
...- Kota Venice -...
...- Pasar Budak -...
Di tengah pasar yang hanya bermodalkan tenda ini, berbagai kejahatan dan kekejaman bisa terlihat di segala arah. Inilah dunia yang masih terbelakang. Tak ada hak asasi manusia. Semua orang bisa saja menjadi budak jika mereka membuat kesalahan besar.
Tertangkap oleh bandit, memiliki hutang besar, melakukan kejahatan, dan masih banyak lagi.
Pada akhirnya, mereka hanya bisa menyerahkan hidup mereka pada takdir. Berharap bahwa orang yang membeli mereka adalah orang yang baik, atau kenalan mereka membelinya agar bebas.
Tapi mimpi itu bagaikan angan kosong yang takkan pernah tergapai kecuali sebuah keajaiban yang besar terjadi.
Biasanya, mereka akan menjadi budak tambang seumur hidup. Atau yang lain lagi, mereka menjadi tenaga kerja bangunan yang dipekerjakan secara paksa. Tak diberi makanan, minuman dan istirahat yang cukup.
Leo dan kelompoknya yang diperbudak dulu jauh lebih beruntung daripada mereka. Itu karena Leo dan yang lainnya bisa saja mati beberapa Minggu saja setelah diperbudak. Membebaskan diri mereka dari semua siksaan yang ada di masa depan.
Tapi bagi yang cukup sial, mereka bisa saja hidup 40 tahun lebih hanya sebagai budak yang bahkan lebih rendah dari seekor kuda.
Dan di dalam pasar inilah, Leo dan Selene berkeliling untuk melihat berbagai barang yang ada.
"Cepatlah bergerak atau aku akan mencincangmu!"
"Dasar tak berguna!"
"Cepatlah terjual dan beri aku 20 koin perak!"
Berbagai perkataan kasar dapat didengar di telinga setiap orang yang ada di dalam pasar ini. Selene sendiri masih sedikit trauma dengan kondisi ini. Sebuah kehidupan yang telah dilalui selama 2 bulan lebih dengan terus berada di dalam kurungan besi.
Menanti apakah kedepannya Ia akan dibeli dan memperoleh nasib buruk, atau mati karena kelaparan. Itulah mengapa Ia selalu menakut-nakuti setiap orang yang meliriknya. Agar tak ada seorang pun yang mau membelinya.
"Tuan...." Ucap Selene yang mulai memegang lengan kiri Leo.
Melihat wajahnya yang mulai memucat, serta keringat dingin yang mulai mengalir, Leo sadar atas apa yang sedang dirasakannya.
"Aku baik-baik saja disini. Kau bisa pergi." Ucap Leo sambil memegang pedang suci yang dibawanya di pinggang kirinya itu.
"Maafkan aku, Tuan. Aku akan segera kembali." Balas Selene yang segera melangkah pergi dari pasar ini. Wajahnya terlihat pucat dengan tangan kanan yang menutupi mulutnya seakan ingin muntah.
'Yah, wajar saja jika Ia mual ketika melihat semua ini. Bukankah dia hanya selalu terkurung di satu tenda yang sama selama ini?' Pikir Leo sambil melihat puluhan orang mencambuk, memukul, dan kadang memberikan cap dengan membakar tubuh para budak itu.
Berbagai teriakan rasa sakit dapat didengar. Dan setiap kali mereka berteriak, siksaan yang mereka terima akan semakin besar. Bau darah pun memenuhi pasar ini karena banyaknya luka yang diderita oleh para budak yang membangkang.
'Disana ya?' Ucap Leo sambil melihat ke arah sebuah tenda yang besar.
Tujuannya adalah menemui seorang pedagang budak terbesar di Kota ini. Ia memiliki ratusan koleksi yang terkadang selalu masih dalam kondisi yang segar.
Banyaknya koleksi itulah yang membuat Leo bisa memanfaatkan kemampuan Clairvoyance miliknya sebaik mungkin.
Leo berjalan secara perlahan memperhatikan seluruh budak yang ada di dalam kurungan itu. Sedangkan sang pedagang masih sibuk untuk melayani pembeli lain.
Setelah beberapa saat....
