
"Huh!" Teriak Artemis dengan mata yang terlihat begitu kesal serta pipi yang menggembung. Matanya bahkan tak lagi mau menatap sosok Pria bernama Dimas itu.
"Ada apa?" Tanya Dimas kebingungan.
"Kau tanya ada apa?! Kau baru saja memintaku membelikan 30 senjata! Apakah kau sudah gila?! Bagaimana caraku membawanya kemari!" Teriak Artemis dengan kedua lengan yang diletakkan di pinggangnya sambil memelototi sosok Dimas.
Dimas pun hanya mampu menghela nafasnya mendengar alasan konyol dari Artemis, sambil memasang wajahnya yang dipenuhi dengan perasaan kecewa.
"Artemis, aku sudah bilang itu adalah jatah untuk seminggu kan? Kau bisa membeli 5 senjata perhari dan libur satu hari selama seminggu. Uangnya juga dariku, kau tak perlu memaksakan...."
"Tapi aku ingin semuanya segera selesai dan bersantai!" Teriak Artemis kini dengan tatapan yang penuh dengan semangat.
Di sisi lain Dimas....
"Terserah kau saja, tapi ini jatah uangmu untuk membeli semua senjata itu. Ingat, aku ingin 30 senjata jenis apapun setiap minggunya. Setelah itu aku tak peduli apa yang kau lakukan dan bagaimana kau melakukannya. Sisa uangnya juga bisa kau simpan."
Dengan kalimat itulah, Artemis akhirnya paham.
"Oh, jadi hanya begitu saja? Baiklah. Aku mengerti! Tapi...."
Dimas yang telah bernafas lega kini kembali kesal.
"Apalagi?" Tanya Dimas singkat.
"Sebaiknya.... Aku memanggilmu dengan apa? Kau tahu, aku belum tahu namamu kan?" Tanya Artemis.
Ia baru saja sadar bahwa dirinya hanya menerima perkenalan dari Artemis tanpa membalasnya. Dan saat ini....
"Tharde, mungkin kau bisa memanggilku dengan nama itu." Balas Dimas.
Tapi jawaban yang diperolehnya....
"Hah? Nama jelek macam apa itu? Kau serius terlahir dengan nama seburuk itu? Aku kasihan padamu."
Balasan yang diberikan oleh Artemis tak hanya mengesalkan, tapi juga benar. Itu hanyalah nama yang Ia buat secara asal. Oleh karena itu, memanfaatkan kondisi ini....
"Hah, kalau begitu panggil saja aku semaumu. Lagipula aku tak memiliki nama." Balas Dimas.
Artemis jujur saja terlihat cukup kebingungan dengan hal itu.
"Tak memiliki nama? Bagaimana bisa begitu?"
"Ada satu dan beberapa hal lainnya yang menyebabkan itu terjadi. Maka panggil saja aku sesuka hatimu."
Artemis pun terlihat memikirkan hal itu dengan sangat serius. Ujung jari telunjuknya Ia letakkan di dagunya, sementara kedua matanya tertutup dengan cukup rapat.
Setelah sekitar 2 menit berlalu, Ia akhirnya memperoleh ide atas namanya.
"Hmm.... Bagaimana dengan Leo?" Tanya Artemis.
"Kenapa kau memilih itu?"
"Karena menurutku kau cukup cerdas? Apalagi? Bukankah itu arti dari kata Leo?"
Mendengar balasan itu, Dimas hanya terdiam. Ia berusaha untuk menghargai pendapat dari Artemis. Bagaimanapun, Ia juga tak mengetahui budaya dari dunia ini sepenuhnya.
Mungkin.... Mungkin saja singa di dunia ini bukan identik atas kekuatan atau keberaniannya, melainkan karena kecerdasannya.
Tapi meski begitu....
"Baiklah, aku akan pura-pura tidak mendengar alasanmu. Tapi kau bisa memanggilku dengan Leo." Balas Dimas.
"Baiklah! Kalau begitu sudah diputuskan, namamu mulai hari ini adalah Leo!"
Pada akhirnya, perjalanan mereka berdua di Kota yang tertutupi oleh salju ini pun dimulai.
Sebuah perjalanan....
Yang entah apa yang akan menanti mereka.
......***......
...- Pegunungan Rustfell -...
Di sekitar pegunungan yang cukup luas dan tinggi ini, badai salju bertiup dengan begitu kencangnya.
Sangat kencang hingga membuat siapapun yang ada di sana kesulitan untuk bergerak dan juga melihat. Meski begitu, terdapat seorang wanita dengan jubah putih yang panjang serta pedang panjang di kedua tangannya.
"Hah.... Hah...."
Setiap hembusan nafasnya menimbulkan embun yang bisa dilihat. Menunjukkan betapa dinginnya udara di pegunungan ini.
Rambut pirang panjangnya yang indah bergerak kesana kemari dengan cepatnya.
