
Setelah sadarkan diri, Leo segera mengatakan apa yang baru saja terjadi kepada Reina. Sedangkan untuk Selene dan juga Artemis, Ia hanya menyampaikannya sebagian.
"Apa?! Kau ada kenalan di desa Rarth?!" Teriak Artemis yang kedua matanya terlihat begitu berbinar itu.
"Yah, begitulah. Jadi mungkin aku akan menemuinya sekarang."
Perkataan Leo itu membuat Selene dan juga Artemis sedikit kebingungan. Kenapa secara tiba-tiba dan kenapa harus saat ini juga.
Leo sadar bahwa Ia takkan bisa menjaga rahasia ini untuk selamanya. Tapi setidaknya untuk saat ini.... Ia tak ingin menimbulkan keributan dan banyak masalah dengan hal itu.
Reina pun segera berjalan ke dalam ruangan Leo. Mengambil dan mengenakan kembali perlengkapannya. Begitu pula dengan Artemis dan juga Selene yang mulai mempersiapkan dirinya.
Sedangkan Leo sendiri, Ia pergi ke arah salah seorang bawahannya yang sedang memasak untuk makan siang itu.
"Aah, Tuan Leo! Apakah ada yang bisa ku bantu?" Tanya wanita itu setelah menyadari kehadirannya. Wanita lain yang juga sedang memasak nampak mengalihkan pandangannya ke arah Leo.
"Begini.... Aku akan pergi. Minta Ferry untuk mengurus berbagai hal selama aku pergi. Ini adalah uang untuk kalian hidup selama aku pergi." Ucap Leo sambil meletakkan 5 koin platinum.
"Baik... tentu saja.... Tapi kenapa tiba-tiba sekali, Tuan Leo?" Tanya wanita itu kebingungan. Ia bahkan terlihat sama sekali tak tertarik dengan uang itu.
Sedangkan Leo sendiri hanya bisa memasang wajah yang sedikit kaku. Perasaannya sangatlah buruk mengenai rentetan kejadian yang baru saja terjadi ini.
Peluang besarnya.... Mungkin Raja Iblis telah mulai kembali bergerak atau semacamnya. Tapi pemandangan yang dilihatnya itu berbeda.
'Jika diingat-ingat kembali, bukankah semua tumpukan mayat itu adalah Iblis? Perang saudara? Apa yang sebenarnya terjadi?' Tanya Leo sendiri kebingungan dalam pikirannya.
Tapi Ia segera kembali ke dunia nyata dan membalas pertanyaan wanita itu.
"Aku teringat atas sesuatu yang perlu ku lakukan. Jadi, jaga rumah dan kedai makan itu baik-baik selama aku pergi. Mengerti?" Ucap Leo sambil membelai rambut kecoklatan wanita itu.
Dengan wajah yang memerah dan mulut yang sedikit terbuka, wanita itu pun menjawab dengan penuh semangat.
"Siap laksanakan, Tuan Leo!"
Setelah masalah itu selesai, kini Leo kembali masuk ke dalam ruang kerjanya. Mengangkat kotak yang berisi pedang suci Feris serta beberapa perlengkapan lainnya. Termasuk juga satu karung penuh batu Mana dan beberapa peti kecil.
Leo mengangkutnya secara perlahan satu demi satu dan memasukkannya ke dalam kereta kuda yang diletakkan di depan penginapan itu.
Sementara itu, Reina yang telah selesai mengenakan zirah dan jubah prajurit gerejanya segera turun untuk membantu Leo.
"Tidak, aku bisa melakukannya sendiri. Tanganmu masih belum sembuh bukan?" Ucap Leo menghentikan niat baik Reina untuk membantu.
"Tapi...."
"Nona Reina, biar aku saja." Ucap Selene yang kini mengenakan pakaian hitam dan merahnya. Sebuah busur yang cukup besar dikalungkan di punggungnya. Begitu juga 3 wadah anak panah yang menggantung di pinggang wanita berambut putih itu.
"Waktu yang bagus, Selene. Bantu aku angkat peti ini." Perintah Leo sambil menunjuk ke arah peti dengan 60 perlengkapan itu. Termasuk juga peti yang berisi bahan makanan dan persediaan untuk setidaknya selama 1 Minggu.
Meskipun kejadian barusan adalah perintah dari Dewi, tapi Leo masih tetap tak bisa lari dari tanggungjawabnya di dunia ini. Termasuk tanggungjawabnya kepada Feris sang pahlawan di Eastfort untuk terus mengirim perlengkapan yang diperkuat itu.
"Hngghh!!"
Keduanya terlihat berusaha keras untuk mengangkat peti yang besar dan berat itu. Artemis yang baru saja selesai segera turut membantu. Meskipun tenaganya hampir tak terasa.
Di sisi lain, Reina hanya bisa melihat dari jauh. Memperhatikan lengan kirinya yang masih penuh dengan perban itu. Begitu pula bagian tubuhnya yang lain.
'Kapan kutukan ini akan sembuh?'
......***...
...
'Braakkk!!!'
Leo, Selene dan juga Artemis akhirnya berhasil meletakkan peti besar itu di dalam kereta kuda. Kini, kereta itu sedikit penuh. Tapi masih cukup untuk diisi dua orang, sedangkan 2 atau 3 orang lagi dapat duduk di depan.
Di kejauhan, terlihat rombongan bawahan Leo yang berjalan dengan santai sambil membawa banyak kotak kayu.
