
Mendengar perkataan yang penuh percaya diri dari Leo, Valkazar hanya bisa sedikit kebingungan. Tak ada apapun yang dimiliki oleh Leo untuk mendukung perkataannya itu.
Kekuatan? Kecerdasan? Strategi? Pasukan?
Tak ada satu pun yang bisa mendukung perkataannya. Meski begitu, kenapa Ia bisa begitu penuh dengan rasa percaya diri seperti itu?
"Katakan, manusia. Kenapa kau bisa seyakin itu?" Tanya Valkazar.
Tapi balasan dari Leo hanya satu kata.
"Insting."
Valkazar terkejut mendengar jawaban konyol seperti itu. Ia tak menyangka satu-satunya manusia yang bisa menembus kastilnya dan berhadapan langsung dengannya, akan berkata bahwa instingnya mengatakan dirinya akan menang.
"Hahaha.... Terserah dirimu saja. Sebelum aku mengakhiri nyawamu.... Bagaimana jika kau memperkenalkan namamu? Setidaknya, aku akan menghormati namamu karena bisa menyudutkan ku hingga seperti ini." Jelas Valkazar sambil berjalan menuruni singgasananya.
'Klak! Klaakk!'
Suara langkah kakinya yang mengenakan zirah besi yang tebal itu terdengar menggema hingga ke seluruh ruang tahta ini.
"Leo. Kau bisa memanggilku dengan nama itu." Balas Leo singkat.
"Leo ya.... Akan ku ingat nama itu dengan sangat baik." Balas Valkazar yang terus memberikan tatapannya yang tajam.
Sementara mengulur waktu, Valkazar terus berusaha untuk menilai situasi ini.
'Damos sedang pergi untuk menguak informasi mengenai Sumber Mana yang sebenarnya dari Utusan Elf itu. Sedangkan Verthis telah pergi untuk memburu sisa Elf di Crystalcourt. Dengan kata lain.... Masih ada kesempatan bagi mereka untuk melanjutkan rencana ini tanpaku.'
Valkazar berpikir, bahwa sekalipun dirinya berakhir di sini, dengan terjebak di dalam penjara dimensi ruang ini, rencananya akan tetap berlanjut bahkan tanpa dirinya sekalipun.
Sedangkan yang ada di dalam kastil ini saat ini, hanyalah dirinya sendiri dan puluhan Iblis rendahan lainnya.
Saat Valkazar mulai bertanya-tanya kemana para bawahan Iblisnya yang seharusnya membantu menjaga kastil ini....
"Aah, menunggu bala bantuan? Tenang saja. Aku sudah membunuh mereka semua sebelum kemari." Ucap Leo sambil tersenyum puas.
'Tak ada keraguan dalam perkataannya, dengan kata lain.... Dia berkata yang sejujurnya?' Tanya Valkazar dalam hatinya.
Valkazar kemudian berjalan ke arah sebuah meja bundar yang terbuat dari perak yang begitu indah. Serta menarik dua buah kursi perak ke arah meja itu.
Dengan sikap yang santai, Valkazar kemudian duduk di salah satu kursi itu.
"Silakan duduk, Leo. Mari kita berbicara sejenak." Ucap Valkazar sambil mengulurkan tangan kanannya ke arah kursi di sisi lain meja itu.
Leo, tak merasakan adanya sedikit pun niat buruk dari Valkazar, kemudian segera menuruti perkataannya dan duduk di hadapan Raja Iblis itu sendiri.
"Tak perlu takut padaku. Bahkan jika kau gagal membunuhku, aku masih akan terjebak di dunia ini dalam waktu yang cukup lama. Jadi selamat, umat manusia telah memperoleh keunggulan yang besar dalam peperangan ini." Ucap Valkazar berusaha untuk membuat Leo tak begitu waspada kepadanya.
Berpura-pura untuk tak tahu apapun, Leo pun bertanya.
"Kenapa seperti itu?"
Valkazar sedikit menaikkan kedua alisnya karena tak menyangka bahwa dirinya akan mendengar pertanyaan itu.
"Kau serius? Bukankah kau yang menggunakan sihir ruang ini dan menjebakku di dalamnya? Dan itu lah kenapa kau sampai kehabisan Mana di dalam tubuhmu?" Tanya Valkazar berusaha untuk mengetahui situasi ini sedikit lebih dalam lagi.
Mendengar pertanyaan itu, Leo pun melihat secercah harapan. Sebuah harapan bahwa dirinya bisa sedikit mempermainkan pengetahuan dari Valkazar.
"Tidak. Kau salah. Aku bukanlah orang yang menggunakan sihir ini. Lagipula, aku sama sekali tidak memiliki Mana untuk menggunakan sihir apapun. Lihat saja sendiri, inti Mana di tubuhku sudah hancur." Balas Leo dengan tegas.
