
Leo hanya memakan sepotong roti sebelum pergi ke ruang kerjanya. Meminta agar disisakan satu porsi untuk dirinya.
Ruang kerjanya sendiri berada di kamar lantai satu penginapan ini. Sebuah kamar kecil yang diubah menjadi ruang kerja untuk Leo. Meskipun, hanya menambah beberapa meja dan rak buku saja.
Leo menyalakan lilin yang berada di dalam kaca. Lilin tersebut berada di beberapa sudut ruangan itu.
Setelah ruangan cukup terang, Leo segera duduk di meja kerjanya.
Tumpukan kertas dan beberapa buku terlihat tertata dengan rapi di sisi kiri meja itu. Memberikan ruang yang cukup bagi tangan kanannya untuk menulis.
Sebelum membuka surat itu, Leo mengarahkan tangan kanannya pada sebuah batu berwarna biru muda itu.
'Swuush...'
Leo mengalirkan sedikit energi Mana miliknya ke dalam batu itu. Membuatnya menyala bagaikan lampu kecil.
'Sekarang.... Apa yang ada di dalamnya?' Pikir Leo sambil membuka segel dari surat itu.
Di dalamnya, terdapat selembar kertas yang dilipat cukup rapi. Tulisan yang begitu banyak dapat terlihat dari sela-sela lipatannya.
^^^Kepada, Leo.^^^
...Aku menuliskan surat ini atas nama benteng Eastfort dan seluruh prajurit yang menjaganya....
...Perlengkapan yang kau kirim benar-benar sangat membantu kami dalam mempertahankan garis terdepan umat manusia ini. Tapi sayangnya, jumlahnya sama sekali tidak mencukupi....
...Untuk perlengkapan terbaik yang kau kirim, kami telah memberikannya kepada para pahlawan yang berjaga. Kemudian untuk perlengkapan yang ada di bawahnya, kami memberikannya kepada para Ksatria. Sedangkan sisanya kami berikan pada prajurit biasa....
...Hanya saja, para pahlawan sedikit kurang puas dengan barang yang kau gunakan. Itu karena seluruh perlengkapan yang kau kirim, paling baik hanya terbuat dari baja tempa. Oleh karena itu, salah satu pahlawan, Alicia, telah mengirimkan senjatanya kepadamu....
...Mulai saat ini, kami meminta kau mengirim setidaknya 60 perlengkapan setiap bulannya dengan kualitas yang sama atau diatas yang sebelumnya. Ditambah dengan satu perlengkapan tingkat suci milik para pahlawan setiap bulannya....
...Kami hanya bisa mengirim perlengkapan itu satu per satu karena para pahlawan yang lain selalu menggunakannya dalam berperang. Tapi sebagai gantinya, tolong buat penambahan kekuatannya setidaknya 3 kali lipat dari biasanya....
...Sebagai tambahan, kami juga mengirimkan 60 perlengkapan dengan bahan Mithril bersama dengan senjata suci pahlawan itu. Kemungkinan mereka akan tiba satu Minggu setelah ini. Jadwal pengiriman mu akan menyesuaikan waktu kedatangan barang-barang itu....
...Kewajibanmu adalah untuk meningkatkan semua yang kami kirim. Jika kau bisa mengirim lebih banyak lagi, maka kami akan memberi bonus. Tentu saja, kami akan membayar lebih mahal kali ini. Setidaknya 2 kali lipat bayaran yang sebelumnya....
...Terimakasih....
^^^Dengan hormat,^^^
^^^Felicia Viartis^^^
Setelah membaca keseluruhan isi surat itu, Leo tak lagi paham harus senang atau sedih.
Di satu sisi, saat ini Leo bisa menghasilkan setidaknya 2x lipat lebih banyak uang. Yang dengan kata lain akan mempercepat rencananya. Tapi di sisi lain....
'Apakah Mana ku akan cukup dengan semua permintaan itu?'
Bahkan untuk memenuhi sekitar 30 perlengkapan, Leo telah hampir kehabisan Mana miliknya. Tapi sekarang?
Di tengah kebingungan itu, Leo hanya berdiam diri. Memandangi lampu yang menyala karena energi Mana miliknya itu.
'Dunia ini benar-benar aneh. Apakah semua ini karena keberadaan Mana? Lagipula, Mana itu apa?'
Leo hanya terus terdiam. Memandangi warna cahaya biru muda itu yang secara perlahan membuat matanya menjadi sedikit lebih berat.
