E - Rank Hero In Another World

E - Rank Hero In Another World
Chapter 26 - Istirahat



"3 koin emas. Aku akan membayarnya sebanyak itu, jadi tolong jual lah kepadaku." Ucap Pria tua itu kepada Dimas.


Ia terlihat begitu menginginkan helm usang itu.


Tapi melihat reaksinya, Dimas merasa sedikit penasaran dengan apa yang ada di dalam pikirannya.


"Kenapa?"


Hanya sebuah kata. Dimas sama sekali tak merincikan apa maksud dari pertanyaannya. Dengan begitu, Ia bisa mengelak nantinya jika Ia mengatakan sesuatu yang salah.


Tapi sesuai dengan harapannya....


"Helm ini.... Meskipun terbuat dari besi, tapi memiliki kekerasan dan ketahanan yang sedikit dibawah mithril. Aku sendiri sangat penasaran mengenai cara pembuatannya.


Jika aku tak mampu untuk mengetahuinya sekalipun, aku masih bisa menjualnya kembali kepada orang lain. Jadi bagaimana? Apakah kau akan menerima tawaranku?" Jelas Pria tua bernama Hendrik itu dengan cukup panjang lebar.


Sedangkan balasan yang diberikan oleh Dimas....


"Empat. Aku hanya akan menjualnya untuk empat koin emas."


Pertemuan antara seorang pembeli yang antusias. Ditambah dengan suatu barang yang pada saat ini tidak ada duanya.


Itulah alasan yang membuatnya berani untuk sedikit menaikkan harga. Sekaligus sebagai suatu cara untuk menakar sendiri seberapa bernilai nya benda yang memperoleh Enchantment miliknya itu.


Pada pandangannya, terlihat sosok Pria tua yang sedikit menggerutu. Tapi tangan kanannya terus menerus membelai jenggot putihnya itu seakan sedang berpikir keras.


Setelah beberapa puluh detik....


"Baiklah. Ini, empat koin emas untukmu. Tapi dengan satu syarat." Ucap Pria tua itu.


"Syarat?"


"Jika kau memiliki benda yang serupa seperti helm ini lagi, bawalah kemari terlebih dahulu."


'Monopoli, ya? Kemungkinan besar itu yang ingin dilakukannya. Tapi masa bodoh, saat ini aku butuh uang untuk beristirahat.' Pikir Dimas dalam hatinya.


Dengan cepat, Ia pun menjawab.


"Syarat yang menyebalkan, tapi baiklah. Aku akan menuruti kemauanmu"


Dengan balasan itulah, Dimas akhirnya menjual barang pertamanya yang diberi imbuhan Enchantment.


Sebuah bisnis yang sangat mudah dan sangat menguntungkan dengan mengeksploitasi kekuatan tingkat S miliknya.


4 keping koin emas kini telah tersimpan dengan baik di dalam kantung celananya. Dan tujuannya saat ini....


'Penginapan dan makanan....' Ucap Dimas sambil sesekali memegangi tangan kirinya.


Rasa sakitnya sedikit tersamarkan oleh hawa dingin. Tapi dalam kondisi ini, Ia tak bisa mengetahui seberapa buruk luka yang dideritanya.


Ia mulai bisa menggerakkan tangan kirinya dengan cukup mudah setibanya di kota ini.


Tapi itu bukan berarti pertanda yang baik. Bisa saja, karena hawa dingin yang menutupi rasa sakitnya itulah Dimas bisa menggerakkan tangannya tanpa banyak pikir panjang.


Jika saja....


Tangannya benar-benar patah....


'Apakah ada semacam dokter atau sebagainya disini? Aku sedikit ragu, tapi semoga saja tanganku baik-baik saja.' Pikir Dimas dalam hatinya sambil berjalan ke arah sebuah bangunan yang cukup besar.


Pada saat Ia tiba di dalam bangunan itu....


"Selamat datang, ada yang bisa dibantu?" Ucap seorang gadis muda dengan rambut hitam yang tak terlalu panjang itu.


