
Mendengar perkataan itu, Reina mulai merasa ngeri. Ia merasa bahwa ada sesuatu yang aneh dengan semua ini. Tapi mengingat semua yang dikatakan Leo sebelumnya, Ia tak lagi tahu mana yang bisa dipercayainya.
Reina pada saat ini merasa ketakutan. Ia pun mendorong tubuh Leo dan menjauhinya beberapa langkah ke belakang.
"Kau .... Tidak mungkin bukan? Kau pasti hanya berpura-pura menjadi dirinya bukan? Kau pasti mendengar semua itu darinya kan?!" Teriak Reina dengan wajah yang terlihat begitu marah dan ketakutan.
Bahkan tangan kanannya telah menggenggam gagang pedang yang ada di pinggang kirinya itu. Tertutupi oleh jubah putihnya yang indah.
Pada saat ini, pikiran Reina terus menerus bentrok terhadap apa yang ada di hadapannya dengan apa yang ada diingatannya.
Setelah 8 bulan lebih terpisah, dimana Ia terus melalui hal-hal yang buruk, ingatannya tentang sosok Dimas itu sendiri menjadi sedikit samar-samar.
Hal yang paling diingatnya adalah sikap keluguan dan wajah polosnya itu serta rambut kecoklatan yang pendek. Termasuk juga kata-kata terakhirnya selama tinggal bersamanya sekitar beberapa Minggu saja itu.
Tak cukup banyak waktu untuk mengumpulkan kenangan. Tapi anehnya, hanya dengan kejadian pada satu hari saja, semuanya seakan terukir dengan jelas dalam hatinya. Apa yang diingatnya, hanyalah kelemahannya karena tak bisa melindunginya.
Sedangkan apa yang ada di hadapannya....
'Dilihat bagaimana pun.... Dia memang mirip.... Tapi.... Kekejaman itu.... Sikap dingin ini.... Tidak mungkin....' Pikir Reina dalam hatinya setelah secara perlahan mulai mengingatnya kembali.
Leo sadar bahwa apa yang telah dikatakannya selama ini akan berbalik ke arahnya. Ia sadar atas resiko dari kebohongan yang entah Ia lakukan untuk apa itu.
Tapi setidaknya....
Ia ingin mengatakan semuanya. Ia ingin agar hatinya tak lagi merasa kecewa.
Terlebih lagi, semua prasangka Leo yang sebelumnya telah terbukti salah. Ia bahkan keheranan kenapa dirinya merasa cemburu dengan kedekatan Reina dengan Lucas. Bukankah Lucas sendiri sudah bilang bahwa Reina hanyalah muridnya?
Segera setelah memahami hubungan mereka yang sebenarnya, dan juga memahami bahwa Lucas sendiri bahkan telah bertunangan dengan orang lain, pada saat itulah Leo tak lagi bisa membohongi dirinya sendiri.
Leo hanya bisa memperhatikan sosok Reina yang terus melangkah mundur. Menjauhi dirinya.
Jujur saja, melihat pemandangan itu, perasaannya teras teriris. Tapi inilah buah dari semua kebohongannya. Sebuah kenyataan yang tak lagi bisa dibantah.
Maka dari itu, Leo hanya terdiam. Tak berusaha sedikitpun untuk menghentikan kepergiannya. Yang mungkin kali ini, adalah yang terakhir kalinya.
Di saat Reina terus melangkah mundur, seseorang menghentikan langkah kakinya dengan menahan punggungnya.
"Nona Reina. Izinkan aku untuk mengatakan, bahwa kami tak pernah mengenal sosok budak bernama Dimas itu. Bahkan kami belum memiliki cukup kereta kuda untuk berdagang di kota lain.
Semua budak yang Tuan Leo miliki, saat ini sedang ada di penginapan ini. Sisanya ada di alun-alun menjual ramuan. Jika kau tak percaya, kau bisa bertanya dengan orang lain." Ucap wanita dengan paras yang begitu menawan itu.
Rambutnya yang seputih salju sedikit menutupi pandangan Reina ketika Ia menoleh ke belakang.
"Selene.... Kau.... Kau pasti bekerjasama dengannya kan? Aku tahu.... Kalian juga ingin memanfaatkan kekuatanku kan?!"
Reina berusaha untuk melepaskan diri dari Selene. Tapi dengan tubuhnya yang masih terluka, Reina tak bisa mengeluarkan kekuatan sepenuhnya. Membuatnya tak bisa lepas dari Selene.
Di sudut ruangan itu, Leo hanya bisa menatap dinding. Dengan wajah yang begitu rumit dan sedih, Leo hanya bisa melepaskannya.
"Biarkan dia pergi, Selene. Aku telah mengatakan yang sebenarnya kali ini. Tapi nampaknya, semua kebohonganku sebelumnya telah menjadi kebenaran." Ucap Leo sambil membuat senyuman yang tipis.
Kedua tangannya nampak sibuk menghapus air mata di wajahnya itu. Seberapa baik pun Ia berusaha untuk menahannya, nampaknya Leo tak lagi mampu.
Di sisi lain....
Reina sedari tadi merasakan sesuatu yang nostalgia tentangnya. Pada akhirnya, Reina memutuskan untuk memberikan kesempatan terakhir.
Meskipun Dimas memang mengatakan segalanya kepada Pria bernama Leo itu. Reina sangat yakin ada satu hal yang takkan dikatakannya.
"Apa yang kita lakukan setelah berpesta di rumah makan Nona Kenia di desa Canary siang hari itu?" Tanya Reina dengan tatapan yang tajam.
Pertanyaan yang diajukannya hanya bisa diketahui oleh Dimas yang sebenarnya. Dan pertanyaan ini sendiri adalah sebuah jebakan.