Valkazar, dengan segera menggunakan mata sihirnya untuk melihat jauh ke dalam inti Mana milik Leo. Dan apa yang dilihatnya di sana, hanyalah sebuah kekosongan.
Tak salah lagi, bahwa inti Mana Leo telah hancur sepenuhnya. Tapi hal itu sama sekali tak menjelaskan situasi ini.
Pertama, bagaimana bisa Leo mengurungnya di dalam sihir ini? Kemudian, apakah memang benar Leo bukanlah orang yang melakukannya? Jika tidak, lalu siapa? Dan berapa jumlah mereka?
Apakah pasukan Elf yang tersisa telah bersatu untuk membuat sihir skala besar ini?
Tidak. Itu tidak mungkin. Sepengetahuan Valkazar, Elf memang memiliki energi Mana yang sangat besar. Tapi karena itu lah, Elf selalu menyelesaikan masalah dengan kekuatan murni mereka.
Sama sekali tak membuat sihir rumit seperti yang dilakukan oleh manusia untuk menutupi kekurangan mereka dalam lemahnya energi Mana.
Jika begitu, apakah pengetahuannya selama ini salah? Apakah Elf memang memiliki sihir rahasia yang sekuat ini sejak dahulu kala? Hanya menunggu kapan untuk menggunakannya?
Terlebih lagi, keanehan terbesar saat ini adalah manusia yang duduk di hadapannya dengan sikap santai.
Kenapa dia bisa sesantai itu ketika menghadapi dirinya? Yang bahkan keempat petinggi Iblis sekalipun tunduk atas rasa takut?
Dan kenapa? Bagaimana bisa inti Mana seseorang rusak sedemikian parahnya hingga tak ada satu pun Mana di dalamnya? Bahkan Mana seakan menjauhi tubuh Leo itu sendiri.
Tenggelam dalam berbagai pertanyaan dalam dirinya sendiri, Valkazar pun memutuskan untuk berhenti berpikir sejenak dan melakukan analisa lebih lanjut dalam situasi ini.
Tak salah lagi dirinya akan terjebak.
Dan membunuh manusia di hadapannya ini sama sekali takkan ada gunanya. Sama sekali tak ada untungnya. Oleh karena itu....
"Leo, bagaimana kalau kita bermain catur?" Tanya Valkazar.
Mendengar pertanyaan itu, Leo seketika terkejut bukan main.
Bukan karena Raja Iblis Valkazar menanyakan kepadanya untuk bermain. Dan bukannya bersiap untuk segera menyingkirkan Leo.
Melainkan....
Atas nama permainan yang diajukan oleh Raja Iblis Valkazar itu sendiri.
"Ca.... Tur? Apa itu?" Tanya Leo berlagak dalam kebingungan.
Dan selama Leo hidup di dunia fantasi ini, selama 8 tahun atau lebih, Leo sama sekali tak pernah mendengar nama permainan Catur.
Ada beberapa permainan lain yang menyerupai catur, tapi tentu saja memiliki nama yang sangat berbeda. Dan tak ada satu pun yang memiliki nama itu.
Oleh karena itu, Leo memiliki sedikit rasa takut dan hawa dingin yang menjalar di sekujur tubuhnya. Membuatnya bertanya-tanya.
'Valkazar.... Siapa dia sebenarnya?'
Di saat Leo baru menanyakan mengenai hal itu, Valkazar segera membalasnya.
"Aah.... Maaf. Tentu saja manusia tak mengetahuinya ya? Itu adalah permainanku di duniaku yang sebelumnya. Entah kau percaya atau tidak, dulunya aku adalah seorang manusia." Balas Valkazar sambil segera menciptakan papan catur dengan sihir tanahnya.
Lengkap dengan seluruh bidaknya dan juga dua warna yang berbeda dalam papan permainan itu.
Meski mengatakan hal seperti itu, Valkazar kembali berpikir dalam hatinya.
'Jadi bukan ya? Sepengetahuan ku, pahlawan manusia adalah mereka yang berasal dari bumi sama sepertiku. Nampaknya Pria ini hanyalah orang biasa?'
"Hah?! Kau dulunya seorang manusia?! Bagaimana bisa? Kenapa seorang Raja Iblis dulunya adalah seorang manusia? Lalu jika memang begitu, kenapa kau menyerang manusia di dunia ini?" Tanya Leo kebingungan.
"Hahaha, aku akan menjelaskannya jika kau bisa mengalahkan ku dalam permainan ini." Balas Valkazar sambil tertawa ringan.
Valkazar kemudian menjelaskan secara singkat mengenai tujuan utama dalam permainan Catur ini. Yaitu untuk membunuh Raja dari lawannya.
Sementara itu, Leo masih harus melanjutkan aktingnya dalam berpura-pura tidak tahu atas permainan ini.
