
"Kau sudah paham?" Tanya Dimas kepada nomor 52 untuk memastikan kembali.
"Uuh.... Kau yakin soal itu? Apakah kau tak masalah dengan itu?" Tanya Nomor 52 seakan masih merasa sedikit ragu.
Akan tetapi jawaban yang Ia terima....
"Tenang saja. Aku tak masalah, tapi tolong serahkan butiran emas ku untuk penjaga atas namaku. Aku sangat kelaparan dan tak bisa bergerak karena baru saja menghancurkan rantai ini barusan." Ucap Dimas sambil memeluk sebuah kantung kain yang seakan berisi sesuatu yang besar.
Mata Nomor 52 pun tertuju pada kantung yang dipeluk oleh Dimas dengan erat itu.
Ia terus memperhatikan sosok Dimas atau Nomor 30 yang terbaring lemas tak berdaya itu.
"Baiklah kalau begitu." Balas Nomor 52 dengan suara yang gemetar.
Dengan kalimat itu, akhirnya nomor 52 dan 4 orang yang lain yang masih bertahan hidup hingga hari ini akhirnya berjalan ke arah pintu masuk tambang. Tujuan mereka hanya satu, yaitu untuk menyerahkan hasil tambang mereka dan memperoleh makanan.
'Tap! Tap! Tap!'
Langkah mereka cukup lambat. Bahkan seakan tak memiliki sedikit pun tenaga di dalamnya.
Hal yang sangat wajar karena mereka hanya memakan tulang sisa selama ini. Tak memperoleh makanan yang layak selama beberapa hari di musim dingin yang mematikan ini.
Sesampainya mereka di gerbang, prajurit dengan jumlah 5 orang telah berbaris dengan rapi.
Senjata utama mereka yang berupa pedang terpasang dengan rapi di pinggang mereka. Siap untuk ditarik kapan saja mereka membutuhkannya.
Akan tetapi....
"Hmm? Kenapa hanya sedikit? Dimana yang lain?"
Semua orang terdiam karena tak lagi memiliki tenaga untuk omong kosong itu. Akan tetapi, nomor 52 sesuai dengan permintaan Dimas segera menjawabnya.
"Mereka telah mati di dalam tambang, satu orang sedang sekarat." Ucapnya singkat.
"Oh, jadi begitu. Baiklah.... Segera kumpulkan hasil kalian hari kemarin." Ucap salah seorang Prajurit yang mengenakan zirah besi yang lengkap hingga helm besi itu.
Semua 'pekerja' pun berbaris. Menyerahkan batuan maupun logam yang mereka temukan selama bekerja kemarin.
Beberapa hanya memberikan sampah. Oleh karena itu mereka hanya memperoleh beberapa buah tulang saja.
Sedangkan mereka yang memberikan logam yang cukup berharga seperti tembaga atau perak akan memperoleh satu mangkuk tulang.
Nomor 52 berada di barisan terakhir. Memberikan hasilnya yang berupa bongkahan perak yang diberikan oleh Dimas.
"Hoo.... Ini hasil yang besar. Aku akan memberikan seluruh tulang ini untukmu." Ucap Prajurit itu sambil memberikan satu kantung tulang yang setara dengan 3 buah mangkuk itu.
Pekerja lain yang melihatnya terlihat meneteskan air liur mereka yang dengan cepat membeku karena hawa dingin itu.
Nomor 52 pun menerimanya dengan senang hati.
Meskipun hanya tulang, tapi itu sudah cukup untuk sedikit mengganjal perutnya.
Akan tetapi.... Ia masih belum selesai.
Nomor 52 pun segera menyerahkan beberapa butir emas yang baru saja Ia raih di dalam kantung kecil di pakaiannya.
Sang Prajurit pun nampak kebingungan, termasuk dengan keempat temannya.
Bagaimana tidak, mereka memperoleh emas dalam jumlah yang cukup besar. Akan tetapi mereka tak lagi memiliki imbalan untuk diberikan kepada Nomor 52 itu.
Sesaat setelah para prajurit saling menatap satu sama lain....
"Tuan.... Ini sebenarnya bukan milikku, melainkan milik nomor 30. Aku mencuri dari dirinya, dan dia masih memiliki banyak emas disana. Apakah aku bisa mendapatkan makanan tambahan dengan ini?" Tanya Nomor 52 itu dengan wajah memelas.
Pada saat itulah, Nomor 52 bertindak diluar permintaan Dimas. Padahal Dimas memintanya untuk mengambilkan makanan untuknya. Akan tetapi, itulah yang dilakukan oleh nomor 52.
