E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 76 - Pesan



"Jadi.... Apa yang ingin disampaikan oleh Dewi Cyrese?" Tanya Leo dengan nada yang datar. Matanya hanya mampu menatap ke langit memandangi lautan bintang yang indah itu.


Setelah menghisap dan menghembuskan rokoknya, Igor baru menjawab pertanyaan Leo.


"Ada beberapa, hal baik dan buruk. Mana yang kau mau dengar dulu?" Tanya Igor sambil segera kembali menghisap rokoknya.


"Buruk." Balas Leo singkat.


"Fuuuh.... Katanya, Dewi Ceries takkan bisa menghubungimu lagi akibat poin atau apalah yang sudah mencapai batas maksimal pada dirimu." Jelas Igor.


Leo yang mendengarnya tak lagi terkejut. Ia telah menduga bahwa kemungkinan besar alasan bahwa Dewi tak bisa menghubungi lagi para 8 pahlawan yang bersama dengan Feris, berhubungan erat dengan kenyataan bahwa mereka telah lama di dunia ini.


Tapi sebelum Leo sempat membalas perkataan itu....


"Dan kau, gadis pirang. Apakah Dewi mu yang bernama Silphi atau semacamnya? Luka di tubuhmu adalah akibat tindakan sembrononya. Luka itu hanya akan menghilang jika kau mengembalikan poinnya atau semacamnya.


Hmm.... Benar juga, dia bilang selama kau terus memburu Iblis dan Monster, luka mu akan sembuh secara perlahan. Mereka bilang soal hutang poin yang besar atau semacamnya? Entahlah, tapi intinya Dewi mu juga sekarat di sana." Jelas Igor panjang lebar.


Kali ini, Ia bahkan lupa untuk menghisap rokoknya di tengah-tengah penjelasannya yang panjang itu.


Sedangkan Leo dan juga Reina sendiri hanya bisa terkejut bukan main. Bagaimana tidak? Mereka baru menyadari fakta bahwa Dewi Silvie bahkan dalam kondisi yang buruk.


"Dewi.... Maafkan aku...." Ucap Reina sambil mengarahkan pandangannya ke tanah.


'Plak!'


Pukulan ringan dari Igor mengenai kepala Reina. Membuatnya merasa sedikit kesakitan, tapi tak lebih.


"Bodoh. Bukan kah sudah dikatakan bahwa selama kau memburu banyak monster, luka di tubuhmu dan Dewi mu akan sembuh dengan sendirinya? Daripada menjadi menyedihkan seperti itu, lebih baik kau terus mengayunkan pedangmu." Ucap Igor.


Perkataannya memang benar.


Jika memang luka Reina hanya bisa disembuhkan dengan mengembalikan poin yang entah seberapa banyak jumlahnya itu, maka satu-satunya hal yang bisa dilakukannya adalah dengan terus berburu.


Tapi dalam pikiran Leo....


'Dewi? Sekarat? Sebenarnya.... Mereka itu apa?' Tanya Leo dalam hatinya sendiri.


Setelah itu, Ia segera kembali ke dalam kenyataan. Menanyakan apakah ada kelanjutan dari pesan buruk itu.


"Apakah hanya itu saja? Berita buruknya?" Tanya Leo.


"Yah, seingatku hanya itu saja. Dewi itu juga bilang kalau dia akan menyampaikan pesan lain melalui diriku." Jelas Igor.


"Bagus lah. Lalu, apa berita baiknya?" Tanya Leo penasaran.


Reina juga terlihat memasang wajah yang penuh dengan tanda tanya. Menanti berita baik apa yang membuat mereka harus menemui sosok bernama Igor ini.


Setelah menghisap batang rokoknya hingga hampir habis, Igor pun menjawab sambil menghembuskan asap rokok itu.


"Fuuuuuh..... Kedamaian. Dewi bilang, wilayah Iblis sedang dalam kekacauan besar saat ini. Dan di sana terjadi perang saudara yang besar. Menurutnya, umat manusia akan memperoleh kedamaian sekitar 5 hingga 10 tahun kedepan." Jelas Igor.


