E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 36 - Kenyataan



'Braaaakkk!!'


Pintu besar di kastil itu terbuka dengan sangat keras. Apa yang ada di baliknya adalah puluhan prajurit yang datang karena mendengar banyak suara dan teriakan di dalam kastil.


Sesaat setelah mereka melihat situasi ini....


"A-apa yang baru saja terjadi?! Nona Reina?! Apa yang terjadi?!" Tanya salah seorang Komandan Prajurit itu.


Pada saat itu, Reina bisa saja berbohong dan mengatakan ada Iblis atau monster. Menyelamatkan dirinya sendiri dari masalah. Akan tetapi....


"Aku membunuh mereka. Mereka adalah sampah yang lebih berbahaya daripada Iblis." Ucap Reina sambil berjalan secara perlahan ke arah parah Prajurit itu.


Tangan kanannya menyeret pedang besi yang penuh dengan darah itu di lantai. Sedangkan tangan kirinya hanya menggantung tak berdaya.


Langkah kakinya mulai melambat.


Wajahnya terlihat begitu kelelahan. Meski begitu, Reina berjalan dengan sikap yang siap untuk melawan apapun yang akan menghalanginya.


Dikuasai oleh kebingungan, para Prajurit itu hanya bisa terdiam. Membiarkan Reina lewat begitu saja.


Pada awalnya, mereka masih kebingungan atas apa yang seharusnya dilakukan.


Di satu sisi, Reina adalah sosok seorang petualang yang berjasa sangat besar kepada wilayah Maelfall ini. Bahkan merupakan idola sang komandan sekaligus panutannya. Akan tetapi di sisi lain....


"Cepat cari keberadaan Earl Barlor!" Perintah komandan pasukan itu.


Seketika, seluruh prajurit pun bergerak dan mulai mencari keberadaannya.


Beberapa menit berlalu dengan para prajurit yang terus memeriksa berbagai ruangan dan jasad yang tergeletak di tanah itu. Hingga akhirnya....


"Komandan! Kami telah menemukan keberadaan Earl Barlor. Tapi...."


Komandan itu pun mendekat dan melihat apa yang dimaksud oleh prajuritnya.


Apa yang ada di hadapannya, adalah sosok Earl Barlor dengan kepala yang telah hancur lebur karena tertimpa batu yang cukup besar. Tentu saja nyawanya takkan bisa diselamatkan.


Melihat hal itu....


"Perintahkan seluruh pasukan. Tangkap Reina. Seberapa besar pun jasanya, Ia telah membunuh seorang Penguasa." Ucap Komandan itu sambil mengepalkan kedua tangannya.


Ia sama sekali tak ingin melakukannya.


Ia sama sekali tak ingin mempercayainya.


Tapi apa yang ada di hadapannya adalah kenyataan. Bukan masalah percaya atau tidak. Dan sebagai salah seorang petinggi di Kota ini....


"Dengan segera, Komandan!" Balas Prajurit itu dimana Ia segera menyebarkan perintah itu kepada Prajurit yang lain.


Semuanya berlari dengan rapi. Tujuan mereka hanya satu, yaitu untuk menangkap sosok bernama Reina itu.


Di tengah kesendiriannya di dalam kastil yang penuh dengan darah ini, sang Komandan hanya berdiri dalam diam memperhatikan sosok Tuannya.


"Nona Reina.... Kenapa kau melakukan ini? Apa yang telah dilakukan Earl Barlor hingga kau membunuhnya?" Tanya Komandan itu karena Ia memang sama sekali tak mengetahui apapun.


......***......


Reina berjalan dengan terpatah-patah di tengah kota. Kakinya yang penuh dengan luka tak lagi mampu untuk bergerak dengan baik. Dengan kaki kirinya sebagai tumpuan utama, Reina menyeret kaki kanannya bersama dengan pedang satu tangan itu.


Matanya terlihat begitu kelelahan hingga nampak bisa pingsan kapan saja.


Tubuhnya yang dipenuhi dengan darah menimbulkan bau yang cukup menusuk ke segala arah. Termasuk membuat semua orang yang sebelumnya begitu memuji dirinya, kini mulai menjauh.


Tak ada satu orang pun yang membantunya. Bahkan tak ada satu orang pun yang mendekatinya.


Dimana mereka yang sebelumnya ingin bersalaman dengannya?


Dimana mereka yang sebelumnya memohon agar bisa bertarung bersamanya?


Dimana mereka yang sebelumnya berkata akan selalu mendukungnya?


Mereka semua telah menghilang begitu saja. Sesekali, Reina melihat tatapan para warga Kota ini kepadanya.


Apa yang dilihat sangatlah jelas. Yaitu sebuah tatapan yang dipenuhi dengan rasa takut dan rasa jijik. Terlebih lagi....