Yaitu kawanan serigala dengan bulu putih dan tubuh yang besar.
Tingginya saja mencapai 1.8 meter, dengan panjang tubuh mencapai 2.2 meter lebih.
"Grrrr...."
Taringnya yang panjang dan besar terpampang dengan jelas di mulut serigala itu.
"Sialan.... Aku tahu bahwa serigala hidup dalam kelompok. Tapi tak seperti ini juga kan?" Ucap Wanita yang tak lain adalah Reina itu.
Apa yang dimaksudnya adalah, kawanan serigala salju yang saat ini dihadapinya berjumlah 12 ekor sekaligus.
Mereka semua terdiam di tempat menanti pergerakan yang akan dibuat oleh Reina. Sedangkan Reina itu sendiri juga terdiam di tempat dalam posisi bertahan.
Pedangnya telah terangkat, kuda-kudanya telah sempurna. Tapi jika Ia melangkahkan kakinya, serigala itu akan menyerangnya tanpa ampun dalam keadaan yang tak siap.
Situasi ini sendiri telah berlangsung selama lebih dari 30 detik tanpa ada perubahan.
Setelah tepat satu menit dalam diam, akhirnya....
"Grrooaaaarr!!"
Dua ekor serigala salju itu menerjang ke arah Reina dengan cepat.
Satu berada tepat di depan Reina, sedangkan satu lagi berada tepat di belakangnya.
Sesaat setelah 2 serigala itu bergerak, 4 ekor lagi segera ikut menerjang dengan jarak yang sedikit di belakang mereka. Berusaha untuk tidak memberikan sedikitpun kesempatan bagi Reina untuk bereaksi.
Akan tetapi....
"Hah...."
Reina menarik nafas yang cukup dalam. Kedua tangannya memegang pedang panjangnya dengan sangat erat. Tatapan matanya pun begitu tajam.
Pada saat itulah....
'Zaaappp!!!'
Dunia seakan menjadi hitam dan putih. Tak ada lagi warna yang menghiasi dunia ini.
Tapi bersamaan dengan itu, butiran salju yang turun bersama dengan badai ini seakan jatuh dengan lambat. Atau lebih tepatnya bergerak sekitar satu per empat kecepatan aslinya.
Itu benar. Dunia menjadi melambat menjadi sekitar seperempat dari kecepatan aslinya bagi Reina.
Sebuah berkah tingkat A [Time Perception] yang diperolehnya dari Dewi Silvie setelah Ia membantai cukup banyak monster dan iblis tingkat rendah selama 3 bulan lebih ini.
Cara kerja dari skill ini sangat sederhana. Yaitu dengan mengorbankan Mana yang dimilikinya serta persepsi yang lain, dalam hal ini yang dilakukan oleh Reina adalah mengorbankan warna, maka persepsi waktu yang dimilikinya akan meningkat.
Dan itulah yang membuatnya mampu melihat waktu berjalan lebih lambat.
Meskipun, gerakannya sendiri tidak bertambah cepat. Kecepatan gerakannya masih sama seperti sebelumnya. Hanya saja, reaksinya mampu bekerja 4 kali lipat lebih cepat.
'Pertama....' Pikir Reina dalam hatinya.
Ia mengayunkan pedang panjangnya secara memutar, menargetkan tepat di kepala serigala yang ada di depannya.
'Zraaassshh!'
Tebasan yang terjadi berlangsung begitu lambat. Meski begitu, tebasan nya terlihat mampu menembus tubuh serigala salju itu dengan mudah. Seakan sedang memotong sebuah mentega.
Segera setelah kepala serigala yang ada tepat di depannya terpotong, Reina memutar tubuhnya sambil tetap mengayunkan pedangnya.
Kali ini mengarah ke belakang tubuhnya.
Dan benar saja, serigala itu telah tepat berada di belakangnya dengan jarak hanya sejauh setengah meter saja. Tapi Reina sudah cukup cepat untuk memenggal kepala kedua itu dengan cepat.
Kemudian untuk 4 serigala lainnya, Reina melakukan hal yang sama yaitu dengan memutar tubuh dan pedangnya.
Dengan waktu yang berjalan selambat ini, tebasan nya takkan pernah meleset. Ia dapat menyesuaikannya sesuka hati dalam keadaan itu.
Dan kekuatan itulah....
Yang mampu membawa Reina di titik ini. Sebuah kekuatan yang sederhana tapi sangat efisien.
'Zraasshh! Zraaassshhh! Zraaashh! Zraaasshh!'
Darah merah mulai membasahi salju yang cukup tebal itu. Bersamaan dengan itu, tubuh keenam serigala salju itu terjatuh ke tanah. Tak lagi mampu untuk bergerak.
"Sekarang, siapa lagi yang akan maju?" Ucap Reina sambil mengarahkan pedangnya kepada keenam serigala yang tersisa.
Dengan begitulah, perburuannya di tengah pegunungan ini pun berlanjut.