Mata Reina dan juga Leo pun segera terbuka lebar. Mereka berdua sama sekali tak menyangka bahwa berita baiknya akan sebesar ini.


Akan tetapi, Leo merasa memiliki firasat yang buruk. Bahkan bisa dibilang firasat terburuk selama hidupnya.


'Ada apa ini? Bukankah kejadian ini terlalu berdekatan dengan penglihatanku sebelumnya? Apakah ada hubungannya? Apakah.... Dunia bisa damai dalam waktu itu?' Tanya Leo dalam hatinya.


Ia merasa bahwa hubungan antara penglihatannya mengenai tumpukan mayat dan iblis yang berdiri di atasnya, serta berita mengenai peperangan di wilayah Iblis sangat lah erat.


Untuk memastikannya sekali lagi, Leo pun menanyakan hal itu kepada Igor.


"Igor.... Kau serius dengan itu?" Tanya Leo.


"Ya, aku sama sekali tak salah ingat. Dewi Saras atau apalah itu bilang jika ini adalah kesempatan emas untuk umat manusia. Sebuah kesempatan emas untuk memilih memperkuat solidaritas dan mempersiapkan perang yang berikutnya....


Atau sebuah kesempatan emas untuk menyerang secara langsung wilayah Iblis pada saat ini juga. Yah, meskipun pilihan kedua sedikit terlalu ceroboh." Jelas Igor sambil menyalakan rokok yang baru.


Leo juga sependapat dengan Igor.


Jika kekacauan besar memang melanda wilayah Iblis, maka ini adalah kesempatan emas untuk menyerang mereka pada saat ini juga.


Tapi hal itu juga bisa berbalik arah dan membuat persatuan dari iblis yang saling berperang menjadi lebih kuat. Karena mereka memiliki satu musuh yang sama yaitu manusia.


Dengan kata lain....


'Pilihan paling bijak saat ini hanyalah diam mempersiapkan diri selagi mereka berperang.... Feris, apakah kau sudah menyadari hal ini?' Tanya Leo kembali pada dirinya sendiri dalam hati.


"Leo.... Apa yang akan kita lakukan?" Tanya Reina.


"Apa maksudmu?"


Sementara itu, Igor hanya terdiam sambil menikmati rokoknya. Menandakan bahwa itu adalah informasi terakhir yang dititipkan oleh Dewi Cyrese.


"Yah, kau benar. Aku akan mengiriminya surat nanti setibanya di kota. Tentu saja, aku akan bilang kalau orang yang mengaku pahlawan menyampaikan hal itu kepadaku. Maaf saja, tapi aku tak ingin terlibat dalam hal berbahaya itu." Balas Leo.


"Kalau begitu, aku setuju. Aku hanya ingin hidup damai menikmati apa yang kita miliki saat ini. Jika memang tiba saatnya, mungkin kita juga akan mengangkat pedang untuk melawan mereka."


Jawaban dari Reina itu sendiri seakan menyatakan bahwa Ia ingin bertarung di garis depan. Tapi tak ingin melakukannya karena Ia telah memiliki apa yang diinginkannya di dunia ini.


Mendengar jawaban itu, Leo juga merasa sedikit bersalah.


Kedatangannya ke dunia ini tentunya adalah untuk menyelamatkan dunia ini dari Iblis.


Tapi dirinya....


Hanya berpikir untuk menikmati hidup damai yang seakan merupakan bom waktu itu sendiri. Ia tahu, seberapa damai hidupnya di dunia ini, suatu waktu Iblis akan tiba di hadapannya.


Membantai semua yang dikenal dan telah dibangunnya.


Pada saat itulah, Igor mulai kembali berbicara.


"Aku tak peduli apa yang mereka lakukan. Tak lagi aku sudi untuk menjadi anjing orang lain. Tapi sebagai bentuk terimakasih ku kepada Dewi Syarus ini.... Aku akan membantunya menjaga umat manusia sebisaku. Bukankah seperti itu?"


