E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 54 - Garis Depan



...- Eastfort -...


Sebagai dinding terdepan dan yang paling kokoh bagi bangsa manusia, benteng ini dibangun dengan dinding setinggi 15 meter dan batu kualitas terbaik dari seluruh penjuru negeri.


Tak hanya itu, prajurit yang menjaganya pun bisa dikatakan adalah veteran diantara veteran. Kemampuan mereka, terutama mental mereka, jauh melampaui prajurit biasa yang ada di belakang dinding Eastfort itu.


Dan pada hari ini, ribuan iblis dan monster telah menyerbu ketika matahari bahkan belum terbit.


"Grrooaaaarr!!!"


"Zasyu Kamash!"


"Verathas!!"


Teriak para Iblis itu entah dengan menggunakan bahasa apa.


Kali ini, pemimpin dari para Iblis itu berasal dari bangsa Black-skin Orc. Yaitu iblis yang memiliki wujud seperti manusia, tapi memiliki warna kulit yang hitam legam.


Tubuhnya setinggi 2.2 meter dengan banyak cat perang di tubuhnya. Wajahnya sendiri terlihat begitu mengerikan dengan tindik besar di kedua telinganya yang sedikit runcing itu serta taring yang besar hingga keluar dari mulutnya.


"Black-skin Orc. Kau baik-baik saja tanpa senjatamu?" Tanya Feris yang saat ini berdiri di atas dinding itu.


Gadis yang ada di sebelahnya tak lain adalah Alicia, salah seorang pahlawan yang memiliki kemampuan besar dalam pertarungan jarak dekat.


Senjata utamanya tak lain adalah pedang. Tapi saat ini, pedang sucinya sedang dikirim ke Kota Venice untuk diperkuat oleh Leo. Dan kali ini, Ia hanya membawa sebilah pedang Mithril berwarna putih cerah sedikit kebiruan itu.


"Aku sudah membawa dua buah pedang cadangan. Jika hanya dengan ini, aku tak yakin mereka akan bertahan lama." Balas Alicia sambil memperhatikan pedangnya.


Mendengar hal itu, Feris merasa cukup lega dan segera meninggalkan pos jaganya.


"Tunggu!" Teriak Alicia. Tangan kanannya menggenggam pergelangan tangan Feris, berusaha untuk mencegahnya pergi.


"Ada apa?"


"Jack. Dimana dia dan apa yang sedang dilakukannya?" Tanya Alicia dengan memberikan tatapan mata yang seakan penuh dengan hawa membunuh.


"Tunggu, jangan bunuh aku." Balas Feris sambil tertawa ringan sebelum melanjutkan perkataannya.


"Jack ya.... Meski memiliki berkah yang kuat, saat ini dia masih sibuk di Ibukota mengumpulkan banyak wanita. Bahkan aku sekalipun tak bisa membujuknya."


Tatapan mata Alicia kini menjadi semakin tajam. Tapi setelah beberapa saat, Ia pun mengalihkan pandangannya dan kembali fokus ke medan perang.


"Bajingan itu, aku akan membunuhnya suatu saat nanti." Keluh Alicia sambil segera melompat dari dinding untuk turun ke medan perang.


Beberapa komandan prajurit yang melihatnya segera berteriak untuk memberikan perintah. Membuat barisan pemanah yang rapi untuk mendukung Alicia yang saat ini berjalan sendirian di luar perlindungan dinding itu.


Di hadapannya adalah ribuan iblis yang siap untuk menerjang. Menghancurkan apapun yang ada di hadapannya sesuai dengan perintah sang Raja Iblis.


"Semua pemanah! Bersiap! Tembak!"


'Syuuutt!!!'


Ribuan anak panah melesat secara bersamaan. Mengarah ke barisan pasukan Iblis itu.


Tapi di saat pertempuran baru saja dimulai, Feris justru turun ke dalam benteng. Melewati anak tangga kecil di sisi samping dinding itu.


tujuannya adalah bagian dalam dari dinding itu yang tepatnya di ketinggian sekitar 9 meter. Di dalamnya adalah sebuah tempat berlindung sekaligus menembak bagi pasukan pemanah yang berada di dalam dinding.


"Nona Feris...."


"Jangan pedulikan aku. Lanjutkan pekerjaan kalian." Balas Feris bahkan tanpa menoleh sedikitpun.


Ia terus berjalan semakin dalam di dinding besar itu. Dan setelah beberapa saat, Ia pun sampai di bagian gerbang dinding.