"Semuanya! Reina adalah seorang pengkhianat di Kota ini! Dia baru saja membunuh Earl Barlor! Siapapun yang melihatnya, bantu kami untuk menangkapnya!" Teriak seorang prajurit dengan bantuan sihir pengeras.


Tak ada satu orang pun yang tak mendengar teriakan Prajurit itu di Kota ini.


Dan hasil dari teriakan itu....


'Bruukk!'


'Praakk!'


'Klaangg!'


Buah, kayu, batu, dan apapun yang ada di dekat mereka. Semuanya mulai dilemparkan ke arah mereka.


Beberapa orang bahkan berlari karena merasa ketakutan pada Reina. Itu karena tak ada satu orang pun yang tak tahu mengenai kekuatannya di wilayah ini.


Sedangkan yang lain berlari untuk mencari Prajurit dan memberitahukan kepada mereka lokasi keberadaan Reina.


"Dasar pengkhianat!"


"Jadi ini rencana mu selama ini?! Untuk membunuh Tuan Tanah?!"


"Mati saja kau!"


"Pergilah ke neraka!"


"Gunakan pedang itu untuk membunuh dirimu sendiri!"


"Seseorang! Panggil petualang untuk membunuhnya!"


Berbagai macam teriakan dan hujatan mulai diarahkan kepada sosok gadis itu. Seorang gadis yang hanya bertarung untuk melindungi dirinya sendiri.


Apakah semua itu salah?


Haruskah Ia menyerah?


Tidak.... Ia sudah memikirkannya dengan baik. Takkan ada gunanya untuk menyesalinya saat ini.


Meski begitu, Reina hanya bisa menatap tanah dengan senyuman yang tipis.


'Inikah balasanku untuk semua yang kulakukan selama ini? Manusia.... Benar-benar mudah untuk berubah ya?' Pikir Reina dalam hatinya sambil berusaha untuk tetap tersenyum.


Rasa sakit yang ada di sekujur tubuhnya mulai membuatnya mati rasa.


Tanpa Ia sadari, aliran air mulai membasahi wajahnya. Sedikit membilas wajahnya dari bekas darah itu.


Reina terus berusaha untuk berjalan, meninggalkan Kota ini. Akan tetapi, Ia telah mendengarnya. Ia telah melihatnya.


Barisan para prajurit dengan perisai yang tebal dan tombak di tangan kanannya. Mereka telah mengepung dirinya di tengah jalanan ini.


Tak ada lagi jalan keluar baginya. Bahkan puluhan pemanah yang berdiri di atas bangunan telah siap untuk menembakkan panah mereka kapan saja.


Di balik semua itu, sosok seorang Komandan pasukan terlihat berjalan melewati barisan pasukan.


"Reina. Kau telah melakukan sebuah kesalahan yang amat besar dengan membunuh salah seorang bangsawan, terlebih lagi seorang Earl.


Sesuai dengan peraturan kerajaan manusia, kami akan menjatuhimu hukuman penjara seumur hidup, atau hukuman mati saat ini juga jika kau menolak untuk bekerja sama." Jelas Komandan itu sambil memasang wajah yang sangat serius.


Tangan kanannya menggenggam pedangnya dengan erat. Bersiap untuk membunuh Reina dengan tangannya sendiri saat ini juga jika Ia menolak.


Sedangkan jawaban dari Reina?


"Aku sama sekali tak menyesal, dan tak akan pernah menyesal untuk selamanya. Bunuh saja aku jika kalian memang mampu." Ucap Reina dengan suara yang begitu lirih itu.


Tenaganya telah mulai habis. Berdiri sekalipun terasa sangat menyulitkan baginya.


Mendengar jawaban itu....


"Nona Reina. Kami semua tahu betapa kuatnya dirimu. Tapi lihatlah kondisimu? Kau bahkan tak bisa mengangkat pedangmu. Apakah kau berpikir bisa melawan 500 prajurit sendirian dengan kondisi itu? Kau bahkan kesulitan ketika menghadapi 40 orang bukan?


Bekerja samalah denganku. Aku tak ingin melihatmu mati sia-sia seperti ini ketika umat manusia membutuhkan sebanyak mungkin orang hebat sepertimu. Aku akan mencarikan cara untuk membebaskanmu." Bisik Komandan itu setelah mendekat ke arah Reina.


Mendengar hal itu, Reina sebenarnya merasa ada sedikit harapan dalam situasi ini. Akan tetapi.... Ia tak bisa mempercayainya.


Segera setelah nyawanya berada dalam genggaman tangan mereka, ditambah dengan dirinya yang tak berdaya, Reina tak tahu apa yang akan mereka lakukan.