'Hmm.... Mereka tidak buruk, tapi juga tidak bagus. Nampaknya dagangan hari ini tak terlalu menarik. Baiklah, kurasa aku akan melakukan itu saja.' Pikir Leo dalam hatinya sambil berjalan ke arah sang Pedagang.
Sebelum menjawab, pedagang itu merapikan kerah bajunya dan memasang senyuman yang lebar.
"Tuan yang baik, sesuai permintaan Anda, saya akan merekomendasikan mereka." Balas pedagang itu sambil menuntun Leo ke arah sebuah tumpukan kurungan besi yang jumlahnya tak begitu banyak.
"Mereka adalah para budak yang telah kupastikan bisa membantu pekerjaan Anda dalam hal administrasi dan sebagainya. Terlebih lagi, mereka sedikit lebih cerdas jadi akan semakin berguna untuk Anda." Lanjut pedagang budak itu.
Mata Leo pun mulai menyipit. Cahaya putih tipis terlihat di bola mata Leo setelah Ia mengaktifkan skill Clairvoyance miliknya.
Setelah beberapa saat, Leo telah memilih 3 orang terbaik baginya.
"Aku sudah memilih. Yang ini, itu dan yang itu. Berapa harganya untuk 3 orang?" Tanya Leo samb
Senyuman yang lebar terlihat di wajah pedagang itu. Bukan hanya karena Leo mau membeli barang dagangannya, tapi juga karena Leo mampu memilih budak dengan sangat akurat dalam hal kesehatan dan kemampuan.
"Tuan, maafkan jika aku lancang tapi.... Apakah Anda yang bernama Leo itu? Aku mendengar kabar tentang seorang pedagang yang memiliki mata tajam, sama seperti yang Anda miliki."
"Jika aku memperoleh diskon, maka aku adalah orang yang kau bilang bernama Leo itu." Balas Leo singkat seakan tak peduli dengannya.
"Buahahaha! Kau benar-benar menarik, Tuan Leo. Baiklah, sebagai bonus untukmu aku akan memberikan mereka bertiga seharga 163 koin emas." Balas pedagang itu sambil tertawa.
Leo pun sedikit menyipitkan matanya sambil mengarahkan pandangannya ke arah Pedagang itu.
"Bukankah terlalu mahal untuk 3 orang?" Tanya Leo.
"Mereka memiliki kemampuan baca dan tulis, serta sedikit lebih cerdas dari yang lain. Terlebih lagi, mereka masih dalam kondisi sehat dan muda. Tentu saja akan mahal, Tuan Leo."
"Baiklah.... Ambil ini dan persiapkan mereka." Ucap Leo sambil memberikan 2 koin Platinum yang setara dengan 200 koin emas itu.
"Hahaha! Tuan benar-benar mengerti kami. Seseorang! Persiapkan tiga budak ini untuk Tuan Leo yang murah hati!" Teriak pedagang itu sambil segera memanggil bawahannya.
Sedangkan Leo sendiri berjalan keluar dari pasar untuk menunggu barang yang baru saja dibelinya. Ia menunggu di jalanan sambil memperhatikan betapa besarnya perbedaan antara pasar dan jalanan kota yang hanya dipisahkan oleh sebuah tembok ini.
Setelah beberapa saat menunggu, seseorang membawakan 3 budak yang dipilih oleh Leo.
"Tuan Leo, ini barang pesanan Anda." Ucap salah seorang pekerja di pasar budak itu.
"Terimakasih. Ini untukmu." Ucap Leo sambil melempar satu koin emas.
"Te-terimakasih banyak, Tuan Leo!"
Setelah petugas itu berjalan pergi, Leo segera memeriksa kembali 3 budak barunya yang semuanya adalah laki-laki itu.
Ia menjelaskan aturan ketika menjadi bawahannya, dan juga bonus yang akan mereka peroleh ketika bekerja dengan baik.
Tapi nampaknya, salah satu budak terlihat tidak berminat dengan semua itu.
Di saat Leo sedang sibuk berbicara....
'Tap! Sreeettt!'
Salah seorang budak yang tak mendengarkan sejak tadi itu, tiba-tiba meraih pedang suci yang ada di pinggang kiri Leo. Tanpa sedikitpun keraguan, Ia segera berlari dan berusaha untuk kabur.