
"Nona Sheila, Nona Feris meminta Anda untuk menemuinya di ruang kerjanya." Ucap seorang Ksatria dari balik pintu kamar Sheila itu.
"Baik. Aku akan segera kesana." Balas Sheila yang secara perlahan mulai melakukan perubahan wujud. Dari sosok Iblis Succubus, secara perlahan menjadi sosok Sheila yang nampak begitu baik itu.
Sama sekali tak ada kecacatan dalam tiruannya. Bahkan tiruannya itu tak bisa dilihat oleh pemilik skill tingkat A [Clairvoyance] sekalipun. Membuat Feris dan juga Leo takkan mengetahui kebenarannya.
Dengan rasa percaya diri yang tinggi itu, Sheila segera membuka pintu dan menyapa sang Ksatria.
"Aku sudah siap."
"Baik, Nona Sheila. Izinkan aku untuk mengantar Anda." Balas Ksatria itu sambil memberikan hormat yang cukup kepada Sheila.
Itu semua dikarenakan Sheila adalah salah satu telinga Feris yang paling penting. Dimana kedudukannya sendiri sudah berada di atas para Ksatria.
Dan secara hukum feodal di dunia ini, siapapun yang memiliki kedudukan lebih rendah, harus memberikan sikap hormat kepada yang lebih tinggi. Tak peduli apapun alasannya.
Keduanya pun berjalan secara perlahan. Di belakang Ksatria itu, sang Iblis Succubus itu nampak tersenyum tipis.
Panggilan Feris kepada Sheila sudah sering dilakukan. Dan apa yang dibahas di dalam ruangan itu hanyalah apa saja yang diketahuinya selama berada di Kota Venice dan sekitarnya.
Dengan kata lain, hanya sebuah laporan sederhana. Selama ini juga, berkat ingatan Sheila yang masih utuh, Succubus itu bisa menjawabnya dengan sangat mudah. Bahkan sama persis seperti apa yang akan dilakukan oleh Sheila yang sebenarnya.
'Kukuku.... Manusia-manusia bodoh ini akan segera takluk pada keagungan Tuan Valkazar. Sebentar lagi. Bersabarlah sebentar lagi, Filya.' Pikir Succubus itu dalam hatinya.
Dengan pemikiran itu pun Ia terus berjalan dengan rasa percaya diri yang penuh.
Setibanya di lokasi tujuannya, sang Ksatria nampak mengetuk pintu dan membukakannya untuk Sheila setelah diizinkan masuk oleh Feris.
"Silakan masuk." Ucap Feris singkat.
"Permisi, Nona Feris. Ada keperluan apa kali ini?" Tanya Sheila dengan sopan sambil menundukkan kepalanya.
"Seperti biasa, aku ingin laporan lanjutan mengenai sosok bernama Leo itu. Apa saja yang dilakukannya di sana, dan apa yang direncanakannya untuk kedepannya." Tanya Feris dengan sikap yang sama seperti biasanya.
Meskipun terlihat begitu peduli, Feris masih tetap sibuk dalam pekerjaannya sendiri. Menulis sesuatu di tumpukan kertas yang seakan tak ada habisnya itu.
Bahkan tatapan matanya cukup gelap seakan Ia belum tidur selama beberapa hari.
Melihat seluruh kondisi itu, Succubus bernama Filya itu semakin percaya diri. Ia yakin bahwa jika dirinya membuat kesalahan sekali pun, Feris takkan menyadarinya dalam kondisi yang seperti ini.
Oleh karena itu, Ia segera berjalan mendekat ke arah Feris secara perlahan.
"Silakan duduk." Ucap Feris singkat.
"Permisi." Balas Sheila sambil sedikit menundukkan kepalanya lalu segera duduk di hadapan Feris.
"Jadi katakan padaku, apa yang Pria itu inginkan?" Tanya Feris singkat.
Dengan senyuman yang tipis dan terlihat begitu licik itu, Sheila pun menjawabnya.
"Saat itu, aku secara tak sadar menguping pembicaraannya ketika menghadiri suatu rapat di balai kota. Apa yang ku dengar benar-benar membuatku meragukan pendengaran ku." Jelas Sheila.
Mendengar perkataan itu, Feris nampak menghentikan tangannya menulis. Memfokuskan seluruh perhatiannya kepada perkataan Sheila. Akan tetapi, kini dengan tatapan mata yang cukup tajam.
"Begitu kah? Kalau begitu aku sangat bersyukur atas hal itu." Balas Feris dengan tatapan yang sangat berbeda dari biasanya.
Seakan-akan....
'Daaarr!!!'
Sebuah tembakan peluru sihir mengenai tepat di pundak kiri Sheila. Dari ujung ruangan ini, Leo nampak muncul dari kegelapan.
"Kuugghh!!!"
'Tik! Tik....'
Darah mulai menetes dengan cukup hebat dari lengan kiri Sheila. Wajahnya pun terlihat begitu terkejut. Dan hanya untuk sesaat saja, Filya hampir kehilangan sikap dari Sheila.