'Aah.... Benar juga.... Kurasa aku bisa meminta mereka membuatkan Mana Potion untukku. Jauh lebih hemat daripada membeli di akademi sihir....'
Di saat Leo mulai sedikit kehilangan kesadarannya karena rasa kantuk dan lelah, seseorang tiba-tiba mengetuk pintu ruang kerja itu. Menghapuskan seluruh kantuknya seketika.
'Dok! Dok! Dok!'
"Permisi, Tuan Leo. Makan malam Anda sudah mulai dingin, perlukah aku membawakannya ke dalam?" Tanya salah seorang bawahan wanita Leo.
"Aah, tidak perlu. Aku sebentar lagi akan kesana." Balas Leo singkat. Kantung matanya sedikit menghitam.
Akhir-akhir ini, pekerjaannya memang terlalu banyak. Sedangkan satu-satunya orang yang bisa dipercaya dalam pekerjaan itu adalah dirinya sendiri.
"Baiklah, aku akan meninggalkannya di atas meja." Balas wanita itu sebelum akhirnya pergi meninggalkan Leo.
Jujur saja, saat ini Leo merasa berterimakasih padanya karena telah membangunkannya sebelum tertidur.
Leo pun melanjutkan pencatatan datanya.
Apa yang dibuat saat ini adalah rentetan data berbagai komoditas di Kota Venice setiap beberapa hari sekali.
Semua data dan angka itu dibuat menjadi sebuah grafik manual dengan menggunakan pena dan penggaris sederhana pada sebuah kertas yang sangat besar dan panjang. Ukurannya saja mungkin mencapai 1 x 2 meter.
Cara pembuatan grafiknya pun sangat sederhana karena Leo tak memiliki laptop, dan ponselnya masih tertinggal di Desa Canary. Meskipun, Ia sangat yakin baterainya telah habis.
Setiap komoditas memiliki lambang yang berbeda di tiap titik yang dibuatnya. Dengan garis horizontal merupakan waktu, dan garis vertikal merupakan harga.
Jika Ia bisa memetakan sepenuhnya pergerakan harga di dunia ini setiap bulan, atau musimnya, maka pasar telah sepenuhnya jatuh di tangannya. Memungkinkan manipulasi persediaan dan harga dengan mudah. Dan pada akhirnya akan memberikan keuntungan yang besar.
Entah berapa jam telah berlalu semenjak Leo melanjutkan pekerjaannya itu. Ia terlihat sangat hati-hati dalam menghubungkan garis antar titik harga.
Akan tetapi....
Tapi Ia masih belum selesai, Ia masih belum bisa tidur. Tapi jika Leo tertidur ketika mengerjakan grafik itu, kemungkinan besar Ia akan merusaknya.
Itulah mengapa Leo segera membereskannya dan menyimpannya dengan rapi.Sedangkan saat ini, Leo kembali membaca buku mengenai ilmu alchemist itu.
Dalam kelompoknya saat ini, hanya dirinya lah yang memiliki bekal pengetahuan yang cukup untuk memahami isi buku itu. Sebuah buku kimia, fisika dan biologi terapan yang ditujukan hanya untuk membuat ramuan.
Beberapa jam kembali berlalu dengan Leo yang terus membaca buku itu.
Akan tetapi, rasa kantuk itu tak lagi bisa ditahan. Sesekali, Ia tertidur ringan sebelum kembali bangun. Hingga akhirnya....
'Srruugg....'
Kepala Leo kini telah berada tepat di atas meja. Tak ada lagi tenaga maupun kekuatan untuk membuat dirinya tetap terjaga.
Di tengah-tengah kesadarannya yang mulai menghilang itu, seseorang membuka pintu ruang kerjanya secara perlahan. Sosok yang ada di baliknya tak lain adalah Selene dimana tangan kanannya terlihat membawa sebuah selimut.
"Tuan.... Kenapa kau selalu memaksakan diri seperti ini setiap hari...." Ucap Selene pada dirinya sendiri dengan suara yang sangat lirih.
Ia mendekati sosok Leo yang tertidur dalam posisi duduk dengan kepala yang bersandar di meja.
Langkah kakinya hampir tak bersuara, seakan Ia memang sudah terbiasa untuk melakukannya. Dan dengan perlahan, Selene menyelimuti tubuh Leo yang telah tertidur itu.
Tapi sesaat sebelum Selene meninggalkan ruang kerja itu....
