-tiba....
'Brakk!'
"Tuan Leo! Laporan dari...."
"Ketuk pintu dulu, dasar bodoh." Balas Leo singkat.
"Aah.... Maafkan aku, Tuan. Tapi kami baru saja menaklukkan sebuah persembunyian bandit di wilayah Utara. Sesuai dengan informasi dari Brunt, kamu berhasil menemukan lokasinya dan menghancurkannya dengan mudah." Jelas prajurit wanita itu.
Ia terlihat terus berlutut di hadapan Leo yang sedang sibuk memandangi dua lembar kertas itu.
Sedangkan respon darinya terkesan sedikit kurang puas. Atau bisa dibilang tak terlalu peduli.
"Begitu kah? Kerja bagus kalian semua. Teruskan pekerjaan kalian." Balas Leo dengan nada yang sedikit malas.
"Baik, Tuan!" Balas Prajurit itu dengan penuh semangat sambil segera berdiri. Ia pun kemudian mengangkat lengan kanannya dan memberikan hormat kepada Leo.
"Divisi Khusus bagian Penaklukan akan segera kembali bergerak!" Ucap prajurit itu sebelum meninggalkan ruangan ini.
Meninggalkan Leo dan juga Selene dalam kesunyian sekali lagi. Sebelum....
'Brakkk!'
"Lapor! Pasukan dari...."
"Bodoh, apakah kalian tak punya tata Krama untuk mengetuk pintu?" Tanya Leo dengan sedikit kesal.
"Ma-maafkan aku, Tuan!" Balas Prajurit wanita yang berbeda itu sambil segera berlutut di hadapan Leo.
Ia memiliki seragam yang sedikit berbeda daripada yang sebelumnya. Jika yang sebelumnya mengenakan seragam hitam yang terkesan cukup mengintimidasi, kali ini Ia mengenakan seragam putih dengan corak emas yang indah.
Setelah membenahi postur dan sikapnya, prajurit wanita itu pun kembali melapor.
"Lapor! Divisi Khusus bagian Pembebasan telah berhasil mengamankan Kota Daeta dan juga beberapa desa di sekitarnya!" Ucap Gadis itu dengan penuh semangat sambil terus memandangi wajah Leo di kejauhan.
Berbeda dari sebelumnya, kalo ini respon Leo cukup serius dan seakan cukup senang.
"Begitu kah? Bagaimana reaksi dari para penduduk Kota Daeta?" Tanya Leo.
"Siap! Penduduk Kota Daeta menyambut pemerintahan baru Tuan Leo dengan gembira! Mereka berharap atas kebaikan dan bantuan Tuan Leo dalam krisis musim dingin ini!" Jelas gadis itu.
"Kerja bagus. Sekarang mulai bebaskan wilayah selatan. Fokus sampai ke bagian paling Timur dari wilayah ini, atau sampai Desa Rarth dan Desa Molinord di Selatan." Jelas Leo.
"Siap laksanakan, Tuan! Tapi...."
"Minta tambahan pasukan dan bahan makanan ke Luna. Dia pasti akan mengusapkannya." Balas Leo yang seakan sudah tahu apa pertanyaan yang akan diajukan oleh gadis itu.
Dengan senyuman yang segera melebar, gadis itu pun membalas.
"Terimakasih banyak, Tuan Leo!" Teriak gadis itu sambil segera berdiri dan memberikan hormat. Ia pun segera meninggalkan ruangan ini.
Sementara itu....
"Hah, aku sama sekali tak bisa fokus bekerja. Terlalu banyak.... Apakah aku membunuh terlalu banyak pegawai handal di balai kota ini?" Tanya Leo pada dirinya sendiri.
"Mungkin Tuan Leo memang membunuh terlalu banyak sehingga semua pekerjaan ini menumpuk di beberapa sisa pegawai yang ada. Lagipula, orang yang bisa melakukan baca tulis saja sudah sangat jarang.
Apalagi orang yang bisa memikirkan hal rumit seperti pemerintahan ini? Pengaturan pajak? Perhitungan? Pendataan? Hahaha...." Ucap Selene dengan suara yang lemas.
"Ferry juga sudah hampir kehilangan nyawanya karena tak tidur 3 hari. Haruskah aku mengistirahatkannya sejenak?"
"Tentu saja, bukankah dia aset terbesar kita?" Balas Selene tanpa sedikit pun keraguan.
'Braaakkk!'
"Tuan! Kabar buruk!" Teriak seorang prajurit wanita lainnya. Tapi kini Ia memiliki seragam berwarna biru tua yang indah.
Leo hanya bisa menepuk keningnya sekuat tenaga dengan tangan kanannya. Tak paham kenapa tak ada orang yang paham tata Krama untuk mengetuk pintu sebelum masuk. Dan Ia pun sudah menyerah untuk mengutarakan hal itu.