Bahkan hingga hari ini, tak ada satu pun Iblis yang bisa menggores pintu Mithril itu sedikitpun.


Sedangkan tujuan dari Feris itu sendiri tak lain adalah menemui pahlawan yang lain. Ia juga berasal dari bumi sama seperti dirinya.


"Ellia, pertarungan akan segera dimulai. Tolong fokuskan sihirmu untuk melindungi Alicia." Ucap Feris kepada seorang Pria dengan rambut yang cukup panjang itu. Bahkan hingga mencapai sedikit di bawah pundaknya.


Dengan wajah yang terlihat begitu kelelahan, serta kantung mata yang begitu tebal, Ia hanya bisa mengiyakan perintah dari Feris.


"Siap yang mulia...." Balas Ellia dengan sedikit terpaksa itu.


"Berhenti lah memanggilku seperti itu." Balas Feris yang segera berjalan ke arah sebuah meja yang memiliki peta wilayah Eastfort itu terpasang di atasnya.


Dengan cepat, Feris segera menyusun bidak-bidak yang masing-masing melambangkan kekuatan Iblis yang menyerang dan pasukan yang mempertahankan dinding itu.


Untuk bidak dari ras Iblis, semuanya memiliki warna merah. Sedangkan untuk ras manusia memiliki warna putih.


'Empat banding satu.... Kurasa kali ini akan mudah seperti biasanya.' Pikir Feris dalam hatinya sambil melihat ke sebuah jendela di belakangnya. Memperlihatkan pemandangan pertarungan saat ini.


"Ellia, apa yang kau tunggu? Cepat aktifkan sihirmu." Ucap Feris.


"Kau pikir ini semudah itu?"


Ellia yang mengenakan pakaian berwarna hitam itu merapalkan mantra dan membentuk 6 lapis lingkaran sihir yang mengelilingi dirinya. Secara perlahan bergerak kesana kemari.


Cahaya kehijauan yang indah nampak menyelimuti sosok Pria itu. Dan setelah seluruh lingkaran sihir itu selaras....


'Swuuusshhh!!!'


Cahaya hijau yang terang segera menyinari seluruh ruangan ini. Tapi 4 orang Ksatria yang menjaga tempat ini, termasuk juga Feris terlihat tidak terkejut sama sekali.


Bagi mereka, itu adalah kegiatan sehari-hari.


Tapi tepat setelah sihir itu aktif, Ellia segera terkapar di lantai. Kesadarannya seakan hilang seketika dengan mulut yang meneteskan darah secara perlahan.


Warna kulitnya yang memang sudah putih itu pun terlihat semakin pucat. Bahkan seakan tak ada lagi darah yang mengalir di tubuhnya.


Tapi Feris terlihat seakan tak begitu peduli. Bagaimana tidak?


Di garis depan medan pertempuran itu, sosok Alicia yang kini telah kehilangan tangan kirinya dan puluhan anak panah yang menancap di tubuhnya masih terus bertarung menebas para Iblis.


Wajah dan tubuhnya dipenuhi dengan darah dan luka. Tapi Ia tetap bergerak dan bertarung seakan tak merasakan rasa sakit.


'Zraasshh! Sraaasshh!'


Setiap tebasan nya membunuh Iblis dengan begitu mudahnya. Begitu pula dengan setiap gelombang anak panah yang ditembakkan, memberikan luka yang besar bagi para Iblis.


'Sialan.... Masih belum ya? Ellia, apa kau ingin aku mati?' Pikir Alicia dalam hatinya.


Tapi pada saat itu juga, cahaya kehijauan yang cukup terang mulai menyelimuti tubuhnya.


Cahaya itu dengan cepat menyembuhkan seluruh lukanya. Bahkan menumbuhkan kembali lengan kirinya yang telah putus itu.


Tak hanya itu, kecepatan geraknya meningkat dengan drastis. Begitu pula dengan kekuatan serangannya.


'Sraasshh!'


Setiap kali Ia menerima luka, cahaya itu segera menyembuhkannya bahkan dalam sekejap mata. Tak membiarkan Alicia mati di dalam pertempuran ini.


Dengan kekuatan sihir itulah, Alicia bisa mengamuk dengan bebas di medan perang tanpa takut atas kematian.


Di balik barisan para Iblis itu, Black-skin Orc yang hanya berdiri di belakang melihat Alicia dengan perasaan ngeri. Tapi bagaimana pun, Ia harus menghadapinya untuk memenuhi perintah sang Raja Iblis.