"Aaah! Sama seperti permainan Crossboard ya? Tapi bedanya, ini hanya 2 pemain? Dalam Crossboard terdapat 4 pemain dan bidak yang lebih banyak." Tegas Leo.
"Hmm.... Jika dipikir-pikir kembali, memang benar. Catur memang seperti permainan Crossboard yang populer di wilayah Eastfort manusia. Kau sering memainkannya?" Tanya Valkazar sambil menata bidaknya yang berwarna hitam itu.
"Begitu lah. Aku sering bermain dengan rekanku di sana." Balas Leo singkat.
"Kau seorang prajurit di Eastfort?" Tanya Valkazar sekali lagi.
"Lebih tepatnya komandan di Rustfell. Atau seorang Duke? Pada intinya seperti itulah."
Sekali lagi, Valkazar sama sekali tak bisa merasakan kebohongan dari Leo. Itu karena Leo selalu mencampurkan kebenaran dan kebohongan. Membuat lawan bicaranya kesulitan untuk membedakan mana yang asli dan mana yang palsu.
Setelah beberapa saat terdiam, Leo akhirnya menegur Valkazar sekali lagi.
"Jadi bagaimana? Kita akan bermain? Katakan saja aturannya padaku, aku cukup ahli dalam permainan papan seperti ini." Ucap Leo.
"Aah.... Kau benar. Kurasa kita akan bermain. Untuk aturannya sendiri...."
Valkazar kemudian menjelaskan aturan dari permainan ini. Tentu saja, dengan perubahan aturan agar memancing Leo untuk bereaksi.
Ia masih tidak bisa percaya bahwa Leo hanyalah manusia biasa. Dan terus mencoba untuk menekan Leo agar mengungkapkan identitasnya yang sebenarnya.
Perubahan aturan itu adalah cara gerak Raja, dimana Raja memiliki jarak gerak mencapai 2 kotak sekaligus.
Kemudian Menteri yang memiliki batas gerak sejauh 4 kotak dalam wujud yang masih sama seperti permainan catur yang sebenarnya.
Kemudian Benteng yang juga memiliki batas gerak sejauh 6 kotak dimana gerakannya lurus sama seperti permainan aslinya.
Perubahan terbesar terjadi pada Ratu dan Poin. Dimana Ratu memiliki gerak sama seperti Raja tapi berjarak sejauh 3 kotak. Dimana Ia bisa bergerak ke segala arah tapi tak bisa melewati bidak di jalannya.
Sedangkan Pion sendiri bisa bergerak satu atau dua langkah ke depan. Dan satu langkah mundur atau ke samping.
Untuk kuda sendiri, pergerakannya masih sama dimana Kuda bisa melompati bidak lain. Dengan perbedaannya adalah jarak langkah kuda biasanya 2 kotak ke depan lalu belok ke kanan atau kiri satu kotak, kini menjadi 2 langkah ke depan dan 2 langkah berbelok.
Perubahan yang sangat rumit dalam permainan ini, tentunya untuk memastikan apakah Leo benar-benar tidak mengetahui permainan ini.
Dan jika Leo mengetahuinya, maka Valkazar bisa yakin bahwa Leo adalah seorang pahlawan.
Memangnya, kenapa jika tahu bahwa Leo adalah seorang pahlawan?
Sederhana saja.
Valkazar hanya ingin mencoba sihir original buatannya sendiri. Sebuah sihir.... Yang bukannya membunuh jiwa pahlawan di hadapannya.
Melainkan menjadikan jiwa pahlawan itu sendiri sebagai sebuah jembatan untuk memasuki dunia para Dewa yang mengirim mereka.
Dan hal itu....
Adalah satu-satunya kesempatan alternatif bagi Valkazar untuk kabur dari penjara sihir dimensi ruang ini.
Tapi itu membutuhkan Mana dalam jumlah yang luarbiasa besar. Bahkan bagi Valkazar sekalipun. Dan Ia tak bisa membuangnya secara sembarangan karena mungkin saja akan ada kesempatan dan peluang lain dalam meninggalkan tempat ini.
Oleh karena itu, Ia harus memastikannya dengan benar. Apakah manusia di hadapannya adalah seorang pahlawan yang dikirim oleh Dewa dari dunia lain atau bukan.
Sedangkan Leo....
Harus berjuang untuk mempertahankan identitasnya. Tanpa Ia sadari bahwa lawannya sedang mencari tahu kebenaran mengenai hal itu.
Umpan terbesar dari Valkazar, adalah sebuah kenyataan bahwa dirinya berusaha membuat ikatan yang dekat dengan Leo untuk memperoleh kepercayaannya.
Dan pada akhirnya....
Membuka identitasnya yang sebenarnya.
Pertarungan pikiran antara kedua orang di dunia yang terisolasi dari tempat lainnya ini pun berlangsung.
Sebuah pertarungan yang akan menentukan takdir dari dunia ini.