Tapi berbeda dengan harapannya, para prajurit itu justru tersenyum cukup lebar.
"Hah?! Masih ada banyak emas?!"
"Bukankah nomor 30 selalu menemukan emas? Aku takkan terkejut jika dia menimbunnya. Berapa banyak yang dia miliki?"
Para prajurit itu terlihat cukup heboh dengan kejadian itu.
Nomor 52 pun dengan segera menjawabnya satu demi satu.
"Nomor 30 memang menimbun emas. Ia masih memiliki satu bongkah emas yang besar yang setiap hari Ia pecahkan untuk diberikan pada kalian.
Tapi Ia menjaganya dengan sangat kuat. Bahkan saat ini.... Sekalipun Ia sudah sekarat.... Ia masih menjaga emasnya. Tak mau melepaskannya sama sekali." Jelas nomor 52 kepada para Prajurit itu.
Tentu saja yang dimaksud olehnya adalah Nomor 30 atau Dimas itu sendiri.
Mendengar jawaban itu, para Prajurit dengan segera tertawa dengan cukup keras.
"Buahahaha! Sekarat! Bagus!"
"Nomor 52! Tunjukkan padaku dimana dia berada!"
"Itu benar! Jika kau melakukannya, aku akan membebaskanmu!"
Para Prajurit itu pun memberikan tawaran yang begitu luarbiasa.
Nomor 52 pun segera menganggukkan kepalanya dengan penuh semangat menerima tawaran itu. Ia dengan senang hati segera berjalan untuk menuntun para Prajurit itu kedalam.
Sedangkan keempat pekerja lainnya sedang sibuk untuk memakan tulang yang mereka peroleh tanpa memperdulikan kejadian ini sedikitpun.
'Tap! Tap! Tap!'
Suara langkah kaki yang kuat terdengar menggema di dalam goa ini.
Sesekali, canda dan tawa menggema di dalam tambang ini. Membuat suasana menjadi jauh lebih hidup.
Sementara itu di bagian terdepan....
'Maafkan aku, 30.... Tapi aku sangat ingin selamat dari semua ini.... Maafkan jika aku mengkhianatimu.' Pikir Nomor 52 dalam hatinya sambil terus menuntun kelima Prajurit itu masuk ke dalam tambang.
Beberapa puluh menit berlalu. Tambang pun menjadi semakin gelap, memaksa para prajurit itu menyalakan obor yang mereka bawa untuk jaga-jaga.
Api yang hangat itu sedikit demi sedikit melelehkan es yang membeku di sekitar tambang ini. Cahayanya pun menerangi jalan mereka untuk pergi ke arah nomor 30 berada.
Akhirnya, setelah beberapa saat....
Mereka telah sampai.
Apa yang ada di hadapan mereka adalah sebuah tubuh yang tergeletak tak berdaya, dengan papan bertuliskan nomor 30 yang kini ada di punggungnya.
"Tuan! Itu dia! Dia menjaga bongkahan emasnya dengan erat! Sekarang kalian akan menyelamatkanku kan?!" Teriak Nomor 52 dengan penuh semangat.
"Oooh.... Jadi itu dia, nomor 30. Membeku dalam dinginnya tambang, terkapar karena tak memiliki makanan, dan sekarat menanti kematian. Kerja yang bagus, 52. Aku akan membebaskanmu." Ucap salah seorang Prajurit itu sambil tersenyum.
Perasaan lega pun memenuhi diri Nomor 52. Meskipun Ia baru saja mengkhianati Dimas atas permintaannya mengambilkan makanan untuknya.
Akan tetapi....
'JLEEEBBB!!!'
Sebuah batang besi yang dingin secara tiba-tiba menancap tepat di dada Nomor 52.
Batang besi itu tak lain adalah pedang dari salah seorang Prajurit yang ada.
"Eeh? Kenapa?" Tanya Nomor 52 sambil memuntahkan darah merah yang kental itu.
"Kenapa? Tentu saja, aku membebaskanmu bukan? Buahahaha! Bodoh sekali orang ini! Percaya pada kami!" Teriak prajurit itu sambil tertawa.
Bersamaan dengan itu, keempat prajurit yang lain juga ikut tertawa.
Tubuh dari nomor 52 hanya dilempar begitu saja ke tanah. Seakan-akan hanya sedang membuang sampah, lalu dibiarkan begitu saja.
Setelah cukup puas tertawa, mereka pun mendekat ke arah Nomor 30 yang terbaring lemas itu.