Jika Leo mengiyakannya dan mengarang isi ceritanya, walaupun benar sekalipun, maka dia adalah yang palsu. Itu karena Reina merubah nama tempat dan juga waktunya.
Tapi....
Jika saja Leo ini mengetahui yang sebenarnya....
Segera setelah kita berdua meninggalkan tempat itu, kau menarik ku di dalam sebuah gang. Mengatakan bahwa kau dikirim oleh Dewi Silvie untuk membantuku melawan Raja Iblis Valkazar.
Pada saat itu, kita berdua terpeleset dan jatuh dengan aku yang berada di atasmu. Lalu setelah itu.... Kau mencium pipi kananku. Berkata bahwa kau akan memberikan lebih jika.... Reina? Ada apa?" Tanya Leo setelah mengentikan jawabannya di tengah-tengah.
Penyebabnya tak lain adalah tetes air mata dari Reina itu sendiri.
Wajahnya seakan tak bisa percaya. Tapi kenyataan itu sendiri berada di depannya.
Hati yang sedari tadi selalu berusaha untuk menolak kenyataan ini, akhirnya menyerah. Mata yang sedari tadi mencoba untuk menahan air mata itu, akhirnya juga menyerah.
Membiarkan seluruh perasaan di dalam hatinya untuk berteriak. Tak menahan sedikitpun rasa.
Dengan cepat, Reina berlari ke arah Leo berada dan kini dirinya lah yang memeluk Leo dengan erat. Tangisan tak lagi dapat dibendung oleh Reina untuk mengungkapkan betapa bahagianya dia bisa bertemu kembali dengannya.
"Dimas.... Jadi kau benar-benar Dimas kan?" Tanya Reina dengan suara yang tersedi-sedu.
"Tentu saja.... Siapa lagi?" Balas Leo yang kini memeluk kembali wanita berambut pirang itu.
"Maksudku.... Kau...." Balas Reina sambil memperhatikan wajahnya.
Tatapan matanya memang jauh lebih suram daripada yang dulu selalu diperlihatkan di desa Canary. Kantung matanya pun terlihat tebal, seakan menarik matanya kebawah dan membuat raut wajahnya terlihat mengerikan.
Tak hanya itu, rambut kecoklatan nya yang cukup panjang dan terlihat hanya disilakkan ke arah belakang saja membuat tampilannya jauh berbeda dengan rambut pendeknya yang dulu.
Terlebih lagi....
Pada saat Reina memeluk tubuh laki-laki itu.... Tidak. Bahkan hanya ketika melihatnya saja....
"Bukankah kau sedikit lebih berisi sekarang?" Ucap Reina dengan suara yang masih tersedu-sedu tapi juga terlihat setengah tertawa.
Mendengar jawaban itu, Leo hanya bisa tersenyum tipis sambil terus mendekap wanita itu. Leo membelai rambutnya yang dikepang itu secara perlahan. Berusaha untuk membuatnya berhenti menangis.
Sesekali, tangan kirinya membantu Reina untuk menghapus air mata yang mengalir di wajahnya.
"Akhirnya.... Aku.... Kau tahu? Aku selama ini selalu mencarimu.... Tak ingin percaya bahwa kau telah tiada.... Aku.... Aku...." Ucap Reina yang terus menangis.
"Berhentilah menangis. Kali ini, aku takkan meninggalkanmu seperti dulu lagi. Dan kali ini, aku berjanji akan menjagamu dengan baik. Jadi.... Kumohon, berhentilah menangis." Ucap Leo sambil terus berusaha tersenyum dan menahan air matanya.
Ia tak lagi bisa mengungkapkan betapa bahagia perasaannya saat ini dengan kata-kata. Setelah mengetahui bahwa wanita yang pertama kali dekat dengannya itu, ternyata selalu memikirkannya selama ini.
Di kejauhan, Selene terlihat memandangi sosok dua orang itu. Senyuman tipis yang terkesan dipaksakan terlihat di wajahnya. Begitu pula dengan tatapan mata yang sedikit sedih.
Pada akhirnya, Ia menutup pintu itu dan pergi meninggalkan mereka berdua untuk memiliki ruang dan waktu yang dibutuhkan.
"Selene, apa yang terjadi?" Tanya Lucas penasaran.
Mendengar pertanyaan itu, Selene hanya bisa tersenyum pahit sambil menjawab.
"Nampaknya, Nona Reina telah menemukan yang selama ini dicari olehnya." Balas Selene sambil segera pergi menuju kamarnya.
Lucas terlihat kebingungan dengan jawaban itu. Tapi jika memang demikian, Ia merasa turut bahagia dengan kejadian ini.
Artemis yang melihat sikap aneh dari Selene itu merasa penasaran dan mengikutinya. Tapi untuk pertama kalinya.... Selene hampir kehilangan sikapnya.
"Arte.... Nona Artemis. Kumohon, biarkan aku sendiri." Ucap Selene sambil berhenti di tengah tangga itu.
"Baiklah. Jika kau butuh sesuatu, kau harus tahu bahwa aku selalu ada untukmu, kau tahu? Tak hanya dirimu, aku juga akan membantu kalian. Nanti aku akan memanggilmu jika pesta akan dimulai." Ucap Artemis yang segera membalikkan badannya.
"Terimakasih, Nona Artemis."
Hari ini, banyak sekali kejadian yang dialami oleh kelompok Leo. Entah semuanya merupakan kejadian yang baik atau buruk, tak ada seorang pun yang tahu.
Tapi satu hal yang pasti.
Yaitu Reina akhirnya kembali bersama dengan Dimas. Mengakhiri hubungan jauh antara mereka berdua yang selalu terikat oleh sebuah peristiwa yang sederhana.
Kesederhanaan hidup bersama di desa Canary.