Jawaban dari Igor pun dengan segera mencerahkan apa yang selama ini dibutuhkan oleh Leo.


Selama ini, Ia selalu ingin hidup dalam kedamaian saja. Melupakan tanggungjawabnya sebagai pahlawan untuk melawan Iblis.


Tapi pada kenyataannya tak seperti itu.


Apapun yang terjadi, dirinya masih seorang pahlawan yang dipanggil untuk menyelamatkan dunia ini.


Tak ada yang memintanya untuk bertarung di garis depan seperti pahlawan yang lain.


Tak ada pula yang memaksanya untuk menyerahkan nyawanya kepada para iblis.


Apa yang diminta, hanyalah untuk menyelamatkan dunia ini. Tak lebih dan juga tak kurang. Dan juga.... Dewi sekalipun takkan bisa memutuskan cara apa yang akan digunakan oleh pahlawan tersebut.


"Kurasa aku mulai memahami semua ini. Aku juga akan melindungi dunia ini dengan caraku sendiri. Tapi aku takkan mau jika harus melawan Raja Iblis yang berbahaya itu.” Ucap Leo sambil tertawa ringan.


Mendengar jawaban itu, Reina terlihat tersenyum puas. Seakan-akan hatinya yang selalu ingin menyelamatkan orang lain itu berteriak penuh bahagia.


Sedangkan Igor?


Ia hanya terus menerus menghisap batang rokoknya sambil membuat senyuman yang tipis.


"Aah, benar juga. Tuan Igor, kita belum berkenalan lebih lanjut. Jika boleh tahu, darimana asal mu di bumi? Aku sendiri dari Inggris, seorang mahasiswi." Tanya Reina yang segera mengganti topik pembicaraan itu.


"Aku dari Indonesia, seorang penjual minuman...." Ucap Leo mengikuti aliran pembicaraan ini.


"Fuuuuh.... Rusia, veteran perang." Jawab Igor sambil menghembuskan asap rokoknya.


"Ngomong-ngomong, apakah kalian terkirim ke sini juga setelah mati?" Tanya Igor melanjutkan perkataannya.


"Yah, aku mengalami kecelakaan saat mencoba menolong seseorang." Jawab Reina sambil mengarahkan pandangannya ke tanah.


"Bagaimana denganmu, bocah?" Tanya Igor ke arah Leo.


"Digorok oleh pencuri saat aku mencoba menolong seseorang...."


Setelah mendengar kedua jawaban itu, Igor nampak menghisap rokoknya dengan cukup dalam sebelum menjawab.


"Fuuuuh.... Nampaknya kita serupa." Ucap Igor.


"Apa maksudmu?" Tanya Leo dan juga Reina bersamaan.


Igor mengarahkan pandangannya ke langit seakan sedang berusaha melihat kembali kejadian itu.


"Ada seorang gadis kecil di medan perang. Aku memintanya untuk lari, tapi Ia hanya menangis dengan bonekanya.... Tak berani untuk melangkah sedikitpun.


Entah apa yang ku pikirkan saat itu, tapi aku menyelamatkan gadis itu dan mengembalikannya ke rumahnya. Yah.... Tentu saja aku akan dibunuh karena gadis itu tinggal di negara yang sedang berperang dengan kami.


Hahaha.... Jika diingat-ingat kembali.... Perang itu jauh lebih buruk daripada neraka. Tak hanya mereka yang berhati busuk sepertiku yang mati di dalamnya, tapi juga mereka yang berhati suci, secara sepihak terseret dalam siksaannya."


Leo dan juga Reina sama sekali tak menyangkanya. Bahwa Pria sebesar dan sekuat Igor itu....


Bahkan akan meneteskan air mata di hadapan mereka berdua.


"Kuharap.... Gadis itu baik-baik saja sekarang." Lanjut Igor sambil membuang puntung rokoknya jauh-jauh.