
Leo berusaha untuk terus memikirkan apa arti dari penglihatannya itu. Ia bahkan beberapa kali berteriak kepada Dewi Cyrese untuk memanggilnya dan berbicara langsung dengannya.
Tapi hasilnya sama seperti pahlawan lainnya. Bahkan hingga hari ini, Dewi Cyrese sama sekali tak pernah memanggilnya lagi. Seakan-akan Ia memang telah ditinggalkan begitu saja.
Di saat Leo mencoba untuk menarik kesimpulan dari apa yang dialami oleh para pahlawan dan dirinya....
'Mengingat mereka berdelapan telah lebih dahulu tiba daripada aku dan Reina, aku yakin batas poin mereka telah penuh. Jika tidak, tak mungkin Dewi Cyrese akan memberikan semua sisa poinnya kepadaku yang entah akan selamat atau tidak.
Lalu setelah itu, Dewi Cyrese tak pernah menghubungiku lagi. Apakah itu.... Ada hubungannya dengan alokasi poin?' Pikir Leo sambil terus menunggu Mana di tubuhnya penuh.
Sesekali, Ia membalikkan buku ramuan yang masih ditinggalkan oleh Lucas dulu. Bahkan hingga hari ini, Ia masih belum menyelesaikannya sepenuhnya. Dan sekarang malah memperoleh masalah baru.
Pada saat itulah....
'Benar juga. Bagaimana dengan Reina? Apakah Ia masih bisa menghubungi Dewi Silvie?' Tanya Leo dalam dirinya sendiri.
Ia melirik ke arah luar ruangan itu dimana Reina masih beradu pedang kayu dengan Selene. Setelah memutuskannya, Leo segera berdiri dan berjalan ke arah ruang tengah di lantai 1 itu.
'Klak! Ketaakk! Klaakk! Kleetaakk!'
Benturan antar pedang kayu yang digunakan oleh kedua orang itu terdengar cukup keras. Di satu sisi, Reina hanya mengenakan pedang kayu satu tangan yang cukup panjang dengan tangan kanannya.
Leo membiarkan mereka berdua tetap beradu tanpa mengganggu pertarungan itu.
Gerakan Reina jauh lebih cepat dan kuat jika dibandingkan dengan Selene. Membuatnya selalu berada dalam posisi menekan meskipun dalam keadaan tubuh yang masih terluka seperti itu.
Tapi sebaliknya, gerakan Selene jauh lebih lembut dan fleksibel. Membuatnya mampu melakukan banyak improvisasi gerakan ketika berada di tengah pertarungan yang sengit sekalipun.
Untuk menjaga keseimbangan, saat ini Reina sama sekali tak menggunakan kemampuan [Time Perception] miliknya. Karena makna dari latihan itu sendiri akan menghilang jika Reina menggunakan skill yang hampir menyerupai Cheat itu.
Hingga akhirnya, setelah beradu pedang selama kurang lebih 15 menit....
'Kletaakkk!'
Reina berhasil memberikan pukulan telak yang tak bisa dihadang oleh pedang kayu Selene. Membuatnya terlempar sejauh beberapa meter.
Artemis yang sedari tadi duduk di samping tempat itu sambil makan cemilan segera berdiri dan menyembuhkan Selene.
"Kau tak apa? Apakah masih mau lanjut?" Tanya Reina kepada Selene yang saat ini sedang dalam proses penyembuhan.
"Nona Reina.... Nampaknya kau sangat kuat ya? Bahkan dengan kondisi tangan seperti itu...." Ucap Selene sambil memperhatikan tangan kiri Reina yang sepenuhnya dibalut dalam perban putih itu.
Pada kenyataannya memang benar. Reina jauh lebih ahli dan unggul dalam menggunakan pedang besar dua tangan. Tapi karena saat ini tangan kirinya masih terluka sejak pertarungan di kota itu, Reina masih belum bisa mengangkat pedang yang asli dengan dua tangan.
"Yah, aku sendiri tak tahu kapan mereka akan sembuh. Tapi setidaknya aku bisa beraktivitas dengan baik meskipun tak bisa yang terlalu berat jika melibatkan mereka." Ucap Reina sambil melihat tangan kiri dan juga paha kanannya yang dibalut perban putih itu.
"Mau aku coba sembuhkan?" Tanya Artemis dengan lugu.
"Tidak.... Bahkan salah satu pendeta besar dengan bantuan obat-obatan Lucas sekalipun tak bisa menyembuhkannya."
Mendengar percakapan itu, Leo hanya memperhatikan sosok Reina dari kejauhan.
Ia memang sangat ingin menyelesaikan permasalahan luka di tubuhnya. Yang kemarin telah dilihatnya ketika sedang berdua bersama dengan Reina.
Tapi terkadang....
Memang ada sesuatu yang lebih baik tidak diketahui.
Apa yang ada di balik perban Reina adalah kulit yang mulai menghitam dengan banyak bercak keunguan yang mengerikan. Meski begitu, Reina masih bisa menggerakkannya untuk hal-hal sederhana di kehidupan sehari-hari.
Dan ketika Leo melihatnya menggunakan kemampuan Clairvoyance miliknya....
Itu adalah sebuah kutukan. Leo sendiri tak tahu bagaimana bisa Reina memperoleh kutukan sebesar itu dalam tubuhnya.