Ia mengenakan setelan pakaian dengan warna kecoklatan, sebuah pakaian yang nampaknya merupakan seragam di tempat ini.


"Kamar untuk satu orang, dan makanan yang lembek seperti bubur. Hitung saja berapa lama aku bisa tinggal dan makan dengan ini. Sekarang, dimana kamarku...." Ucap Dimas sambil menyerahkan satu keping koin emas.


Wajah gadis itu terlihat cukup terkejut ketika memperoleh bayaran dari Dimas sebesar itu.


"Tu-tunggu dulu! Anda yakin, Tuan?" Tanya Gadis itu dengan wajah yang panik. Gadis itu berusaha sebaik mungkin untuk menjaga kesopanannya terhadap para pelanggan. Terutama pelanggan yang seperti Dimas.


Tapi balasan yang diperolehnya....


"Bocah, aku setengah mati karena kedinginan. Sedangkan tangan kiri ku baru saja terluka entah apa. Sekarang katakan padaku dimana kamarku dan berapa lama aku bisa tinggal dengan makan 3 kali sehari?" Tanya Dimas dengan tatapan mata yang cukup mengerikan.


Tatapannya tak hanya tajam, tapi juga dingin. Jika yang melihatnya adalah seorang petualang atau prajurit yang berpengalaman, mereka akan sadar bahwa Dimas memancarkan hawa membunuh yang cukup kuat.


"A-aaahh! Maafkan aku! Mari ikut denganku.... Seila! Siapkan satu set hidangan bubur untuk kamar nomor 22!" Teriak Gadis itu sambil mempercepat langkah kakinya.


Dimas pun hanya mengikutinya dalam diam. Menaiki tangga yang selebar 1 meter itu secara perlahan.


Setelah sampai di depan kamar yang di maksud, Gadis itu segera membuka pintunya dan mempersilakan Dimas untuk masuk.


Ia bahkan memberikan bantuan kepada Dimas untuk berjalan.


"Tuan, silakan tunggu sebentar. Hidangannya akan segera siap." Ucap Gadis itu sambil membungkukkan badannya lalu pergi.


'Pelayanan yang cukup baik.'


Itulah kalimat yang terlintas dalam pikiran Dimas saat ini.


Sambil sedikit menutup pintu itu, Dimas mengambil kunci yang menggantung di bagian dalam lalu merebahkan tubuhnya di ranjang dengan kain putih itu.


Gadis pegawai yang baru saja melayani Dimas, termasuk seorang gadis berseragam sama yang memiliki rambut pendek pirang itu mendengarnya.


"Miria.... Apakah dia prajurit?" Tanya Seila kepada gadis berambut hitam itu.


"Nampaknya. Tangan kirinya terluka, tapi darahnya telah membeku. Aku melihatnya di balik zirah besinya itu." Balas Gadis berambut hitam yang bernama Miria itu.


"Ooh.... Jadi begitu. Kalau begitu, aku akan memanggilkan seorang penyembuh untuknya. Kau antarkan saja ini padanya." Ucap Seila yang secara sepihak menyerahkan nampan berisi makanan dan minuman itu.


"Seila! Kenapa kau melimpahkan tugas ini padaku!"


"Biar saja! Aku takut dengan prajurit!" Balas Seila yang telah berlari menuruni tangga itu.


Miria sendiri tak menjawabnya. Tapi segera setelah Seila cukup jauh, Ia baru bisa berbicara.


"Aku sendiri juga takut padanya, kau tahu?"


Meski berkata seperti itu, Miria segera merubah wajahnya yang cemberut menjadi wajah ceria. Dengan langkah yang tenang, Ia kembali memasuki kamar nomor 22 itu.


'Dok! Dok!'


Suara ketukan pintu terdengar dengan cukup jelas.


"Permisi, Tuan. Aku membawakan makanannya untukmu." Ucap Miria sambil mendorong pintu kayu yang tak tertutup rapat itu.