"A-apa yang kau lakukan?!" Teriak Sheila kebingungan. Sedangkan Feris hanya diam di tempat duduknya. Memandangi sosok Sheila itu secara teliti.
Dari balik kegelapan itu, sosok Leo nampak semakin jelas dengan senjata sihir berupa pistol di tangan kanannya.
"Terkejut? Ini hanya sihir penyamaran tingkat rendah. Meski cukup repot menggunakannya, aku bisa menghilangkan seluruh keberadaan ku jika tetap diam selama puluhan menit di tempat yang sama." Jelas Leo juga dengan tatapan yang tajam.
Di baliknya, Feris nampak segera berdiri.
'Prok! Prok!'
Ia nampak menepukkan kedua tangannya seakan sedang memuji wanita yang ada di hadapannya.
"Luar biasa sekali, Sheila. Kau bahkan memiliki kemampuan seperti itu? Katakan padaku, darimana kau belajar cara untuk menyembunyikan identitasmu yang sebenarnya?" Tanya Feris dengan tangan kanan yang terlihat sudah siap untuk menarik pedangnya.
Walaupun hanya sesaat, tembakan dari Leo barusan berhasil untuk membuka sedikit penyamaran dari Succubus bernama Filya itu.
Membuat penglihatan Clairvoyance bisa sedikit mengintip identitasnya yang sebenarnya. Walaupun hanya sesaat, mungkin hanya dalam satu kedipan mata, informasi itu saja sudah cukup untuk menjawab semua pertanyaan mereka selama ini.
"Feris, jangan begitu. Dia memiliki nama yang indah yaitu Filya Zchreindder, kau tahu itu kan?" Tanya Leo.
"Aaah, kau benar. Kau mengatakan hal yang tepat, Leo." Balas Feris dengan senyuman.
Tanpa Filya sadari, Leo dan juga Feris sejak sebelumnya memang telah berencana untuk menjebak Sheila.
Sebagai catatan, Leo dan juga Feris telah saling bertukar informasi. Dengan penguat yaitu Reina dan juga Selene yang ikut dengannya.
Meskipun pada awalnya cukup ragu pada perkataan Leo, tapi pengalamannya mengatakan sebaliknya. Bahwa dalam setiap perkataan Leo dan juga bawahannya, sama sekali tak terdapat kejanggalan. Termasuk juga ekspresi yang menunjukkan bahwa mereka berbohong.
Terlebih lagi, Feris juga nampak sedikit curiga dengan seluruh kekacauan yang ada di kerajaan manusia ini. Ia sangat yakin bahwa ada sesuatu yang salah, jauh semenjak wilayah Maelfall dan juga Mulderberg tak mengirimkan pasukannya.
Padahal sebelumnya, Ia juga bertemu dengan kedua Duke itu dan masih menjalin hubungan yang baik.
Satu-satunya tali kebenaran atas semua ini hanyalah adanya pihak yang ingin terjadinya peperangan di kerajaan manusia ini.
Semua itu diperjelas dengan perbedaan jawaban dari apa yang diketahui dan diyakini oleh Feris dari perkataan Sheila palsu itu, serta perubahan informasi dari Sheila yang nampak dalam penglihatan Clairvoyance.
Meskipun hanya sesaat, keduanya sangat yakin.
Dan dengan bersamaan....
"Katakan, siapa dirimu yang sebenarnya?" Tanya Leo dan juga Feris secara bersamaan.
Dengan tangan kanan yang masih memegangi bahu kirinya yang terluka dan terus berdarah itu, Filya akhirnya menunjukkan dirinya yang sebenarnya.
Sebuah senyuman yang sangat lebar mulai terlihat di wajahnya. Bahkan....
"Kukuku.... Hahaha!!!"
Filya mulai tertawa seperti orang gila yang telah kehilangan segalanya. Ekspresinya itu sontak membuat Leo sedikit merasa merinding.
'Apa ini?! Kenapa dia masih bisa....'
Sebelum Leo sempat menyelesaikan perkataannya, jawaban itu telah muncul tepat di hadapannya.
Wajah dan kulit dari Sheila nampak meleleh dan jatuh ke tanah. Begitu juga dengan seluruh pakaiannya.
Dan secara bersamaan, api merah tua mulai menyelimuti tubuh wanita itu. Merubah penampilannya secara drastis.
Sepasang sayap kelelawar dengan warna hitam dan merah darah nampak tumbuh dari bagian pinggang belakangnya. Telinganya terlihat mulai meruncing dan memanjang.
Begitu pula dengan dua buah tanduk tipis yang tumbuh di keningnya. Termasuk juga sebuah ekor hitam panjang yang memiliki ujung yang begitu tajam.
Melihat semua itu, Feris dan juga Leo segera sadar.
Bahwa apa yang dihadapi oleh keduanya, mungkin sangat jauh dari apa yang mereka pikirkan.
"Manusia.... Kau senang setelah menguak identitasku? Tak masalah.... Sama sekali tak masalah.... Sebagai hadiahnya, aku akan mengirimkan jiwa kalian langsung ke Tuan Valkazar."