E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 51 - Berbisnis



Leo membawa buku itu kembali ke penginapan.


Bersama-sama, Ia mulai mempelajari isi buku itu dengan semua bawahannya. Hal itu pun menjadi kegiatan dirinya dan kelompoknya selama beberapa saat.


Akan tetapi, ada beberapa hal yang sedikit membuat Leo penasaran sejak dulu. Yaitu sebuah kenyataan bahwa Ia bisa berbicara bahasa di dunia ini meskipun tidak pernah mempelajarinya. Dan juga bisa membaca huruf di dunia ini meskipun tak pernah melihatnya.


Berbeda dengan dirinya, selain Artemis dan Selene, semuanya buta huruf. Membuat Leo terpaksa untuk memberikan tugas mengajar kepada Artemis, Selene atau dirinya sendiri.


'Bukankah ini seperti pelajaran kimia?' Pikir Leo setelah melihat sebagian isi dari buku itu.


Meski tak menyelesaikan pendidikannya, Leo sendiri bukanlah orang yang bodoh. Ia memperoleh sedikit bekal mengenai kimia di sekolahnya dulu. Membuat isi dari buku ini sangat mudah untuk dipahami.


Setelah melihat barang-barang apa saja yang dibutuhkan, Leo segera berbelanja dan memasangnya di salah satu kamar di penginapan itu. Penginapan yang saat ini seakan telah menjadi rumah sewaan bagi semua anggota kelompok Leo.


Kelas pun dimulai dengan Leo sebagai gurunya karena baik Artemis maupun Selene sama sekali tidak memahami apa yang dimaksud di dalam buku itu.


Pelajaran yang disusunnya lebih berfokus pada praktek daripada teori. Terlebih lagi, Leo mendorong agar murid-muridnya tidak takut atas kegagalan.


"Lakukan saja. Jika meledak, aku akan membelikan peralatan yang baru." Ucap Leo saat memperhatikan salah seorang muridnya berusaha memasukkan suatu bahan di cairan yang mendidih itu.


'Cpluuukk!'


"Lihat, tak ada masalah kan? Jangan takut. Aku di sini akan menanggung kalian semua."


Suasana kelas sederhana ini pun menjadi cukup menyenangkan walaupun sangat berat bagi para bawahan Leo. Tapi mereka semua berjuang demi membalas semua kebaikannya.


Setelah satu Minggu, Leo akhirnya berhasil membuat 3 dari 10 muridnya kecuali Artemis dan Selene paham mengenai dasar-dasar dari teknik peramuan. Yang bisa juga disebut sebagai kemampuan Alchemist ini.


"Aku akan melanjutkan pelajaran ini selama 12 jam sehari untuk satu Minggu lagi. Setelah itu, aku akan menyewa sebuah toko untuk kalian berjualan. Mengerti?" Tanya Leo.


"Ka-kami akan berusaha, Tuan...." Balas 10 orang itu dengan wajah yang terlihat begitu kelelahan. Bagaimana tidak, pelajaran itu terlalu berat untuk penduduk di abad pertengahan yang memang sebagian besar tidak terdidik.


Pada saat itulah, Leo menyadari mengenai kenyataan itu.


'Jika aku bisa mengumpulkan orang lain dan mendidik mereka, mungkin aku bisa melepas sebagian tugasku.' Pikir Leo dalam hatinya.


Apa yang dimaksud adalah mengenai pencatatan harga barang di pasar setiap beberapa hari, pendanaan, pencatatan keadaan keuangan, pengeluaran, dan lain sebagainya.


Artemis sendiri memang suka uang. Tapi Ia kurang mampu untuk melakukan kalkulasi matematis yang serumit itu.


Selama ini, Leo tak menyadarinya karena terlalu terbiasa untuk menjalankan semuanya sendiri. Tapi jika Ia telah membuka toko, maka beban tugasnya akan menjadi semakin besar dan tak mungkin dilakukan sendiri.


Belum lagi dengan tugasnya untuk selalu menyetor 30 perlengkapan ke Eastfort.


Setelah memikirkannya sejenak, Leo memutuskan untuk mencari budak baru. Kali ini yang cukup terdidik untuk meringankan tugasnya.


......***......


Pelajaran kimia Leo terus berlanjut hingga akhirnya pada Minggu ke dua, Leo beehasil menyewa sebuah kios kecil di pasar untuk menjual ramuan buatan 3 orang bawahannya.


Hasilnya?


"Tuan, maafkan kami karena hanya bisa menjual satu...." Ucap salah seorang Pria yang menjadi bagian dalam tim pembuat ramuan


'Yah, sudah bisa di duga. Kebanyakan orang di Kota ini hanya melakukan perawatan sederhana untuk luka mereka. Kurasa aku harus memutar logika berpikirku.' Pikir Leo dalam hatinya sambil menopang dagunya dengan jari telunjuknya.


Leo pun segera bertindak tanpa menunggu lama.


"Ramuan apa yang terjual?" Tanya Leo.


"Stamina...." Balas bawahan Leo itu dengan wajah yang terlihat ketakutan. Ia merasa gagal karena setelah apa yang diberikan oleh Leo, Ia tak mampu memenuhi harapannya.


Akan tetapi....


'Tap!'


"Mulai saat ini, fokus tingkatkan kemampuan produksi ramuan stamina. Aku akan mengurus pengiklanannya." Ucap Leo sambil segera pergi.