Ia berusaha mengatur nafasnya sebaik mungkin. Begitu juga dengan langkah kaki dan juga ekspresi wajahnya.


Sudah merupakan suatu keharusan untuk melayani pelanggan penginapan ini sebaik mungkin tanpa memandang latar belakang mereka.


Lagipula, selama ini Ia juga belum pernah menerima perlakuan yang buruk dari para pelanggan.


Jadi takkan ada masalah.


Itulah yang ada di dalam pikirannya sambil memasuki ruangan ini. Akan tetapi....


Apa yang dilihatnya di dalam....


"Aaa.... Ma-maafkan aku...." Ucap Miria dengan wajah yang begitu ketakutan. Seakan persiapannya yang barusan sama sekali tak berguna.


Kedua matanya terbuka lebar. Mulutnya mulai menganga bahkan gemetar seakan merasa kedinginan.


Tapi Ia terus berusaha untuk tetap tenang. Hal terburuk yang bisa dia lakukan saat ini adalah menjatuhkan nampan makanan itu tepat di hadapan pelanggannya.


"Ooh? Sudah datang? Terimakasih." Balas Dimas sambil berjalan mendekati sosok Miria.


Tanpa sengaja, Miria mengambil langkah mundur. Seakan berusaha untuk menghindari Dimas yang mendekati dirinya.


Menyadari ada sesuatu yang aneh, Dimas hanya mampu menundukkan kepalanya.


"Tinggalkan saja di meja." Ucap Dimas sambil membalikkan badannya.


"Maafkan aku, Tuan.... Tapi rekanku sedang memanggil seorang penyembuh. Semoga saja...."


"Aah ini? Luka ini takkan sembuh. Tapi jika penyembuh itu memang datang, aku harap dia bisa menyembuhkan luka memar dan goresan di lengan kiri ku ini." Ucap Dimas memotong perkataan Gadis itu.


Meski berbicara seperti tak ada masalah apapun, tapi tubuhnya sendiri berkata lain.


Bekas cambuk yang memenuhi punggungnya.


Luka memar yang bahkan masih membekas hingga saat ini.


Sekaligus bekas sayatan pedang terlihat di sekujur tubuhnya. Atau lebih tepatnya, bagian atas tubuh Dimas.


Termasuk juga bekas besi panas yang membentuk suatu lambang di pundak kanannya.


Semua itu terlihat dengan jelas di saat Dimas melepaskan zirah besi dan pakaian kulitnya untuk memeriksa luka di lengan kirinya.


Sebuah luka memar yang cukup parah, dengan goresan besar yang mengeluarkan banyak darah di sekitar lengan atasnya. Meskipun, darah itu segera membeku karena hawa dingin dan rasa sakit memarnya sedikit tertunda.


Akan tetapi.....


Semua orang pasti akan segera sadar setelah melihat lambang itu. Bagaimana tidak....


Itu adalah lambang yang menunjukkan status budak di dunia ini.


Bagi siapapun yang melihat atau menemukan budak, maka sangat disarankan untuk memberitahukannya kepada para penjaga kota agar segera dikembalikan ke tempatnya.


Tentu saja, Dimas sendiri menyadari hal itu.


"Bocah. Jika kau menghormati seseorang, maka orang itu juga akan menghormatimu. Sama seperti saat ini.


Jika aku melihat sosok seorang prajurit kemari, terlebih dalam keadaan menyamar untuk mencariku....


Aku takkan segan-segan untuk membakar habis bangunan ini dan membunuhmu. Kau paham? Sekarang pergilah, aku mau makan." Ucap Dimas sekali lagi dengan tatapan dinginnya itu.


Mendengar hal itu, Miria pun langsung membungkukkan badannya.


"Aku takkan memanggil penjaga, aku berjanji." Ucap Miria dengan tubuh yang gemetar.


Dengan kalimat itulah, Ia segera membalikkan badannya dan meninggalkan ruangan ini.