"Ada apa?" Tanya Leo dengan malas.
Prajurit itu pun dengan segera berlutut sebelum menjelaskan seluruh situasinya.
"Sheila telah berkhianat! Ia telah berhasil kabur dari pengawasan Divisi Khusus bagian Kemananan!"
Kini, berita itu adalah berita terburuk yang bisa didengar oleh Leo. Bagaimana tidak? Selama ini, Leo selalu menganggap bahwa dirinya telah berhasil membeli Sheila dengan uang.
Tapi nampaknya, kesetiaan Sheila terhadap Feris jauh lebih besar. Dan bentuk kerjasama gadis itu selama ini, hanyalah untuk membiarkan Leo mengendurkan penjagaannya.
Sekaligus memberikan kesempatan bagi Sheila untuk melakukan pengamatan lebih lanjut terhadap situasi di Kota ini.
"Apa.... Kau bilang? Bagaimana bisa?" Tanya Leo, kini dengan sedikit perasaan marah dan banyak perasaan kesal.
"Ka-kami tidak tahu. Kami selalu menjaga ruangan dan rumah tempat Sheila tinggal. Bahkan kami masih mendengar balasan suara darinya. Hanya saja, saat kami merasa curiga, kami mendobrak pintu kamarnya.
Dan apa yang ada di dalamnya hanyalah sebuah sihir suara yang secara otomatis akan merespon suara orang lain dengan balasan yang telah diatur. Tak hanya itu, kami menemukan ini di mejanya." Jelas prajurit wanita dengan badan yang sedikit terlatih itu.
Ia kemudian menyerahkan sebuah surat yang dibalut dalam amplop putih yang indah. Lengkap dengan segel biru kerajaan.
Di bagian depan dari amplop surat itu, terlihat sebuah tulisan yang rapi dan indah.
"Kepada Leonardo? Sialan." Ucap Leo setelah melihat hal itu. Ia pun dengan segera membuka segel surat itu. Dan apa yang ada di dalamnya adalah selembar kertas yang dilipat menjadi tiga bagian.
Sedangkan isi dari surat itu sendiri cukup sederhana. Tapi di saat yang bersamaan juga cukup mematikan bagi Leo.
...^^^Terimakasih atas keluguan dan kebaikan Anda. Dengan uang ini, aku dapat membahagiakan keluargaku. ^^^...
...Tapi sayangnya, aku tetap tak bisa membiarkan kejahatan Anda dalam mengambil alih kota ini secara paksa. Aku telah melaporkannya kepada Feris, dan jawabannya telah tiba. ...
......Jika kau tak menyerahkan kota ini kembali saat musim semi tiba, maka Achibald dan Feris akan membawa pasukannya ke wilayah Rustfell bagian Barat ini. ......
...Anggap saja informasi ini adalah sebuah balasan untuk uang yang Anda berikan. ...
...Selamat tinggal. ...
'Sreeett!'
Leo nampak menggenggam surat itu dengan sekuat tenaga sambil memasang wajah yang terlihat begitu kesal.
Kekhawatirannya kini telah terbukti sepenuhnya.
Ia memang tahu bahwa uang takkan selamanya bisa membeli semua hal. Terkadang, ada sesuatu yang lebih berharga dari uang.
Dan salah satunya adalah harga diri.
Setelah memahami semua isi dari surat itu, Leo pun segera memutuskan.
"Sampaikan pesanku kepada kepala bagian penyihir. Kumpulkan semua penyihir tingkat C dan ke atasnya sebanyak mungkin. Lalu hubungi kepala bagian militer untuk merekrut sebanyak mungkin prajurit.
Musim semi berikutnya.... Kita mungkin akan berperang." Jelas Leo dengan wajah yang cukup tegang.
"Berperang?" Tanya prajurit wanita itu.
Tapi balasan Leo kali ini terkesan cukup dingin.
"Kau tak perlu bertanya. Segera lah pergi dan sampaikan pesanku." Balas Leo dengan tatapan yang cukup mengerikan.
Penutup mata berwarna putih di mata kirinya itu justru menambah kengeriannya.
"De-dengan segera!" Balas Prajurit itu yang sambil segera berdiri dan pergi.
Sedangkan Selene yang sedari tadi terlihat begitu kelelahan dan mengantuk, kini telah terbangun sepenuhnya. Dan satu-satunya pertanyaannya adalah....
"Apakah kita juga akan membunuh prajurit kerajaan manusia?" Tanya Selene.
"Tidak.... Tapi setidaknya kita harus punya kekuatan untuk mendukung perkataan dan keinginan kita. Anggap saja sebagai poin tambahan dalam negosiasi."