"Reina.... Kali ini.... Aku akan melindungimu.... Tunggu saja aku kembali...."
Leo terlihat sedang mengigau dalam tidurnya dengan suara yang lirih. Selene yang mendengarnya dengan segera menoleh ke arah Tuannya itu.
Dan apa yang dilihatnya, hanya membuat kedua matanya terbuka lebar.
Dalam tidurnya, Leo terlihat begitu gelisah. Mungkin semua itu karena kelelahannya dalam bekerja. Akan tetapi, ada satu hal yang tak mungkin disebabkan oleh pekerjaannya.
"Tuan.... Maafkan aku." Ucap Selene dengan lirih sambil segera meninggalkan ruangan ini.
Bahkan sebagai orang asing yang hadir dalam kehidupan Leo sekalipun, Selene tak mampu untuk melihat Tuannya itu menangis dalam tidurnya itu.
......***......
...- Kota Daeta -...
Setelah menyelesaikan pendaftaran Quest di dalam Guild di kota ini, Lucas terlihat duduk sendirian dengan tenang di Guild Hall sambil meminum segelas air putih.
Saat ini, Ia hanya memasang Quest sederhana seperti mengumpulkan tanaman obat-obatan dan berbagai bahan lainnya di dalam hutan. Bayarannya pun hanya beberapa puluh koin perak karena memang tak terlalu berbahaya.
Di tangan kirinya, Lucas terlihat memainkan satu keping koin perak seakan sedang menunggu sesuatu.
Dan beberapa saat kemudian....
"Maafkan aku jika lama." Ucap seorang wanita berambut pirang yang di kepang. Pakaiannya sendiri adalah jubah pendeta dengan warna putih dan lambang bintang yang indah.
"Santai saja, Reina. Aku akan tetap menemanimu sambil mencari berbagai bahan." Balas Lucas sambil tersenyum tipis.
Reina pun duduk di hadapan Lucas sambil memesan sesuatu kepada pegawai Guild itu.
"Jadi bagaimana? Ada suatu petunjuk?" Tanya Lucas.
"Tidak ada. Aku tak bisa menemukan satu pun petunjuk...."
Reina hanya bisa memasang wajah yang terlihat begitu murung. Bahkan tak mampu untuk menatap mata Lucas yang ada di depannya.
"kau sudah mencoba di pasar budak?" Tanya Lucas kembali.
"Sudah, tapi aku masih saja tak bisa menemukan apapun...."
Keduanya pun mulai terdiam setiap kali membicarakan mengenai masalah ini.
Sekitar satu bulan yang lalu, ketika Reina jatuh sakit, Lucas menolongnya dengan bantuan pendeta dari Gereja. Apa yang membuatnya sulit untuk sembuh tak lain adalah efek dari bantuan Dewi itu sendiri.
Akan tetapi, efeknya memudar setelah beberapa hari dan semua orang menganggap bahwa itu berkat bantuan dari Pendeta Gereja. Tentu saja, Reina ditawari untuk menjadi seorang pendeta penghakiman karena kekuatan fisiknya. Atau dengan kata lain, seorang Prajurit Gereja.
Sedangkan untuk menghindari dirinya yang kini menjadi buronan di wilayah Maelfall, Reina dan Lucas pun meninggalkan wilayah itu.
Tapi kini....
"Reina, aku bukan bermaksud buruk tapi...." Ucap Lucas dengan suara yang cukup pelan.
"Tidak! Itu tidak akan terjadi! Dimas takkan mati semudah itu! Aku yakin itu! Tapi mungkin, Ia saat ini sedang diperbudak atau menjalani kehidupan sulit di suatu tempat. Itulah kenapa aku harus segera menemukannya!" Balas Reina dengan keras.
"Sshhh! Tenangkan dirimu!"
"Ma-maafkan aku.... Tapi aku tak ingin mempercayai hal itu."
Keheningan kembali menyelimuti meja mereka berdua itu. Yang secara singkat dipecahkan oleh sang pelayan yang membawa segelas minuman.
'Di saat aku bisa melindungi, tapi kau malah menghilang entah kemana.... Maafkan aku, Dimas.' Pikir Reina dalam hatinya sambil memasang wajah yang murung.
Kejadian seperti ini selalu terjadi setiap kali mereka berdua sampai di suatu kota atau desa. Tapi selain itu, hubungan mereka sebagai guru dan murid berjalan dengan baik.