Pada saat ini, dirinya sendiri merasa sedikit kesal. Ia terlalu percaya diri. Akibatnya, bahkan hal sederhana seperti lokasi geografis seperti Kota Venice saja Leo telah lupa.


Itu benar. Venice adalah Kota di wilayah Timur Rustfell. Lokasinya bahkan cukup berjauhan dari Eastfort atau garis depan umat manusia.


Tak hanya itu, Eastfort adalah kota dagang yang ramai. Tentu saja untuk melindungi semua itu, penguasa di Kota ini akan menempatkan banyak prajurit untuk menertibkan keamanan.


'Tak ada pertarungan, yang berarti tak ada luka serta penggunaan energi Mana. Tapi sebaliknya, hampir semua orang bekerja dengan keras dari pagi hingga malam.' Pikir Leo dalam hatinya.


Pada saat itu juga, Ia telah menemukan sebuah cara pengiklanan yang sangat efektif walaupun terkesan cukup curang.


Keesokan harinya....


Di kios kecil milik Leo. Sebuah kios dengan ukuran sekitar 2 x 2 meter itu, tiga orang sedang berjaga. Dua berjaga di depan kios berusaha untuk menarik pembeli.


Sedangkan satu lagi berjaga di bawah tenda kios itu, bersama dengan puluhan botol ramuan dengan cairan berwarna merah, biru dan kuning.


"Ramuan! Ramuan! Bisa menyembuhkan luka Anda dengan mudah!"


"Bisa juga untuk mengobati rasa lelah Anda!" Teriak dua bawahan Leo itu. Tapi sayangnya, tak ada satu orang pun yang terlihat tertarik.


Itu karena ramuan identik dengan barang militer, yang terkesan mahal meskipun kenyataannya tidak seperti itu. Sedangkan penduduk biasa cukup dengan memberikan perawatan ringan.


Pada akhirnya, penjualan hari ini pun sangat sepi tanpa ada satu orang pun yang membeli.


Akan tetapi tiba-tiba....


"Huwaah.... Lelah sekali." Ucap seorang kuli angkut sambil meletakkan tiga tumpuk karung gandum itu di tanah.


"Kau bilang ramuanmu bisa membuat lelah hilang?" Tanya kuli angkut itu.


"Be-benar sekali Tuan! Hanya dengan sebotol ini saja, Anda bisa langsung melegakan rasa lelah di tubuh." Balas bawahan Leo yang terlihat cukup gugup.


Mereka tak menyangka bahwa akan ada orang yang benar-benar menanyakan ramuannya.


"Kau yakin? Biar aku coba satu. Berapa harganya?" Tanya kuli bangunan itu.


"10 koin perunggu, tapi kami mengambil botolnya kembali." Balas bawahan Leo sambil menunjukkan botol kecil berukuran 25ml yang berisi cairan berwarna kuning itu.


"Baiklah, aku beli satu." Ucap Kuli itu.


Segera setelah membayarnya, Ia segera meneguk cairan itu sampai habis.


Beberapa orang di sekitarnya terlihat memperhatikan dirinya karena memang pemandangan itu cukup aneh. Seorang kuli yang seharusnya tak memiliki bayaran besar, tapi membeli benda yang terkesan mahal itu.


Dan akhirnya....


"Fuaahh! Kau bercanda? Aku mulai merasa pegal-pegal di badanku sedikit berkurang! Untuk 10 perunggu, kurasa itu harga yang murah. Setara dengan sepotong roti." Ucap Pria itu sambil mengangkat kembali 3 karung gandum itu di punggungnya setelah mengembalikan botol itu.


Tapi kali ini, Ia terlihat begitu bertenaga.


"Terimakasih, mungkin besok aku akan membeli lagi." Ucap Pria itu.


Pada saat itulah, sebuah gelombang yang cukup besar mulai melanda.


"Kau lihat itu? Bukankah dia sebelumnya terlihat begitu lemas?"


"Apakah benda itu benar-benar murah?"


"Lagipula, bukankah efeknya sangat bagus?"


"Masa bodoh! Aku ingin mencobanya!"


Beberapa orang pun mulai mengelilingi kios ramuan milik Leo itu. Melihat hal itu, orang yang lain pun merasa penasaran dan ikut melihat ke kios tersebut.


Saat ini, sekitar 15 orang telah berdiri di depan kios ramuan itu. Membuat ketiga bawahan Leo sedikit kebingungan.


"Syukurlah.... Dengan ini kita bisa memberikan laporan yang baik kepada Tuan Leo bukan?" Ucap salah seorang bawahan Leo.


Sementara itu, di sebuah gang yang cukup gelap....


"Kerja bagus. Ini bayaranmu dan 5 orang lainnya. Ingat, bagi dengan merata karena aku telah menyebutkan jumlah yang akan mereka terima, dan kenyataan bahwa kau yang membawanya." Ucap seorang pria berambut kecoklatan yang tak lain adalah Leo itu sendiri.


Pria yang ada di hadapannya adalah seorang kuli angkut yang sebelumnya membeli ramuan di kiosnya.


"Tentu saja, terimakasih Tuan yang baik. Jika kau butuh bantuan lain, jangan sungkan-sungkan untuk memanggil kami." Ucap Kuli itu sambil menerima 6 koin emas dari Leo.


'Setidaknya, dengan ini gelombang pertama untuk menggerakkan kios itu mulai berjalan. Semoga saja gelombang yang lebih besar bisa datang....' Pikir Leo dalam hatinya sambil memperhatikan keramaian di kiosnya itu.