Mereka baru saja selesai berbelanja untuk memenuhi kebutuhan mingguan. Di saat mereka semua melihat Leo yang mempersiapkan kereta kudanya....
"Tuan Leo! Apa yang terjadi?" Tanya salah seorang Pria itu.
"Aku akan pergi ke desa Rarth. Hmm... benar juga. Belikan aku seekor kuda lagi. Aku tak yakin dia bisa menariknya sendirian." Ucap Leo memperhatikan kudanya yang masih terikat dengan kereta yang kini begitu berat itu. Tak lupa, Ia melemparkan dua keping koin platinum.
"Dengan segera, Tuan!" Balas Pria itu sambil segera berlari ke arah pasar.
"Desa yang besar di tengah hutan itu ya? Apakah ada sesuatu di sana?" Tanya Pria yang lain.
Mata 7 orang Pria itu pun nampak terbuka lebar bersamaan dengan senyumannya. Mereka telah menanti hari ini untuk tiba.
“Ti-tidak sama sekali!”
“Kami justru menanti hari dimana kami bisa beraksi!”
“Itu benar, Tuan Leo! Jangan salahkan diri Anda!”
Mendengar hal itu, Leo kembali tersenyum sambil membalas perkataan mereka.
“Terimakasih. Aku benar-benar bangga pada kalian semua. Sekarang, bersiaplah.”
Lagipula, selama ini mereka hanya berlatih setiap hari menunggu untuk datangnya waktu ketika mereka akan menjalankan tugas pengawalan itu.
"Siap, Tuan Leo!"
"Akhirnya, misi pertama kita!"
"Aku tak sabar untuk membalas para bandit yang kejam itu!"
Melihat antusiasme yang begitu tinggi dari para bawahannya, Leo sendiri sebenarnya merasa sangat senang. Hanya saja....
"Tunggu. 2 orang akan tetap disini dan menjaga penginapan ini. Lalu liburkan toko ramuan untuk sementara waktu, atau jika bisa jaga seorang diri dan satu orang lagi menjaga penginapan ini.
Bagaimanapun, kita tak bisa meninggalkan dua wanita yang ada dalam penginapan ini sendirian. Mengerti?" Tanya Leo sekali lagi.
Jujur saja mereka sangat ingin bertualang dengan Leo. Membantunya dalam melewati banyak masalah selama dalam perjalanan. Tapi mengetahui bahwa hanya 6 orang yang bisa ikut....
"Siapa yang akan tinggal?"
"Entahlah.... Aku sangat ingin ikut."
"Aku juga."
"Tapi menjaga penginapan, bukankah itu sama pentingnya?"
"Aku tahu itu. Tapi aku ingin melawan para bandit itu dan...."
Leo membiarkan diskusi mereka berjalan sendiri. Tak ingin untuk memaksakan kehendak mereka.
Mungkin jika ada yang merasa belum siap, atau takut akan kematian, bisa tinggal di penginapan ini. Menjaga apa yang telah dibangun selama ini.
Sedangkan sisanya yang berani akan mengikuti Leo dalam perjalanan sejauh 5 atau 6 hari itu melalui hutan yang cukup lebat itu dengan kecepatan yang pastinya akan berkurang.
Sementara itu, Artemis dan juga Selene telah duduk di dalam kereta kuda itu. Menempati 2 kursi yang tersisa karena penuhnya barang itu dengan cepat. Menyisakan Reina untuk duduk di kursi depan bersama dengan Leo.
Setelah beberapa saat....
"Baiklah. Aku akan tinggal. Aku masih belum yakin akan kemampuanku sendiri."
"Aku juga, kurasa aku lebih cocok menjaga toko ramuan itu."
Melihat hal itu, Leo merasa lega karena tak ada masalah yang tidak diperlukan. Tapi sebelum itu....
"Keputusan yang baik. Ngomong-ngomong, ini pintu ruang kerjaku. Jika aku belum kembali selama 3 Minggu dan Lucas datang untuk mengambil bukunya, tolong ambilkan di ruang kerjaku.
Selain itu, aku mempercayakan mu untuk menjaga semua yang ada di dalamnya. Jika kalian semua bekerja dengan baik, aku takkan ragu untuk menuruti satu keinginan kalian selama itu memang dimungkinkan." Ucap Leo sambil memberikan kunci itu kepadanya.
"Tu-tunggu dulu?! Ruang kerja Tuan Leo?! Tidak! Aku tak mampu mengemban tanggung jawab ini dan...."
"Aku percaya padamu." Ucap Leo menyela perkataannya sambil menepuk pundaknya.
Setelah semua itu, pembagian tugas pun selesai. Semua orang telah mengenakan perlengkapan zirah tipis dengan pedang besi dan perisai kayu.
Seseorang yang diutus untuk membeli satu ekor kuda baru pun juga tiba setelah tak berapa lama. Di saat Leo sedang mengikat kuda itu kepada keretanya, Pria itu segera mempersiapkan dirinya dengan semua perlengkapannya.
Persiapannya telah matang walaupun sedikit terburu-buru. Dengan segera, Leo naik ke kursi depan kereta kudanya sebelum membantu Reina untuk menaikinya.
Sedangkan 6 orang pengawal dengan perlengkapan yang cukup memadai itu akan berjalan kaki. 3 di bagian kiri dan 3 lagi di bagian kanan kereta kuda.
Tak hanya itu, Leo juga membawa sebagian uangnya untuk berjaga-jaga jika mungkin saja, Ia bisa membeli tanah di desa itu untuk dikelola.
Dan akhirnya....
Petualangan baru pun dimulai.