Di dunia ini, kutukan memang adalah hal yang langka tapi cukup wajar. Ketika jiwa seseorang rusak dan termakan oleh terlalu banyak emosi negatif, kutukan itu bisa memakan tubuhnya.
Tapi penyembuhannya pun cukup sederhana. Dengan mengikuti ritual penyucian di gereja bintang, dan sedikit diberi air suci pada bagian kutukan itu, maka lukanya akan dengan cepat menghilang. Bahkan hari itu juga.
Hanya saja....
Mengingat bahwa dirinya sendiri masih belum bisa menemukan solusinya, Leo memutuskan untuk tetap diam. Dan sebaliknya....
"Reina, bisakah kita bicara sebentar?" Tanya Leo.
Mata Selene dan juga Artemis pun terlihat menatap Leo dengan tatapan yang seakan-akan ingin menertawakannya. Mengingat betapa dekatnya mereka saat ini.
"Tentu saja."
Tapi diluar dugaan Selene dan Artemis, Leo benar-benar hanya berbicara saja. Bahkan tepat di depan mata mereka meskipun sedikit jauh.
Sedangkan suaranya sendiri cukup pelan sehingga sulit untuk didengar.
"Reina, kapan terakhir kali Dewi Silvie menghubungimu? Apakah kau masih bisa menghubunginya lagi sekarang?" Tanya Leo.
"Hmm.... Mungkin sekitar beberapa bulan yang lalu? Entahlah, tapi Dewi Silvie bilang bahwa kemungkinan Ia tak bisa membantunya lagi untuk beberapa saat. Jika memanggilnya...." Ucap Reina sambil terlihat berpikir.
Leo memiliki prasangka yang aneh terhadap para Dewi yang mengirim mereka berdua itu.
Jika mereka memang benar-benar Dewi, bukankah seharusnya mereka memiliki kekuasaan dan kekuatan yang mutlak? Lantas kenapa harus mengirim jiwa dari orang-orang yang telah mati kemari?
Lalu, jika mereka memang benar-benar Dewi, lalu apa yang dipuja dan diagungkan di dunia ini? Bukankah Gereja Bintang telah berdiri sejak lama? Memangnya apa yang mereka sembah?
Di saat Leo masih membingungkan hal itu.....
"Aku akan mencobanya." Ucap Reina yang dengan segera berlutut ke lantai sambil menyatukan kedua telapak tangannya.
Pandangannya menatap ke arah lantai dengan kedua mata yang tertutup rapat. Dari bibirnya yang mulai sedikit cerah itu, Ia berkata.
"Wahai, Dewi Silvie.... Tolong jawab panggilanku.... Kami, lebih tepatnya Leo memiliki beberapa pertanyaan...."
Melihat hal itu, Leo merasa bahwa mungkin saja Dewi akan segera memanggilnya.
Hanya saja....
"Nampaknya tak bisa. Entah apa yang terjadi selama ini tapi.... Aku benar-benar tak pernah bisa menghubunginya selain Dewi yang memanggi...."
'Brukk!!!'
Sesaat sebelum Reina menyelesaikan perkataannya, Leo telah tersungkur ke tanah entah karena apa. Bahkan kepalanya jatuh terlebih dahulu, memberikan suara yang cukup keras.
Tubuhnya sendiri terlihat begitu lemas dan hanya menunjukkan tanda-tanda paling mendasar dari kehidupan. Yaitu bernafas.
Sedangkan tatapan matanya sendiri terlihat begitu kosong. Atau lebih tepatnya, kesadarannya mungkin telah tiada
"Dim.... Leo?! Apa yang terjadi?!" Teriak Reina dengan keras sambil berusaha menyadarkan Leo.
Selene dan juga Artemis yang melihat hal itu pun segera berlari ke arah tubuh Leo. Dan dengan cepat, Artemis segera menggunakan sihir penyembuh. Ia tak tahu apakah itu akan berguna, tapi setidaknya Ia telah mencobanya.
Di sisi lain....
Kesadaran Leo seakan berada di tempat yang asing. Tapi suasana yang dirasakannya tak begitu asing.
Pemandangan lautan bintang yang menerangi kegelapan malam. Serta pijakan yang berupa samudra tak berujung yang tak membuatnya terjatuh dan tenggelam.
Di ujung dari pandangannya, terlihat sosok seorang wanita yang begitu anggun dengan sepasang sayap peri yang indah. Rambut pirang kecoklatan nya yang indah terlihat tertata begitu rapi.
Ia tak lain adalah Dewi Cyrese.
Dan dari bibirnya yang tak kalah menawan itu....
"Dimas. Aku tak punya waktu banyak. Tapi temuilah seseorang bernama Igor Sikorsky di desa Rarth, pahlwan baru yang ku kirim ke Egalathia. Dia akan menjelaskan semuanya."
Bersamaan dengan kalimat itu, Dewi Cyrese segera menghilang. Sedangkan tubuh Leo hanya bisa terjatuh ke dalam samudra yang gelap dan dingin itu. Mengembalikan kesadarannya kembali ke dunia nyata.
"Buaahhh!!! Igor Sikorsky! Desa Rarth!" Teriak Leo dengan keras.
Semua orang yang melihatnya merasa keheranan. Tapi hanya Reina seorang yang tahu. Bahwa baru saja.... Mungkin.... Dewi Cyrese baru saja memanggilnya.